Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.
Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Jujur
"Eh, siapa namanya tadi? Nak Bara ya?" Kini pertanyaan sang paman beralih pada Collins.
"Iya, Pak," sahut Bara sopan.
"Kamu temannya?"
"Iya." Angguk Collins sopan.
"Kenal di mana?"
"Dia cuma seorang tukang ojek, Paman!" teriak Aning penuh kemenangan. Ia senang bisa mempermalukan Aida di depan saudara-saudaranya yang lain.
Para kerabat mulai berbisik. Wajah mereka penuh dengan keterkejutan, tapi Collins tetap tenang. Aida memendam perasaan bersalah, tentu saja, karena ia telah membuat Collins merasa dipermalukan di depan orang banyak. Mungkin ide buruk telah membawa pria itu ke sini.
"Eh, Aida." Sang paman kembali berucap.
"Ya?" Wajah Aida tampak khawatir.
"Apa dia benar temanmu?"
"Iya, Paman." Aida menjawab dengan jujur.
"Apa hubungan ini istimewa?"
Bahkan sang pengantin ikut penasaran dengan jawaban Aida. Sepertinya setiap orang tengah menahan napas demi untuk bisa mendengarkan jawabannya. Wanita itu terdiam. Ia bimbang. Bila ia menjawab 'iya', akankah Collins mengakuinya? Ia begitu takut kecewa sebab ia tak bermaksud mendesak Collins untuk buru-buru mengakui hubungan ini. Apalagi bila tiba-tiba sang paman mendesaknya menikah seperti pada Aning, mungkin seorang pria yang tak mapan seperti Collins akan berpikir dua kali untuk mengiyakannya.
Diluar dugaan, sang paman beralih pada Collins. "Bagaimana dengan kamu, Nak Bara, apakah kamu merasa hubungan kalian istimewa?" Rupanya sang paman berusaha bijak. Ia tahu, pasti sulit bagi Aida untuk menjawab pertanyaan ini karena ia wanita. Entah karena hubungan yang rumit, atau Aida yang terlalu takut kehilangan pria ini.
"Ya, bisa dibilang begitu, Pak," jawab Collins mantap. Tidak ada keraguan dari kedua manik matanya.
"Apa kamu berniat menikahi keponakan Saya?"
"Tentu saja, Pak."
Ruangan kembali riuh dengan bisikan para kerabat. Collins dan sang paman masih saling berpandangan walaupun Collins menatapnya dengan sopan. Sang paman tampaknya masih penasaran. "Kapan?"
"Apa?" Ini cukup mengejutkan Collins. Bukan berarti ia tidak berekspektasi dengan pertanyaan itu, tapi apa pamannya itu tak mendengar ucapan Aning tadi bahwa ia hanyalah seorang tukang ojek? Apa paman Aida sungguh-sungguh akan melepas keponakannya itu padanya? Collins tak mengira paman Aida akan menerima dirinya.
"Kamu serius, 'kan?"
"Eh, i-iya." Collins sedikit gugup. Padahal ia mengira, bila pria ini menolaknya, ia akan berjuang mempertahankan Aida. Collins akan berusaha membujuk sang paman untuk tetap memilihnya. Dan karena sang paman memilihnya, ia malah tak punya persiapan untuk jawaban berikutnya.
"Jadi kapan?" Kini sang paman terlihat seperti orang yang tengah menginterogasi seorang tertuduh dengan cecaran pertanyaan. Yang lain pun ikut penasaran.
"Eh, aku hanya tukang ojek ...," ujar Collins pelan.
"Tidak masalah. Kalian berdua sudah punya pekerjaan. Sekarang tinggal menikah saja."
"Oh, begitu ...." Collins bingung melanjutkan.
"Jadi?" Sang paman masih bertanya.
"Apa harus secepatnya?" Collins benar-benar tak tahu apa yang diinginkan paman Aida.
"Oh, tentu saja. Kalian berdua sudah cukup umur walau kelihatannya kamu lebih muda, tapi tidak apa-apa. Kalau kamu sudah merasa bertemu dengan pasangan yang tepat, bukankah lebih baik disegerakan?"
"Eh, iya, tapi aku harus bicara dulu dengan pamanku."
"Kau tidak punya orang tua?"
Seketika dada Collins terasa sesak. "Begitulah ...."
"Ya, boleh. Aku akan tunggu kabar darimu."
Seketika ruangan itu riuh kembali, tapi kini riuh dengan kegembiraan. Akan ada pesta berikutnya dari salah satu kerabat mereka. Aida pun tampak berkaca-kaca. Collins menatap Aida berharap tindakannya tidak menyalahi keinginan wanita itu karena ternyata, ia lupa bertanya. Dan sepertinya semua akan baik-baik saja. Ia bisa merasakan Aida yang tampak haru mendengarnya. Collins pun lega.
Di lain pihak, Aning gemas. Ia yang sudah dua tahun berpacaran tapi tak kunjung dilamar. Alasannya, karena sang pacar adalah seorang pegawai negeri. Pria itu tengah menunggu kenaikan jabatan dan kemungkinan tinggal di luar kota. Hal inilah yang menjadi pertimbangan karena Aning berkeras tidak mau ikut kalau tinggal di daerah. Apalagi kalau daerah pedalaman, padahal tempat ia tinggal sekarang juga bukan kota besar.
Dalam perjalanan pulang, Collins dan Aida tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aida tampak bahagia sedang Collins tengah dipusingkan dengan persiapan. Ini bukan hal yang mudah buat Collins karena hidupnya kini penuh dengan rahasia. Dapatkah ia berbagi rahasia ini dengan Aida?
Motor menepi di pinggir jembatan. Aida mengerut dahi karena merasa perjalanannya masih jauh, tapi kenapa motor berhenti? "Bang ...."
"Sebentar Mbak, kita turun dulu. Ada yang ingin Abang katakan." Collins mematikan mesin motornya. Ia mulai menggunakan kata 'Abang' karena posisi dirinya yang mulai lebih dekat lagi pada Aida.
Aida turun dan melepas helm. Collins menariknya ke pinggir pagar jembatan.
"Kita di mana?"
Collins meletakkan tangan Aida di pinggir pagar. "Kita di jembatan yang ada sungai di bawahnya."
Aida bisa mendengar air mengalir di bawahnya. Juga suara kendaraan bermotor di belakang mereka. Angin malam bertiup lembut pada kerudung tipisnya sehingga sesekali bergerak tak beraturan. Collins tak berbohong soal di mana mereka berada.
"Ada apa?" Aida memutar kepalanya ke arah Collins yang berada di sampingnya. Walau tak bisa melihat, tapi sudah menjadi kebiasaannya untuk menoleh pada sumber suara.
"Abang hanya ingin tahu apa Mbak bisa menerimaku apa adanya. Saat ini, Abang hanya bekerja padamu dan pada Babe di toko. Abang sebenarnya belum pernah ngojek untuk orang lain."
"Pekerjaanku pun tidak menghasilkan uang yang banyak, kalau itu yang Abang tanyakan." Aida berusaha bijak.
"Mbak tidak apa-apa, punya suami yang pengangguran seperti Abang?" Collins menatap di antara kedua bening manik mata sang wanita. Mata lembut itu bercahaya di gelapnya malam.
"'Kan Abang kerja, walau hasilnya tak banyak. Aku tidak masalah."
"Tapi Abang tidak punya apapun yang bisa ditawarkan. Motor ini punya Babe dan Abang bekerja dengannya. Di luar itu Abang tidak punya apa-apa."
"Abang 'kan katanya pernah kerja di kantor. Kenapa tidak coba lagi?"
Collins terdiam. Ini yang sulit ia jelaskan. Haruskah ia mengatakannya?
Aida merasa aneh ketika Collins tak menjawab. Ia tak bisa melihat ekspresi wajah pria itu saat ini. "Bang, Abang serius gak sih sama aku, Bang?" ternyata ia mulai kesal.
Tentu saja Collins terkejut. Ia tak bermaksud begitu tapi Aida menanggapinya lain.
"Ya udah, kalo gak mau juga gak papa. Aku tidak memaksa Abang untuk nikah sama aku, Bang." Aida cemberut karena kecewa.
"Oh, bukan begitu maksudku, Mbak." Collins meraih tangan Aida dan menggenggamnya. "Dengar dulu."
Aida menarik tangannya pelan karena mereka bukan muhrim.
Collins membiarkan wanita itu menarik tangannya. "Eh, begini. Abang belum sepenuhnya berterus terang kepadamu. Kalau kita mau menikah, sebaiknya kita saling jujur satu sama lain agar tidak terjadi kesalahpahaman."
"Bilang aja, apa susahnya!" Aida masih menahan kesal.
Collins memperhatikan wajah Aida saat ngambek dengan gemas. Ia tersenyum kecil. "Mbak tahu gak? Dulu Abang pikir, Mbak itu tidak menyukai aku. Karena itu Abang membiarkanmu pergi. Tapi setelah tahu Mbak juga menyukaiku, Abang pastikan, Abang takkan melepaskanmu lagi."
Kalimat itu sukses membuat pipi Aida merah merona. Ia tak lagi cemberut. Bahkan wajahnya kini tampak malu-malu.
"Tapi Abang ingin tahu, bagaimana kalau selama ini Abang berbohong?"
Bersambung ....