Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan yang Dirindukan
Bel berbunyi. Jam pelajaran pertama dimulai. Guru Fisika masuk dengan langkah tegas, langsung menulis rumus di papan tulis tanpa basa-basi.
Brielle berusaha fokus. Matanya lurus ke depan, pulpen di tangannya mencatat setiap rumus. Tapi ada yang mengganggu. Bukan suara, bukan keributan—tapi ketiadaan sesuatu.
Biasanya, Nevran akan mengganggunya. Memainkan rambutnya, menggeser kursi, atau berbisik omong kosong. Sekarang? Cowok itu duduk di pojok, jauh darinya, dan tidak melakukan apa-apa.
Kenapa rasanya aneh? pikir Brielle kesal. Ini yang gue mau, kan?
Tapi matanya tanpa sadar melirik ke pojok. Nevran sedang menunduk, menggambar sesuatu di bukunya. Wajahnya datar, tidak peduli dengan sekitar. Sekali lagi, Brielle memaksa dirinya fokus ke papan tulis.
Jam istirahat tiba. Keisha langsung menyeret Brielle ke kantin. Celine menyusul di belakang.
“Bri, lo dari tadi melamun mulu. Ada apa?” tanya Keisha sambil mengunyah keripik.
“Gak ada. Biasa aja.”
“Biasa aja matanya nyempil ke pojok terus?”
Brielle mendelik. “Gue liatin papan tulis, kali!”
Celine terkekeh. “Papan tulisnya ada di pojok?”
Brielle terdiam, wajahnya merona. Keisha dan Celine saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Udah, udah. Gak usah dipikirin,” kata Celine sambil menepuk pundak Brielle. “Yang penting lo sekarang tinggal satu rumah. Rejeki nomplok itu namanya.”
“REJEKI APAAN?!”
Keisha nyengir. “Rejeki cinta, Bri.”
Brielle hampir melempar sendok ke arah mereka.
Di sisi lain kantin, Axel melirik Nevran yang sedang duduk diam. “Bos, lo dari tadi diem aja. Gak nyamperin si Brielle?”
“Buat apa?”
“Ya... jagain. Takut dideketin cowok lain.”
Nevran mengangkat bahu. “Dia bisa jagain diri sendiri.”
Axel mendengus. “Iya sih. Tapi lo gak khawatir?”
Nevran tidak menjawab. Matanya menatap ke arah meja Brielle—tepat saat Elvaro datang dan duduk di sampingnya.
Rahang Nevran mengeras. Tapi ia tetap diam. Tangannya mengepal di bawah meja.
Dasar keras kepala, pikir Axel dalam hati.
Jam pulang tiba. Brielle sedang merapikan tasnya ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Nevran.
Cadel: Tunggu di parkiran. Pulang bareng.
Brielle mendengus, tapi tetap berjalan ke parkiran. Nevran sudah duduk di atas motor, helm di tangan.
“Lo jangan perintah-perintah, Cadel!”
“Naik.”
“Gue bisa pulang sendiri—“
“Naik, atau gue bilang ke Elvaro kalau lo tidur sekamar sama gue?”
Brielle membelalak. “KITA TIDUR SEKAMAR?! NGGAK! LO NGAPAIN SIH?!”
Nevran tersenyum kecil. “Naik.”
Dengan gerakan kesal, Brielle naik ke jok belakang dan memukul punggung Nevran. “Brengsek!”
Motor melaju. Angin sore berhembus, membawa rambut Brielle terbang. Nevran mencuri pandang lewat spion—wajah Brielle yang masam itu tetap cantik.
Dasar cadel, pikir Brielle sambil tanpa sadar mempererat pelukannya.
Dan Nevran? Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun—kecuali di belakang helm, saat gadis kesayangannya tidak melihat.
*****
Motor berhenti di depan mansion Garendra. Brielle turun dengan gerakan masih kesal, melepas helm lalu menyodorkannya ke Nevran tanpa bicara.
“Taruh aja di motor,” ucap Nevran datar.
“Ya udah.”
Brielle berbalik hendak masuk, tapi Nevran menyusul di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan melewati taman kecil menuju pintu utama.
“Cadel.”
“Apa?”
“Lo tuh... kenapa sih dari tadi diem banget? Biasanya nyebelin.”
Nevran menoleh, menatap Brielle dengan alis terangkat sedikit. “Lo kangen gue nyebelin?”
“GAK!” Brielle menjawab terlalu cepat. “Gue cuma... heran aja. Biasanya lo rese, sekarang tiba-tiba jadi batu. Mungkin ada yang salah sama lo.”
“Atau mungkin lo yang mulai biasa sama gue.”
Brielle terdiam. Wajahnya merona. “Dasar pede.”
Nevran tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke telinga, tapi cukup membuat jantung Brielle berdetak tidak karuan.
Mereka masuk ke dalam. Bunda Kalista sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.
“Pulang, Nak?” sapa Bunda Kalista hangat.
“Iya, Bun,” jawab Brielle.
“Bunda masak kesukaan Aya. Udah mandi, terus makan ya.”
“Makasih, Bun.”
Brielle melangkah menuju tangga. Namun sebelum naik, ia berhenti dan menoleh ke Nevran yang masih berdiri di dekat pintu.
“Cadel.”
“Apa?”
“Makasih... udah anter.”
Nevran mengangguk kecil. Brielle pun naik, meninggalkan cowok itu yang masih berdiri di tempatnya, menatap punggungnya sampai menghilang di balik dinding.
Bunda Kalista tersenyum melihat putranya. “Nak, muka kamu tuh aneh.”
Nevran mengerjap. “Biasa aja, Mom.”
“Iya, biasa aja. Tapi Bunda lihat kamu tersenyum sepanjang hari.”
Nevran tidak menjawab. Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air, lalu naik ke kamarnya. Tapi di tangga, ia berhenti sejenak, menatap pintu kamar Brielle yang tertutup
Bersambung
bantu support juga yaa😇