Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Di Dalam Bianglala
"Iya."
Satu kata itu membuat Louisa menggigit bibir agar tidak tertawa lagi.
Bukan karena lucu saja. Lebih karena Nathanael mengatakannya dengan wajah terlalu pasrah, seperti seseorang yang akhirnya menyerahkan dokumen rahasia setelah dipaksa audit. Di depan investor, mungkin tidak ada yang bisa membuatnya goyah. Di depan Halilintar, semua ketenangan itu rontok satu tikungan.
"Sejak kapan?" tanya Louisa.
"Kecil."
"Tapi tadi kamu tetap naik."
"Kamu mau naik."
"Itu bukan alasan sehat."
"Aku masih hidup."
"Barely."
Nathanael menoleh dengan tatapan protes.
Louisa akhirnya tertawa lagi, tetapi kali ini lebih pelan. Ia mengambil tisu dari tas kecilnya dan menyerahkannya. "Keringatmu di pelipis."
"Panas."
"Tentu. Kali ini pasti bukan takut."
"Louisa."
"Oke, oke. Aku berhenti."
Ia tidak berhenti sepenuhnya, tetapi setidaknya menyembunyikan senyumnya di balik botol air. Nathanael mengusap pelipisnya dengan tisu, lalu melipat tisu itu rapi sebelum membuangnya ke tempat sampah. Bahkan setelah hampir kalah dari roller coaster, ia masih tidak bisa membuang tisu sembarangan.
Setelah itu mereka memilih wahana yang lebih bersahabat. Mereka masuk ke area permainan interaktif, menembak target cahaya, lalu naik wahana dalam ruangan yang tidak terlalu tinggi. Nathanael mulai kembali menjadi dirinya sendiri, walaupun setiap kali terdengar teriakan dari wahana tinggi, bahunya bergerak sedikit.
Louisa pura-pura tidak melihat.
Sore berubah menjadi malam.
Lampu-lampu Dufan menyala satu per satu. Udara Ancol yang tadi panas mulai turun, diganti angin laut yang membawa bau garam dan popcorn. Musik dari area panggung terdengar samar. Orang-orang berjalan lebih lambat, sebagian memegang minuman dingin, sebagian berhenti untuk berfoto di bawah lampu warna-warni.
Louisa merasa kakinya pegal, tetapi hatinya ringan.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali akhir pekan terasa seperti ini. Tidak produktif. Tidak berguna untuk siapa pun. Tidak menghasilkan presentasi, laporan, atau pengaturan jadwal. Hanya berjalan, tertawa, makan kentang goreng terlalu asin, dan melihat pria yang menikah dengannya karena kesepakatan satu tahun ternyata takut tinggi.
"Capek?" tanya Nathanael.
"Sedikit."
"Mau pulang?"
Louisa melihat ke arah Bianglala yang mulai terang di kejauhan. Roda besar itu bergerak pelan, kabin-kabinnya berpendar lembut di langit malam.
"Satu lagi," katanya.
Nathanael mengikuti arah pandangnya.
Diam.
Louisa segera berkata, "Tidak harus. Kita bisa pulang."
"Bianglala pelan."
"Tapi tinggi."
"Tidak seperti Halilintar."
"Tetap tinggi."
Nathanael menatap Bianglala, lalu menatap Louisa. "Kamu mau?"
Pertanyaan yang sama.
Selalu kembali kepada ia mau atau tidak.
Louisa tidak langsung menjawab. Setelah semua bunga, bubur, catatan, Coisíní, dan Halilintar, ia mulai mengerti bahwa jawaban "kalau kamu mau" dari Nathanael bukan kalimat kosong. Itu caranya menaruh keinginan Louisa di depan rasa takutnya sendiri.
"Aku mau," katanya. "Tapi kalau kamu tidak mau, aku juga tidak apa-apa."
Nathanael mengangguk pelan. "Kita naik."
"Yakin?"
"Yakin."
"Kalau takut, kali ini bilang sebelum kita duduk."
"Aku takut."
Louisa terdiam.
Nathanael menatapnya dengan wajah datar.
"Kamu minta aku bilang sebelum duduk."
Louisa menutup wajah dengan tangan, tertawa tanpa suara. "Kamu benar-benar..."
"Realistis."
"Itu kata-kataku."
"Aku pinjam."
Mereka antre Bianglala. Antreannya tidak terlalu panjang. Di depan mereka, seorang ayah menggendong anaknya yang mengantuk. Di belakang, sepasang remaja memilih sudut terbaik untuk foto. Nathanael berdiri lebih dekat dari biasanya, bukan sampai menempel, tetapi cukup dekat sehingga punggung tangan mereka beberapa kali bersentuhan.
Louisa tidak menjauh.
Ketika tiba giliran mereka, petugas membuka pintu kabin. Nathanael masuk lebih dulu, memastikan lantainya stabil, baru memberi ruang untuk Louisa. Kebiasaan mengecek itu membuat Louisa ingin tersenyum lagi. Takut tinggi, tetapi tetap memastikan orang lain aman lebih dulu.
Kabin bergerak pelan.
Awalnya hanya naik sedikit. Dufan terbentang di bawah, penuh lampu dan suara yang makin mengecil. Louisa duduk di sisi jendela, Nathanael di seberangnya. Ia melihat tangannya bertumpu di lutut, jari-jari panjangnya diam, tetapi ibu jarinya sesekali bergerak.
"Mau pindah sebelah sini?" tanya Louisa.
"Tidak perlu."
"Di sana kamu menghadap bawah."
Nathanael memandang jendela, lalu tampaknya baru sadar bahwa ia memang memilih posisi yang kurang menguntungkan.
"Oh."
Louisa akhirnya tertawa.
"Sini."
Ia bergeser sedikit, memberi tempat di sisi yang menghadap ke laut, bukan langsung ke area bawah. Nathanael pindah dengan hati-hati. Kabin bergoyang kecil ketika beratnya berpindah, dan tangannya langsung meraih pegangan samping.
Louisa melihatnya.
Kali ini ia tidak menertawakan.
"Pegang kalau perlu," katanya, membuka telapak tangannya di antara mereka.
Nathanael menatap tangannya.
"Kalau aku pegang, kamu akan tertawa."
"Tidak."
"Tadi kamu tertawa."
"Tadi kamu memejamkan mata di Halilintar."
"Itu pengalaman ekstrem."
"Ini tidak ekstrem."
Nathanael diam sebentar, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Louisa.
Tidak sekuat di Halilintar.
Kali ini hati-hati. Seolah ia meminta izin pada setiap ruas jarinya.
Louisa menutup jari-jarinya pelan.
Bianglala naik semakin tinggi. Suara dari bawah mengecil menjadi dengung lembut. Dari jendela, laut Ancol tampak gelap dengan garis lampu di kejauhan. Angin membuat kabin berayun sangat halus. Nathanael menarik napas, tetapi kali ini tidak menutup mata.
"Lihat ke sana," kata Louisa. "Jangan ke bawah."
Nathanael mengikuti arah yang ia tunjuk.
Cahaya lampu taman memantul di wajahnya. Dari jarak sedekat itu, Louisa bisa melihat detail yang biasanya lewat begitu saja. Bulu matanya lebih panjang daripada yang ia kira. Garis hidungnya tegas. Bibirnya tipis, tetapi saat ia menahan takut, sudutnya turun sedikit seperti anak kecil yang tidak mau mengaku kalah. Rambutnya yang tadi rapi kini jatuh sedikit ke dahi karena angin dan hari panjang di Dufan.
Ia bukan hanya tenang.
Bukan hanya baik.
Bukan hanya pria yang mencatat daun bawang dan membeli bunga tanpa kartu.
Di bawah lampu Bianglala, dengan satu tangan menggenggam tangannya dan rasa takut yang masih ia tahan demi menemaninya, Nathanael terlihat... berbeda.
Louisa menatapnya terlalu lama.
Nathanael menoleh. "Kenapa?"
Louisa tersadar, lalu cepat-cepat melihat keluar jendela.
"Nggak apa-apa."
"Kamu yakin?"
"Iya."
Telinganya terasa panas.
Nathanael tidak bertanya lagi. Ia hanya menoleh lagi ke arah laut seperti yang tadi Louisa sarankan, seakan benar-benar percaya pada petunjuk kecil darinya. Genggamannya tetap hati-hati, tidak menarik, tidak menahan terlalu kuat. Namun jari-jarinya masih menempel di sela jarinya, cukup nyata untuk membuat Louisa sadar bahwa ia tidak ingin segera melepaskan.
Ia pernah mengira jantung berdebar selalu berarti sakit menunggu seseorang yang tidak melihatnya.
Malam ini, debar itu terasa berbeda.
Di luar, Dufan berputar pelan di bawah mereka. Di dalam kabin, tangan Nathanael masih berada dalam genggamannya.
Louisa menunduk, menyembunyikan senyum yang tiba-tiba sulit ditahan.
Ternyata... dia tampan juga.