Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Anak muda, namamu Arka Yudistira?" Kresna bertanya dengan nada ramah namun berwibawa.
Arka berhenti melangkah, sedikit terkejut. Ia mengangguk sopan. "Benar, Senior. Saya Arka Yudistira. Apakah ada yang ingin Senior sampaikan?"
Kresna mengangguk perlahan, lalu mengucapkan kalimat yang mengguncang seluruh arena.
"Kalau begitu... apakah kau tertarik untuk bergabung dengan Wilayah Pedang Langit Perkasa kami?"
Hening.
Akademi Pusat terdiam. Putri Larasati terpaku. Bahkan Luhur Pangestu membeku di tempatnya. Undangan itu adalah tiket emas menuju puncak dunia. Sesuatu yang bahkan tidak berani dimimpikan oleh jenius sekalipun.
Di sudut lain, wajah Juan Surya berubah pucat pasi. Ia sudah lama ingin menghabisi Arka karena telah mempermalukan keluarganya. Namun, jika Arka menjadi anggota Wilayah Pedang Langit Perkasa, menyentuh seujung rambutnya saja berarti mengundang kehancuran bagi seluruh Perguruan Langit Membara.
"Akademi Pusat memang terlalu kecil baginya," gumam Satya dengan takjub. "Hanya Wilayah Pedang Langit Perkasa yang pantas menampung monster seperti dia."
Namun, di tengah kegembiraan itu, hati Putri Larasati justru dirundung gelisah. Ia bahagia, tapi juga merasa kehilangan. Jika Arka pergi ke tempat yang sejauh langit itu, akankah ia masih mengingat gadis dari kerajaan kecil ini?
Alis Arka sedikit bergerak, namun tidak ada raut kegirangan yang meledak. Ia tetap tenang, sebuah sikap yang membuat Kresna semakin terkesan.
"Terima kasih atas penghargaan Senior terhadap saya," jawab Arka dengan sopan. "Namun saat ini saya masih terikat dengan Akademi Pusat dan memiliki banyak urusan yang belum selesai di sini. Saya belum bisa meninggalkan tempat ini sekarang."
Jawaban itu membuat semua orang ingin berteriak gila. Menolak Wilayah Pedang Langit Perkasa demi akademi kecil? Itu adalah tindakan paling konyol yang pernah mereka dengar.
Namun Kresna justru tertawa ringan. "Bagus! Kau tidak silau oleh nama besar. Aku mengundangmu bukan hanya karena bakatmu, tapi karena cara indahmu memainkan pedang berat. Wilayah kami dulu punya divisi pedang berat yang kini telah punah. Aku melihat harapan untuk membangkitkannya kembali padamu."
Kresna melanjutkan, "Jika kau berhasil menghidupkan kembali divisi itu, menjadi seorang tetua di Wilayah kami bukanlah hal yang mustahil."
Arka tetap teguh. "Kebaikan Senior akan selalu saya ingat. Setelah urusan saya selesai, saya akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh."
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu." Kresna menjentikkan jarinya. Sebuah batu giok ungu tua meluncur dan jatuh ke tangan Arka. "Itu adalah Batu Transmisi khusus. Jika suatu hari kau berubah pikiran, hubungi aku. Aku sendiri yang akan menjemputmu untuk bertemu dengan Sang Guru Pedang."
Kresna yakin, cepat atau lambat, Arka akan menghubunginya. Sebab, siapa pendekar di dunia ini yang sanggup menolak panggilan dari puncak tertinggi?
Saat Arka kembali ke barisan Akademi Pusat, Larasati segera menghampirinya dengan langkah tergesa. Di jemari lentiknya tergenggam beberapa botol kecil berisi salep penyembuh. Dengan telaten, ia membersihkan sisa debu dan luka di dahi Arka menggunakan selembar kain halus.
"Arka, apa ada luka yang parah? Kau tidak menderita luka dalam, kan?" tanya Larasati cemas.
Arka tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih. "Tenang saja, Tuan Putri. Cuma lecet sedikit—tidak perih, tidak gatal. Tidur sebentar juga hilang."
Wajah Arka tampak segar, napasnya pun teratur seolah ia baru saja pulang dari jalan-jalan santai, bukan dari pertarungan hidup mati. Larasati menghela napas lega, lalu tiba-tiba tertawa kecil.
"Lihat penampilanmu... sudah seperti pengembara yang tersesat di hutan belantara."
Tiba-tiba, angin gunung bertiup kencang. Arka tersentak; ia baru sadar pakaiannya sudah compang-camping akibat serangan Yogi tadi. Ia merasa seolah sedang bertelanjang dada di tengah keramaian. Buru-buru, ia mengeluarkan setel pakaian baru dari pusaka gaibnya dan mengenakannya dengan cepat.
Dari samping, terdengar suara Satya yang penuh selidik. "Arka, kenapa kau menolak tawaran masuk ke Wilayah Pedang Langit Perkasa? Tempat itu adalah puncak impian semua pendekar di Benua Arcapura. Pasti ada alasan yang sangat kuat, bukan?"
Arka mengangguk pelan, tatapannya melembut saat beralih pada Larasati. "Ya, mungkin. Wilayah Pedang Langit memang menggoda. Tapi... ada hal-hal yang jauh lebih berharga bagiku daripada sekadar nama besar."
Larasati tertegun. Detik itu juga, matanya berkaca-kaca. Hanya dengan seulas senyum dan kalimat sederhana itu, hatinya terasa penuh. Rasanya, perjuangannya membela Arka selama ini sudah terbayar lunas.
Satya mengelus janggutnya, wajahnya penuh kekaguman. "Benar-benar bukan ucapan pemuda belasan tahun. Lalu... bagaimana dengan final besok? Seberapa yakin kau bisa menang?"
Kali ini Arka menggeleng tanpa ragu. "Jujur saja, aku tidak punya keyakinan sama sekali. Lawanku besok... berada di level yang berbeda."
Satya tertawa lepas. "Kalah pun tidak masalah! Bagaimanapun, Yoga adalah monster yang melampaui generasinya. Di mata dunia, kaulah pemenang sejati turnamen kali ini."
Saat mereka berbincang, Arka mendadak merasakan hawa dingin nan busuk menusuk punggungnya. Ia menoleh dan mendapati Juan, putra mahkota dari Perguruan Langit Membara, tengah menatapnya dengan api kebencian yang berkobar.
Penolakan Arka terhadap Wilayah Pedang Langit Perkasa justru membuat Juan semakin bernafsu untuk membunuhnya. Ia tahu, jika Arka tidak segera dihabisi, pemuda itu akan menjadi ancaman yang tak terhentikan di masa depan. Tatapan Juan kemudian beralih pada kursi pimpinan Benteng Gada Langit Utara, di mana Mardika duduk dengan wajah muram.
“Sepertinya... ada pisau tumpul yang bisa kupakai untuk memenggal kepala Arka,” batin Juan dengan seringai kejam.
Setelah arena yang hancur diperbaiki secara darurat, pimpinan wasit kembali naik ke panggung dan mengumumkan pertandingan kedua.
"Pergilah," ucap Luhur Pangestu singkat pada putra sulungnya.
Yoga mengangguk. Tanpa gerakan yang berarti, tubuhnya melayang ringan bagaikan helai bulu ke tengah arena. Ia mengulurkan tangan, dan sekejap kemudian, Pedang pusakanya terbang masuk ke dalam genggamannya. Ia berdiri tegak, gagah, dan sangat tenang. Wajahnya yang tampan bak ukiran batu giok membuat banyak gadis di tribun menahan napas.
"Ratna, giliranmu," ucap sang guru dengan nada tenang namun berwibawa.
Diiringi butiran salju yang tiba-tiba turun dan hawa dingin yang menusuk, sosok gadis berbaju putih turun ke arena. Ia adalah Ratna, yang wajahnya masih tertutup kain tipis sewarna es. Hanya matanya yang terlihat—sepasang mata seindah langit berbintang yang mampu menyihir siapa pun yang memandangnya.
Saat Yoga menatap mata itu dari jarak dekat, ketenangannya goyah untuk sekejap. Belum pernah ia melihat keindahan semurni itu.
"Yoga dari Vila Pedang Surgawi... mohon petunjuk dari Nona Ratna."
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri membeku, seanggun patung es yang abadi.
"Pertandingan kedua semifinal! Yoga melawan Ratna—mulai!!"