Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25 Tambah ilmu
Kenzo akhirnya turun dari mobil juga. Bola matanya beredar. Ia lihat Fela berjalan mendekati lobi. Pria yang ada disana menunjuk ke arah kiri.
Itu arah ke cafe, batin Kenzo hapal.
Mereka akhirnya masuk ke kafe semi-terbuka tersebut dan memilih meja di sudut yang menghadap langsung ke area parkir.
Posisi ini sempurna bagi Fela untuk mengamati tanpa terlihat mencolok.
Fela memesan dua minuman. lalu segera membuka tabletnya. Mengetik sesuatu disana.
Selama hampir satu jam Fela tenggelam dalam observasinya. Mencatat segalanya tentang kendaraan orang-orang elit yang terparkir di sana.
"Ketemu sesuatu?" tanya Kenzo yang sejak tadi membiarkan wanita ini meneliti dengan sesuka hati. Dia senang Fela tampak asyik menulis sesuatu dalam tabletnya.
"Banyak," jawab Fela setengah berbisik. "Selama ini, tim kreatif kita selalu mengasumsikan kalau konsumen mobil listrik premium itu cuma suka desain yang stylish dan minimalis. Warna-warna aman yang monoton kayak hitam atau abu-abu metalik. Tapi lihat di luar sana." Fela menunjuk luar cafe dengan ujung telunjuknya.
Kenzo mengikuti arah yang dikatakan Fela.
"Dari beberapa mobil super mahal yang baru datang, ada yang warnanya kuning lemon dan merah menyala. Itu warna yang ngejreng bukan?"
"Ya." Kenzo mengangguk setuju.
"Artinya, orang kaya tidak semuanya ingin tampil dengan sederhana. Mereka suka desain yang stylish dan sederhana secara siluet, tapi mereka butuh satu elemen eksentrik seperti pilihan warna yang mencolok. Ini ilmu baru yang mahal," ujar Fela semangat
Kenzo baru saja akan menanggapi. Tapi bola matanya melebar ketika melihat seorang pria yang berjas rapi sedang berjalan ke arah meja mereka.
Set.
Kenzo langsung menunduk. Tangannya menutupi wajahnya, mencoba bersembunyi dan menghindar agar identitasnya tidak terbongkar.
"Sepertinya dia manajer tempat ini," bisik Fela. Namun tidak ada suara yang menanggapinya. "Ken. Kenzo?" panggil Fela.
"Ya?" sahut Kenzo. Meskipun ia menoleh pada Fela, tapi tangannya tidak menjauh dari wajahnya.
"Kenapa?" tanya Fela heran.
"Apa?"
"Kamu pusing?" Kali ini Fela cemas karena tangan Kenzo memegangi kepalanya.
Kenzo diam sejenak. Ia menyadari posenya mirip orang yang sakit kepala. "Oh, iya. Sedikit."
"Bukannya aku melarang mu ikut." Fela protes.
"Oh, tidak. Tidak apa-apa. Hanya ... Haus." Kenzo berusaha keras mencari alasan.
Fela melihat ke arah cangkir kopi yang ia pesan. "Minumannya kurang? Atau kamu butuh air putih?" Fela tampak cemas. Wanita ini benar-benar khawatir sepertinya.
"Aku enggak apa-apa," kilah Kenzo merasa tidak enak.
"Biar aku pesan air putih. Haus itu lebih baik air putih aja. Atau kalau enggak aku pesankan teh hangat saja. Jahe hangat? Sesuatu yang hangat meredakan pusing juga."
"Hei, Fela."
Meski sudah ditahan, Fela sudah berjalan menjauh untuk mengambil air. Setelah manajer itu pergi, Kenzo meletakkan menu di atas meja dengan normal.
Tidak lama Fela kembali dengan air putih dan jahe hangat sepertinya. Fela menyodorkan gelas ke arah Kenzo. "Minumlah."
"Terima kasih." Kenzo menerimanya dan terpaksa meneguknya meski tidak ingin. Demi membuat Fela lega karena sudah mencemaskannya. Namun rasa hangat dari jahe membuat perutnya enak. "Enak juga," kata Kenzo takjub.
"Lain kali jangan ikut kalau badanmu kurang sehat," semprot Fela. "Sudah mendingan?"
"Ya. Lumayan," bohong Kenzo.
Fela menghela napas lega. Ia kembali mengamati orang-orang setelah memastikan Kenzo baik-baik saja. Saat itulah mata Fela melirik ke arah area VIP lounge yang berada di sudut dalam clubhouse.
Tempat itu tampak sangat eksklusif dengan pintu kaca patri besar. Merasa bahwa target riset yang lebih potensial ada di dalam sana, tanpa sadar kaki Fela melangkah menuju ke sana. Dia berniat masuk untuk melanjutkan pengamatannya.
Namun, begitu tiba di depan pintu langkah Fela langsung dihadang oleh petugas keamanan.
"Mohon maaf. Area ini khusus untuk anggota yang memiliki member card VIP," ucap petugas itu dengan sopan.
Fela langsung tertegun. Ia lupa bahwa tempat semewah ini memberlakukan aturan kartu keanggotaan yang ketat. Ia terdiam di tempat. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa kecewa.
"Aku lupa kalau tempat ini butuh member card," gumam Fela. Ia sedikit mundur dan melihat ke arah tabletnya. Ia lihat rencana lainnya.
Kenzo yang ikut mendekat dari belakang langsung membaca situasi. Dengan gerakan yang sangat tenang dan cepat tangan Kenzo merogoh saku. Mengambil dompet dan ia mengeluarkan sebuah kartu logam hitam dengan logo emas. Lalu memberikan pada petugas itu tanpa ketahuan Fela. Telunjuknya sempat menempel di bibir, mengisyaratkan agar petugas itu tidak bersuara.
Petugas itu seketika mengenali kartu itu. Kartu keanggotaan VIP. Petugas itu terkejut. Kenzo memberikan kode kedipan mata yang tegas meminta sesuatu. Petugas itu mengangguk.
"Ah... tapi Mbak," ujar petugas itu terbata sejenak, buru-buru mengubah nada bicaranya menjadi jauh lebih hormat sembari membungkuk kecil.
Fela menoleh karena merasa petugas itu bicara dengannya.
"Tapi khusus untuk siang ini, karena kuota kunjungan di dalam sedang senggang, Mbak dan Masnya diperbolehkan masuk," ujar petugas.
Pintu kaca patri besar itu pun langsung dibukakan lebar-lebar dari dalam.
Fela berkedip heran. Rasa kecewanya langsung buyar, berganti bingung karena mereka mendadak diloloskan begitu saja dengan alasan yang terdengar agak aneh untuk tempat sekelas ini. "Lho, beneran boleh?" tanya Fela memastikan.
"Silakan," jawab petugas itu dengan senyum ramah.
Fela akhirnya melangkah masuk dengan perasaan lega dan senang karena risetnya bisa berlanjut. Sementara itu, Kenzo menyelipkan kembali kartunya ke dalam saku dengan gerakan cepat yang tak kentara.
Namun, atmosfer di dalam VIP lounge langsung membuat Fela abai soal keanehan di pintu depan tadi. Rasa bingungnya hilang begitu saja. Digantikan oleh binar mata antusias saat melihat pemandangan di sekelilingnya.
Di sini, Fela benar-benar mendapat tambahan ilmu baru tentang dua sisi kontras dari selera orang-orang elit.
Jika saat di kafe luar tadi Fela menyimpulkan bahwa sebagian orang kaya memiliki ego besar dan suka menonjol lewat pilihan warna kendaraan mereka yang terang dan mencolok, di dalam ruangan privat ini ia justru melihat sisi sebaliknya. Di ruang yang tenang ini, mereka justru melepas semua atribut mentereng itu.
Fela memperhatikan bagaimana para konglomerat itu berinteraksi dengan begitu bersahaja. Pakaian mereka terlihat polos dan sederhana. Didominasi warna-warna redup yang tenang tapi potongan baju yang bagus.
Ilmu baru ini langsung dicatat oleh Fela dengan jemari yang bergerak lincah. Dua konsep kesukaan orang elit kini tergambar jelas di otaknya.
Mereka suka tampil terang dan eksentrik di ruang publik untuk menegaskan eksistensi, namun mereka juga sangat memuja kesederhanaan dan ketenangan yang privat saat berkumpul dengan sesamanya.
Gabungan dua elemen kontras ini adalah ide yang unik. Terang sekaligus sederhana. Bisa jadi ide untuk iklan mobil listrik nanti.