Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayar Dengan Nyawa
"Aku harus cepat masuk kamar, dia orang gila. Jangan sampai pria itu benar-benar membunuh Jack," gumamnya dengan berlari cepat memasuki kamarnya. Beruntung dia bisa mengalihkan pembicaraan pada hal lain, agar Dominic tak lagi membicarakan Jack.
"Cemburu? Cih! Orang seperti itu tidak punya perasaan, mana mungkin cemburu, apalagi padaku." Saat memasuki kamarnya Ella dengan segera menutup dan mengunci pintu, nafasnya terengah seperti baru saja di kejar hantu.
Tidak ada pemikiran tentang perasaan dalam diri Ella bukan hanya soal tahu diri, dia siapa dan seperti apa. Tapi, dia tak ingin selamanya terlibat dengan Dominic.
Ella hanya menikmati ini sebagai kesenangan, bisa tidur dengan pria keren dan tampan. Karena nanti kalau dia sudah bebas dia mungkin tak bisa dapat pria tampan dan keren seperti sekarang.
Ini hanya sebuah kebutuhan biologis.
Tak ingin hatinya berharap dan berakhir terluka. Ella meyakinkan dirinya.
"Yang penting aku juga suka." Ella melangkah ke arah tasnya yang rupanya sudah ada di kamar lengkap dengan ponsel dan barang di dalamnya yang tak hilang satu barang pun.
Mengambil sebuah botol lalu mengeluarkan sebutir obat dari dalamnya lalu meminumnya.
Tentu saja dia harus berjaga-jaga agar tak hamil.
Akan sangat berbahaya jika dia sampai hamil. Antara tak di lepaskan karena hamil dan ingin mempertahankan keturunan. atau di habisi karena tak ingin ada keturunan. Ella bergidik ngeri membayangkan keduanya. Bahkan meski di pertahankan akhirnya dia tetap akan di habisi setelah bayi itu lahir.
Beruntung saat keluar kemarin Ella segera terpikir untuk membeli obat kontrasepsi.
Pemikirannya terlalu jauh?
Tentu saja harus jauh.
Dia adalah seorang penulis, memiliki imajinasi tinggi. Berbekal buku- buku yang dia baca tentang mafia akhirnya selalu sama. Meski di setiap buku di rancang untuk akhir yang bahagia, tapi pada kenyataannya dunia gelap tak seromantis seperti cerita dark romance di dunia pernovelan.
Mafia sesungguhnya sangat kejam, bahkan tak bisa di bayangkan kekejamannya.
Lihat saja bagaimana Dominic mencekiknya tadi, mata pria itu sangat tajam seolah benar-benar ingin membunuhnya.
Jadi Ella harus waspada dan tetap menjaga dirinya.
Tidak ada kenyataan mafia menikahi gadis biasa sepertinya.
Setelah meneguk air untuk mengalirkan obatnya dia beranjak untuk membersihkan diri.
.....
Ella mengusak kepalanya yang basah sambil sebelah tangannya mengambil ponselnya di meja untuk menghubungi Vivian. Tentu saja dia harus mengabari jika dia baik- baik saja. Dia juga harus menanyakan kabar Jack memastikan anak itu tak ketakutan karena melihat kejadian semalam. Ella takut kejadian itu justru menyisakan trauma untuk Jack.
Mengingat apa yang terjadi Ella rasanya kesal sekali. Bagaimana dengan gilanya Brisia menculiknya lalu menjualnya pada pria tua. Apa mereka benar-benar jadi miskin?
"Rasakan!" umpat Ella kesal.
"Apa yang rasakan?" Ella yang sejak tadi melamun tak menyadari Vivian sudah menerima panggilannya, hingga suara dari seberang teleponnya terdengar. "Ella kau baik- baik saja?" Vivian kembali bicara sebab Ella tak juga bicara.
"Aku baik- baik saja, Bibi."
"Syukurlah, kau tahu aku bahkan tak bisa tidur karena berpikir jika kau benar-benar diculik."
Ella meringiskan senyuman. "Bagaimana dengan Jack, Bibi?"
"Ah ... anak itu juga menangis karena berpikir kau di culik gara- gara dia meminta eskrim."
Ella terkekeh, "Tolong katakan padanya aku baik- baik saja, Bibi."
"Tentu saja, tapi Ella kau benar-benar baik- baik saja, bukan?"
Ella menghela nafasnya, "Sebenarnya hampir saja, Bibi. Untung saja bosku segera menolongku."
"Syukurlah, ternyata dia orang yang baik."
Ella diam. Ya, Dominic memiliki sisi baik, setidaknya pria itu menolongnya.
"Lalu siapa mereka? Bagaimana bisa mereka yang menculikmu?"
"Kau pasti tidak akan percaya kalau aku mengatakannya, Bibi..."
Vivian diam menunggu ucapan Ella selanjutnya. "Brisia."
Vivian masih diam, mengingat sepertinya dia pernah mendengar nama itu, tapi dimana?
"Brisia?"
"Sepupuku, Bibi."
Seolah diingatkan Vivian segera berseru dengan suara terkejut yang kentara. "Anak pamanmu, itu?"
"Hm..."
"Oh, Astaga! Tidak ayah tidak anak sama- sama jahat."
"Kau tahu apa yang dia bilang padaku, Bibi?"
"Apa?"
"Usaha yang di bangun paman bangkrut, makanya dia menjadi wanita panggilan, dan berniat menjualku pada pria tua." Suara Ella pecah karena dia tetap merasa sakit hati. Setelah mereka mengambil semua hartnya Brisia masih tega menjualnya, sungguh tak punya perasaan.
"Brengsek!" Vivian tak bisa membendung kemarahannya. "Kamu harus laporkan dia ke polisi, Ella."
Ella terdiam. Jika dia melaporkan ini ke polisi, maka perbuatan Dominic dan anak buahnya semalam juga akan di usut. Ella tak mungkin membuat Dominic terlibat dalam masalahnya, lalu Dominic di penjara.
Bukankah dia akan terlihat tak tahu terimakasih karena memasukan Dominic ke penjara, padahal pria itu sudah menolongnya?
"Aku ingin membalasnya, Bibi. Tapi aku tak punya bukti."
Hanya itu alasan yang tepat, karena memang benar dia tak memiliki bukti untuk melaporkan Brisia. Dan alasan pertama tadi, dia tak ingin Dominic terlibat.
Yang Ella tak tahu bahkan jika Dominic benar-benar di laporkan atas pembunuhan kemarin, pria itu bisa dengan mudah lepas dari hukum dengan caranya sendiri.
...
Di ruang kerjanya Dominic tengah menatap kamera CCTV di koridor hotel, dimana sebelumnya terlihat Brisia masuk kamar lalu keluar setelah beberapa saat Axel masuk ke kamar.
"Siapa dia?" tanyanya pada Bobby yang baru saja memberi laporan tentang kejadian semalam. Tentu saja tugasnya juga menghilangkan semua bukti yang terekam disana saat mereka muncul dan membunuh preman penjaga di depan pintu yang terekam CCTV. Tapi sebelumnya Bobby juga harus memeriksa siapa dalang di balik penculikan Ella, dikhawatirkan dia adalah musuh Dominic.
"Brisia Duan. Adik sepupu dari nona Ella, Tuan."
Dominic menaikan alisnya, "Hanya orang biasa?"
"Ya, Tuan. Di ketahui dia menjual Nona Ella kepada Axel seharga 100 juta."
Dominic mengepalkan tangannya di atas meja. "Brengsek, beraninya dia menyentuh milikku." suara Dominic dingin dan menakutkan membuat Bobby merasa ada yang berbeda dengan reaksi bosnya kali ini.
"Selain itu, ayahnya adalah paman Nona Ella yang merebut semua peninggalan orang tuanya dan mengusir Nona Ella dari rumah, karena itu Nona Ella sempat terlunta-lunta sebelum bisa menyewa kamar kos di gedung tua itu."
Jelas ucapan Bobby semakin menyulut emosi Dominic.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?"
"Tentu saja mengambil kembali apa yang harusnya jadi milik Ella."
"Tapi, Tuan, semua aset yang di tinggalkan orang tua Nona Ella sudah habis tak bersisa, sebab bisnis yang dibangun pamannya juga bangkrut, dan mereka jatuh miskin. Itu juga yang menjadi alasan Brisia menjadi wanita penghibur."
Dominic mendengus. "Kalau tidak bisa di bayar dengan uang, bayar saja dengan nyawa."
ya sdh cukup mendukung dgn membaca saja