Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Misterius
"Gimana kabarnya, Yan? Dapur dalam keadaan baik, kan? Masih bisa dipakai membuat kopi atau masak mie instan malam ini?". Tanya Bagas sembari mengintip ke dalam dengan wajah yang masih terlihat pucat akibat kejadian sebelumnya di kamar mandi.
"Kompor masih bisa dinyalakan, kan? Tadi aku lihat ada sumbu kompor minyak, tapi aku belum yakin apa masih bisa dipakai." Dinda mengikuti dari belakang, memperhatikan dapur yang terasa luas tetapi gelap.
"Kompor tidak ada masalah, masih berfungsi dengan baik. Aku sudah cek sumbu dan tangki minyaknya. Beberapa piring dan gelas sudah aku bersihkan, jadi kita bisa pakai jika perlu." Adrian yang baru saja mengalihkan tangannya dari atas lemari piring segera berbalik, berusaha menunjukkan sikap biasa agar teman-temannya tidak merasa canggung.
"Syukurlah, setidaknya masalah perut kita sudah teratasi,". Jawab Dinda dengan rasa lega.
"Apa yang kamu lihat di sana, Yan? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan.". Namun, Bagas yang sangat peka terhadap hal-hal aneh merasakan ada yang tidak benar dalam sikap Adrian. Dia mendekat ke lemari piring yang baru saja diperiksa oleh Adrian.
"Hanya debu tebal dan barang-barang lama yang tidak terpakai. Tidak perlu dipikirkan. Yang penting, kita bagi tugas untuk merapikan ruang tengah sebelum matahari benar-benar terbenam." Adrian terdiam sejenak, melirik cepat ke arah piring tanah liat yang sebelumnya dia letakkan, lalu menjawab dengan tenang.
Meskipun Adrian berusaha mengalihkan topik pembicaraan, suasana dapur yang mengganggu dan bau melati yang masih tercium di udara membuat Dinda dan Bagas saling bertukar pandang, menyadari bahwa rumah ini menyimpan banyak misteri yang tidak bisa mereka jelaskan dengan akal sehat.
"Baiklah, sebelum hari sepenuhnya gelap dan kita terjebak di sini tanpa persiapan, lebih baik kita pergi ke warung terdekat, Kompor memang baik, tetapi minyaknya tinggal sedikit, kita perlu membeli bahan untuk masak malam ini. Walaupun listrik di sini menyala, kalian lihat sendiri lampu di ruang tengah redup sekali, kan? Kita perlu membeli beberapa bohlam cadangan agar rumah ini tidak terlalu gelap,". Kata Adrian sambil mengambil kunci rumah dari meja.
"Setuju sekali! Aku lebih suka jalan kaki ke warung daripada harus duduk di sini menunggu matahari terbenam. Ayo, cepat, jangan sampai warungnya tutup atau jalannya semakin gelap." Bagas langsung mengangguk cepat, bahkan sebelum Adrian selesai berbicara.
"Iya, aku juga perlu beberapa barang pribadi dan air mineral botol untuk persiapan kalau air di bak tadi masih keruh." Dinda mulai merapikan jilbabnya dan mencari dompet di dalam tasnya.
"Baiklah, ayo. Kita juga sekalian mengamati jalan menuju pusat desa supaya tidak tersesat kalau harus pulang malam," tambah Adrian dengan nada memimpin.
Bereka bertiga kemudian keluar, memastikan semua pintu terkunci dengan baik. Saat mereka melangkah di jalan setapak di bawah pepohonan bambu yang mulai memberikan bayangan panjang, mereka merasa sedikit lega bisa keluar sejenak dari suasana menyeramkan rumah kolonial tersebut, meskipun mereka sadar bahwa malam nanti, mereka harus kembali dan menghadapi kesunyian di sana.
Perjalanan menuju pusat desa menawarkan pemandangan yang sangat beragam. Di satu sisi, mereka terkesima dengan kebersihan halaman rumah penduduk dan saluran air yang mengalir lancar, tanpa tersumbat sampah plastik. Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan di sini sangat baik.
Namun, langkah mereka terhenti ketika mereka mendekati suatu kawasan yang dihadang oleh gerbang besi berkarat yang besar. Dari belakang gerbang itu, datang bau tak sedap yang tajam, sehingga Dinda secara otomatis menutup wajahnya menggunakan punggung tangan.
"Wow, ini bau apa? Ini sangat berbeda dari kebersihan di rumah warga yang sebelumnya," Dinda mengeluh dengan nada serak karena menahan napas.
"Inilah dia, Gas, Din. Ini pasti adalah area Jarian yang disebut oleh Pak RT. Tapi perhatikan, sistemnya masih tradisional. Mereka hanya menumpuk sampah di ruang terbuka.". Adrian berhenti di depan gerbang, matanya mengecil berusaha melihat tumpukan di balik pagar yang terlihat seperti ampas organik yang membusuk.
"Gila, Yan! Ini bukan sekadar bau, ini pusat polusi namanya. Harumnya jauh lebih menyengat dibandingkan rumah tua kita yang tadi. Kalau situasinya begini, gak heran kalau Pak RT sangat setuju kita bawa proyek Manajemen Sampah Cerdas ke sini." Bagas menutup hidungnya dengan kaos, suaranya terdengar berbeda.
"Justru kita melihat ini sebagai sebuah kesempatan, masalah ini bukan karena kebersihan warga tadi kita saksikan sendiri bahwa desa ini bersih, tetapi karena mereka tidak memiliki sistem pengelolaan akhir. Mereka hanya memindahkan masalah dari rumah ke gerbang ini,". Balas Adrian sembari menunjuk pada limpahan air yang merembes dari bawah gerbang.
"Tapi serius deh, kenapa tempat sampah harus dijaga dengan gerbang sebesar ini? Dan lihat, di tiang gerbangnya ada kain kuning terikat. Aneh, kan?". Tambah Dinda sambil melirik ke pepohonan gelap di sekitar gerbang,
"Sudahlah, Yan, kita bahas teknisnya nanti di warung atau saat siang. Bau ini perlahan-lahan bisa bikin pusing, dan aku tidak nyaman berdiri lama di depan gerbang ini. Ayo, kita lanjutkan perjalanan!" Bagas merasa geli, dia menarik lengan jaket Adrian.
Adrian mengangguk, tetapi matanya kembali melirik ke arah gerbang sekali lagi sebelum mereka melanjutkan langkah, menyadari bahwa proyek ini mungkin menghadapi sesuatu yang lebih rumit ketimbang sekadar masalah pengelolaan sampah.