Bagaimana rasanya bila di hari pernikahanmu, laki-laki yang kamu cintai pergi begitu saja dan posisinya harus digantikan oleh calon mertuamu?
Sebuah kenyataan pahit harus dialami oleh Dyra Anastasya seorang dosen cantik yang harus menikah dengan calon mertuanya.
Seorang Darren Ethan Lee ternyata sudah mengagumi Dyra terlebih dahulu dari Ansel putra kandungnya, namun karena rasa sayang Darren membuatnya mengalah dan merestui pernikahan Dyra dengan Ansel, walau pada akhirnya dia harus menggantikan posisi anaknya demi menjaga nama baik Dyra di depan tamu undangan yang sudah hadir. Awalnya Darren berniat akan melepas Dyra ketika Ansel kembali, namun ternyata harapan Darren harus dipatahkan oleh takdir ketika Ansel membawa seorang wanita yang bernama Irene dalam keadaan sedang mengandung. Sebuah kenyataan yang tak memungkinan untuk membuat Dyra dan Ansel kembali. Ansel semakin hancur dengan rasa bencinya kepada Irene, sementara Darren dan Dyra perlahan menemukan jalannya untuk bahagia
Bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka?
Apakah Dyra dapat mencintai Darren seperti Darren yang sangat mencintainya?
Luka itu memang sangat sulit hilang, karena bekasnya akan terus ada seumur hidup.
Tapi cinta Darren akan selalu jadi penyejuk hati untuk Dyra. Cinta yang selalu ingin melihat seorang Dyra Anastasya bahagia.
Selamat membaca semua 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Darren
Ada tambahan di episode 28, harap dibaca lagi ya awalannya. 🥰🥰
Oh ya author boleh dong ya, minta like di setiap episodenya juga vote kalian semua, agar karya aku ini bisa menjadi karya terbaik di ranking vote. Terima kasih dan Author doakan semoga kalian diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu.
Selamat membaca!
Dyra kembali duduk di samping Darren. Ia menatap ke sekeliling taman yang tampak indah dengan bunga-bunga. Bunga-bunga yang Ansel hadiahkan kepada Dyra sebagai anniversary hubungan mereka yang pertama dan saat ini masih bermekaran menampakkan keindahannya di taman.
Dyra kembali hanyut dalam perasaan masa lalunya. Ia termangu menatap ke arah taman bunga itu dengan mata yang mulai berkabut, karena penuh dengan air mata.
"Kenapa hubungan kita tidak bisa seperti bunga itu, Ansel? Kalau saja kamu tidak melupakan janji setia yang sering kamu ucapkan padaku, mungkin saat ini kamulah pria yang berada di sebelahku," batin Dyra yang tiba-tiba meneteskan bulir bening dari sudut matanya.
Darren menatap wajah Dyra yang saat ini tampak dirundung piluh. Bahkan kebahagiaan tentang rencana mereka untuk pergi ke Paris, sekejap sirna ketika kenangan masa lalu itu menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Kebahagiaan itu kini dapat dikalahkan oleh kesedihan dan rasa sakit yang masih terasa di relung jiwanya. Luka yang teramat sulit untuk disembuhkan.
Betapa tidak, coba bayangkan saja bagaimana hancurnya hati seorang wanita, di hari pernikahannya pria yang dicintainya pergi tanpa kabar dan beberapa hari kemudian datang bersama wanita lain yang sedang mengandung anaknya. Hati wanita mana yang tak terluka dan merasa sakit dengan semua itu. Mungkin bila ada pertanyaan yang tepat untuk mewakili perasaannya kala itu adalah, apa ada wanita yang kuat untuk tidak menangis bila mengalami apa yang telah dilewati oleh seorang Dyra Anastasya.
Darren bangkit dan mencoba untuk mengusir kesedihan yang saat ini menaungi wajah Dyra. Ia lalu berlutut di hadapan Dyra dan menangkup kedua sisi wajah wanita yang saat ini tampak basah oleh air matanya.
Darren menatap dalam wajah Dyra dengan penuh cinta. "Hapus air matamu, berhentilah menangis karena kesedihanmu adalah siksaan untukku. Aku mohon kembalilah tersenyum," pinta Darren dengan wajahnya yang memerah, ia menahan rasa hancur di dalam hatinya, melihat kesedihan yang saat ini dirasakan oleh Dyra. Seorang wanita yang bertahta dalam hatinya selama dua tahun ini.
Dyra menahan isak tangis sekuat-kuatnya. Ia menekan dadanya untuk meredakan sesak yang saat ini mengikat napasnya. Dyra mulai mengusap air mata di wajahnya dan membalas tatapan Darren yang saat ini terasa begitu teduh untuk dipandangi.
"Bangunlah, aku sudah tidak apa." Dyra merengkuh tubuh Darren, hingga pria itu kini sudah duduk kembali di samping Dyra.
Darren mulai tersenyum menatap wajah Dyra yang kini sudah dapat menampilkan senyuman di wajahnya, walau mungkin terkesan memaksa.
"Semua kesedihanmu akan segera berakhir, Dyra. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan juga kepadamu. Sebuah keputusan yang walaupun berat, tapi semua ini aku lakukan untukmu."
Dyra menengadahkan kepala dengan rasa penasarannya atas apa yang akan Darren katakan. Setelah kejutan mereka akan pergi ke Paris, entah apalagi yang akan membuat Dyra terhenyak.
Darren menatap dalam kedua manik mata Dyra yang bening, lalu ia menyentuh punggung tangan milik Dyra, yang diletakkan di atas paha wanita itu dengan gerakan perlahan.
"Dyra," panggil Darren dengan lembut.
"Ya."
Darren menghela napas yang berat, sebelum mulutnya melontarkan pesan dari putranya pada Dyra. Setelah menghirup udara cukup banyak, akhirnya Darren pun mulai mengatakannya.
"Nanti malam Ansel akan pindah dari rumah ini bersama irene, dia..." Belum sampai di penghujung kalimatnya, tiba-tiba saja Dyra memotong ucapan Darren.
Dyra mengernyitkan dahinya, menampilkan ekspresi protes pada wajahnya. "Kenapa? Apa kamu sengaja mengusirnya dari rumah ini? Kenapa kamu harus melakukan itu?" tanya Dyra dengan bertubi-tubi.
Dyra memang sangat menghindari pertemuannya dengan Ansel di rumah ini demi menjaga suasana hatinya, tapi bukan berarti Ansel harus tersisihkan dari rumah yang selama 23 tahun ini, ditempatinya sejak ia lahir dan itu semua hanya karenanya.
"Ternyata kamu masih sangat mengkhawatirkan Ansel, ya. Apa saat ini di hatimu belum ada ruang setitik saja, untuk menerima kehadiranku sebagai pasanganmu?" tanya Darren, sayangnya pertanyaan itu hanya terpendam di dalam hati saja, membuat Dyra tak dapat mendengarnya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih banyak.
Ayo vote, vote, vote..
Mampir juga ke karyaku yang lain ya :