NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

...Jantung Arka....

Arka berjalan menuju kantor Kompi dengan langkah yang sedikit tergesa, memeluk erat rantang onde-onde milik Naira. Begitu sampai di sana, ia mendapati Kapten Yudha masih duduk di balik meja kerjanya dengan raut wajah gelisah.

Arka langsung mengambil posisi siap. "Lapor, Kapten."

"Ka, kamu lihat berkas kesehatan bulan Agustus untuk Kompi VI?" tanya Kapten Yudha langsung tanpa basa-basi, dahinya berkerut dalam.

Arka terdiam sesaat. Matanya mengernyit seraya mengingat-ingat. "Lapor, Komandan. Saya tidak mengecek di bulan itu."

"Tolong carikan di antara berkas-berkas kantor saya sekarang," perintah sang Kapten tegas, mengisyaratkan bahwa dokumen itu sangat mendesak.

Arka sedikit mematung. Detik itu juga, bayangannya langsung melayang pada Naira yang sedang duduk sendirian menunggunya di depan poliklinik. Perasaannya mendadak tidak enak, namun di dunia militer, perintah atasan adalah mutlak dan harus didahulukan.

Arka mengencangkan rahangnya, lalu memberi hormat tegak. "Siap, Kapten."

Butuh waktu beberapa lama sampai Arka berhasil menemukan berkas tersebut, terselip di antara tumpukan map kesehatan lain yang belum sempat dirapikan dengan rapi. Gerakan kaki pria itu langsung bergegas kembali ke meja sang atasan.

"Lapor, Kapten. Berkas telah ditemukan." Sikap tegap Arka terasa sedikit kaku. Apalagi ketika ia melihat Kapten Yudha mulai mengendus-endus udara, menatap penasaran ke arah rantang besar yang diletakkan Arka di sudut meja.

"Kamu bawa apa, Ka? Aromanya enak sekali."

Arka menajamkan tatapannya sesaat sebelum menjawab, "Lapor, Kapten. Camilan dari calon istri saya."

Kapten Yudha seketika mengangguk paham. "Oh, benar. Hari ini jadwal pemeriksaan kesehatan kalian, ya? Saya hampir lupa karena urusan berkas ini. Kalau begitu, kamu boleh segera kembali ke poliklinik."

Kapten Yudha melirik sekilas ke arah tumpukan map, lalu kembali menatap Arka dengan senyum tipis yang sarat akan maksud lain. "Cepatlah kembali. Kita tidak pernah tahu apa yang akan Laudya katakan pada calon istrimu itu."

Deg.

Tubuh Arka mendadak membeku di tempat. Kalimat bernada peringatan dari komandannya itu telak menghantam kesadaran Arka. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera memberikan hormat tegak secepat kilat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kantor Kompi dengan langkah yang jauh lebih cepat—hampir menyerupai lari kecil.

Sepanjang koridor, beberapa kali ia berpapasan dengan bawahan yang serempak berhenti untuk memberinya hormat komando. Arka membalasnya dengan anggukan sekilas yang buru-buru. Rasanya, detik demi detik berjalan dengan begitu lambat dan menyiksa.

Sial!

Naira sudah masuk ke kandang harimau betina, dan dia tidak ada di sana untuk melindunginya. Dengan langkahnya yang lebar. Tangan kasar itu mendorong dengan sedikit tenaga berlebih.

Braaakkk!!

Pintu poliklinik terbuka dengan dentuman keras. Arka berdiri di ambang pintu, napasnya tersengal. Di dalam ruangan, kedua wanita itu serempak menoleh ke arahnya. Tatapan Laudya sedikit tajam, alisnya terangkat dengan senyum penuh arti yang sulit diartikan. Sedangkan Naira, gadis itu tampak begitu masam dengan bibir tertekuk rapat.

Arka mematung sesaat. Jakunnya bergerak naik-turun. Dari raut wajah keduanya, ia bisa menyimpulkan satu hal: Laudya telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu Naira dengar.

"Nai," panggil pria itu lirih sembari melangkah mendekat.

"Lettu Arka. Selamat atas pernikahanmu, saya sudah memeriksa hasil kesehatan calon istrimu..." Laudya tersenyum ramah, namun tidak dengan tatapan matanya yang menusuk. "Naira Sulastri, berkas tambahan dari Poliklinik sudah siap."

Laudya menyodorkan map tersebut. Namun, gerakan Arka terlampau cepat untuk merebutnya. "Terima kasih, Dok."

"Kita harus segera ke Mako, Nai," ujar Arka, nada suaranya terdengar mendesak.

"Hmm." Naira menjawabnya terlalu singkat.

Arka bisa merasakan keberaniannya perlahan menguap saat melihat gadis itu berdiri. Naira mengulurkan jabat tangan pada Laudya dengan senyum yang dipaksakan.

"Terima kasih, Dokter Laudya," ucapnya dengan nada datar dan dingin.

"Ayo, Mas." Naira berlalu dengan langkah cepat, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi pada mantan pasangan tersebut.

Arka melirik sekilas ke arah Laudya yang masih tersenyum tipis. "Mukanya terlalu asam untuk diicipi sekarang," gumam Laudya pelan. Dokter itu melambaikan tangan dengan gerakan mengusir, "Kejar sana Nairamu, keburu dia ngamuk."

Arka bergegas pergi, meninggalkan suara derit kursi Laudya yang ditarik menggema di ruangan poliklinik.

"Nai!" panggil Arka lagi, melihat langkah Naira kian menjauh di halaman Poliklinik. Pria itu segera menyejajarkan langkah mereka dan mengambil alih tas yang digenggam Naira dengan begitu keras di sisi kiri.

"Nai."

Gadis itu menoleh. Air mukanya jauh lebih masam daripada saat ia marah karena mengungkit soal masa lalu. Kali ini, Arka merasa dirinya benar-benar dalam masalah besar.

"Dokter Laudya cantik, ya?" tanya gadis itu sarkas.

Degub jantung Arka berlarian cepat, hampir lepas dari tempatnya.

"Dia cerita apa?" tanya Arka hati-hati.

Naira hanya mengangkat satu sudut bibirnya. "Bukan apa-apa." Gadis itu mendengus kasar. "Di mana Mako-nya?"

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!