Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Si Belang
Langkah kaki kasar menghentak tanah becek, membawa bayang-bayang tinggi wanita paruh baya berwajah masam.
Bibi Laras.
Saskia mengenali wajah itu seketika, bukan dari matanya sendiri, tapi dari memori gadis yang tubuhnya sekarang ia tempati. Memori yang langsung membanjiri otaknya dengan gambar-gambar tidak menyenangkan, tangan wanita itu menusuk dada Saskia Utami dengan jari telunjuk, suaranya yang melengking menagih sesuatu yang bukan haknya, senyum tipisnya saat membawa pergi karung beras dari dapur rumah ini.
"Saskia, tuli kau, hah?!"
Bibi Laras berdiri di ambang pintu kandang yang sudah copot satu engselnya. Tubuhnya tinggi untuk ukuran perempuan Jawa, bahunya lebar, lengannya kokoh karena terbiasa bekerja di sawah.
Rambutnya yang sudah setengah putih disanggul asal-asalan. Matanya menyipit, bukan karena rabun, tapi karena kebiasaan menilai orang lain dengan pandangan merendahkan.
Di tangan kanannya, tergenggam sapu lidi yang ujungnya sudah rontok dimakan usia.
"Bibiku sayang," gumam Saskia pelan, sinis. "Selalu tahu cara datang di saat yang tidak tepat."
Namun, Bibi Laras tidak mendengarnya. Perhatian wanita itu sudah beralih pada sesuatu di sudut kandang. Sesuatu yang membuat Saskia tiba-tiba menegang.
Si Belang.
Sapi lokal jantan, baru berumur sekitar satu setengah tahun, dengan pola warna hitam putih tidak beraturan. Di antara dua Limosin tua yang berdiri lesu, Si Belang adalah yang paling muda, dan yang paling menyedihkan kondisinya.
Tulang rusuknya mencuat seperti papan cuci. Kulitnya mengelupas di beberapa bagian, menyisakan bercak-bercak merah yang dikerubuti lalat. Nafasnya tersengal-sengal, cuping hidungnya melebar dan menyempit cepat. Di bawah matanya, bulu-bulu halus sudah rontok, menyisakan kulit kelabu yang kering dan pecah-pecah.
Saskia langsung mengenali tanda-tanda itu. Nafas cepat dan dangkal. Hiperventilasi kompensasi akibat asidosis metabolik. Tubuh sapi ini membakar cadangan lemak dan ototnya sendiri untuk bertahan hidup.
Protein otot dipecah menjadi asam amino, lalu diubah menjadi glukosa oleh hati dalam proses glukoneogenesis yang putus asa. Hasil sampingannya adalah badan keton yang membuat pH darah turun drastis.
"Sapi jelek! Cuma bisa makan dan berak!"
Sap lidi di tangan Bibi Laras terayun.
Saskia melihat gerakan itu dalam gerak lambat. Tangkai sapu yang sudah kusam, anyaman lidi yang terbuka di ujungnya, dan arah ayunannya yang menuju tepat ke tulang panggul Si Belang yang menonjol.
Tubuh Saskia bergerak sebelum otaknya sempat memproses.
"Jangan!"
Dua langkah, dan ia sudah berdiri di antara Bibi Laras dan Si Belang. Kedua tangannya terentang lebar, melindungi tubuh sapi kurus itu dengan badannya sendiri.
Sapu lidi mendarat di bahunya.
Rasa perih langsung menyebar dari titik pukulan ke seluruh lengan kanan. Kulitnya yang tipis langsung memerah, pembuluh darah kapiler pecah di bawah permukaan. Badannya oleng, keseimbangannya goyah. Tapi kakinya tetap menancap di tanah becek.
"Kau...!"
Bibi Laras tersentak mundur setengah langkah. Matanya melebar, bukan karena rasa bersalah, tapi karena kaget. Tidak pernah sebelumnya gadis penakut ini berani menghalangi pukulannya.
"Sakit, Bi," desis Saskia. Nafasnya memburu. Jantungnya berdebar terlalu cepat untuk tubuh yang kadar hemoglobinnya di bawah normal. "Sapumu. Kena bahuku."
"Habis kau lindungi sapi jelek itu?! Lihat badannya! Sudah habis dagingnya! Buat apa dipertahankan?!"
Saskia menurunkan tangannya perlahan. Bahu kanannya berdenyut, tapi ia mengabaikannya. Ia menoleh ke arah Si Belang.
Sapi itu gemetar. Matanya yang coklat gelap menatap Saskia dengan ekspresi yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan hewan.
Bukan ketakutan. Tapi kebingungan yang dalam. Seperti tidak percaya ada manusia yang berdiri membelanya.
"Belang," panggil Saskia lembut. Tangannya terulur, jemarinya menyentuh lembut bagian bawah rahang sapi itu. "Sini. Biar kulihat."
Si Belang tidak bergerak. Tapi ia tidak mundur. Itu cukup.
"Kau malah main-main dengan sapi sekarang?!" Bibi Laras menghentakkan kakinya. Lumpur di lantai kandang muncrat ke betisnya sendiri. "Aku tanya sekali lagi! Utang koperasi lima puluh juta itu! Kapan kau bayar?!"
Saskia menghela nafas panjang. Jemarinya masih memeriksa rahang bawah Si Belang, mencari pembengkakan kelenjar getah bening submandibular. Tidak ada pembesaran. Bagus. Tapi konjungtiva matanya pucat berat. Sangat pucat. Hampir putih dengan sedikit semburat kuning.
Ikterus ringan. Ada kerusakan hati.
"Kau dengar aku tidak, hah?!" Suara Bibi Laras semakin melengking. "Ini sudah jatuh tempo tiga bulan! Aku yang jadi penjaminmu di koperasi itu! Kalau kau tidak bayar, nama baikku yang hancur!"
"Nama baik?" Saskia akhirnya berbalik. Suaranya rendah tapi tajam. "Atau kau cuma takut tidak bisa lagi pinjam uang atas namaku?"
Mata Bibi Laras menyipit berbahaya.
"Apa kau bilang?"
"Sawahku kau garap dua tahun. Panennya kau ambil. Beras di dapurku kau bawa. Dedak di gudangku, dua karung, dibawa Paman Harto minggu lalu. Uangnya kemana, Bi?"
Wajah Bibi Laras memerah. Bukan karena malu. Karena marah.
"Itu urusan keluarga! Hutang budi ibumu padaku belum lunas! Aku yang rawat dia waktu sakit dulu! Aku yang urus pemakamannya!"
"Kau urus pemakamannya karena kau tahu almarhumah punya sertifikat tanah," potong Saskia dingin. "Bukan karena kau sayang adikmu."
Bibi Laras mengangkat sapu lidinya lagi, lebih tinggi kali ini.
Tapi Saskia tidak mundur.
Detak jantungnya sudah tidak beraturan. Pandangannya mulai berkunang-kunang di bagian tepi. Badan ini, tubuh Saskia Utami yang ringkih dan sakit-sakitan, jelas tidak siap untuk konfrontasi fisik atau mental seberat ini. Asam lambung naik lagi ke kerongkongannya, dan kali ini bercampur dengan rasa pahit empedu.
Tapi ia tidak bisa mundur.
Mundur berarti membiarkan Si Belang dipukuli lagi. Mundur berarti mengakui bahwa Bibi Laras berhak atas segalanya. Mundur berarti kembali menjadi gadis penakut yang membiarkan orang lain menginjak-injak hidupnya.
Saskia Mahendra tidak pernah mundur. Tidak di laboratorium waktu risetnya dicemooh profesor tamu. Tidak di lapangan waktu sapi pejantan mengamuk. Tidak sekarang.
"Kau sudah gila, ya?" desis Bibi Laras. "Pasti otakmu bocor setengahnya itu. Makanya ngomong ngelantur."
"Aku tidak ngelantur."
"Besok lusa, utang itu harus mulai dicicil. Atau koperasi akan sita tanahmu. Aku tidak akan bantu kali ini. Biar kau jadi gelandangan di tanah sendiri."
Bibi Laras melempar sapu lidinya ke sudut kandang. Sapu itu mendarat tepat di dekat kaki Si Belang, membuat sapi itu tersentak dan melenguh ketakutan.
"Dan urus sapi jelek itu. Kalau sudah mati, potong saja. Dagingnya juga pasti alot."
Langkah kakinya kembali menghentak tanah becek, kali ini menjauh. Bayang-bayang tubuh tingginya menghilang di balik pintu kandang yang menggantung miring. Suara sandalnya yang menampar-nampar lumpur semakin lama semakin jauh.
Saskia berdiri tegak selama tiga detik setelah suara itu benar-benar lenyap.
Lalu lututnya lemas.
"Lang..." bisiknya, tangannya meraih tiang kayu kandang untuk menahan tubuh. "Aku... pusing..."
Si Belang melenguh pelan, mendekatkan moncongnya yang basah ke lengan Saskia. Hembusan nafasnya hangat, tapi aromanya asam. Nafas kelaparan.
"Kau juga pusing, ya?" Saskia terkekeh lemah. "Kita sama. Sama-sama..."
Kalimatnya menggantung. Lututnya menghantam tanah becek. Lalu bahunya. Lalu pipinya. Jerami basah yang berbau pesing menyambut tubuhnya dengan dingin yang tidak bersahabat.
Si Belang melenguh lagi, lebih keras. Tapi suara itu terdengar semakin jauh, seperti datang dari ujung terowongan.
Pandangannya mengabur seiring tubuh ringkihnya ambruk di atas tumpukan jerami kering.