NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rezeki yang dibagi

Abis dari Indomaret, Andira naik ojek online ke pasar dekat rumah.

Buat beli kebutuhan makan beberapa hari ke depan: beras, minyak, telur, ayam, sayur.

Udah selesai, Andira pulang ke rumah. Tas belanjaan digotong sendiri.

Dia buka WA. Ngetik ke Lia:

"Lia, nanti ke rumah ambil sedikit rezeki buat Putri sama Tio ya.

Mbak baru gajian, jadi mau bagi-bagi berkah keponakan."

"Iya, Mbak. Terima kasih," balas Lia cepat.

Andira senyum. Dia mulai beresin belanjaan. Masuk-masukin ke toples sama kulkas.

"Enak kali ya hari ini gajian. Jangan masak lagi deh.

Sebentar Lia dateng, aku beli aja makanan jadi,"

Andira batin sambil nyusun cabai ke keranjang.

"Assalamualaikum, Mbak," ucap Lia dari luar. Suaranya pelan.

"Waalaikumsalam," jawab Andira sambil jalan keluar.

"Wah, udah dateng aja nih. Mari masuk," ucap Andira buat Lia sama Rendi.

"Kok berdua aja? Mana si bocil-bocil?" sambung Andira.

"Mereka lagi belajar, Mbak. Biar sekalian jaga rumah," ucap Lia.

"Oh, ya udah. Silakan duduk. Dan ini sedikit rezeki buat mereka berdua,"

ucap Andira sambil ngambil amplop cokelat dari saku celananya.

Dia kasih ke Lia. Di dalamnya ada uang 500 ribu.

200 buat Putri, 300 buat Tio. Buat jajan sama beli buku.

"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Rendi sama Lia bareng.

Mukanya malu-malu.

"Sama-sama. Eh, Reno tolong beliin Mbak nasi Padang di ujung gang sana ya.

Mbak gak masak malem ini. Sekalian beli tiga bungkus.

Biar kita makan bareng. Gak ada yang boleh nolak,"

ucap Andira. Nadanya tegas tapi sayang.

"Iya, Mbak," jawab Rendi. Diikuti Lia, "Siap, Mbak."

Sekitar 45 menit kemudian, nasi Padang dateng.

Bungkus daun, anget. Ada rendang, ayam gulai, sambal ijo.

Mereka milih makan di teras depan rumah. Lesehan di tikar.

Angin malem sepoi-sepoi.

"Enak yaaaa... Katanya keluarga. Giliran seneng sendirian ya?

Kalau susah baru kalian tau inget kalau aku ini Mbak kalian, hah?"

ucap Imel sambil menongka pinggang.

Andira, Lia, sama Rendi kaget. Sontak nengok ke arah gerbang.

"Maaf, Mbak. Kami gak tau kalau Mbak dateng,"

ucap Andira hati-hati. Dia buru-buru berdiri.

"Terus kalau kami gak dateng berarti kami gak tau kalian lagi makan bareng gitu?"

balas Imel. Gak mau kalah.

"Ya udah, Mbak duduk dulu. Aku beliin lagi ya," ucap Andira.

Diikuti Rendi sama Lia, "Iya, Mbak. Biar Mas Rendi beliin."

"Udah gak perlu. Emangnya kami orang susah?

Buat makan aja harus ngarep dari kamu?" sindir Imel.

Lia cuma nunduk. Milih diem. Dia ngerti Mbak iparnya lagi nyari ribut.

"Apa-apaan sih kamu, Mel?" cetus Ikbal. Dia baru dateng dari belakang.

"Bela aja terus! Yang istri kamu aku apa mereka, hah?" ucap Imel.

Tangannya nunjuk ke arah Andira.

"Udah-udah, Mbak, Mas. Mari duduk," jawab Rendi. Dia geser tikar.

"Gak perlu. Andira, kami mau ngecek apakah uang Jasa Raharja

atas kecelakaan Renaldi udah keluar. Kalau udah, kami minta bagian kami,"

ucap Imel ceplos. To the point banget.

"Mbak, itu kan hak Mbak Imel, bukan buat dibagi ke kami," potong Rendi.

"Diam kamu, Ren! Tau apa kamu! Renaldi itu suami Andira,

tapi kita berdua saudaranya. Jadi berhak dapet. Apalagi aku,

karena aku kakak, jadi berhak dapet lebih. Paham?" hardik Imel lagi.

"Udah, Mbak. Uangnya udah aku urus abis selesai 40 hari itu,"

jawab Andira pelan. Dia duduk lagi di tikar.

Sambil ngebuka tangan ke Andira, Imel bilang:

"Bagus. Mana bagian aku? Sini."

"Iya, Mbak. Aku rencana cari waktu kita ketemu.

Aku akan kasih sedikit buat Mbak, sama sedikit buat Rendi," tukas Andira.

"Alasan aja kamu. Untung aku nanya. Kalau enggak, hilang lagi,"

sambar Imel lebih cepat. Nadanya nuduh.

"Mari, Mbak. Kita bicarain di dalam," ajak Andira.

Dia berdiri, buka pintu ruang tamu.

Mereka masuk. Pintu ditutup. Di teras tinggal bungkus nasi Padang yang udah dingin.

Di ruang tamu, Andira duduk di sofa. Imel duduk di kursi,

nyilangin kaki. Ikbal diem di pojok. Lia sama Rendi duduk di lantai.

"Sebenarnya ini hak aku, Mbak. Gak perlu juga dibagi,"

buka Andira pelan. Suaranya tegas. "Tapi emang dari awal

aku udah berencana mau bagi buat kedua saudara ipar aku.

Biar sedikit, yang penting kebagian. Cuma waktunya aja belum pas."

Imel langsung menyela. "Berarti emang udah ada niat gak ngasih ya?

Mikirin diri sendiri terus kamu!"

"Bukan gitu, Mbak. Aku udah dapet santunan dari perusahaan Mas Renaldi

sebesar 150 juta. Nah, dari Jasa Raharja 50 juta lagi.

Aku niatnya mau bagi 10 juta buat Mbak, 10 juta buat Rendi.

Sisanya aku simpen buat masa depan. Mas Renaldi nitip aku,"

jelas Andira. Dia buka map, ngeluarin surat-surat.

Ikbal ngangkat alis. "Oh, jadi udah ada rencananya?

Kenapa gak bilang dari awal, Mel? Main nuduh aja."

"Mas diem! Dia pasti bohong! Mana buktinya?" hardik Imel.

Dia mau ngerebut map dari tangan Andira.

Andira narik map itu. "Mbak, ini dokumen negara.

Jangan kasar. Aku gak bohong. Ini transferan santunan,

ini surat Jasa Raharja. Tuh, ada tanggalnya."

Imel liat sekilas. Terus noleh ke Ikbal. "Mas, liat. Dia mau ngasih cuma 10 juta.

Padahal dia dapet 200 juta total. Pelit banget!"

"Mel, 10 juta itu gede, Mel. Buat DP rumah cukup," ucap Ikbal pelan.

"Aku gak mau tau! Aku kakak! Aku harus dapet lebih dari Rendi!"

ngotot Imel. Suaranya melengking.

Rendi yang dari tadi diem akhirnya angkat bicara.

"Mbak, aku ikhlas berapa pun. Yang penting Mbak Andira gak susah.

Mas Renaldi nitip Mbak ke aku. Aku gak mau ngecewain almarhum."

Andira langsung pegang tangan Rendi. "Makasih, Ren.

Mas Renaldi pasti seneng denger kamu ngomong gitu."

Imel makin panas. "Dasar menjilat! Demi 10 juta jilat sana sini!"

"Imel! Cukup!" bentak Ikbal. Dia berdiri. "Kita pulang.

Uang itu hak Andira. Dia mau bagi seikhlasnya. Itu udah baik banget."

Imel gak terima. Dia ambil bantal sofa, banting ke lantai. "Prak!"

"Aku gak mau pulang sebelum dapet uang!"

Andira tarik napas. Dia ambil amplop putih dari laci.

Di dalamnya ada cek 10 juta atas nama Imel.

"Mbak, ini. Cek 10 juta. Bisa dicairin besok di bank.

Atas nama Mbak Imel. Ini buat Mbak. Ikhlas dari aku,"

ucap Andira sambil nyodorin.

Imel langsung sambar. Dia liat nominalnya.

Mukanya masih cemberut, tapi tangannya gak ngelepas cek itu.

"Terus buat Rendi mana?" tanya Imel.

Andira ngambil amplop cokelat lagi. Isinya cek 10 juta juga.

Atas nama Rendi. "Ini buat Reno. Buat nambah modal ojek online.

Mas Renaldi dulu bilang pengen beliin motor baru buat adiknya."

Rendi kaget. Dia tolak pelan. "Mbak, aku gak enak.

Aku udah ditraktir nasi Padang aja udah seneng."

"Ambil, Ren. Ini wasiat Mas Renaldi. Dia bilang ke aku,

'Kalo aku kenapa-napa, kasih Reno modal usaha. Biar dia gak ngojek terus.'

Aku tepati, Ren," ucap Andira. Matanya berkaca.

Akhirnya Rendi terima. Dia salim ke Andira. "Makasih, Mbak.

Aku janji pake buat yang bener."

Imel liat itu, makin kesel. "Halah, sandiwara!

Uang aku mana? Kok cuma cek? Kasih cash dong!"

"Uang cash aku gak pegang, Mbak. Semua aku taruh deposito.

Biar gak abis. Cek ini bisa dicairin besok. Sah, Mbak,"

jelas Andira sabar.

Ikbal narik tangan Imel. "Udah, Mel. Kita pulang.

Udah dapet kan? Jangan bikin malu di rumah orang."

Imel masih ngomel. "Tapi aku maunya 50 juta semua!

Aku kakak!"

"Mel! Kamu kakak, tapi kamu gak yatim piatu.

Andira itu istri almarhum. Dia yang paling berhak.

Kita dikasih aja udah syukur," tegas Ikbal. Dia nyeret Imel keluar.

Di depan pintu, Imel masih noleh. "Inget ya, Ndir.

Kalo ada warisan rumah, aku juga kebagian!"

Pintu dibanting. "Brak!"

Suasana ruang tamu hening. Cuma kedengeran suara jam dinding.

Lia langsung peluk Andira. "Mbak, maafin kami ya.

Mbak Imel gitu orangnya."

Andira geleng. "Gak apa-apa, Lia. Aku udah duga.

Makanya aku siapin cek dari awal. Biar gak ribut."

Rendi liat cek di tangannya. "Mbak, aku beneran gak nyangka.

Aku kira Mbak pake sendiri semua."

Andira senyum tipis. "Aku gak butuh banyak, Ren.

Aku punya gaji guru. Ini uang Mas Renaldi.

Aku bagi biar berkahnya buat kita semua."

Jam 8 malam, nasi Padang di teras udah dingin.

Tapi mereka tetep makan. Kali ini suasananya lebih anget.

"Mas, ini rendangnya enak. Kayak masakan Mbak dulu,"

ucap Andira sambil menyuap sesendok di mulutnya.

Rendi ketawa kecil. "Iya, Mbak. Mas Renaldi pasti seneng

liat kita makan bareng gini. Gak ribut."

Lia nyuapin Andira pake ayam. "Mbak, makan banyak ya.

Biar gemuk. Biar Mas Renaldi bangga liat Mbak sehat."

Andira makan. Air matanya jatuh ke nasi.

"Mas, aku bagi ya uangnya. Kayak Mas bilang dulu.

Rezeki itu diputer, jangan ditimbun."

Abis makan, Andira anterin Lia sama Rendi sampe gerbang.

Dia salim ke mereka berdua.

"Lia, Reno, makasih ya udah mau dateng.

Makasih udah mau nerima rezeki dari aku."

Lia peluk Andira. "Mbak, kami pamit ya.

Putri sama Tio pasti seneng dapet amplopnya."

Rendi nyalain motor. "Mbak, hati-hati di rumah ya.

Kunci pintu rapat-rapat."

Andira angguk. Dia melambai sampe motor Rendi hilang di tikungan.

Masuk rumah lagi, sepi. Andira duduk di sofa.

Ambil HP. Buka galeri. Foto Renaldi pas nikahan.

"Mas, aku udah bagi ya uangnya. 10 juta buat Mbak Imel,

10 juta buat Reno. Aku simpen 30 juta buat aku.

Buat modal jualan kecil-kecilan. Biar aku gak dibilang benalu, Mas."

Andira buka diary. Nulis pake pulpen:

"Hari ini Mbak Imel dateng nagih Jasa Raharja.

Aku kasih 10 juta. Dia ngomel. Tapi tetep diambil ceknya.

Reno aku kasih 10 juta juga. Dia nangis, bilang makasih.

Mas, aku seneng bisa bagi rezeki Mas.

Walaupun dicaci maki dulu.

Aku ikhlas, Mas. Biar Mas di sana tenang.

Mbak Imel bilang aku pelit.

Padahal aku cuma mau uang Mas dipake berkah.

Bukan buat beli tas baru terus pamer.

Mas, doain aku ya. Biar rezeki yang sisa ini berkah.

Biar aku bisa buka usaha kecil. Jualan online.

Biar gak ada yang bilang aku numpang hidup lagi."

Andira tutup diary. Taruh di laci. Kuncinya diputer.

Jam 11 malam, HP-nya bunyi. Chat dari Lia:

"Mbak, Putri sama Tio nangis seneng dapet amplop.

Makasih ya, Mbak. Kami doain Mbak terus."

Andira bales: "Sama-sama, Lia. Bilang ke Putri Tio,

Om Renaldi kirim salam. Om sayang kalian."

Dia matiin lampu. Tidur di kasur.

Kali ini gak peluk guling. Tapi peluk bantal.

Mimpi dia: Renaldi senyum, ngacungin jempol.

"Bagus, Sayang. Rezeki dibagi, pahala ngalir."

Andira bangun subuh. Wudhu. Sholat tahajud 2 rakaat.

"Ya Allah, makasih udah kasih aku rezeki.

Makasih udah kasih aku hati buat berbagi.

Kuatin aku menghadapi Mbak Imel ya Allah."

Abis sholat, dia buka HP.

Imel update status: "Alhamdulillah dapet rezeki nomplok.

Rezeki anak soleh. Gak ngemis."

Andira cuma senyum. Dia komen di hati:

"Alhamdulillah, Mbak. Semoga berkah."

Dia gak bales. Gak ribut.

Karena dia udah belajar:

Ngasih itu gak harus nunggu diucapin makasih.

Ngasih itu cukup Allah yang tau.

Dan malam itu, Andira tidur nyenyak.

Dompetnya gak setebel kemarin.

Tapi hatinya lebih lega dari kemarin.

Karena dia udah tepati janji ke suaminya:

Jadi istri yang dermawan. Walaupun disakiti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!