NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kini mereka ada di sebuah tempat yang lumayan jauh dari pelabuhan.Namun, mereka masih bisa melihat dengan jelas segala aktivitas yang berlangsung di pelabuhan tersebut.

Mereka duduk bersembunyi diantara pohon-pohon yang rindang dan tumbuhan-tumbuhan yang liar. Posisi mereka tertutup rapat. Sehingga orang dari luar tidak akan bisa melihat mereka. Untuk saat ini, mereka terbilang aman.

Di depan mereka terbentang pantai yang luas dan indah. Pasirnya berwarna putih cerah, disebelah sisi pantai ada batu-batu besar yang sangat indah. Apalagi deburan ombak yang menyapa batu terlihat mempesona, dan sangat memanjakan mata yang melihatnya.

"Boleh mandi nggak?" Tanya Jenny seraya menatap pantai dengan mata yang berbinar seolah sangat menginginkannya.

"Nggak boleh! Kita harus tetap disini agar mereka tidak curiga." Jawab Alfian tegas dan datar seakan tak ingin dibantah.

"Kak Kay!" Jenny mengalihkan pandangannya kepada Kayla seraya menampilkan ekspresi memohon seperti anak kecil.

Namun yang ia dapati hanyalah gelengan kepala pertanda tidak setuju. Ia memajukan bibirnya ke depan, lalu mengubah ekspresi menjadi cemberut masam dan terlihat sangat kesal.

Kita kan liburan mau refreshing! Kenapa malah menjadi pengawas seperti ini?! Batin Jenny menjerit. Kalau gitu aku pergi sendiri saja tadi!

"Joy..." ucap Jenny dengan suara yang lembut dan seuntai senyum yang terlihat sangat manis.

Berharap Joy memihaknya dan mengijinkannya melakukan apa yang ia mau. Namun, lagi-lagi yang ia dapati adalah penolakan. Sungguh, saat ini ia merasa sendiri karena tidak ada satu pun yang berada di pihaknya.

"Bahaya Jen... habis ini nanti kita pergi ke tempat yang lebih bagus dan lebih indah." Ucap Joy suara yang lembut, namun sangat meyakinkan.

"Makasih Joy!" Teriak Jenny dengan suara yang amat keras. Raut wajahnya seketika berubah, dari yang tadinya masam kini menjadi ceria kembali.

......................

Sudah berjam-jam mereka duduk mengawasi, namun tak ada sedikitpun aktivitas yang aneh di pelabuhan. Yang mereka lihat hanya sekelompok orang yang duduk berjaga-jaga di pelabuhan, selain itu tidak ada aktivitas lain.

"Sudah berjam-jam LOH! Tapi mereka tetap seperti itu! Padahal kita pergi ke tempat lain saja!" Ucap Jenny kesal. Ia terlihat sangat bosan dengan situasi ini.

"Sebentar lagi... Hal yang kita lakukan sekarang akan menjadi salah satu bukti untuk memenjarakan mereka." Ucap Alfian santai, tapi ucapannya terdengar sangat serius.

"Jen! Serius sedikit! Apa kita hadapi kedepannya itu bukan orang sembarangan, mereka mempunyai koneksi, jadi bukti sekecil apapun jangan sampai terlewatkan." Ucap Kayla tegas. Ia sedikit tak tahan melihat Jenny yang bertingkah di situasi ini.

Jenny seketika diam seribu bahasa. Kalau orang lain yang memarahinya dia merasa biasa aja. Namun... Kalau Kayla yang marah, ia tak berani bertingkah. Ia akan patuh seperti anak ayam yang patuh kepada induknya.

Hening... Tak ada suara, hanya suara burung berkicau yang terdengar jelas. Pandangan mereka masih terus mengarah ke depan sana.

Tak beberapa lama...

"Siapa disana!" Teriak seseorang dengan suara yang samar-samar.

Mungkin mereka lumayan jauh dari tempat persembunyian ini. Karena teriakan mereka tidak terdengar kuat.

"Tetaplah di tempat! Jangan memperdulikan keberadaan mereka!" Ucap Alfian kepada mereka bertiga yang akan bangkit dari tempat duduk.

"Ini kesempatan yang bagus untuk kita." Lanjutnya seraya mengambil ponsel dan menyalahkan kamera.

Terlihat segerombolan anak-anak sedang berlari ke arah mereka. Nafas mereka tak beraturan, ekspresi mereka menampilkan ketakutan yang mendalam. Mereka terlihat seperti seseorang yang berada di ujung kematian.

Alfian segera mengambil potret sebanyak mungkin, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi. Saat asik mengambil gambar, tiba-tiba terdengar suara pistol.

Dorrr!

Dorrr!

Dorrr!

Dorrr!

Walaupun terkejut sesaat, namun ia masih terus mengambil gambar. Ia memotret setiap kejadian yang terjadi. Tak lupa juga memotret sekelompok orang yang mengarahkan senjata api ke arah segerombolan anak-anak tadi.

Peluru itu mengarah pada kaki mereka, sehingga membuat beberapa anak-anak menjadi pincang dan kesulitan bergerak. Sebagiannya lari dan mencari tempat persembunyian yang aman. Mereka bersembunyi di balik mobil yang terparkir di samping pohon yang sangat rindang.

Kayla dan Jenny terlihat syok! Mereka melihat sendiri kekejaman dari sekolompok orang itu. Melihat anak-anak yang tidak berdaya diperlakukan seperti ini membuat mereka sedih. Apalagi latar belakang anak-anak ini yang cukup menyayat hati membuat mereka tak bisa menahan air mata.

Seberat inikah tinggal dijalanan? Seberat inikah nasib anak-anak yatim dan miskin? Batin mereka bertanya-tanya.

"Mereka terlahir susah! Kenapa harus mendapatkan perlakuan yang sekejam ini?" Ucap Kayla dengan air mata yang terus mengalir.

Dia pikir hidupnya sudah sangat kejam, namun diluar sana banyak anak-anak yang terlahir susah dan mendapatkan perlakuan buruk.

Jenny, Kayla dan Alfian maju dan menyerang sekelompok orang-orang itu. Mereka memainkan senjata api ditangannya dengan lihai, namun tepat sasaran.

Setelahnya kemunculan Joy, sekelompok orang yang belum terkena tembakan langsung terlihat ketakutan. Mereka saling menatap satu sama lain dan memberikan kode yang aneh. Setelahnya mereka menurunkan senjata dan berlari mencari anak-anak panti yang sedang bersembunyi.

"Rahasia apa yang kau sembunyikan!" Tanya Alfian seraya menatap tajam. Tatapannya seperti sedang menatap musuh bebuyutan.

Kecurigaannya semakin bertambah. Tadinya dia menganggap dirinya terlalu waspada kepada Joy. Namun... Setelah melihat respon orang-orang tadi membuat rasa curiga itu muncul dan semakin mendalam.

Kalau kau tidak bicara... Biar aku sendiri yang akan mencari kebenarannya! Batin Alfian serius.

Kayla segera mengangkat senjatanya, lalu menembaki mereka satu persatu.

Dorr!

Dorr!

Dorr!

Kini hanya tersisa pemimpinnya saja. Saat pemimpinnya mengikat rambut yang berderai panjang, terekspos wajah yang tadinya tertutup oleh rambut.

Wajahnya sangat cantik dan rupawan, ia terlihat seperti Dewi yang turun dari langit. Kecantikannya sangat tidak nyata, seperti yang digambarkan pada dunia dongeng.

Kayla dan Jenny yang sebagai perempuan saja terpesona. Setelahnya mereka berdua mengarahkan pandangan ke arah Joy dan Alfian. Kedua pria itu terlihat biasa saja, seakan kecantikannya itu tak berarti apa-apa untuk mereka.

Kayla dan Jenny melihat wanita itu sekilas, lalu menatap diri mereka sendiri. Rasa insecure pun tumbuh di hati mereka. Bagaimana tidak? Mereka terlihat seperti rengginang kerupuk jika dibandingkan dengan wanita itu.

"Dia adalah adik dari ketua panti, namanya Naya." Ucap Alfian yang hanya dibalas oleh anggukan kepala.

Berarti anak-anak panti yang sering hilang itu karena mereka dibunuh seperti ini? Batin Jenny dan Kayla bertanya-tanya.

Kayla langsung tersadar dari lamunan. Ia segera berlari dan menerjang Naya dengan ganas. Emosinya saat ini sudah tidak terkontrol, ia menyerang Naya dengan kekuatan penuh.

Pertarungan itu terlihat sengit, apalagi kekuatan mereka terlihat setara. Namun... Beberapa saat kemudian perbedaanya semakin kentara. Kayla jauh lebih unggul dari pada Naya. Setiap serangan yang dilayangkan Kayla mengenai sasaran. Namun, beberapa serangan yang diberikan oleh Naya berhasil di tahan oleh Kayla.

Kalau dibiarkan terus, lama-lama Naya bisa habis ditangan Kayla. Batin Alfian panik.

Kini Naya terlihat tidak berdaya, ia jatuh tersungkur ke tanah dengan keras. Namun emosi Kayla belum juga reda, dia masih tersulut emosi.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

"Berhenti Kayla!" Teriak Alfian seraya mendorong tubuh Kayla hingga terdorong dan jatuh ke tanah dengan keras.

Bokongnya memang sakit... Namun hatinya jauh lebih sakit. Rasa sesak dan pedih merayap ke hati, menimbulkan gejolak emosi yang mendalam.

Ia tak menyangka Alfian yang terlihat sangat menyayanginya tega mendorongnya hanya karena wanita yang baru dia temui itu.

Ternyata aku tak berarti apa-apa... Kau berhasil mempermainkan ku! Ucap Kayla dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!