Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Eldoria
Di halaman Sma Nusantara, beberapa mobil sedan hitam terparkir rapi. Para murid dan guru yang belum pulang memperhatikan ke arah rombongan mobil hitam itu.
“Wahh, gawat si anak culun itu dalam masalah besar,” ucap seorang siswa yang melihat ke arah rombongan mobil dari keluarga Wardana, yang tak lain adalah ayah dari Dion, Haris Wardana.
Tuan Haris, membawa beberapa orang nya, ia melangkah dengan raut wajah yang terlihat marah. Di belakangnya, Dion dengan wajah tengil dan angkuhnya ia melangkah di belakang sang ayah sambil memegangi bahunya nya.
“Ayah, aku mau dia di keluarkan dari sekolah ini,” ucap Dion kepada Ayahnya itu.
Haris menoleh dengan wajah yang datar serta gaya sombongnya. “Tentu saja, Ayah akan membuat dia tidak bisa bersekolah dimana pun lagi.”
Mendengar itu Dion merasa sangat puas, lalu keduanya kembali melangkah. Para guru yang mengenalnya memberikan hormat.
“Dimana anak yang bernama Nova?” tanyanya kepada seorang guru.
Guru itu terlihat cemas, dari sorot matanya menyimpan rasa khawatir. Bu Riska menunjuk ke arah kantin.
“Mari saya antar pak, Nova ada di sana bersama teman-temannya.”
Semua orang seketika heboh, dan menuju ke arah kantin.
Begitu Dion dan ayahnya sampai di kantin, keduanya masuk. Sementara Nova menyadari itu, ia hanya tersenyum dan menyesap es teh di tangannya, Aruna bersikap tenang saat melihat kedatangan Dion dan ayahnya. Ia tahu bagaimana ini akan berakhir.
“Mana yang namanya Nova?” ucap Haris dengan nada yang penuh dengan penekanan.
Dion langsung berbisik dan menunjuk tepat ke arah depan ayahnya, dimana Nova sedang duduk membelakangi mereka.
“Ada apa mencariku?” ucap Nova dengan suara yang tenang.
Haris yang mendengar suara itu seketika pucat, suara itu sangat familiar jantungnya seketika berdegup kencang. Ia menoleh ke arah Aruna dan mengkerutkan keningnya.
“Kenapa nona Aruna ada disini?” batinnya.
“Kau sudah membuat anakku cedera, maka kau harus terima konsekuensinya!”
Nova berdiri perlahan, suasana seketika berubah menjadi tegang. Ethan dan teman Nova yang lainnya duduk bersantai menyaksikan drama gratis yang di buat oleh sosok Dion yang tak pernah lelah mencari masalah dengan teman mereka Nova.
“Benarkah begitu, Pak Haris?” ucapnya nyaris tanpa nada.
Nova membalikkan badannya, dan langsung membuat Haris seketika diam di tempatnya. Lututnya bergetar, ia menelan ludah dengan kasar keringat sebesar biji jangung mulai bercucuran di pelipisnya.
“T-tuan muda Nova...” Haris langsung jatuh berlutut di hadapan Nova. “Maaf! Tuan aku pikir ini bukan tuan muda, maafkan aku yang bodoh ini.”
Semua orang tercengang, dan suasana seketika berubah hening. Wajah sombong Dion seketika hilang, dan berubah menjadi pucat pasi saat melihat ayahnya memperlakukan Nova seperti itu.
“Ayah! Apa yang ayah lakukan!”
Haris langsung berdiri dan...
PLAK!
“Anak bodoh! Kau tidak tahu siapa dia?” ucapnya.
Deg.
Dion memegangi pipinya, sambil menggeleng pelan.
“Apa maksud ayah!”
Semua orang langsung terkejut saat melihat Dion di tampat oleh ayahnya sendiri.
“Tuan muda Nova adalah pemilik saham terbesar setelah tuan Arga di Pratama Group, jadi otomatis dia adalah bos ayahmu ini! Anak bodoh!”
Tubuh Dion langsung bergetar hebat, mulutnya seketka menjadi kelu dan sulit mengatakan sepatah katapun dari mulutnya.
Haris langsung menghadap ke arah Nova yang berdiri dengan tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Tuan muda Nova, mohon maafkan ketidaktahuan ku ini,” katanya dengan wajah penuh harap.
Tuan Haris menoleh ke arah anaknya yang masih bengong tanpa sepatah katapun.
Tangan tuan Haris meraih kepala Dion dan memaksanya untuk tunduk meminta maaf kepada Nova.
“Cepat minta maaf kepada tuan muda Nova! Anak bodoh!”
Dion pun langsung berlutut dan berharap Nova memaafkannya. Namun, itu semua sudah terlambat perlakuannya selama tiga tahun lebih kepada Nova tidak bisa di maafkan begitu saja.
“Buat anakmu jera, pak Haris.”
Nova kemudian berlalu pergi, di ikuti Aruna dan Ethan juga yang lainnya.
Semua orang menatap ke arah Nova dengan penuh pertanyaan, dan bahkan beberapa tak menyangka bahwa Nova adalah seorang pemuda yang kaya raya.
Bu Riska yang berada di ambang pintu kantin, menghampiri Nova.
“Apa kamu baik-baik saja Nova?”
Nova mengangguk sambil tersenyum ke arah gurunya itu. “Tentu saja bu, jangan khawatir.”
Kini di Sma Nusantara tidak akan ada yang berani, mengganggu Nova kembali. Bahkan untuk sekedar membicarakannya mungkin mereka akan segan, karena tidak mau bernasib sama seperti Dion.
***
Hari pengujian tingkat di Manor Eldoria sudah tiba, Nova dan yang lainnya bersiap. Tiga mobil berjejer rapih dan mobil Nova yang terparkir paling depan, jeep paling depan di isi oleh Nova dan Nona Zoya serta Gonor dan Calista. Dan sisanya ikut dengan mobil yang di kendarai Ethan dan Darius.
“Semua sudah siap?” tanya Gonor yang berada di kursi kemudi, Nova dan Nona Zoya berada di kursi belakang, Calista di samping Gonor mereka semua mengangguk.
Dan setelah siap, ketiga mobil itu melaju ke arah lereng bukit menuju tempat pertemuan Clan barat untuk pengujian tingkat para praktisi jiwa tingkat tiga ke atas.
Di sepanjang jalan, Nona Zoya tak berhenti memandangi Nova yang sedang menatap ke luar jendela. Rasa kagumnya semakin tinggi, terlebih sosok Nova tak sedikitpun memiliki sikap angkuh, ia kemudian melirik ke arah kalung pemberiannya yang tersemat di leher Nova.
“Aku harap anak ini memang membawa kedamaian.”
Singkat waktu setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, rombongan mobil Nova memasuki kawasan perbukitan Eldoria, yang di sepanjang jalannya terdapat kebun apel yang membentang luas. Dan tepat di ujung jalan, sebuah dinding tembok besar mengelilingi sebuah kastil kuno yang di sekelilingnya terdapat bangunan kecil lainnya.
Nova yang melihat itu di buat kagum dengan keindahan pemandangan kastil di bawah pegunungan yang di ujungnya di selimuti salju. Hawa mulai terasa menusuk dingin, untungnya Nona Zoya sudah menyiapkan jubah yang sama dengannya untuk Nova, jubah putih berbulu yang sangat megah.
“Nova, pakailah ini. udara di tempat ini sangat dingin,” ucap Nona Zoya seraya memberikan jubah yang masih terbungkus rapih menggunakan kain khusus dengan lambang bulan sabit berwarna keemasan.
Saat Nova membukanya, ia sangat terkesan dengan bahan yang di gunakan untuk jubah tersebut.
“Jubah ini sangat mewah,” ucap Nova kagum saat menyentuh jubah tersebut.
Kemudian ia memakainya, terlihat cocok dan semakin membuat penampilannya gagah.
“Itu sangat cocok dengan mu,” celetuk Calista yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan keduanya.
Nona Zoya menoleh.
“Tumben sekali, kau memuji seseorang Calista?” goda Nona Zoya.
Calista Refleks memalingkan wajahnya kembali ke arah depan ia tersipu malu dan wajahnya spontan memerah, membuat Gonor tertawa lepas.