NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Belum Usai

Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang bagi Aurora. Cahaya matahari yang biasanya terasa hangat, kini hanya sekadar menyentuh tanpa mampu mengusir rasa berat di dadanya. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar dengan kosong. Untuk beberapa detik, ia berharap semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi. Namun kenyataan tetap sama.

Aurora menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit. Tubuhnya terasa ringan, tapi hatinya tidak. Ia berjalan ke kamar mandi, membiarkan air mengalir lama, seolah berharap rasa sesak itu ikut hanyut, tapi tidak ada yang berubah.

Beberapa menit kemudian, ia sudah siap berangkat kerja. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi matanya masih menyimpan lelah yang jelas.

Seperti biasa, Sheila sudah menunggu.

Aurora masuk ke mobil tanpa banyak bicara. Tidak ada sapaan ceria, tidak ada candaan kecil seperti biasanya. Hanya diam yang menemani perjalanan mereka.

Sheila melirik sekilas. Ia tidak butuh waktu lama untuk memahami keadaan.

“Masih kepikiran?” tanya Sheila pelan.

Aurora hanya mengangguk kecil.

Sheila menghela napas, “Wajar kalau kamu masih sedih. Nggak ada yang salah dari itu.”

Aurora menatap ke depan, diam.

“Tapi jangan terus-terusan nangisin dia. Kamu pikir dia juga lagi nangisin kamu?” lanjut Sheila, suaranya lebih tegas.

Aurora tidak menjawab. Tapi kata-kata itu tetap masuk.

“Mungkin dia nggak ngerasa bersalah juga” tambah Sheila.

Aurora menunduk sedikit. Dadanya kembali terasa sesak. Ia tahu, mungkin ada benarnya. Tapi itu tidak membuat rasa sakitnya berkurang.

“Kamu nggak akan ngerti, Sheil” ucap Aurora akhirnya pelan,

“Lima tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Ternyata selama ini aku cuma jagain jodoh orang” ucap Aurora lagi.

Sheila terdiam sejenak, lalu mengangguk, “Aku emang nggak bisa ngerti sepenuhnya.”

Aurora tidak menoleh.

“Tapi dari cara kamu diam aja, aku tau ini berat. Dan justru karena itu, kamu harus sadar kalau dia bukan jodoh kamu” lanjut Sheila.

Aurora masih diam.

“Dan kamu juga nggak pantas nangisin cowok yang mutusin sendiri tanpa denger kamu dulu” tambah Sheila.

Aurora menghela napas panjang. Kata-kata itu kembali terasa menusuk, tapi juga masuk akal.

Mobil terus melaju hingga akhirnya sampai di kantor.

Mereka turun dan kembali ke rutinitas masing-masing. Dunia seolah berjalan normal, padahal bagi Aurora, semuanya terasa berbeda.

Ia duduk di mejanya, membuka laptop, dan mencoba mulai bekerja.

Namun seperti kemarin, semuanya terasa sulit.

Dokumen yang biasanya mudah dipahami kini terasa rumit. Tugas yang biasanya selesai cepat kini terasa menumpuk. Padahal, sebenarnya jumlah pekerjaan hari itu tidak berbeda dari biasanya.

Aurora mengusap wajahnya pelan.

“Kenapa sih…” gumamnya lirih.

Ia mencoba berbagai cara untuk fokus. Pergi ke pantry dan mengambil es cokelat dingin. Duduk sebentar, menenangkan diri. Bahkan sempat menyandarkan kepala di meja, mencoba memejamkan mata.

Ia juga sempat mengobrol sebentar dengan Sheila, bahkan hanya sekadar melihat Sheila bekerja.

Namun setiap kali kembali ke pekerjaannya sendiri, semuanya kembali sama.

Aurora menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan.

“Aku nggak boleh kayak gini…” batinnya.

Ia sadar, masalah pribadinya tidak seharusnya memengaruhi pekerjaannya. Tapi di saat yang sama, ia juga tidak tahu harus bagaimana.

Di saat itulah pintu ruangan Zayn terbuka.

Zayn keluar dengan langkah tenang, berjalan langsung ke meja Aurora.

“Saya butuh berkas yang tadi” ucapnya singkat.

Aurora langsung terdiam.

Berkas itu belum selesai.

Ia menunduk sedikit, “Maaf, Pak, belum selesai.”

Zayn menatapnya beberapa detik. Tatapannya tajam, tapi tidak keras.

“Kamu bawa masalah ke kantor” ucapnya datar.

Aurora mengangguk pelan, “Saya tau, itu salah saya.”

Zayn tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil, “Bagus kalau kamu sadar” katanya.

Aurora terdiam.

“Lanjutkan” tambah Zayn singkat.

Namun alih-alih menunggu, Zayn justru mengambil berkas yang belum selesai itu dari meja Aurora.

Aurora menatapnya bingung.

Zayn hanya berkata, “Saya bantu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung kembali ke ruangannya.

Aurora terdiam. Ada sesuatu yang terasa aneh, tapi ia tidak bisa menjelaskannya.

Waktu berjalan hingga akhirnya jam makan siang tiba.

Zayn kembali keluar, “Makan” ucapnya singkat.

Aurora menggeleng, “Nggak usah, Pak.”

Zayn menatapnya, “Kalau kamu mau kerjaan kamu selesai, ikut.”

Aurora terdiam sejenak. Lalu akhirnya mengangguk.

Mereka pergi ke kafe kecil tidak jauh dari kantor.

Suasananya tenang, dengan aroma manis yang lembut.

Zayn memesan tanpa banyak bertanya.

Beberapa menit kemudian, pesanan datang. Minuman cokelat hangat dengan whipped cream, dan dessert manis dengan lapisan krim dan karamel.

Aurora sedikit terkejut. Ia menatap makanan itu, lalu menatap Zayn, “Makasih, Pak.”

Zayn hanya mengangguk, “Biar kamu bisa fokus kerja.”

Aurora terdiam. Ia sempat berpikir mungkin ada alasan lain, tapi jawabannya membuatnya sadar, “Oh cuma itu” batinnya.

Ia menunduk sedikit, merasa harapannya barusan terlalu jauh.

“Ya dia tetap aja kulkas tujuh pintu” gumamnya dalam hati.

Mereka makan dalam diam.

Namun perlahan, suasana hati Aurora sedikit membaik. Rasa manis itu setidaknya mengalihkan pikirannya untuk sementara.

Setelah selesai, mereka kembali ke kantor.

Aurora kembali ke mejanya dan mencoba bekerja lagi.

Kali ini sedikit lebih baik. Beberapa berkas berhasil ia selesaikan, meskipun masih terasa berat.

Waktu berjalan hingga akhirnya jam pulang tiba.

Aurora berdiri, merapikan mejanya.

Saat Sheila mengajaknya pulang bersama, Aurora menggeleng pelan.

“Aku mau sendiri dulu” ucap Aurora.

Sheila menatapnya sebentar, lalu mengangguk, “Hati-hati.”

Aurora hanya tersenyum tipis.

Aurora pulang menggunakan taksi.

Sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Menatap ke luar jendela, membiarkan pikirannya kembali berputar.

Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar.

Tasnya ia letakkan sembarangan.

Tubuhnya jatuh ke atas kasur. Ia tidak mengganti baju, tidak mandi, tidak melakukan apa-apa.

Matanya mulai panas. Dan akhirnya air mata itu jatuh.

Aurora menangis.

Pelan di awal, lalu semakin lama semakin tidak tertahan.

Di saat itulah ponselnya bergetar.

Nama "Mama" muncul di layar.

Aurora ragu sejenak, tapi akhirnya mengangkat, “Halo, Ma…”

Baru satu kata, suara di seberang langsung berubah.

“Kamu kenapa, Nak?”

Aurora tidak bisa menahan lagi. Tangisnya pecah.

Ia menceritakan semuanya. Tentang Rayden, tentang perpisahan itu, tentang rasa sakit yang ia rasakan.

Di seberang, ibunya, Rina Maharani mendengarkan dengan tenang.

“Udah, udah, sayang. Mama ngerti” ucapnya lembut.

Aurora hanya bisa menangis.

“Kalau kamu udah nggak kuat di sana, kamu ikut Mama aja ke luar negeri” lanjut ibunya.

Aurora terdiam.

“Kamu bisa mulai lagi di sini. Kerjaan bisa dicari lagi” tambahnya.

Aurora menggigit bibirnya pelan.

Pergi mungkin bisa membuatnya lupa.

Tapi di sisi lain, ia juga tahu tidak semudah itu.

“Aku pikirin dulu ya, Ma…” ucap Aurora pelan.

Ibunya mengangguk, meskipun tidak terlihat, “Yang penting kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri.”

Telepon pun berakhir.

Aurora menatap kosong ke arah langit-langit.

Matanya terasa berat, tubuhnya lelah, dan tanpa sadar, ia tertidur. Masih dengan baju kerja, dan masih dengan sisa air mata.

Dan malam itu, Aurora melewatkan semuanya, makan malam, mandi, bahkan sekadar mengganti pakaian.

Yang tersisa hanya lelah dan hati yang belum benar-benar sembuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!