PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
BAB 35
Creeet...
Pintu besar itu terbuka penuh.
Debu beterbangan. Bau kayu tua dan kertas bercampur.
Di tengah ruangan kosong hanya ada satu lampu gantung.
Redup. Bergoyang pelan.
Dan di bawahnya...
Sebuah meja kayu.
Di atasnya sebuah kotak kayu tua.
Ukirannya sama persis dengan gelang perak Eiri. Bunga Arkan.
Suara Arven menggema dari kegelapan.
"Akhirnya kau datang... Putri kecil.
Silakan buka kotaknya.
Tapi ingat..."
tawanya pelan.
"Begitu kau membukanya... tidak ada jalan kembali."
Eiri menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.
"Jangan."
Mahendra berbisik di telinganya.
"Kita tidak tahu apa isinya."
Rivan melangkah maju. Senjatanya masih di tangan.
"Aku yang buka."
Katanya tegas.
"Kalau ada jebakan, aku yang kena duluan."
"Tidak."
Eiri menahan lengan Rivan.
"Ini... ini urusanku."
Ia menarik napas.
"Aku Darah Terakhir Arkan.
Aku harus hadapi sendiri."
Rivan menatap adiknya lama. Lalu mengangguk pelan.
"Baik. Tapi kami di belakangmu."
Eiri berjalan pelan.
Setiap langkahnya bergema di ruangan kosong itu.
Mahendra dan Alena mengikutinya dari belakang. Ergan menjaga pintu.
Berhenti di depan meja.
Tangan Eiri gemetar saat menyentuh kotak itu.
Dingin. Berat.
Ia membuka penutupnya perlahan.
`Kriiik...`
Di dalamnya...
Tidak ada emas.
Tidak ada harta.
Hanya ada 3 benda.
*Sebuah buku harian kecil.* Sampulnya kulit. Sudah lusuh.
*Sebuah foto keluarga.* 4 orang. Ayah, Ibu, Rivan kecil, dan bayi Eiri.
*Sebuah kalung liontin.* Bentuknya kunci. Dari perak.
Eiri mengambil foto itu duluan.
Tangannya bergetar.
Di foto itu...
Ayahnya menggendongnya. Masih bayi.
Ibunya merangkul Rivan yang umur 6 tahun.
Semuanya tersenyum. Di depan pohon mangga yang sama di taman.
"Ayah... Ibu..."
Air mata Eiri jatuh.
Rivan di belakangnya menutup mata.
"Aku sudah 15 tahun mencari foto ini..."
Arven dari kegelapan bertepuk tangan.
"Haru sekali.
Tapi itu bukan yang paling penting."
Ia muncul. Berjalan pelan.
"Tarik buku hariannya, Nona."
Eiri menatap Arven. Lalu mengambil buku harian itu.
Kulitnya sudah mengelupas.
Di sampul depan tertulis dengan tinta emas yang sudah pudar:
`DIARY - ALDRICK ARKAN`
"Tanganmu gemetar."
Arven tersenyum.
"Buka halaman terakhir."
Eiri membuka.
Hal. Hal. Hal.
Sampai halaman paling akhir.
Tulisan tangan ayahnya. Rapi. Tapi buru-buru.
`Tanggal 17 Agustus.
Malam ini mereka datang.
Aku tahu Arven yang berkhianat.
Dia ingin harta dan kekuasaan.
Jika kau membaca ini, Eiri anakku...
Ingatlah.
Kau bukan hanya anakku.
Kau adalah KUNCI.
Di dalam darahmu ada kode untuk membuka brankas utama keluarga Arkan.
Kode itu adalah... tanggal lahirmu + nama ibumu.
Jaga kalung itu. Itu satu-satunya yang bisa membuka.
Dan Eiri... maafkan Ayah karena tidak bisa melindungimu lebih lama.
Ayah sayang kamu.`
Tangan Eiri lemas. Buku itu hampir jatuh.
"KODE...?"
bisiknya.
"Di dalam darahku?"
Mahendra segera menangkap buku itu.
Ia membaca ulang. Rahangnya mengeras.
"Jadi itu alasannya."
Gumam Mahendra.
"Kenapa Arven memburu Eiri selama 15 tahun."
Arven tertawa. Keras.
"BENAR! Akhirnya ada yang paham!"
Ia menunjuk kalung di kotak itu.
"Itu kunci fisiknya.
Dan kau, Eiri... kau kunci hidupnya.
Tanpa darahmu, brankas itu tidak akan terbuka.
Dan di dalam brankas itu ada 3 triliun + dokumen yang bisa menjatuhkan setengah perusahaan di negeri ini."
Alena menutup mulutnya.
"Astaga..."
Rivan langsung berdiri di depan Eiri. Melindungi.
"Jangan sentuh dia!"
Arven mengangkat kedua tangannya.
"Santai. Aku tidak akan menyentuhnya.
Belum."
Ia menatap Eiri.
"Nona. Kita buat kesepakatan.
Kau berikan aku kalung itu dan ikut aku ke brankas.
Aku ambil hartanya.
Dan aku janji... aku lepaskan kalian semua hidup-hidup.
Bagaimana?"
Hening.
Eiri menatap kalung itu. Lalu menatap foto keluarganya.
Lalu menatap Mahendra.
Mahendra menggeleng pelan.
"Eiri. Jangan."
Eiri menarik napas.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak diduga siapapun.
Ia mengambil kalung itu.
Dan memakainya di lehernya.
"Kalian mau hartanya?"
Suara Eiri pelan tapi jelas.
"Datang dan ambil sendiri."
Matanya menatap Arven. Tidak takut lagi.
"Aku bukan barang yang bisa dinego."
BRAK!
Arven membanting meja. Wajahnya marah.
"Dasar anak keras kepala! Sama seperti ayahmu!"
Ia memberi isyarat.
"BAWA DIA!"
10 anak buah Arven langsung maju.
"LINDUGI DIA!"
Teriak Rivan.
Baku tembak jilid 2 pecah.
Mahendra menarik Eiri ke belakang meja.
Menutupinya dengan tubuhnya.
"Eiri, dengar aku. Kau harus lari dari sini."
"Tidak!"
Eiri berteriak.
"Aku capek lari, Mahendra!
Ini rumahku! Ini warisanku!"
Ia mengambil kalungnya.
"Kalau dia mau... suruh dia ambil dari mayatku!"
"JANGAN BILANG GITU!"
Mahendra membentak. Pertama kalinya.
Matanya merah.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati."
Rivan menembak sambil berteriak.
"Eiri! Ingat kode itu!
Tanggal lahirmu + nama Ibu!
Kalau sampai Arven dapat, tamat kita!"
Eiri mengangguk. Air matanya jatuh.
`17 Agustus. Arvina.`
Tiba-tiba lampu padam.
GELAP.
"AWAS!"
Teriak Ergan.
Suara tembakan. Suara orang jatuh.
Eiri hanya bisa memejamkan mata.
Sebuah tangan menariknya.
"Eiri, ikut aku."
Suara Mahendra.
Mereka berlari.
Lewat pintu belakang.
Masuk ke lorong gelap.
Di belakang mereka terdengar suara Arven.
"KEJAR MEREKA! JANGAN SAMPAI LOLOS!"
Mereka berlari di lorong bawah tanah.
Lembab. Berbau.
"Eiri, kau baik-baik saja?"
Mahendra berhenti. Napasnya memburu.
Eiri mengangguk. Memegang kalungnya erat.
"Aku baik. Rivan dan yang lain?"
"Aku tidak tahu."
Wajah Mahendra gelap.
"Tapi mereka pasti bisa."
Eiri bersandar di dinding. Tubuhnya lemas.
"Mahendra..."
"Kenapa kau... kenapa kau rela mati untukku?"
Mahendra menatapnya.
Di kegelapan, hanya mata mereka yang terlihat.
"Karena..."
Ia mengusap pipi Eiri dengan jempolnya.
"Karena 10 tahun lalu, ada gadis kecil yang memberiku lolipop saat aku hampir bunuh diri.
Dia bilang... 'Jangan sedih ya Kak. Nanti ada yang sayang kamu.'
Dan aku berjanji...
Aku akan menemukan dia.
Dan melindunginya seumur hidup."
Eiri membelalak.
"Kau... kau..."
"Ya."
Mahendra tersenyum pahit.
"Aku Mahendra.
Anak laki-laki yang dulu kau selamatkan."
DUG.
Dunia Eiri runtuh.
Ingatan itu.
Panti asuhan.
Anak laki-laki pendiam.
Lolipop.
Janji.
"Mah... Mahendra..."
Eiri menangis.
"Akhirnya... aku ingat..."
Mahendra memeluknya. Erat.
"Aku tahu kau akan ingat.
Selalu."
Dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki.
Mereka datang.
Mahendra melepaskan pelukan.
Wajahnya kembali dingin.
"Kita harus jalan. Sekarang."
Eiri mengusap air matanya. Mengangguk.
Ia menggenggam kalungnya.
"Aku siap."
Katanya.
"Aku Darah Terakhir Arkan.
Dan aku tidak akan lari lagi."
Mereka berlari lagi di kegelapan.
Di belakang...
Suara Arven semakin dekat.
"AKU AKAN DAPATKAN KAU, EIRI!
DENGAN CARA APAPUN!"