NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat

Jarum jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam ketika pintu penthouse akhirnya terbuka.

Arsen melangkah masuk dengan langkah pelan.

Di tangan kirinya masih tergenggam kotak kayu hitam yang diberikan Adrian Malik.

Sesaat ia memandang benda itu.

Lalu tanpa suara, ia menyimpannya di dalam laci meja kerja yang berada di dekat ruang kerja kecilnya. Laci itu dikunci rapat sebelum kuncinya ia masukkan ke dalam saku celana.

Belum malam ini.

Ia belum siap membukanya.

Arsen mengembuskan napas panjang sebelum berbalik menuju ruang tengah.

Langkahnya terhenti.

Lampu utama sudah dimatikan. Hanya lampu lantai di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan.

Di sofa...

Senja tertidur sambil memeluk sebuah bantal kecil.

Laptopnya masih terbuka di atas meja, beberapa lembar dokumen berserakan di sampingnya.

Alis Arsen sedikit berkerut.

"Gadis ini..."

gumamnya pelan.

"Tidur di sini."

Ia mendekat perlahan.

Mungkin karena mendengar langkah kaki, bulu mata Senja bergerak pelan.

Matanya terbuka sedikit.

Pandangan itu masih kabur karena baru terbangun.

"Pak..."

Suaranya lirih.

"Bapak baru pulang?"

"Iya."

Senja berusaha duduk.

"Saya... ketiduran."

Arsen mengangguk kecil.

"Kenapa tidak tidur di kamar?"

"Saya..."

Senja tersenyum malu.

"Mau nunggu Bapak pulang."

Kalimat sederhana itu membuat dada Arsen menghangat.

Begitu banyak hal yang ia dengar malam ini.

Tentang Bagaskara.

Tentang ibunya.

Tentang kotak yang belum berani ia buka.

Namun satu kalimat dari Senja...

Seolah meredakan semua kekacauan di kepalanya.

"Pak?"

Senja memanggil pelan saat melihat Arsen hanya diam menatapnya.

"Ada apa?"

Tanpa menjawab, Arsen berjongkok di depan sofa hingga sejajar dengan wajah Senja.

Tatapannya lembut.

Jauh berbeda dari biasanya.

"Terima kasih."

Senja tampak bingung.

"Untuk apa?"

"Karena sudah menunggu saya."

Belum sempat Senja menjawab...

Arsen mengangkat satu tangan, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Senja ke belakang telinganya.

Gerakannya begitu pelan.

Begitu hati-hati.

Seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga.

Senja hanya bisa menatapnya.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Arsen menarik napas pelan.

Lalu, tanpa banyak kata, ia mendekat dan mengecup bibir Senja singkat.

Bukan ciuman yang terburu-buru.

Bukan pula luapan emosi yang kehilangan kendali seperti beberapa hari sebelumnya.

Melainkan sebuah ciuman yang tenang...

Seolah ingin memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar ada.

Saat Arsen menjauh, kening mereka nyaris masih bersentuhan.

"Saya..."

ucap Arsen pelan,

"...senang bisa pulang dan menemukan kamu di sini."

Senja merasakan pipinya menghangat.

Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang tak bisa ditahannya.

Di luar jendela, gemerlap lampu Jakarta masih menyala.

Sementara di dalam penthouse itu...

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa malam yang terasa begitu damai...

Mungkin adalah ketenangan terakhir sebelum rahasia di dalam kotak kayu itu mengubah segalanya.

Beberapa detik...

Tak satu pun dari mereka berbicara.

Senja masih menundukkan kepala.

Sementara Arsen tetap berjongkok di hadapannya, memandang wajah gadis itu yang mulai memerah.

"Pak..."

Suara Senja nyaris berbisik.

"Hm?"

"Bapak..."

Ia menggigit pelan bibir bawahnya, mencari keberanian.

"...akhir-akhir ini sering mencium saya."

Kalimat itu membuat Arsen tersenyum tipis.

"Maaf."

"Bukan..."

Senja buru-buru menggeleng.

"Saya bukan marah."

"Tapi..."

Ia kembali menunduk.

"...saya jadi bingung."

"Bingung?"

"Iya."

"Soalnya setiap Bapak melakukan itu..."

"...jantung saya selalu berdebar."

Pengakuan polos itu membuat Arsen terdiam.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu duduk di samping Senja di sofa.

"Apa saya membuatmu tidak nyaman?"

Senja langsung menggeleng.

"Nggak."

"Hanya..."

"...semuanya terasa cepat."

Arsen mengangguk pelan.

"Saya mengerti."

Beberapa saat mereka kembali diam.

Suasana apartemen begitu tenang hingga suara pendingin ruangan terdengar jelas.

Lalu Senja tersenyum kecil.

"Pak."

"Iya?"

"Boleh saya tanya satu hal?"

"Silakan."

"Bapak..."

"...sebenarnya sudah lama suka sama saya?"

Arsen tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

"Ternyata pertanyaannya itu."

"Iya."

"Soalnya saya penasaran."

Arsen menatap lurus ke depan.

"Saya juga tidak tahu sejak kapan."

"Mungkin..."

"...sejak kamu mulai memenuhi hampir semua pikiran saya."

Senja mematung.

Ia sama sekali tidak menyangka Arsen akan menjawab sejujur itu.

"Tapi saya sadar satu hal."

Arsen menoleh kepadanya.

"Saya tidak ingin kehilangan kamu."

Tatapan mereka kembali bertemu.

Kali ini...

Senja tidak mengalihkan pandangannya.

Perlahan, jemari kecil Senja bergerak lebih dulu.

Ia menggenggam tangan Arsen dengan ragu.

Hanya sebentar.

Namun cukup membuat Arsen membalas genggaman itu dengan lembut.

Tak ada kata-kata manis yang berlebihan.

Hanya dua orang yang duduk berdampingan dalam keheningan, saling menggenggam tangan, seolah sedang mencari ketenangan di tengah badai yang perlahan mendekat.

Beberapa menit kemudian, Senja menguap pelan.

Arsen tersenyum tipis.

"Sudah mengantuk?"

Senja mengangguk malu.

"Iya..."

"Kalau begitu..."

Arsen berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya.

"Ayo."

"Saya antar ke kamar."

Senja menerima uluran tangan itu.

Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.

Senja baru saja berdiri dari sofa ketika langkahnya terhenti.

Tangannya masih berada di dalam genggaman Arsen.

"Pak..."

Arsen tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru jatuh pada wajah Senja yang masih memerah.

Beberapa helai rambutnya yang setengah kering terurai di sekitar pipi.

Entah karena cahaya lampu atau karena rasa malu...

Wajah itu tampak semakin cantik di mata Arsen.

"Ada apa, Pak?"

Suara Senja terdengar pelan.

Arsen mengangkat tangan kanannya, menyelipkan sehelai rambut Senja ke belakang telinganya.

"Besok..."

"...jangan menunggu saya lagi kalau pulang terlalu malam."

Senja tersenyum kecil.

"Nggak janji."

"Kamu keras kepala."

"Ibu Ratih juga sering bilang begitu."

Arsen terkekeh pelan.

Suara tawa kecil itu membuat Senja ikut tersenyum.

Jarang sekali ia melihat Arsen setenang malam ini.

Namun senyum itu perlahan memudar ketika Arsen kembali mendekat.

"Pak..."

"Hm?"

"Bapak lihat saya terus."

"Saya tahu."

"Terus kenapa?"

Arsen tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap mata Senja cukup lama.

"Lagi menghafal."

"Menghafal?"

"Iya."

"Takut suatu hari saya tidak sempat melihatmu seperti ini."

Kalimat itu membuat dada Senja berdesir.

Ia tidak memahami sepenuhnya maksud Arsen.

Namun ada kesedihan yang samar terdengar dari nada suaranya.

Tanpa berpikir panjang, Senja mengangkat tangannya.

Perlahan ia menyentuh pipi Arsen.

"Pak..."

"Bapak capek ya?"

Sentuhan kecil itu membuat Arsen memejamkan mata sesaat.

Hangat.

Sangat hangat.

Ia membuka matanya kembali, lalu menggenggam tangan Senja yang masih berada di pipinya.

"Saya memang capek."

"Tapi..."

"Saya bersyukur bisa pulang."

"Karena ada kamu."

Pipi Senja kembali memanas.

Ia menunduk, salah tingkah.

Arsen tersenyum tipis melihat reaksinya.

Dengan lembut, ia mengecup kening Senja.

Lama.

Seolah ingin menenangkan dirinya sendiri.

Saat bibirnya menjauh, Senja spontan menyandarkan kepalanya di bahu Arsen.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada janji yang diucapkan.

Hanya keheningan yang terasa begitu nyaman.

Arsen perlahan melingkarkan satu tangan di bahu Senja.

Membiarkan gadis itu bersandar selama yang ia mau.

Di dalam pelukannya, Arsen kembali teringat kotak kayu yang kini tersimpan di dalam laci.

Ia tahu...

Ketenangan malam ini tidak akan berlangsung lama.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!