"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Bayang-Bayang di Rumah Megah
Hujan di luar gedung rumah sakit ternyata awet sampai malam. Di kawasan perumahan elit Menteng, kediaman pribadi Baskara Dirgantara berdiri megah namun sunyi, terisolasi dari hiruk-pikuk kota oleh pagar besi tinggi dan deretan pohon palem yang basah.
Baskara baru saja selesai mandi. Pria itu melangkah keluar dari kamar mandi utama hanya dengan mengenakan celana beludru hitam dan kaus oblong abu-abu santai sangat jauh dari penampilan formal kaku yang biasa ia tunjukkan di depan publik. Rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi kini dibiarkan agak berantakan dan sedikit basah, menjatuhkan beberapa tetes air ke handuk kecil yang tersampir di bahunya.
Ia melangkah menuju dapur bersih, menuangkan air putih dingin ke dalam gelas, lalu membawanya berjalan ke ruang kerja pribadinya. Kamar kerja itu luas, didominasi oleh rak buku jati yang menjulang hingga ke langit-langit dan sebuah meja kaca besar yang dipenuhi tiga layar monitor komputer. Biasanya, begitu sampai di rumah, fokus Baskara akan langsung tersedot oleh grafik pergerakan saham atau draf rencana ekspansi baru.
Namun malam ini, begitu ia duduk di kursi kerjanya, jemarinya yang hendak menyentuh mouse mendadak berhenti di udara.
Baskara menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan yang temaram. Kepalanya terasa sangat penuh, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, isi pikirannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis korporasi atau kalkulasi margin Dirgantara Group.
Semua ruang di kepalanya habis disita oleh satu nama, Aruna Prawijaya.
"Sial," umat Baskara lirih, memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku.
Bayangan wajah pias Aruna saat terduduk di tepi ranjang rumah sakit sore tadi, dengan jemari yang gemetar hebat menahan tangis di antara pecahan gelas, terus berputar-putar di benaknya bagai kaset rusak. Baskara mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya sedikit merosot di kursi. Ada rasa sesak yang aneh yang mendadak merayap di ulu hatinya setiap kali mengingat betapa rapuhnya penampilan gadis itu sore tadi.
Pikiran Baskara melayang kembali ke masa-masa di London. Logikanya yang kaku mulai membongkar ulang seluruh tindakannya di masa lalu. Dulu, ia benar-benar seangkuh itu. Ia merasa menjadi manusia paling objektif di dunia akademik saat coretan tintanya menghiasi draf skripsi Aruna dengan nilai B, tanpa mau peduli seberapa keras gadis itu begadang menembus malam demi mendapatkan nilai A yang sempurna. Baskara juga ingat bagaimana ia dulu bersikap begitu dingin, menjaga jarak yang teramat kaku seolah Aruna hanyalah satu dari ratusan mahasiswa yang lewat di hidupnya.
"Kalau saja malam itu aku tidak sekaku itu... kalau saja aku tahu lebih cepat," gumam Baskara pada kegelapan ruang kerjanya.
Rasa penyesalan yang terlambat itu terasa begitu nyata, menggores ego maskulinnya hingga berdarah-darah. Baskara meremas gelas di tangannya. Ia ingat betul bagaimana kepanikan menyerangnya malam wisuda jahanam itu, saat ia menemukan tubuh ringkih Aruna lunglai tak berdaya di lantai setelah diserang verbal oleh Michelle. Dinginnya kulit Aruna hari itu adalah ketakutan terbesar yang pernah Baskara rasakan dalam hidupnya.
Kini, setelah mereka kembali bertemu di Jakarta, Baskara sadar perasaannya sudah tidak sesederhana rasa bersalah lagi. Ada pergulatan batin yang jauh lebih dalam dan membingungkan di dalam dadanya. Ia sadar ia mulai egois. Ia ingin selalu ada di dekat Aruna, menjaganya dari kejutan kejam Deon Prawijaya maupun manuver menjengkelkan dari Vano. Baskara ingin menjadi satu-satunya pria yang berhak memeluk tubuh rapuh itu saat badai traumanya datang menyerang.
Namun, Baskara langsung menggelengkan kepalanya kasar, mencoba mengusir pikiran impulsif tersebut.
"Jangan gila, Baskara. Kau tidak boleh terburu-buru," bisik Baskara pada dirinya sendiri, mencoba memperingatkan logikanya yang mulai goyah.
Baskara tahu betul watak Aruna yang setinggi langit. Gadis itu memiliki harga diri yang luar biasa keras. Aruna paling benci dikasihani, apalagi oleh pria yang menjadi salah satu pemicu awal hancurnya kesehatan mentalnya di London. Sikap Aruna yang sore tadi tetap biasa saja, datar, dan memperlakukannya murni sebagai rekan bisnis adalah bukti nyata bahwa gadis itu sengaja memasang benteng pertahanan yang teramat tebal. Aruna sedang menahan batas di antara mereka, dan Baskara tahu, sekali saja ia melangkah terlalu agresif menunjukkan perasaannya, Aruna akan langsung menghilang dari radarnya untuk selamanya.
Baskara bangkit dari kursinya, berjalan mendekati dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang yang diguyur hujan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap rintik air yang memantulkan lampu taman.
Perasaan bingung ini membuat seorang Baskara Dirgantara merasa tidak berdaya. Ia biasa mengendalikan arah perusahaan besar, namun ia sama sekali tidak tahu cara mengendalikan debar jantungnya sendiri yang berdegup kacau setiap kali mengingat senyum tipis Aruna yang kini sangat mahal untuk ia lihat.
"Oke, kita mainkan dengan caramu, Aruna," kata Baskara pelan, sebuah senyuman tipis yang sarat akan ketetapan hati muncul di wajah tampannya.
Baskara memutuskan untuk mengalah pada ego dan rasa tidak sabarnya. Jika Aruna ingin mereka tetap berada di balik garis batas profesional, maka Baskara akan berdiri di sana dengan patuh. Ia tidak akan mendesak atau bergerak terlalu cepat. Ia akan membiarkan Aruna bertarung dengan caranya sendiri di dunia korporasi, sementara dirinya akan tetap menjadi perisai tak kasat mata yang memastikan tidak ada satu pun duri yang bisa melukai fisik rapuh gadis itu lagi.
Baskara meraih ponselnya di atas meja kerja, mengetik sebuah pesan singkat dengan draf kalimat yang sengaja ia buat sedatar mungkin agar tidak memicu kecurigaan Aruna, lalu mengirimkannya pada Rian.
"Pastikan tim medis terbaik memantau perkembangan kesehatannya malam ini. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin tertulis dariku."
Setelah memastikan pesan itu terkirim, Baskara meletakkan kembali ponselnya. Di bawah keheningan malam rumah megahnya, sang pengendali bisnis itu akhirnya kembali menemukan ketenangannya sebuah ketenangan baru yang lahir dari keputusannya untuk bersabar, menjaga jarak aman demi melindungi hati dan trauma gadis yang tanpa ia sadari telah merebut seluruh fokus hidupnya.