Nissa adalah istri yang mengalami penderitaan pada pernikahan nya. Setelah menikah karena perjodohan itu, banyak sekali rintangan dalam pernikahan nya. Suami nya yang kejam, dingin dan selalu menyakiti hati nya. Kehadiran mantan pacar suami nya lah yang membuat pernikahan itu tak mampu ia jalani lagi. Nissa yang selalu diabaikan oleh sang suami, Bagaimana kah ia bisa bahagia?
.
.
.
Penasaran? Silahkan baca novel ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Azizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35 - CERAIKAN AKU!
Nissa pulang ke rumah, setibanya di rumah ia melihat Andhika, Ros dan William duduk bersama di sofa sambil menonton TV. Pemandangan dari keluarga yang ideal dan bahagia. Tak sedikitpun celah untuk Nissa bisa bergabung dengan keluarga ideal itu. Nissa pun menghampiri Andhika.
"Aku ingin bicara kepada mu" ucap Nissa kepada Andhika.
"Kamu sudah pulang? Akhirnya kamu mau berbicara dengan ku" Andhika merasa bahagia, mengetahui Nissa sudah ingin bicara kepadanya berarti kemarahan nya sudah sedikit berkurang.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Nissa untuk berbicara. Andhika tak bisa menghilang kan senyum cerah si wajah nya.
"Tolong tanda tangani ini" ucap Nissa sambil menyerahkan sebuah amplop besar. Andhika pun membuka nya.
"Apa ini?" tanya Andhika.
"Formulir perceraian" jawab Nissa.
Andhika terdiam mematung kemudian dengan gesit Andhika membuka amplop besar itu.
"Tidak mau! Aku tidak akan menandatangani ini!!" Andhika pun merobek formulir perceraian itu.
"Kenapa?" Nissa bertanya dengan kesabaran yang ia miliki.
"Aku sudah membeli mu, buat apa aku mengembalikan mu" Andhika merasa sangat - sangat kesal.
"Andhika Ceraikan aku! Sekarang Juga!!" ucap Nissa dengan tegas.
Akhirnya amarah yang ia tahan keluar dengan meninggikan suaranya.
"Ku bilang tidak! sampai kapan pun tidak akan ku izin kan kau pergi dariku!" Andhika menjawab dengan kasar.
"Ini!" Nissa melempar kan sebuah amplop baru.
"Apalagi ini?!" tanya Andhika.
Andhika pun membuka nya, amplop itu berisi semua surat kepemilikan saham Nissa yang berpindah tangan ke Andhika beserta bukti transfer ke rekening Andhika. Nominal nya sama persis dengan yang Andhika gunakan untuk menyelamatkan perusahaan orang tua Nissa.
"Dari mana semua uang ini!?" tanya Andhika murka.
"Jangan bilang kau menjual dirimu pada Dokter itu!?" Andhika benar - benar murka.
"Aku menjual semua aset ku!" Nissa meneriaki Andhika.
"Akan ku kembalikan uang mu" jawab Andhika.
"Lalu formulir nya? kapan?" tanya Nissa.
"Kan sudah ku bilang tidak akan!" Andhika menjawab dengan suara dingin miliknya.
"Apa!? Kau sudah memiliki keluarga ideal, Bahkan cinta yang selalu kau sebut itu telah kembali....aku tidak di perlukan disini!" jawab Nissa marah.
"Di perlukan atau tidaknya dirimu aku yang menilai nya, Jika aku bilang tidak maka tidak!!" ucap Andhika memperingati Nissa.
Nissa kemudian memegang kedua tangan Andhika.
"Suami ku....hiks.....ku mohon.....hiks" sambil menangis Nissa memohon kepada Andhika.
Hati Andhika semakin sakit mendengar hal itu. Ini pertama kali nya Nissa meminta dan memohon dengan sungguh - sungguh kepadanya. Permohonan pertama Nissa kepadanya tak mampu ia berikan. Jika ia melepaskan Nissa maka Nissa akan pergi jauh dari nya. Ia tak ingin memberikan Nissa luka yang sangat dalam tapi Andhika memilih memberikan Nissa luka dari pada harus berpisah darinya. Andhika tak mampu lagi hidup tanpa wanita itu disisinya.
"Andhika ku mohon, lepas kan aku....hiks....Aku sudah tidak sanggup"
Nissa terus berusaha menahan tangisannya meski tak berguna karena air mata itu terus jatuh.
"Sebenarnya kenapa kamu tidak sanggup? Ros tidak akan tinggal disini, dia hanya akan datang mengunjungi William saat sore harinya, dan William sedang sakit keras maka aku tidak bisa meninggalkan nya....kamu seharusnya sebagai istri bisa lebih mengerti keadaan suami mu"
"Bukan Ros dan William yang membuat ku tidak sanggup!!" Teriak Nissa.
"Tapi kau!! Kau lah penyebab nya!! Jika kau menganggap ku istri kau tidak akan memperlakukan aku begini!! Aku tidak mempermasalahkan Ros dan William karena semuanya telah terjadi tapi aku benci sikapmu yang memperlakukan aku seperti ini!! Kau hanya bisa menumbuhkan luka padaku!!"
Nissa mengeluarkan semua isi hatinya.
"Baiklah....percuma berdebat, lalu apa yang harus ku lakukan agar kamu tidak terluka?" tanya Andhika.
"Cukup Ceraikan aku!! Aku tidak sanggup bersama mu lagi !! " Teriak Nissa.
Plak...... tamparan keras mendarat di pipi Nissa.
"Sudah cukup! Aku bisa memberikan mu semuanya kecuali perceraian!! Apa kamu tidak mengerti!!?"
Andhika benar - benar marah kepada Nissa yang tidak memahami situasi miliknya. Untuk pertama kali Andhika melayangkan tangannya kepada Nissa dan Andhika melihat dengan jelas perasaan hancur milik Nissa yang terpantul pada tatapan mata nya. Tangan nya yang menampar pipi cantiknya bahkan gambaran tangan yang terbentuk di pipi wanita itu terasa jelas oleh Andhika.
"Apa kau pernah tahu? Mengapa aku marah? Apa kau pernah tahu mengapa aku merasa sesak bersama mu sekarang? Aku marah padamu yang tidak pernah menempatkan posisi mu dengan posisiku!! Kau hanya mementingkan ego mu!! Aku sesak harus mengikuti semua ego mu bahkan yang paling aku benci adalah ketidak jujuran mu!! Kau menemui wanita itu diam - diam! Bahkan masalah anak mu kau tidak akan membicarakan hal itu padaku jika dia tidak datang ke sini!!"
Nissa benar - benar berteriak dengan hebat, ia mengungkap kan semua rasa yang ia pendam ke Andhika. Ini sudah batasnya. Hati Nissa seakan layu....bersama Andhika membuat dirinya semakin mati. Nissa tak bisa lebih lama berada di sisi pria itu.
"Aku sudah memberikan mu harta ku dan status apalagi yang kurang?" Lagi - lagi jawaban meremehkan dari Andhika.
"Bukan itu!! Saat awal menikah bahkan aku tidak pernah sesak berada di sisimu, sekarang aku benar - benar muak!! Tolong lepaskan aku! Biarkan Aku pergi!" Nissa memohon dengan sungguh - sungguh berharap ada sedikit kebaikan dalam hati Andhika.
"Apakah dengan pergi dariku membuatmu bahagia?" tanya Andhika dengan suara yang kecil, namun ada raut kesedihan di wajahnya.
"Setidaknya begitu" jawab Nissa sambil menghapus air mata nya.
"Bisakah kamu bahagia dengan meninggalkan ku?" tanya Andhika kembali.
"Kuharap begitu" jawab Nissa lirih.
"Lalu bagaimana dengan ku?" Tanya Andhika, lagi - lagi sorot mata nya memancarkan kesedihan.
"Apa maksud mu?"
"Jika kamu meninggalkanku bagaimana dengan ku yang telah kamu tinggalkan?"
"Andhika, kau tidak memerlukan ku" jawab Nissa dengan sedih.
Nissa menatap Andhika. Mereka terus bertatapan dalam diam. Seolah saling mengoreksi perasaan masing - masing.
"Disini ada Ros dan William, aku yakin kau akan bahagia. Dari awal pernikahan ini hanya lah kesepakatan saja kan? Tidak ada cinta di antara kita. Masalah saham dan lainnya aku sudah tidak perduli" ucap Nissa sambil menahan air mata nya agar tidak tumpah kembali.
Andhika hanya diam.
"Kau bahkan tidak mencintaiku kan? Tidak ada artinya aku disini" lanjut Nissa.
Benar kan kau tidak mencintaiku? Ku mohon jawab lah! Jika memang ada sedikit saja rasa mu untuk ku, ku mohon Andhika tahan aku, untuk tidak meninggalkan mu, katakan lah perasaan mu bukan hanya amarah yang keluar di antara kita.
"Tidak bisa Nissa, maaf aku tidak akan menceraikan mu" jawab Andhika.
"Lalu untuk apa aku disini? Aku tidak mampu lagi hidup jika berada disini!!"
Andhika berjalan keluar dan mengunci pintu kamar Nissa dari luar. Meninggalkan Nissa sendirian di dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan!!! Buka!!! Andhikaaaa!!!" Teriak Nissa.
"Mulai besok kamu tidak akan bisa keluar! Aku tidak akan mengijinkan kamu keluar dari kamar ini!! kamar mandi dan kamar pakaian ada di kamarmu untuk makanan akan diantarkan ke kamar mu. Kamu tidak boleh meninggalkan kamar ini sedikit pun" ucap Andhika lalu pergi meninggalkan Nissa yang memukul - mukul pintu dan berteriak.
"Andhika! jangan seperti ini!! Aku benci bila harus dikurung seperti ini!!" Nissa terus memukul pintu itu semalaman.
-bersambung-
"Hatiku yang sakit ini, apakah karena cinta ataukah kehadiran mu yang memberikan luka?"