Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kota Raja Trowulan masih diselimuti kabut tipis saat fajar mulai menyingsing, namun kesibukan di pusat jantung Majapahit itu sudah terasa mendenyut. Di sebuah paviliun kayu jati yang menghadap ke kolam Segaran, seorang pria bertubuh tegap dengan parut luka melintang di pelipisnya sedang menatap sebuah gulungan lontar dengan mata yang tak berkedip.
Ia adalah Rangga Jayantaka. Namanya mungkin tidak seharum para senopati pemenang perang di medan terbuka, namun di kalangan intelijen telik sandi, ia adalah sosok yang paling ditakuti. Jayantaka adalah "anjing pelacak" kerajaan yang selama dua puluh tahun terakhir terobsesi pada satu hal: jejak-jejak pembantaian sunyi yang selalu menyisakan lubang kosong dalam sejarah Majapahit.
Laporan dari Wengker yang baru saja tiba di mejanya membuat jemari Jayantaka bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena gairah yang sudah lama padam kini berkobar kembali.
“Pembantaian tanpa sisa jejak. Terlalu bersih. Terlalu sempurna,” gumamnya. Pola ini identik dengan peristiwa dua dekade silam yang melibatkan sekelompok pengkhianat elit yang seharusnya sudah mati dieksekusi.
Tanpa membuang waktu, Jayantaka melangkah menuju bangsal Prasada, tempat di mana sang pemegang otoritas tertinggi kerajaan sering menghabiskan waktu subuhnya. Di sana, duduk seorang pria dengan aura yang begitu menekan hingga udara di sekitarnya terasa lebih berat. Mahapatih Gajah Mada.
Jayantaka berlutut, kepalanya tertunduk dalam. “Gusti Patih, hamba Rangga Jayantaka memohon izin untuk Menyelidiki kasus ini.”
Gajah Mada tidak menoleh. Matanya tetap menatap peta Nusantara yang terbentang di meja batu. “Kau membawa kabar dari Wengker, Jayantaka? Aku sudah mendengarnya dari para penyelidik kadipaten. Mereka bilang itu hanya omong kosong seorang Lurah yang ketakutan.”
“Mereka buta, Gusti,” sergah Jayantaka tegas. “Laporan itu menyebutkan hilangnya puluhan orang tanpa satu tetes darah pun tertinggal di tanah. Itu bukan kerjaan bandit biasa, juga bukan gangguan lelembut. Itu adalah teknik Panyirepan dan pembersihan jejak yang hanya dikuasai oleh satu unit khusus yang seharusnya sudah hamba kubur dua puluh tahun lalu.”
Gajah Mada perlahan memutar tubuhnya. Sorot matanya tajam, mengunci mata Jayantaka. “Kau yakin mereka masih hidup?”
“Hamba tidak hanya yakin, Gusti. Hamba bisa mencium bau mereka melalui laporan ini. Ada sesuatu yang 'bangkit' di Wengker. Dan jika benar mereka yang berada di sana, maka mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar diri mereka sendiri.”
Jayantaka mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah namun penuh penekanan. “Hamba memohon izin untuk turun langsung ke kaki Bukit Wengker. Bukan sebagai utusan resmi yang membawa panji, tapi sebagai pemburu. Hamba harus memastikan apakah 'api' lama itu benar-benar menyala kembali atau ini adalah percikan baru yang lebih mematikan.”
Gajah Mada terdiam cukup lama, membiarkan suara kicau burung pagi mengisi keheningan. Akhirnya, sang Mahapatih mengangguk perlahan.
“Berangkatlah, Jayantaka. Bawa unit kecilmu. Jangan buat kegaduhan yang bisa menggetarkan singgasana Prabhu Hayam Wuruk. Namun ingat satu hal...” Gajah Mada berdiri, bayangannya jatuh menutupi tubuh Jayantaka. “Jika kau menemukan mereka, jangan bawa tawanan. Majapahit tidak butuh hantu dari masa lalu yang kembali berbicara.”
Jayantaka menyeringai di balik ketenangannya. “Sendika dawuh, Gusti Patih.”
Pagi itu, Rangga Jayantaka meninggalkan Trowulan bersama lima penunggang kuda terbaiknya. Tujuannya hanya satu: sebuah hutan di kaki bukit wengker
Udara di kaki Bukit Wengker pagi itu terasa lebih ringan, namun tidak bagi Ki Bagaskara. Di tangannya, selembar janur kuning kecil—simbol undangan resmi dari Ki Lurah Arjapati—terasa seperti bara api yang ingin segera ia lemparkan.
"Kita tidak perlu datang, Nyai," ucap Ki Bagaskara sambil menatap istrinya yang sedang merapikan kain jarik. "Menjadi tamu khusus berarti menjadi pusat perhatian. Itu adalah musuh terbesar bagi keselamatan kita."
Nyai Lodra menghentikan gerakannya. Ia mengerti ketakutan suaminya. Setelah malam berdarah itu, setiap pasang mata di desa adalah potensi ancaman. Namun, sebelum ia sempat membalas, suara datar Gandraka memecah suasana dari sudut ruangan.
"Aku ingin melihat Reog, Yah," ucap Gandraka pelan. Ia sedang duduk di lantai, jari-jarinya menelusuri sampul kitab tua, namun matanya menatap lurus ke arah pintu yang terbuka.
Ki Bagaskara menghela napas panjang, mencoba membujuk. "Gandraka, keramaian itu bising. Banyak orang asing. Kita bisa membuat pertunjukan sendiri di halaman kalau kau mau."
Gandraka menggeleng perlahan. "Bukan tentang bisingnya, Yah. Aku ingin melihat bagaimana mereka memanggil roh ke dalam topeng dadak merak itu. Bagaimana manusia bisa membiarkan tubuhnya dipinjam oleh sesuatu yang bukan miliknya. Bukankah itu yang sedang kita pelajari?"
Kalimat itu membuat Ki Bagaskara tertegun. Ia melihat Gandraka bukan sebagai anak yang ingin hiburan, melainkan seorang pengamat yang lapar akan fenomena kekuatan.
"Lagipula," lanjut Gandraka dengan senyum tipis yang penuh rahasia, "kalau kita tidak datang, Ki Lurah akan semakin curiga. Bukankah lebih baik bersembunyi di depan mata mereka semua?"
Nyai Lodra mendekat, menyentuh bahu suaminya. "Dia benar, Kakang. Menolak undangan khusus setelah 'mukjizat' di sawah itu justru akan membuat kita terlihat aneh. Kita pakai pakaian terbaik kita, bersikap seperti petani yang beruntung, dan pulang sebelum matahari terbenam."
Akhirnya, dengan berat hati, Ki Bagaskara mengangguk.
Halaman rumah Ki Lurah Arjapati sudah disulap menjadi bangsal besar. Bau kemenyan beradu dengan aroma tumpeng nasi kuning dan ingkung ayam yang menggugah selera. Warga desa berbisik-bisik saat keluarga Ki Bagaskara melangkah masuk.
"Itu dia... anak ajaib itu," bisik seorang wanita sambil menunjuk Gandraka.
Ki Lurah Arjapati segera berdiri dari kursi kayu ukirnya, menyambut mereka dengan rentangan tangan lebar. "Ah! Tamu kehormatan kita sudah tiba! Silakan, Ki Bagas, Nyai, dan pahlawan kecil kita, Gandraka. Duduklah di barisan depan."
Gandraka duduk dengan tenang, matanya menyapu sekeliling. Ia melihat para pemain Reog yang sedang bersiap di pojok lapangan. Matanya tertuju pada sebuah topeng Singa Barong yang besar, yang bulu-bulu meraknya tampak bergetar meski tak ada angin.
"Mereka sudah datang, Yah," bisik Gandraka tiba-tiba, tepat saat upacara doa dimulai.
Ki Bagaskara menegang, tangannya secara insting menyentuh pinggang—tempat ia biasanya menyembunyikan golok, meski saat ini ia hanya memakai keris hiasan. "Siapa? Penyelidik Majapahit?"
Gandraka terkekeh kecil, suara yang terdengar asing bagi anak seusianya. "Bukan. Makhluk-makhluk dari Bukit Wengker. Mereka ikut menonton di atas atap rumah Ki Lurah. Mereka ingin tahu, siapa manusia yang berani mengusik 'peliharaan' wereng mereka."
Nyai Lodra menggenggam tangan Gandraka erat, mencoba memberi isyarat agar ia diam. Di tengah riuh rendah suara gamelan yang mulai bertalu-talu, keluarga itu duduk sebagai tamu agung, namun di dalam hati mereka, masing-masing sedang menghitung jarak ke pintu keluar.
Suara kendang mendadak menghentak keras. Jleng! Pertunjukan Reog dimulai. Para pembarong mulai mengangkat topeng raksasa itu dengan gigi mereka.
Gandraka tidak berkedip. Ia melihat garis-garis energi hitam mulai merayap dari tanah, masuk ke kaki para penari, naik hingga ke puncak dadak merak. Di matanya, pertunjukan ini bukan sekadar tari-tarian, melainkan sebuah ritual pemanggilan yang nyata.
"Menarik," gumam Gandraka pelan, saat salah satu penari mulai kesurupan dan bergerak liar di depan mereka. "Ternyata menutupnya memang jauh lebih sulit daripada membukanya."