Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Lalu...
"Pak Vincent!" Seorang guru menunjuk ke arah rumah-rumahan kayu yang menjadi bagian dari area bermain. "Sepertinya ada anak di dalam."
Semua orang menoleh.
Beberapa detik kemudian... Sosok kecil Viren keluar sambil memegang sebuah kartu bergambar peti harta karun. Wajahnya dipenuhi senyum bangga. "Ayah! Aku menemukannya!"
Langkah kecilnya terhenti. Ia baru menyadari semua orang sedang menatapnya.
Mengapa wajah Tante Serina begitu pucat?
Mengapa guru-guru berkumpul?
Dan... Mengapa Ayah menatapnya seperti itu?
Belum sempat Viren bertanya, Vincent sudah berjalan cepat menghampirinya. Tanpa sepatah kata. Ia berlutut. Lalu menarik Viren ke dalam pelukannya. Pelukan itu tidak lama. Namun cukup erat hingga membuat Viren kebingungan.
"Ayah... Aku cuma cari kartunya."
Vincent melepaskan pelukan itu perlahan. Tatapannya tetap tajam. "Jangan pernah menghilang tanpa memberi tahu Ayah." Nada suaranya terdengar tenang.
Namun, Viren bisa merasakan tangan Vincent sedikit gemetar saat merapikan kerah seragamnya. "Aku... minta maaf." Viren menundukkan kepala. "Aku kira Ayah tahu."
Vincent mengembuskan napas panjang. "Tidak apa-apa." Lalu ia berdiri.
Serina yang sejak tadi menahan tangis akhirnya mengusap sudut matanya diam-diam.
Setelah memastikan Viren baik-baik saja, kepala sekolah mengembuskan napas lega. "Syukurlah, semuanya sudah kembali tenang."
Para guru yang sejak tadi ikut mencari akhirnya kembali ke tempat masing-masing. Beberapa orang tua juga tersenyum lega.
Kepala sekolah mengambil mikrofon. "Bapak, Ibu, terima kasih atas kerja samanya. Tadi kita sempat dikejutkan karena salah satu peserta terlalu bersemangat mencari kartu terakhir."
Beberapa orang tua tertawa kecil. Viren langsung menundukkan kepala. Ia sadar yang dimaksud adalah dirinya.
Kepala sekolah tersenyum hangat. "Nak Viren."
"Iya, Bu."
"Lain kali, kalau ingin mencari petunjuk, jangan pergi sendiri, ya. Ayah, Ibu, atau wali harus tahu kamu ada di mana."
Viren mengangguk pelan. "Iya, Bu. Maaf."
"Bagus." Kepala sekolah mengusap lembut kepala Viren. "Yang penting sekarang semuanya sudah baik-baik saja."
Beliau kemudian kembali menghadap seluruh peserta. "Baik, sebelum acara kita tutup, izinkan kami mengumumkan keluarga yang berhasil mengumpulkan seluruh kartu dalam waktu tercepat."
Seorang guru membawa sebuah kotak berisi hadiah.
"Keluarga pertama..." Semua anak menahan napas. "...adalah keluarga Viren!"
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Viren membelalak. "Aku?"
Guru tersenyum. "Iya. Meskipun sempat membuat semua orang panik, kartu terakhir yang kamu bawa adalah kartu yang kami cari."
Anak-anak lain ikut bertepuk tangan.
Viren berjalan ke depan didampingi Vincent dan Serina.
Kepala sekolah menyerahkan sebuah piala kecil berbentuk bintang, sertifikat keluarga, dan satu paket permainan edukatif. "Selamat. Semoga hadiah ini menjadi kenang-kenangan yang indah."
Viren menerima hadiah itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Sebelum turun dari panggung, kepala sekolah meminta mereka berhenti sejenak. "Boleh satu foto lagi?"
Vincent menoleh sekilas kepada Serina. Serina mengangguk pelan. Viren berdiri di tengah sambil memeluk hadiahnya.
Klik.
Senyum Viren kali ini jauh lebih lebar dibanding foto pertama. Di bawah sorot kamera, tak ada yang menyadari bahwa bagi Viren, hadiah terbesar hari itu bukanlah piala atau permainan edukatif. Melainkan karena untuk pertama kalinya, Ayahnya meluangkan waktu penuh untuk menemaninya.
...****************...
Mobil perlahan meninggalkan halaman sekolah.
Daniel melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.
Di kursi belakang, Viren memangku piala kecil dan kantong hadiah yang baru diterimanya. Sejak tadi, senyum di wajahnya tak kunjung hilang. "Ayah, tadi waktu menyusun puzzle kita paling cepat, kan?"
Vincent yang sedang membaca pesan di ponselnya mengangguk tipis. "Ya."
"Ayah hebat."
Vincent melirik putranya sekilas. "Kerja samanya yang hebat." Viren tersenyum puas.
Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka kantong hadiahnya. "Tante Serina, lihat."
Serina menoleh. "Wah, permainan sains."
"Iya."
"Aku mau merakitnya nanti."
"Tante bantu, ya?"
Viren berpikir sejenak. "Tidak perlu. Aku mau mencoba sendiri. "
Serina tertawa pelan. "Baiklah."
Mendengar itu, Daniel yang duduk di balik kemudi diam-diam tersenyum. Jarang sekali Tuan Muda berbicara sepanjang ini.
Biasanya, perjalanan pulang selalu sunyi. Kini, suara kecil Viren tak berhenti memenuhi kabin mobil.
Ia menceritakan bagaimana ia menemukan kartu pertama, bagaimana ia hampir terpeleset saat berlari, hingga betapa bangganya ketika guru memanggil namanya untuk menerima hadiah.
Vincent memandang ke luar jendela. Tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat tipis. Hari ini ia membatalkan satu rapat penting. Tetapi melihat Viren tertawa dan bercerita tanpa henti... Keputusan itu ternyata tidak sia-sia.
Mobil perlahan memasuki halaman mansion.
Begitu berhenti, Daniel segera turun dan membukakan pintu.
Viren menjadi orang pertama yang keluar. Dengan piala kecil di satu tangan dan kantong hadiah di tangan lainnya, ia berlari kecil memasuki rumah.
Soraya yang mendengar keramaian itu ikut tersenyum melihat tingkah Viren yang tak henti-hentinya bercerita tentang kegiatan di sekolah.
Sementara itu, Vincent berjalan tenang menuju ruang keluarga. Ia melepaskan jasnya dan menyandarkannya di sofa. Baru saja hendak duduk, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah luar.
"Bos."
Vincent mengangkat pandangannya. Natan yang baru tiba berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.
"Ada apa?"
"Keadaan darurat."
Tatapan Vincent berubah tajam.
"Katakan."
Natan melirik ke arah ruang makan. Viren masih sibuk memperlihatkan pialanya kepada Soraya, sementara Serina sedang menuangkan minuman. Ia kembali menatap Vincent. "Bukan di sini."
Vincent langsung berdiri. "Ikut ke ruang kerjaku."
Pintu ruang kerja tertutup rapat.
Natan mengeluarkan sebuah tablet dari tas kerjanya, lalu meletakkannya di atas meja. "Satu jam yang lalu, gudang transit kita di Pelabuhan Timur diserang."
Vincent tetap berdiri. " Ada kerugian?"
"Dua belas orang terluka. Tiga kontainer berhasil dibawa kabur. Sisanya dibakar."
Natan mengusap layar tablet hingga sebuah rekaman CCTV muncul. "Kami berhasil menyelamatkan rekaman dari salah satu kamera pengawas."
Ia menekan tombol putar. Layar memperlihatkan gudang yang dipenuhi kobaran api.
Anak buah Vincent berlarian berusaha memadamkan api, sementara suara tembakan dan bentrokan terdengar bersahutan.
Beberapa detik kemudian... Seorang pria melangkah memasuki jangkauan kamera. Ia mengenakan mantel hitam panjang. Langkahnya tenang, seolah kekacauan di sekelilingnya bukan urusannya.
Pria itu berhenti tepat di depan kamera. Tatapannya lurus menembus lensa. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Sudah terlalu lama kau menguasai pelabuhan ini, Vincent. Kurasa... sudah waktunya kita bertemu."
Perlahan ia mengangkat tangan.
Brak!
Layar mendadak gelap. Natan mematikan rekaman. "Itu gambar terakhir yang berhasil kami dapatkan."
Ruangan seketika hening. Vincent menatap layar tablet yang telah padam.
Sorot matanya berubah sedingin es. "...Adrian Barent."
Natan mengangguk. "Dia sengaja memperlihatkan wajahnya."
Vincent mengambil jas hitam yang baru saja ia lepaskan. "Siapkan mobil."
Natan sedikit terkejut. "Bos, Anda ingin menemuinya sekarang?"
Vincent mengenakan jasnya tanpa mengalihkan pandangan. "Kalau dia sudah mengundangku...aku tidak akan membuatnya menunggu."
Natan menundukkan kepala. "Baik, Bos."
Di luar ruang kerja, suara tawa Viren masih terdengar samar bersama Serina. Sementara di dalam... Vincent baru saja menerima tantangan dari seseorang yang cukup berani untuk berdiri di hadapannya.