SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, suasana kelas 12-1 terasa sedikit beda. Udara yang biasanya ceria dan santai, tiba-tiba jadi agak kaku dan hening sejak kedatangan satu sosok perempuan yang baru saja pindah kembali ke SMA Aexdream setelah setahun lebih bersekolah di luar kota. Sosok itu adalah Sowon, perempuan cantik, berwibawa, dan punya pesona tenang yang tak asing lagi bagi siapa pun di sekolah ini—terutama bagi Jeno.
Karina yang sedang duduk di sebelah Jeno sambil membaca buku, samar-samar mendengar bisik-bisik teman-teman di belakang.
"Itu Sowon kan? Iya bener! Mantan pacarnya Jeno lho..."
"Wih balik lagi dia? Dulu kan mereka pacaran pas kelas 10, putus pas dia pindah. Katanya hubungan mereka serius banget lho..."
Karina diam saja, tapi hatinya sedikit bergetar. Dia tau soal Sowon, dia tau kalau dulu Jeno dan Sowon pernah jadi pasangan paling dikagumi, paling serasi, dan dianggap tak terpisahkan. Hubungan mereka berakhir bukan karena ada masalah, tapi semata-mata karena Sowon harus ikut orang tuanya pindah tugas ke luar kota. Perpisahan itu dikenal sangat menyedihkan, dan dulu Jeno sempat terpuruk cukup lama sebelum akhirnya perlahan membuka hati lagi dan jatuh cinta pada Karina.
Jeno sendiri diam mematung di tempat. Matanya menatap Sowon yang berjalan masuk dengan anggun, menyapa guru dan teman-teman lama dengan ramah. Ada rasa kaget, ada rasa kangen sebagai teman lama, tapi di atas segalanya, ada rasa lega dan tenang—karena saat ini, satu-satunya perempuan yang ada di hatinya dan jadi dunianya hanyalah Karina.
Sowon menoleh ke arah mereka, matanya langsung bertemu pandang dengan Jeno. Dia tersenyum tipis, senyum yang masih sama persis seperti dulu, lalu berjalan mendekat. Seluruh kelas seolah menahan napas, penasaran apa yang bakal terjadi.
"Hai, Jeno. Lama nggak ketemu," sapa Sowon lembut, suaranya tenang dan hangat.
Jeno bangkit berdiri sedikit, mengangguk sopan dan ramah. "Hai, Won. Seneng banget liat lo balik. Kabar lo baik?"
"Baik banget. Sekarang orang tua gue udah menetap lagi di sini, jadi gue pindah balik. Seneng banget bisa ketemu kalian lagi," jawab Sowon, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Karina yang duduk diam di sebelah Jeno. Tatapannya tajam tapi sopan, meneliti sosok perempuan yang sekarang mengisi tempat yang dulu pernah jadi miliknya.
"Dan lo pasti Karina ya? Sering denger nama lo, dan denger kalau lo pacarnya Jeno sekarang. Lo cantik banget, pantas aja Jeno jatuh hati," kata Sowon dengan nada ramah, meski terselip rasa penasaran yang kental.
Karina tersenyum sopan, meski di dalam hatinya ada rasa gugup dan cemas yang tiba-tiba muncul. Dia bangkit berdiri, menyambut uluran tangan Sowon. "Hai, Sowon. Iya, gue Karina. Seneng kenalan sama lo. Dulu Jeno juga sering cerita soal lo, katanya kalian teman baik banget."
Jeno langsung meremas tangan Karina pelan di bawah meja, memberi kode ketenangan dan jaminan rasa aman. Dia tau Karina pasti merasa canggung dan khawatir, apalagi dengan kehadiran masa lalu yang begitu besar dan dekat.
Sepanjang hari itu, kehadiran Sowon terasa sangat terasa. Dia pintar, dia aktif, dia mudah bergaul, dan banyak teman lama yang kembali mendekat padanya. Tak jarang Sowon mendekati Jeno, mengajak ngobrol soal kenangan lama, soal teman-teman dulu, atau sekadar bertanya kabar. Sikapnya terbuka dan ramah, tapi bagi Karina, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Dia sering melihat cara pandang Sowon ke arah Jeno—tatapan yang bukan sekadar tatapan teman lama, tapi ada rasa yang belum sepenuhnya hilang.
Siang itu, saat jam istirahat, rombongan enam pasangan berkumpul seperti biasa di kantin. Suasana agak berbeda, karena Sowon tiba-tiba datang dan bergabung duduk di meja mereka.
"Jadi... rencananya kalian mau masuk universitas mana nih? Dulu gue inget banget Jeno pengen banget masuk Teknik, kan?" tanya Sowon santai sambil minum jusnya, lalu menatap Jeno lekat-lekat.
Jeno mengangguk pelan, tapi matanya langsung menoleh ke arah Karina yang duduk diam di sebelah Chenle. "Iya, gue tetep pengen ke sana. Tapi sekarang gue udah punya tujuan lain juga, gue pengen masuk universitas yang sama sama Karina. Kita udah sepakat dari lama."
Jawaban itu jelas, tegas, dan langsung. Sowon terdiam sebentar, senyumnya sedikit pudar tapi dia berusaha tetap tenang. "Wah, manis banget ya. Dulu kita juga pernah ngomong gitu lho, mau bareng kuliah, bareng kemana-mana... sayang aja jalannya beda waktu itu," ucap Sowon pelan, seolah sengaja diucapkan supaya terdengar oleh Karina.
Hening sejenak. Ningning dan Gisel langsung saling pandang, merasakan suasana yang makin canggung. Chenle mau saja buka mulut buat ngomong hal lain, tapi Karina lebih dulu angkat suara dengan tenang dan lembut.
"Setiap masa punya ceritanya sendiri ya, Sowon. Cerita masa lalu indah buat diingat, tapi cerita sekarang dan masa depan itu yang paling penting buat dijaga. Jeno emang punya kenangan indah sama lo, tapi sekarang dia punya gue, dan kita punya rencana kita sendiri. Gue hargai banget apa yang pernah ada di antara kalian berdua, karena itu juga yang bikin Jeno jadi sosok sebaik dan sehebat sekarang."
Karina bicara dengan kepala tegak, matanya menatap Sowon dengan tenang, tanpa rasa benci atau marah, tapi penuh keyakinan diri. Jawaban itu bikin semua orang terkejut, termasuk Sowon sendiri yang seolah tak menyangka Karina seberani dan se-tenang itu bicara.
Jeno menatap Karina dengan mata berbinar bangga dan kagum luar biasa. Dia tau ceweknya itu tenang dan bijak, tapi hari ini Karina beneran nunjukin kedewasaan dan rasa percaya diri yang bikin dia makin jatuh hati berkali-kali lipat.
Sowon cuma bisa mengangguk pelan, tersenyum tipis yang kali ini terasa lebih tulus dan lega. "Bener juga kata lo, Karina. Maaf ya kalau sikap gue bikin lo nggak nyaman. Jujur aja, pas tau gue bakal pindah balik, gue sempat berharap ada kesempatan lagi. Tapi liat cara Jeno natap lo, liat cara lo natap Jeno... gue sadar, tempat gue emang udah jadi masa lalu, dan tempat lo ada di masa depannya dia. Gue seneng banget dia dapet cewek sebaik dan sebijak lo."
Siang itu sepulang sekolah, Jeno sengaja mengajak Karina jalan-jalan sebentar menyusuri taman belakang sekolah, tempat biasa mereka duduk berdua. Hening sebentar, sampai akhirnya Jeno memegang kedua tangan Karina erat, menatap mata ceweknya dalam-dalam.
"Sayang... maafin ya kalau kedatangan Sowon bikin lo khawatir atau sedih. Gue tau dia itu bagian besar dari masa lalu gue, dan gue ngerti banget kalau lo sempet ngerasa terancam atau nggak nyaman. Tapi gue mau lo denger ini baik-baik..."
Jeno menghela napas sebentar, suaranya lembut tapi tegas banget.
"Dulu, pas gue sama Sowon putus karena dia harus pindah, gue sempat ngerasa dunia gue runtuh. Gue sempat mikir gue nggak bakal bisa sayang sama orang lain lagi. Tapi itu dulu. Itu masa lalu. Sekarang, gue berdiri di sini, gue bernapas, gue bahagia, gue punya mimpi... semuanya karena ada lo, Karina. Sowon itu kenangan indah, teman baik, tapi dia nggak lebih dari itu. Satu-satunya orang yang gue sayang, yang gue jagain, yang gue janjiin masa depan... itu cuma lo. Cuma lo seorang."
Dia mengusap pipi Karina pelan, menghapus sedikit jejak air mata yang sempat jatuh diam-diam.
"Lo liat tadi kan? Jawaban lo itu keren banget, dewasa banget, dan bikin gue makin bangga punya lo. Lo nggak perlu khawatir sama bayang-bayang masa lalu, Sayang. Karena gue udah tutup buku itu rapat-rapat. Buku cerita gue sekarang, dan selamanya, isinya cuma ada lo dan gue."
Karina tersenyum di sela isak tangis bahagianya, memeluk pinggang Jeno erat banget, menyandarkan wajahnya di dada cowoknya. "Gue tau, Jen... gue tau. Cuma tadi gue sempet takut aja, takut gue nggak sebaik dia, takut lo kangen sama apa yang dulu pernah ada. Tapi denger lo ngomong gini, semua rasa takut itu hilang. Makasih ya... makasih udah milih gue, makasih udah bikin gue ngerasa jadi satu-satunya buat lo."
Jeno mengecup puncak kepala Karina lembut, mencium rambut panjang ceweknya dengan sayang. "Milih lo itu keputusan paling gampang dan paling bener yang pernah gue ambil seumur hidup gue. Sowon balik atau enggak, masa lalu ada atau enggak... nggak bakal ngubah apa pun. Cinta gue ke lo udah tertanam dalem banget, udah jadi bagian diri gue sendiri. Nggak ada yang bisa gantiin lo, nggak ada yang bisa pisahin kita."