Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : TEROR
Sinar matahari pagi yang hangat menerpa wajah cantik Natalia, membangunkannya dari tidur yang teramat lelah namun penuh kedamaian. Talia mengerjap, menatap langit-langit pondok kayu ek yang luas. Aroma udara laut yang segar dan wangi mint yang familier langsung menyambut indra penciumannya.
Ia menoleh ke samping tempat tidur, namun posisi Ethan sudah kosong. Hanya menyisakan kehangatan di atas seprai sutra putih yang sedikit kusut.
Talia tersenyum tipis, merapatkan jubah mandi katun putihnya yang longgar, lalu melangkah keluar menuju balkon kolam renang privat (infinity pool) yang langsung menghadap ke samudra luas. Begitu pintu kaca geser terbuka, pemandangan di depannya seketika membuat Talia menghentikan langkah dan menahan napas karena terpesona.
Di dalam air kolam renang yang jernih, sebuah nampan kayu besar berbentuk hati mengapung dengan anggun (floating breakfast). Di atas nampan tersebut, tersaji menu sarapan pagi yang luar biasa mewah: dua cangkir kopi hitam dengan asap tipis yang mengepul, roti panggang beraroma mentega, potongan buah-buahan tropis segar, serta setangkai bunga lili putih kesukaannya yang diletakkan di sudut nampan.
"Bagaimana? Apa Kau menyukainya, Istriku?" sebuah suara bariton yang berat dan serak menyapa dari arah belakang.
Talia memutar tubuhnya. Ethan berdiri di ambang pintu balkon dengan penampilan yang teramat kasual namun mematikan. Pria itu hanya mengenakan celana pendek putih tanpa atasan, mengekspos dada bidangnya yang berotot dengan tato tribal hitam khas mafia di lengan kanannya, serta beberapa tetes air laut yang masih menempel di kulit porselennya. Ia baru saja selesai berenang di laut lepas bawah pondok mereka.
Talia melangkah mendekat, menatap nampan sarapan dan suaminya bergantian dengan binar mata yang berkaca-kaca karena haru.
"Kau yang menyiapkan semua ini, Ethan? Seorang ketua mafia yang ditakuti seluruh konglomerat, rela repot-repot menata sarapan romantis di kolam renang?"
Ethan menyeringai tipis—sebuah senyuman penuh damba yang kini hanya ia dedikasikan untuk istrinya. Ia melangkah maju, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Talia, lalu menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya yang kokoh. Ethan menunduk, mengepalkan dagunya di pundak terbuka Talia sambil menghirup dalam-dalam aroma vanila dari rambut istrinya yang memabukkan.
"Di dunia luar, aku mungkin adalah malaikat maut bagi musuh-musuhku, Talia," bisik Ethan serak, embusan napas mint-nya menggelitik kulit leher jenjang Talia.
"Tapi di dalam pulau ini, dan di hadapanmu... aku hanyalah seorang suami yang sedang menebus seluruh kebodohanku selama ini."
Ethan melepaskan pelukannya perlahan, lalu menuntun tangan Talia untuk turun ke dalam air kolam renang yang hangat bersama-sama. Mereka duduk di tepi kolam yang menghadap langsung ke cakrawala samudra biru zamrud, menikmati sarapan pagi mereka dengan tawa kecil dan obrolan hangat yang mengikis habis sisa-sisa kedinginan masa lalu.
Kebahagiaan di meja sarapan mengapung itu mendadak terusik ketika sebuah getaran halus terdengar dari arah dalam kamar. Ponsel khusus milik Ethan yang terhubung dengan jaringan satelit rahasia dunia bawah berdering sebanyak tiga kali dengan sandi darurat yang tegas.
Ethan meletakkan cangkir kopinya. Sorot mata kelamnya yang semula dipenuhi kelembutan seketika meredup, mengeras kembali menjadi topeng es sang pemimpin mafia tertinggi yang mematikan. Ia beranjak dari kolam, meraih ponselnya, lalu menekan tombol terima dengan nada suara yang terlampau dingin.
"Bicara, Marco," perintah Ethan, suaranya sedingin es yang membekukan atmosfer udara pagi.
"Tuan Taylor, maaf mengganggu bulan madu Anda," suara Marco di seberang telepon terdengar sangat tegang dan tergesa-gesa. "Faksi luar yang kemarin melempar batu pada Nona Natalia di Tivoli Garden berhasil melacak koordinat jet pribadi Anda. Mereka mengetahui lokasi pulau terisolasi ini dan sedang mengirimkan tiga kapal cepat bersenjata menuju posisi Anda saat ini. Estimasi kedatangan mereka adalah tiga puluh menit dari sekarang."
Rahang Ethan mengetat sempurna hingga urat lehernya menyembul. Seringai kejam yang mematikan perlahan terukir di sudut belahan bibirnya yang sekeras batu. Sumpah darah kuno dan kedamaian dua dinasti baru saja ia genapi dengan cinta, dan kini para keparat dari masa lalu mencoba merusaknya kembali.
Ethan melirik ke arah Talia yang menatapnya dari dalam kolam dengan raut wajah cemas. Insting posesif dan protektif di dalam dada sang ketua mafia seketika meledak liar. Mereka mengira Natalia adalah kelemahan barunya yang mudah dihancurkan, tanpa mereka tahu bahwa dengan mencoba menyentuh seujung kuku istrinya, mereka baru saja menggali liang kubur mereka sendiri di tengah samudra Maladewa.
"Aktifkan sistem pertahanan darurat pulau," perintah Ethan pada Marco, suaranya sangat tenang namun sarat akan ancaman kematian yang nyata. "Jangan sisakan satu pun dari mereka hidup-hidup untuk melihat matahari tenggelam malam ini. Aku sendiri yang akan menyambut kedatangan mereka di dermaga."
...----------------...