NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 019

Lantai marmer perpustakaan kota yang dingin meredam suara langkah kaki mereka. Di dalam sini, aroma kertas tua dan kayu furnitur yang dipoles menciptakan suasana sakral yang memaksa siapa pun untuk merendahkan suara. Ziva melirik ke belakang lewat pintu kaca yang otomatis tertutup; ia melihat SUV perak Reygan berhenti tepat di depan lobi dengan posisi parkir yang serampangan.

​"Cepat ke lantai tiga. Di sana lebih sepi," bisik Aksa. Tangannya masih berada di pundak Ziva, menuntun mereka berdua plus Liana menuju lift.

Begitu pintu lift tertutup, Liana menyandarkan punggungnya ke dinding besi lift dengan helaan napas berat. "Kak, aku nggak tahu kenapa Reygan jadi seobsesif ini. Dia biasanya cuma peduli sama dirinya sendiri atau reputasinya di sekolah."

​Ziva menatap pantulan mereka di pintu lift yang mengkilap. "Ego, Li. Orang kayak Reygan nggak suka kehilangan kendali. Dia ngerasa gue adalah aset yang tiba-tiba hilang dari genggamannya."

​Mereka memilih meja paling pojok, tersembunyi di balik jajaran rak buku tebal tentang hukum dan filsafat. Namun, ketenangan itu hanya bertahan lima menit. Suara langkah sepatu pantofel yang terburu-buru memecah keheningan lantai tiga.

​BRAK!

​Sebuah tas dilemparkan ke atas meja kosong di dekat mereka. Reygan muncul dengan napas tersengal, wajahnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan karena amarah dan rasa haus akan jawaban.

​"Bagus. Komplit ya di sini," sindir Reygan, matanya langsung tertuju pada Aksa yang duduk dengan tenang sambil membuka buku sketsanya.

​"Rey, ini perpustakaan. Kecilin suara lo," ucap Ziva tanpa menoleh, tangannya sibuk membolak-balik halaman buku Biologi.

​"Gue nggak peduli!" Reygan menggebrak meja Ziva. "Ziva, lo beneran mau main-main sama gue? Kemarin lo di rumah sama dia, sekarang lo jalan berdua. Lo sengaja mau bikin gue kelihatan bego di depan anak-anak Black Eagle?!"

​Aksa perlahan meletakkan pensilnya. Ia mendongak, menatap Reygan dengan sorot mata yang begitu datar hingga terasa menyakitkan. "Lo emang udah kelihatan bego tanpa bantuan Ziva, Reygan."

​"Lo diem, Aksa! Ini bukan urusan lo!" bentak Reygan.

Liana, yang sejak tadi diam dengan tangan gemetar, tiba-tiba berdiri. Wajahnya yang biasanya lembut kini mengeras. Ia menatap Reygan dengan tatapan yang sangat asing—tatapan jijik.

​"Cukup, Rey. Berhenti akting seolah lo peduli sama Kak Ziva karena lo cinta sama dia," suara Liana tenang, namun bergema di antara rak buku.

​Reygan sedikit tersentak. "Li, lo ngomong apa sih? Gue—"

​"Gue liat pesan masuk di hp lo minggu lalu, Rey. Pesan dari grup sirkel lama lo," lanjut Liana, suaranya mulai naik satu oktav.

"Tentang taruhan itu. Tentang gimana lo harus bikin Ziva 'bertekuk lutut' lagi sebelum kelulusan, karena bokap lo janjiin mobil baru kalau lo bisa buktiin lo masih bisa pegang kendali atas keluarga Winata lewat Ziva. Benar, kan?"

​Ziva tertegun. Ia meletakkan bukunya perlahan. Taruhan? Warisan? Jadi ini alasan kenapa Reygan yang di novel asli begitu dingin, tiba-tiba jadi mengejar-ngejarnya di sini?

​Reygan terdiam, wajahnya mendadak pucat. "Li, itu... itu cuma becandaan cowok-cowok di grup. Gue nggak—"

​"Becandaan yang bikin lo hampir gila ngejar Kak Ziva setiap hari?" skakmat Liana. "Lo nggak butuh Ziva, Rey. Lo cuma butuh mobil baru dan pengakuan dari bokap lo kalau lo lebih hebat dari Aksa yang punya yayasan."

​Ziva merasakan dadanya sedikit sesak. Bukan karena ia masih cinta, tapi karena ia merasa raga Zivanna yang asli benar-benar telah disia-siakan oleh manusia semacam Reygan. Ia berdiri, menatap Reygan dengan tatapan yang benar-benar kosong.

​"Ternyata lo lebih murahan dari yang gue kira, Rey," ucap Ziva lirih.

​Reygan hendak meraih tangan Ziva, "Ziv, dengerin dulu—"

​Namun, sebelum jari Reygan menyentuh kain sweater Ziva, Aksa sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Aksa tidak memukul, tidak juga berteriak. Ia hanya berdiri kokoh, menghalangi pandangan Reygan sepenuhnya.

​"Keluar. Sebelum gue panggil petugas keamanan dan mastiin nama lo di- blacklist dari seluruh yayasan pendidikan di bawah keluarga gue," ancam Aksa. Suaranya rendah, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan.

​Reygan menatap Aksa, lalu menatap Liana yang membuang muka, dan terakhir menatap Ziva yang kini bersembunyi di balik punggung Aksa. Ia sadar, ia telah kehilangan segalanya—reputasi, Liana, dan Ziva-nya. Dengan langkah gontai dan wajah tertunduk, Reygan berbalik meninggalkan mereka.

​Begitu suasana kembali sunyi, Ziva menghela napas panjang, bahunya merosot. Ia merasa lelah secara mental. Tanpa sadar, ia menyandarkan keningnya di punggung Aksa yang masih berdiri tegap di depannya.

​Aksa terdiam, merasakan kehangatan kecil di punggungnya. Ia tidak bergerak, tidak menjauh. Ia hanya membiarkan Ziva menemukan ketenangannya kembali di sana, di balik rak-rak buku tua yang menjadi saksi hancurnya sebuah kebohongan besar.

​Liana mendekat, mengusap bahu Ziva pelan. "Maaf, Kak. Aku harus ngomong itu sekarang."

​Ziva mendongak, memberikan senyum tipis pada Liana. "Nggak, Li. Makasih. Lo justru baru aja nyelamatin gue dari drama yang nggak ada ujungnya."

​Aksa berbalik, menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mau pulang? Atau mau ke atap? Di atas ada taman kecil, nggak ada yang bakal ganggu."

​Ziva menatap mata Aksa, lalu mengangguk pelan. "Ke atap. Gue butuh oksigen yang nggak kecampur bau parfum Reygan."

​Sore itu, di atap perpustakaan kota, di bawah langit yang mulai berubah jingga, Ziva menyadari bahwa di dunia yang penuh kebohongan ini, ia setidaknya menemukan dua orang yang benar-benar nyata: Liana yang jujur, dan Aksa yang selalu ada sebagai bentengnya.

Ziva melangkah gontai mengikuti Aksa menuju pintu akses atap. Di belakang mereka, Liana berpamitan pelan, memberikan ruang bagi Ziva untuk bernapas. Begitu pintu besi itu terbuka, hembusan angin sore yang sejuk menyapu wajah Ziva, membawa aroma kebebasan yang sejak tadi ia rindukan.

Atap perpustakaan itu ternyata sebuah taman gantung yang asri. Beberapa tanaman rambat menutupi pagar pembatas, dan bangku-bangku kayu panjang tertata rapi di bawah langit yang kini berwarna palet sorbet—perpaduan jingga, ungu, dan merah muda.

Ziva berjalan menuju tepian, menumpu lengannya di pagar pembatas. Ia terdiam cukup lama, menatap arus lalu lintas di bawah yang tampak seperti semut-semut kecil. Pengakuan Liana tadi masih berdengung di kepalanya. Jadi, segala kerumitan ini hanyalah soal taruhan dan sebuah mobil baru?

Ziva tertawa kecil, tapi suaranya terdengar getir. "Gue pikir, seenggaknya di ingatan Ziva yang asli, ada sedikit sisa kasih sayang yang tulus dari Reygan. Ternyata isinya cuma sampah ego," gumamnya pada angin.

Aksa berdiri tak jauh di sampingnya. Ia tidak langsung menyahut. Cowok itu melepas jaket denimnya, hanya menyisakan kaos hitam yang pas di tubuhnya. Matanya yang tajam menatap langit, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada gadis di sebelahnya.

"Jangan buang energi buat mikirin hal yang nggak layak dapet panggung di otak lo," ucap Aksa rendah.

Ziva menoleh, menatap wajah Aksa yang diterpa cahaya keemasan matahari terbenam. Sisi wajah cowok itu tampak sangat tegas namun entah kenapa, saat ini terlihat jauh lebih lembut.

"Aks, lo pernah nggak sih ngerasa capek sama semua topeng orang-orang?" tanya Ziva tiba-tiba. Suaranya sedikit bergetar, pertahanannya sebagai Zura yang kuat mulai retak karena kelelahan emosional hari ini.

"Gue cuma pengen tenang. Tapi kenapa rasanya kayak gue harus perang dulu buat dapet ketenangan itu?"

Aksa menoleh sepenuhnya. Ia melihat mata Ziva yang berkaca-kaca—bukan karena sedih kehilangan Reygan, tapi karena rasa lelah yang menumpuk. Tanpa aba-aba, Aksa melangkah mendekat.

Ziva mengira Aksa akan memberikan ceramah singkat lagi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaannya.

Aksa menarik lengan Ziva dengan lembut, membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Ziva tersentak kecil saat wajahnya membentur dada bidang Aksa. Aroma sabun mint dan keharuman maskulin yang khas dari cowok itu langsung mengepung indra penciumannya.

Itu bukan pelukan yang posesif. Itu adalah pelukan hangat—seolah Aksa sedang menawarkan diri menjadi tiang kokoh tempat Ziva bisa bersandar sejenak dari badai.

"Dunia ini emang berisik," bisik Aksa, tangannya menepuk-nepuk punggung Ziva dengan kaku namun tulus. "Tapi di sini, nggak ada yang bakal ganggu. Nangis aja kalau capek. Gue nggak bakal bilang ke abang lo."

Ziva terdiam membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menyerah. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Aksa, menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu. Tidak ada isak tangis yang meledak, hanya beberapa tetes air mata yang jatuh membasahi kaos hitam Aksa. Rasa sesak di dadanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa.

Di atas atap itu, di bawah saksi bisu matahari yang tenggelam, Ziva menyadari satu hal. Ia tidak lagi peduli pada alur novel yang rusak. Ia tidak lagi peduli pada peran antagonis atau protagonis. Di dalam pelukan hangat si "Pangeran Es" ini, ia akhirnya merasa benar-benar pulang.

Aksa membiarkan Ziva bersandar cukup lama, dagunya bertumpu di puncak kepala gadis itu. Baginya, momen ini jauh lebih berharga daripada semua koleksi sketsa di bukunya. Di tengah hiruk-pikuk drama remaja SMA Pelita Bangsa, mereka berdua baru saja menciptakan dunia kecil yang hanya milik mereka sendiri.

"Sudah adem?" tanya Aksa pelan setelah beberapa menit berlalu.

Ziva menarik diri perlahan, menghapus jejak air mata di pipinya dengan ujung sweater-nya yang kebesaran. Wajahnya memerah, namun kali ini bukan karena amarah. "Hmm. Makasih, Aksa. Baju lo jadi basah dikit."

Aksa hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Bisa dicuci. Yang penting otak lo nggak korslet lagi."

Ziva tertawa kecil, memukul pelan lengan Aksa. "Sialan."

Mereka kembali menatap langit sore yang kini sudah mulai gelap. Hari Minggu yang melelahkan ini ditutup dengan keheningan yang jauh lebih bermakna daripada ribuan kata.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!