Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 : UNTAIAN NADA RAHASIA DAN BADAI DI TENGAH MALAM
Malam semakin larut memeluk kota, menyisakan kesunyian yang pekat di luar jendela. Setelah menyelesaikan makan malam yang canggung bersama keluarganya, Radit mengunci diri di dalam kamar tidur utamanya yang bernuansa maskulin. Pria berusia 29 tahun itu merebahkan tubuh tegapnya di atas ranjang king size, lalu buru-buru menyambar ponsel pintarnya. Senyuman tipis langsung terukir di wajah tampannya saat jari-jemarinya mencari kontak bertuliskan 'Kalea'.
Ya, Kalea sudah membuka kembali blokiran nomor Radit kemarin setelah drama perebutan di lobi hotel. Tanpa membuang waktu sepeser pun, Radit langsung menekan tombol panggilan video (video call).
Tut... Tut...
Layar ponsel seketika terbelah dua. Di ujung sana, tampak Kalea sedang duduk bersandar di kepala ranjang kamarnya. Cewek bermata biru jernih itu masih mengenakan mukena katun putih bersih sisa sholat isya, membingkai wajah cantiknya yang polos tanpa riasan menjadi kelihatan sangat imut, adem, dan luar biasa memikat.
"Assalamualaikum, calon istri rahasia aku yang paling galak," sapa Radit dengan nada suara baritonnya yang rendah, lembut, dan dipenuhi getaran rindu yang mendalam.
Kalea langsung memutar kedua bola mata birunya dengan sangat malas, namun dia nggak bisa menyembunyikan senyuman tipis yang terukir di bibir ranumnya. "Waalaikumsalam, Mas Radit. Baru juga kemarin ketemu di restoran habis makan siang, sekarang udah nelpon lagi. Nggak ada bosen-bosennya ya kamu gangguin hidup orang malam-malam begini."
Radit terkekeh renyah, mengubah posisi tidurnya menjadi miring sambil menopang dagu, menatap lekat-lekat layar ponselnya. "Ngapain harus bosen, Kalea sayang? Justru kalau seharian nggak denger suara jutekmu itu, duniaku rasanya hambar banget kayak sayur kurang garam. Tahu nggak... makin hari kamu kalau pake mukena putih begitu kelihatan makin cantik, auranya adem banget, bikin aku makin pengen cepet-cepet halalin kamu."
"Ih! Mas Radit!!! Mulai deh gombalannya!" ketus Kalea langsung salah tingkah setengah mati, memalingkan wajah cantiknya sedikit ke arah lain. Padahal di balik layar, kedua pipi mulusnya udah langsung merona merah merona tebal laksana kepiting rebus akibat godaan kata-kata manis Radit. "Nelpon malam-malam cuma mau tebar pesona doang ya?! Mending aku matikan nih!"
"Eh, jangan dong! Jangan dimatikan dulu, Kalea," cegah Radit panik sambil tertawa geli melihat tingkah laku malu-malu kucing dari pacarnya tersebut. Radit mendadak bangkit berdiri dari ranjang, melangkah menuju sudut ruangan untuk mengambil sebuah gitar akustik kesayangannya yang bersandar di dekat lemari buku. Dia kembali duduk di tepi ranjang sambil memangku gitar tersebut di depan kamera. "Malam ini aku mau kasih sesuatu yang spesial buat kamu. Aku mau menyanyikan sebuah lagu khusus buat Nona Mata Biru-ku yang tangguh."
Kalea mengernyitkan dahinya bingung, namun matanya berkilat jenaka penuh ketertarikan. Dia menganggukkan kepalanya perlahan. "Wah, Dokter Bedah bisa main gitar juga ternyata? Ya udah, sok mangga dimulai, aku pengen denger seberapa hancur suaramu."
"Bentar, kok langsung dibilang hancur sih? Aku bahkan belum juga memulai memetik senarnya loh, Kalea!" protes Radit sambil berpura-pura marah dan mencebikkan bibir tampannya manja ke arah kamera, mencoba memproklamasikan egonya yang terluka.
Kalea langsung meledakkan tawa renyahnya yang sangat lepas dan merdu mendengar protes Radit. "Hahaha! Biarin! Feeling-ku mengatakan kalau suaramu itu beneran bakal jelek banget, Mas! Makanya buruan mulai biar aku bisa kasih penilaian!"
Radit ikut tertawa bersama lewat panggilan video tersebut, hatinya ngerasa sangat hangat melihat Kalea bisa tertawa lepas tanpa beban di depannya. Radit mulai memetik senar gitarnya secara perlahan, menciptakan untaian nada akustik yang sangat lembut, indah, dan mendayu-dayu romantis memecah kesunyian malam. Dia menatap lurus ke arah layar kamera ponselnya, tersenyum manis menatap wajah Kalea sebelum akhirnya mulai menyanyikan lirik lagu penuh makna tentang kekagumannya pada seorang perempuan hebat yang tangguh—persis seperti karakter mandiri Kalea yang sudah sukses membuatnya jatuh cinta mati seutuhnya.
(Radit bernyanyi dengan suara baritonnya yang berat, merdu, dan penuh penghayatan)
"Kau yang berjalan di tengah badai dengan senyuman..."
"Menolak tunduk pada tajamnya dunia..."
"Mata birumu menyimpan sejuta ketangguhan..."
"Yang perlahan meruntuhkan seluruh kekakuanku..."
"Perempuan hebat pemilik ruang hatiku..."
"Biarkan aku jadi benteng pelindung abadi jiwamu..."
Sepanjang lagu itu mengalun, Kalea yang mendengarkan lirik demi lirik yang begitu menyentuh hati langsung terdiam membisu, ikut tersenyum manis dengan binar mata biru jernihnya yang memancarkan rasa haru dan debaran asmara yang kian nyata. Begitu nada terakhir gitar petikan Radit selesai bergaung sunyi, Kalea langsung bertepuk tangan heboh di depan kameranya.
"Wah!!! Hebat banget, Mas Radit!" puji Kalea tulus dengan mata berbinar kagum. "Aku tarik kembali kata-kataku tadi! Suaramu beneran bagus banget, empuk di kuping. Nggak nyangka ya, selain pinter bedah jantung pasien jadi dokter genius, ternyata kamu juga bisa bermain gitar dan bernyanyi dengan sangat indah kayak musisi profesional."
Radit tersenyum manis luar biasa puas, menaruh kembali gitarnya dengan gerakan santai. Dia kembali memajukan wajah tampannya mendekati kamera, mulai melancarkan aksi gombalan barunya demi melihat wajah merona Kalea kembali. "Hahaha, makasih atas penilaian bintang limanya, Kalea sayang. Tapi kamu tahu nggak... suaraku ini sebenarnya baru bisa beneran terdengar sempurna kalau dinyanyikan langsung di depan telingamu sambil aku meluk tubuh mungilmu di atas pelaminan nanti. I love you, Kalea... I love you so much, my beautiful wife to be..."
DEG!!!
Mendengar kalimat gombalan romantis bertubi-tubi bercampur ungkapan cinta yang begitu blak-blakan keluar langsung dari mulut Radit, seluruh pertahanan ego Kalea kembali runtuh berhamburan. Pipinya yang mulus seketika merona merah padam luar biasa kencang, benar-benar salah tingkah setengah mati digoda setiap hari. Radit yang melihat wajah malu-malu kucing Kalea langsung meledakkan tawa lepasnya yang renyah memenuhi ruangan.
CEKLEK!
Namun, di tengah-tengah suara tawa bahagia Radit dan Kalea di ujung telepon, pintu utama kamar tidur Radit mendadak dibuka dengan sentakan kasar dari luar. Radit langsung menghentikan tawanya seketika.
Sosok Ambarwati Baskara melangkah masuk ke dalam kamar dengan wajah paruh baya yang kaku, tegang, dan memerah padam menahan murka. Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan, Ambarwati langsung berjalan cepat mendekati ranjang, mengulurkan tangannya dan langsung MERENGGUT paksa ponsel pintar Radit dari genggaman tangan anaknya secara kasar.
Radit seketika meneguk ludahnya dengan berat, jantungnya berdegup cemas melihat kehadiran ibunya. Radit langsung bangkit berdiri tegap. "Mommy?! Ada apa ini?! Kenapa Mommy masuk ke kamarku terus ambil ponselku sembarangan?!"
Ambarwati tidak memedulikan ucapan putranya. Dia menatap tajam lurus ke arah layar ponsel di tangannya, dan begitu matanya menangkap wajah Kalea yang masih terbalut mukena putih di balik layar, kemurkaan Ambarwati langsung meledak total. Dia memutar ponsel itu menghadap wajahnya sendiri, lalu menatap lurus ke arah kamera memandang Kalea dengan pandangan mata elang yang sangat dingin, sinis, dan dipenuhi penolakan mutlak seutuhnya.
"Kalea Azzahra Putri!!!" bentak Ambarwati dengan nada suara yang sangat kaku, tegas, dan bergetar hebat memenuhi seisi kamar. "Jauhi putra saya!"
Kalea di ujung panggilan video call hanya bisa diam membisu seribu bahasa di balik mukenanya. Wajah cantiknya mendadak berubah kaku, menatap lurus layar ponselnya melihat wajah Ambarwati yang begitu tegas memperingatinya tanpa ada belas kasihan sepeser pun.
"Dan satu hal lagi yang harus kamu sadari, Kalea!" maki Ambarwati semakin berapi-api, kalimatnya sengaja dibuat sangat menusuk merendahkan harga diri Kalea. "Berita skandal bom kotor tentang asal-usul keluargamu itu sekarang udah viral dan SELURUH DUNIA UDAH TAHU kalau kamu itu status lahirnya cuma ANAK HARAM Wijaya hasil hubungan luar nikah?! Saya ini dari keluarga Baskara yang sangat terhormat, saya bener-bener MALU BESAR kalau sampai punya menantu cacat silsilah darah kayak kamu yang cuma anak haram pembawa aib?! Sadar diri dong?!"
Kalea tetap diam, memejamkan sepasang mata birunya rapat-rapat menahan sesak luar biasa yang mendadak mencengkeram erat ulu hatinya yang terluka parah. Hinaan kata anak haram dari mulut Ambarwati bener-bener meremukkan sisa batinnya malam ini. Memang kenyataannya semua orang di luar sana udah tahu status lahirnya, bahkan tadi sore di kantor tempatnya bekerja, ada beberapa jajaran staf direksi yang diam-diam mencemohnya dari belakang, meskipun ada juga yang merasa kasihan melihat penderitaannya. Tapi mendengar kata malu dari calon ibu mertua palsunya bener-bener menghancurkan sisa harapannya.
Ambarwati terus melanjutkan bicaranya dengan Kalea panjang lebar, melontarkan kalimat makian keji yang memojokkan martabat Kalea tanpa membiarkan Kalea menyahut sepatah kata pun, sebelum akhirnya dengan gerakan kasar tangan Ambarwati langsung menekan tombol merah, MEMATIKAN paksa sambungan telepon video call tersebut secara sepihak.
Klik. Layar ponsel Radit mendadak mati menggelap.
Radit yang melihat tindakan sewenang-wenang ibunya langsung dirasuki oleh kemurkaan yang luar biasa besar menahan emosi batin. Dengan gerakan cepat, Radit langsung merengut kembali telepon genggamnya dari tangan Ambarwati dengan sentakan kaku yang kasar. "MOMMY!!! APA-APAAN INI, HAH?! Kenapa Mommy lancang banget masuk ke kamarku terus matiin telponku ke Kalea secara sepihak kayak begini?! Mommy udah keterlaluan banget ngelukain harga diri Kalea?!" bentak Radit dengan suara bariton menggelegar penuh amarah menentang ibunya.
Ambarwati tidak kalah marah, dia berkacak pinggang menatap putranya penuh tuntutan mutlak yang menjebak. "Mommy lakuin ini murni karena Mommy sayang sama kamu, Radit?! Kamu anak sulung kebanggaan daddymu, tapi kamu malah nekat mau mempertahankan hubungan pura-pura sama perempuan itu?! Pokoknya minggu depan kamu tetep harus menikah sama Natasha, titik?!"
Pertengkaran luar biasa hebat penuh rentetan dialog panas bercampur adu mulut emosional pun pecah membakar kamar tidur Radit malam itu di antara ibu dan anak yang sama-sama keras kepala, memicu ketegangan batin baru di keluarga Baskara.
Sementara itu, di belahan tempat lain, tepatnya di dalam kamar tidur minimalisnya di rumah Wijaya, Kalea Azzahra Putri duduk mematung menatap layar ponselnya yang mendadak mati terputus. Kata-kata kejam Ambarwati tentang "malu punya menantu anak lahir di luar nikah" terus bergaung nyata laksana hantu yang meremukkan seluruh relung jiwanya malam ini.
Kalea mengembuskan napas panjang yang teramat sangat kasar, berat, dan dipenuhi oleh kepedihan batin yang teramat sangat mendalam. Air mata kelelahan batin akhirnya lolos deras membasahi pipi mulusnya dalam kesunyian malam. Dengan gerakan kaku yang lemas, Kalea perlahan-lahan membuka dan melepaskan mukena serta jilbab voal hitam yang melilit kepalanya, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal.
Dia merebahkan tubuh mungilnya yang hancur, menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya, lalu memejamkan sepasang mata birunya rapat-rapat memilih untuk segera tidur demi melarikan diri dari kenyataan pahit dunia luar yang begitu kejam menginjak-injak harga dirinya.
...****************...
Sementara badai kemurkaan melanda kamar Radit di kediaman Baskara, atmosfer yang tidak kalah pekat dan beracun justru sedang membakar kamar tidur utama di rumah keluarga Wijaya. Di depan meja rias besar bermaterial kaca kristal mewah, Sarah Wijaya duduk mematung. Jemari lentiknya bergerak kasar menghapus sisa-sisa riasan tebal di wajah paruh bayanya, meninggalkan gumpalan tisu yang berserakan di atas meja laksana sampah.
Raut wajah Sarah tampak sangat kaku, memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa besar di balik dadanya setelah pulang dari acara arisan sosialita geng "Gemerlapita" di Menteng siang tadi. Cemoohan, sindiran tajam, dan tatapan mata penuh rasa jijik dari teman-teman sosialitanya seolah terus terngiang-ngiang nyata di telinganya, meremukkan seluruh harga diri yang selama ini dia agungkan.
Sarah memutar tubuh anggunnya dengan sentakan kasar, melemparkan tatapan mata yang sangat sinis dan dipenuhi kebencian ke arah ranjang king size di belakangnya. Di atas kasur mewah yang berantakan itu, tampak Hermawan Wijaya sedang duduk bersandar kaku sambil fokus menatap layar ponsel pintarnya dengan rahang tegas yang menegang kuat.
"Mas Hermawan! Kamu denger nggak sih aku dari tadi ngomong apa?!" semprot Sarah dengan nada suara yang melengking tinggi penuh emosi batin yang meluap. "Siang tadi di restoran Menteng, mukaku bener-bener kayak dilempar ke dalam selokan tahu nggak! Jeng Mita, Jeng Maya, bahkan Jeng Ambarwati kompak menguliti dan ngetawain aib keluarga kita habis-habisan! Ini semua gara-gara gosip sampah tentang si anak haram KALEA itu mencuat ke internet tadi subuh! Seluruh dunia sekarang tahu kalau kamu punya anak hasil hubungan luar nikah yang kotor?!"
Hermawan Wijaya menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang yang sangat kaku, berat, dan dipenuhi oleh kelelahan batin yang teramat sangat mendalam dari lubuk dadanya. Dia perlahan mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Sarah dengan sepasang pandangan mata tua yang berkilat sangat tajam dan dingin.
"Sarah... tutup mulutmu. Ini masih malam, nggak usah teriak-teriak kayak orang kurang waras di dalam kamar," jawab Hermawan dengan nada suara bariton yang sangat rendah namun sarat akan intimidasi wibawa yang tidak bisa dibantah.
Apa Sarah peduli dengan teguran ketus suaminya? Tentu saja tidak sepeser pun! Sifat angkuh dan pilih kasihnya justru semakin membara tak terkendali. Sarah berdiri dari kursi meja riasnya, melangkah lebar menghampiri tepi ranjang dengan berkacak pinggang, napasnya memburu naik-turun menahan dongkol.
Sarah mendengus sangat sinis, lalu melontarkan sebuah kalimat kejam penuh hasutan racun yang luar biasa biadab tepat di depan wajah Hermawan. "Kenapa aku harus diam, Mas?! Kenyataannya si Kalea bermata biru aneh itu emang iblis pembawa sial pembawa kematian di rumah ini! Sumpah ya, kalau tahu takdirnya bakal sehancur ini... Kenapa aku nggak bunuh dan aku cekik aja leher si Kalea kecil itu pas kamu bawa pulang dua puluh empat tahun yang lalu, hah?! Biar dia mati sekalian?!"
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan yang luar biasa keras, telak, dan membabi buta dari telapak tangan Hermawan mendadak mendarat mulus menghantam pipi kanan Sarah hingga menimbulkan suara nyaring yang menggema keras di seisi kamar tidur.
"JAGA MULUT KOTORMU, SARAH!!! KAU BENER-BENER WANITA BERHATI IBLIS?!" bentak Hermawan dengan suara bariton menggelegar laksana badai petir yang meledak murka.
Sarah yang tubuhnya sempat terhuyung mundur memegangi pipinya yang mendadak panas kemerahan, langsung ikut meledakkan amarahnya dengan wajah merah merona padam. "KAU BERANI NAMPAR AKU DEMI ANAK HARAM ITU, MAS HERMAWAN?! KAU YANG KELIRU SEJAK AWAL?!"
"Iya! Aku nampar kamu biar otakmu yang egois itu bisa sadar, Sarah!" balas Hermawan dengan rahang yang menegang kaku, menunjuk tepat ke wajah istrinya dengan jari gemetaran menahan geram. "Selama dua hari ini kamu terus-menerus berteriak menyalahkan Kalea, maki-maki Kalea anak haram, sampai kamu nyuruh aku mencambuk punggungnya! Tapi apa kamu tahu fakta hukum yang sesungguhnya siang ini, hah?! Hadi Santoso baru aja ngebongkar data siber kalau DALANG INTELEKTUAL yang udah menyebarkan berita kelam Kalea dan video skandal itu... tidak lain adalah FANDI, mantan menantumu sendiri, bajingan itu?!"
Sarah seketika terperanjat kaku laksana patung lilin, matanya melotot sempurna dengan jantung yang berdegup kencang menahan syok. "Fandi...?"
"Iya, Fandi! Laki-laki brengsek yang selama tiga tahun ini tidur sama anak emas kesayanganmu di belakang Fitri!" bentak Hermawan semakin berapi-api, meluapkan seluruh gumpalan emosi batinnya yang menguras relung dada. "Kamu itu bener-bener udah buta dan tuli seutuhnya, Sarah! Kamu selalu menutup mata, menutup telinga, dan pura-pura nggak tahu dengan seluruh kelakuan busuk dan liar dari anak bungsumu, Shinta! Shinta udah dengan sangat tega menghancurkan rumah tangga kakak kandungnya sendiri, dia hobi mabuk-mabukan di kelab malam bareng tua bangka demi uang jajan lipstik, tapi kamu masih aja menutup mata ngebela pelacur itu?!"
Hermawan melangkah maju satu langkah, menatap Sarah penuh dengan pandangan mata meremehkan seutuhnya. "Dan setiap kali ada masalah besar melanda rumah ini, kamu selalu dengan sangat biadab melimpahkan seluruh kesalahan dan menjadikan Kalea sebagai kambing hitam pelampiasan amarah! Kalea nggak pernah tahu apa-apa soal peretasan data itu, tapi mulut kotormu nggak pernah berhenti mencaci maki dia! Aku bener-bener muak liat kebusukan moralmu di rumah ini, Sarah!"
Sarah yang disudutkan dengan fakta kelakuan Shinta langsung merengut kaku, mencoba membela sisa-sisa kepalsuan egonya. "Tapi tetep aja si Kalea itu aib, Mas! Kalau kamu nggak bawa anak dari perempuan masa lalumu itu ke sini, Fandi nggak bakal—"
Belum sempat Sarah menyelesaikan baris kalimat bantahannya, Hermawan Wijaya langsung membalikkan tubuh tegapnya dengan sentakan kasar. Dia menyambar ponselnya di atas kasur, lalu melangkah lebar secepat kilat meninggalkan area kamar tidur utama menuju ke arah ruang kerja pribadinya di ujung lorong bawah.
Sarah yang panik ditinggalkan langsung berlari ke ambang pintu, berteriak histeris parau memanggil suaminya. "MAS HERMAWAN!!! KEMBALI KAMU SEKARANG!!! JANGAN PERGI DARI SINI, MAS!!! HIKSS... KAMU TEGA BANGET SAMA AKU?!"
Namun, seolah daun telinga Hermawan sudah tuli seutuhnya oleh rasa muak dan kepasrahan batin menghadapi kelicikan istrinya, pria paruh baya itu sama sekali tidak mendengar atau memedulikan teriakan histeris Sarah. Dia terus melangkah tegas menuruni anak tangga kayu, mengunci diri di dalam ruang kerja pribadinya dengan bantingan pintu yang keras, meninggalkan Sarah sendirian yang menangis meraung-raung meratapi runtuhnya benteng anak emas di dalam rumah.