Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Dimas dan Aldo bersembunyi melihat kejadian mengerikan itu dengan wajah tegang. Tatapan mereka tertuju pada sosok Elara yang berdiri di tengah jalan. Wajahnya yang tertutup rambut membuat keduanya semakin ketakutan.
“I-itu apa, Dim? Hantu? Atau manusia?” Wajah Aldo sudah memucat, bahkan tubuhnya bergetar, rasa takutnya melebihi saat berhadapan dengan para pria itu.
“Logika saja. Mana ada manusia yang bisa membuat alam tiba-tiba berubah seperti ini,” jawab Dimas yang tak kalah takutnya.
“K-kita pergi aja, yuk!” Aldo benar-benar tidak bisa menahan rasa takutnya lagi. Celananya bahkan sudah basah karena sesuatu yang hangat baru saja mengalir dari dalam sana.
“Tapi si kembar bagaimana?”
“Tarik saja mereka. Berhubung pria-pria itu masih di ganggu sama akar-akar itu.”
Dimas mengangguk setuju. Mereka keluar dari tempat persembunyian dengan mengendap-endap.
Baru saja beberapa kali mereka melangkah, angin kembali berhembus lebih kencang dan menjatuhkan besi ruko yang berada tepat di belakang mereka.
"Aaaargh..." Suara teriakan mereka berdua langsung terdengar di tengah hembusan angin.
Besi itu sama sekali tidak mengenai mereka. Tapi suara dentuman yang keras mengejutkan mereka yang nyalinya memang sudah menciut, hingga akhirnya keduanya lemas dan pingsan di tempat.
Angin perlahan mereda, akar-akar itu juga berhenti bergerak setelah melilit kaki para pria itu hingga mereka tidak bisa kabur.
Leonard dan Lionel perlahan melangkah mundur saat Elara menghampiri mereka.
Sosoknya yang berdiri di tengah jalan dengan gaun putih yang bergerak pelan karena tiupan angin itu terlihat begitu asing di mata mereka saat ini.
Iris mata hijau Elara masih menyala terang. Tatapannya dingin, jauh berbeda dari gadis pendiam yang mereka lihat di rumah.
“Elara?” suara Lionel terdengar cukup ragu.
Namun, gadis itu tidak menjawab. Langkahnya berhenti tepat di depan Leonard dan Lionel, seolah melindungi keduanya dari orang-orang di hadapan mereka.
Elara mengangkat tangan kanannya, akar-akar yang melilit kaki mereka justru semakin mengencang.
“Aaargh… lepaskan!”
Elara perlahan mendongak. Angin kembali berembus pelan, membawa beberapa daun kering yang berjatuhan di sepanjang jalan.
Lalu perlahan, akar-akar itu mulai bergerak naik. Melilit kaki, tangan, hingga tubuh mereka seperti tanaman hidup yang memiliki kesadaran sendiri.
Semakin mereka memberontak, semakin erat lilitan itu.
"AAARGH..."
“Tolong, aku tidak bisa bergerak!”
Wajah mereka mulai memucat. Nafas mereka satu persatu terasa sesak. Dan beberapa detik kemudian, tubuh mereka melemas. Satu persatu dari mereka mulai tak sadarkan diri. Dan akar itu kembali menurunkan mereka.
Suasana mendadak hening, tak ada lagi suara teriakan. Hanya suara angin siang yang mulai kembali terasa hangat di jalanan itu.
Lionel menelan ludahnya susah payah. Tangannya tanpa sadar masih mencengkram lengan Leonard.
Sedangkan Leonard hanya diam menatap pemandangan di depannya dengan nafas memburu.
Perlahan cahaya iris mata Elara mulai meredup.
Akar-akar yang tadi menjalar di atas aspal kembali masuk ke dalam tanah. Retakan jalan yang sempat terbuka juga kembali seperti semula.
Elara menatap para pria itu beberapa saat sebelum akhirnya berbalik ke arah Leonard dan Lionel.
“Apa kalian terluka?” tanyanya pelan, seolah semua yang baru saja terjadi adalah hal biasa.
Namun, sebelum keduanya sempat menjawab. Beberapa mobil berhenti dengan jarak sepuluh meter dari mereka bertiga.
Faresta keluar dengan langkah cepat bersama beberapa anak buahnya. Wajah pria itu terlihat tegang sejak menerima kabar jika kedua adiknya berada dalam bahaya.
“Kalian tidak apa-apa?”
Namun langkah Faresta perlahan terhenti saat melihat belasan pria bertubuh kekar tergeletak pingsan di jalanan.
Ia juga melihat keberadaan Elara disana dengan kening mengernyit.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Dan… Elara, kenapa kamu bisa ada disini?”
Leonard dan Lionel yang masih belum selesai mencerna semua yang terjadi, semakin merasa pusing saat mendengar rentetan pertanyaan dari kakak sulungnya.
“Kak, lebih baik bertanya nanti saja. Aku juga bingung mau menjelaskannya bagaimana,” ujar Leonard.
Faresta menghela nafas pelan. “Ya sudah, kita pulang sekarang!”
“Tuan, orang-orang ini mau kita apakan?” tanya salah satu anak buah Faresta menatap sekumpulan pria yang tergeletak itu.
“Bawa saja ke kantor polisi!”
“Baik, Tuan.”
Saat Faresta hendak melangkah kembali ke arah mobilnya, Leonard dan Lionel yang hendak berbalik dan menghampiri motor mereka. Saat itu juga suara Elara tiba-tiba menghentikan pergerakan mereka.
“Tunggu sebentar!”
Mereka bertiga kembali menatap Elara dengan ekspresi bingung.
“Ada apa?”
“Apa kalian melupakan kedua teman kalian itu?” Elara menunjuk ke salah satu sudut ruko.
Leonard dan Lionel membelalak melihat kedua temannya tergeletak disana.
Kudeuanya segera menghampiri, begitu pula dengan Faresta dan beberapa anak buahnya.
“Mereka pingsan,” ujar Leonard setelah memastikan denyut nadi dan nafas mereka.
“Astaga, bau apa ini?” Lionel mengibaskan tangannya lalu menutup hidungnya menahan bau yang menusuk indra penciumannya.
“Sepertinya salah satu teman anda mengompol, tuan muda," ucap salah satu anak buah Faresta dengan menunjuk ke arah celana Aldo yang basah.
Faresta menutup wajahnya dengan satu tangan, lalu menggeleng pelan. “Aduh, kalian ini sebenarnya kenapa sampai ada yang ngompol.”
Leonard dan Lionel hanya saling bertukar pandang. Mereka sepertinya tau apa yang membuat keduanya pingsan dan Aldo sampai kencing dicelana. Jelas itu bukan perkara mereka menghadapi para pria itu. Tapi pasti karena kedatangan Elara yang membuat atmosfer menjadi tegang.
***
Malam menyelimuti kediaman Halvar dengan suasana yang jauh lebih sunyi dari biasanya. Ruang keluarga itu dipenuhi ketegangan setelah kejadian siang tadi.
Leonard dan Lionel duduk berhadapan dengan Faresta, Lucas, Danendra dan Livia. Sedangkan Elara saat ini sudah berada di kamarnya.
“Sekarang jelaskan,” ujar Faresta dengan nada serius. “Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kalian bolos?” sahut Lucas.
Lionel langsung menelan ludah.
Di situasi saat ini, pertanyaan pertama yang keluar justru soal bolos sekolah.
“Em… itu bisa dijelaskan nanti, kak.”
“Berarti benar kalian bolos,” ujar Lucas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Lionel menggaruk lehernya dengan canggung. “Sekali-sekali, Kak.”
Leonard memijat pelipisnya pelan. “Bukan itu inti masalahnya sekarang.”
“Kalau begitu jelaskan!” Faresta menatap kedua adiknya dengan tajam.
Suasana mendadak kembali hening. Bayangan kejadian siang tadi seolah kembali memenuhi kepala Leonard dan Lionel.
Lionel bahkan masih terlihat pucat saat mengingat akar-akar yang bergerak sendiri di hadapan mereka.
“Awalnya kami dikepung preman-preman itu,” ujar Leonard.
Danendra langsung mengernyit. “Preman?”
Leonard mengangguk pelan. “Jumlah mereka cukup banyak. Mereka juga membawa senjata.”
“Lalu kenapa kalian bisa sampai ke tempat seperti itu?” tanya Livia khawatir.
“Kami salah jalan, Ma,” jawab Lionel cepat. “Niat awalnya cuma mau cari makan.”
Danendra menghela nafas kasar sambil memijat dahinya. Dari keempat putranya baru si kembar yang berani bolos sekolah.
“Lanjutkan!”
Lionel dan Leonard saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya Lionel kembali membuka suara.
“Waktu awal mereka menyerang, kami masih bisa melawan—eh salah. Maksudnya, Leon masih bisa melawan. Tapi… semakin lama melawan belasan orang sendirian, Leon jelas kelelahan.”
Tatapan Lionel perlahan berubah tidak nyaman.
“Terus?” tanya Lucas mulai serius.
“Saat ada orang yang hampir menusuk Leon dari belakang… tiba-tiba aspalnya retak.”
Lucas langsung mengernyit. Sedangkan Faresta mulai menatap Lionel lebih fokus.
“Akar-akar pohon itu mulai keluar dari tanah dan melilit mereka semua,” lanjut Leonard pelan.
Livia spontan menutup mulutnya dengan tangan, antara percaya dan tidak saat mendengar penjelasan putranya.
“Itu tidak mungkin,” gumam Lucas sebagai seorang dokter yang masih berusaha berfikir logis.
“Benar. Saat aku sampai disana jalanan itu terlihat baik-baik saja,” sahut Faresta cepat.
“Aku juga berharap itu tidak mungkin. Tapi kami melihatnya sendiri,” balas Leonard lirih.
“Dan sebelum kak Faresta datang semua memang kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa,” sahut Lionel.
Tatapan Faresta perlahan berubah rumit.
“Lalu… Elara?”