Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Serangan Balik (Part 2)
Nasya dilanda kecemasan sejak digiring ke sebuah kamar. Dia terus mondar-mandir di dalam kamar mandi. Memikirkan cara agar kehamilannya tak diketahui semua orang. Saat menatap keran air, dia jadi memiliki sebuah ide. Nasya pun mencelupkan tespek ke dalam air dari keran yang sudah dia tampung dalam wadah kecil.
"Semoga ini berhasil..." gumamnya sebelum keluar.
Setelah keluar, dia memberikan tespek miliknya pada perawat di sana.
"Silahkan berbaring, nona!" perintah dokter.
"Untuk apalagi? Kan sudah tes urine." sahut Nasya.
"Ini prosedur yang harus kami lakukan. Nyonya Yumna juga baru saja melakukannya." balas dokter itu.
"Sialan...!!" geram Nasya sambil mengepalkan tangannya.
"Tamat sudah...!!" batin Nasya saat dokter mulai menempelkan transducer pada perutnya.
Beberapa saat kemudian...
"Katakan berapa, agar kalian tidak membocorkan hasilnya?!!" ujar Nasya.
"Maaf, nona. Kami tidak menerima suap." balas dokter itu dengan tegas.
"Tidak usah sok-sokan profesional!! Cepat katakan!!" bentak Nasya.
Nasya sudah tersudut. Dia tak tahu harus melakukan apa. Awalnya dia dan papanya menyusun rencana untuk menghancurkan rumah tangga Yumna dan Elbara. Tapi sekarang semua hal buruk justru berbalik padanya. Jika Nasya tidak bisa memanipulasi laporan dokter, dia akan habis di tangan papanya sendiri.
Disela perdebatannya dengan dokter. Tiba-tiba pintu terbuka. Pak Jodi berada di barisan paling depan. Seluruh keluarganya pun datang memasuki ruangan. Tamu yang menjadi saksi, melangkah mundur karena mulai merasa takut.
"Apa yang kamu lakukan, Nasya...?!!" teriak pak Jodi.
"Pa, papa...?!!" Nasya benar-benar ketakutan.
Plak...!!!
Untuk kali pertamanya, Nasya merasakan tamparan dari pak Jodi. Tak hanya satu pukulan, tapi berkali-kali pria itu melakukannya.
"Anak kurang ajar!!!" pak Jodi tak henti meneriakinya. "Memalukan!!!"
"Om, sudah!!!" Aril berusaha menahan pak Jodi yang ingin menghajar Nasya sekali lagi.
"Kasihan, om..." ujar Aril.
Bagaimana tidak, tubuh Nasya sudah limbung karena tamparan bertubi-tubi yang dilakukan oleh papanya. Sedangkan Bu Indri hanya bisa menahan tangis dalam dekapan mama mertuanya.
"Kenapa saya memiliki anak seperti ini?!!! Aaargh...!!!" pak Jodi benar-benar dibuat kecewa.
"Papa..., maaf..." ujar Nasya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
___
Beberapa menit sebelumnya. Para tamu dibuat heboh karena tampilan layar berubah menjadi hitam. Lalu muncul gambar seperti yang terpampang di monitor alat USG. Siapa sangka, kalau rekaman hasil USG sudah dihubungkan dengan layar besar yang berada di tempat pesta itu diselenggarakan. Semua terkejut dengan hasilnya.
"Nyonya Yumna, rahim anda sangat sehat. Semoga secepatnya nyonya dikaruniai putra dan putri yang lucu."
"Aamiin..., terimakasih do'anya dokter."
"Apa saya sudah bisa keluar?"
"Tentu, nyonya."
"Terimakasih, dokter, suster..."
Terdengar pula percakapan mereka di sana. Para tamu mulai berkomentar. Si pria asing pun diam-diam mengambil langkah untuk pergi. Dia sangat sadar, posisinya sekarang tak aman lagi. Namun Niko berhasil menahannya.
"Belum saatnya, tuan. Tunggulah sebentar lagi." ujar Niko.
Lalu terdengar suara lagi.
"Silahkan berbaring, nona!"
"Untuk apalagi? Kan sudah tes urine."
"Ini prosedur yang harus kami lakukan. Nyonya Yumna juga baru saja melakukannya."
Semua histeris saat melihat adanya janin dalam monitor yang ditampilkan. Apalagi Pak Jodi yang selama ini sangat membanggakan Nasya. Hancur hatinya karena perbuatan Nasya yang benar-benar di luar dugaan.
"Sudah saya katakan, borok siapa yang akan terbongkar tidak ada yang tahu. Sebelum ada bukti yang terpampang nyata." cibir Sasa.
"Tutup mulutmu!!" hardik pak Jodi dengan suara seraknya, karena amarah yang memuncak.
"Ini pasti ada kesalahan. Nasya anak baik-baik. Dia gadis suci, dan baik attitude nya." ujar pak Jodi membela Nasya.
"Bukalah handphone anda, pak Jodi. Apakah seperti itu attitude baik yang anda banggakan?!" Elbara menyeringai dengan senyuman tipisnya.
Pak Jodi pun tergerak memeriksa ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal mengirim video saat Nasya dan Damar berbuat tak senonoh di dalam kamar. Di rumahnya.
"Apa perlu saya tampilkan juga di monitor? Dan asal anda tahu. Saya juga memiliki beberapa bukti lain tentang kelicikan putri kebanggaan anda itu. Barang kali anda berkenan buat koleksi..." tutur Elbara.
Pak Jodi tak menjawab. Dia bergegas menuju ruangan pemeriksaan, diikuti oleh anggota keluarga lainnya.
"Ada apa ini?" tanya Yumna yang baru saja datang.
"Ada yang tidak senang mau punya cucu." jawab Sasa dengan santai.
"Hah...?!" Yumna belum tahu maksud dari ucapan mamanya.
"Mau nonton drama seru?" sahut Elbara.
"Ah, iya. Kurang seru kalau kita tidak nonton. Ayo...!!" balas Sasa.
Yumna pun memilih ikut saja, dia mendorong kursi roda Elbara. Saat mereka tiba, Nasya dan pak Jodi sedang terkulai di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Nasya menangis dan mohon ampun di kaki sang ayah. Sedangkan pak Jodi tetap bergeming, menenggelamkan wajahnya pada lipatan lengannya. Lalu, Bu Indri digendong dalam kondisi tak sadarkan diri.
Dengan langkah pelan, Yumna maju karena ingin melihat lebih dekat. Dua orang yang sangat dia kenal, yang selalu saling menyayangi. Terlihat begitu berantakan di depan matanya. Pak Jodi tak lagi terlihat garang. Rasa kecewa dan malu sepertinya sedang menguasainya.
Nasya..., ini kali pertamanya Yumna melihat Nasya menangis. Tangisan yang tak dibuat-buat, seperti yang selalu ditunjukkan dulu. Yang selalu berhasil membuat Yumna terpojok dan disalahkan oleh semua orang.
"Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa ini yang direncanakan Elbara dan mama...?" batin Yumna.
Yumna tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Dia merasa lega karena berhasil menghentikan fitnah yang disematkan padanya. Tapi, melihat kondisi mereka yang seperti itu, hati Yumna juga merasa iba.
"Yumna...!!!" gumam Nasya pelan.
Nasya melepaskan tangannya dari kaki Pak Jodi. Dia melangkah sempoyongan, menuju ke arah Yumna.
"Ini semua ulah kamu, kan...?!!" ujar Nasya.
"Aku tidak pernah melakukan apapun. Meski aku tahu, kamu selalu berusaha menjebakku dan menghancurkan nama baikku di depan banyak orang." balas Yumna dengan tenang. Sama sekali tak tersulut emosi.
"Tidak usah sok polos!!" teriak Nasya.
"Kamu sengaja mengundang dokter untuk melakukan semua ini kan...?!!" seru Nasya lagi.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat." balas Yumna.
Yumna balik badan, hendak meninggalkan ruangan itu. Dengan gerakan super cepat, Nasya meraih gunting yang berada di tas medis. Lalu mengarahkannya pada Yumna.
"Mati saja kamu...!!!" seru Nasya.
Jleb...!!!
Gunting itu menancap, tapi bukan pada tubuh Yumna. Teriakan histeris menggema, memenuhi ruangan itu. Yumna merasakan pelukan yang sangat erat dan hangat.
"Elbara..." ujarnya lirih. Saat melihat Elbara memeluknya.
___
Yumna masih menolak untuk percaya, kalau semua yang terjadi di hotel adalah sebuah fakta yang baru saja dia alami.
"Tidak, ini pasti hanya mimpi." gumamnya.
"Tenang, sayang. Elbara kuat, dia pasti akan baik-baik saja." ujar mamanya.
"Bagaimana kondisi di sana?" tanya Sasa, ketika Niko datang.
"Polisi sedang menanganinya." jawab Niko.
Yumna mendengar itu. Dia seolah mendapatkan kesadarannya.
"Nasya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!!" ujar Yumna.
"Sayang, polisi sudah turun tangan. Nasya pasti akan menanggung perbuatannya. Kita fokus pada Elbara dulu ya." bujuk Sasa.
"Dia sudah melukai Elbara. Dia sudah membuat suami aku celaka..." tangis Yumna kembali pecah.
Tak berselang lama, dokter pun keluar. Niko langsung menghampirinya, dan menanyakan kondisi bosnya.
"Meski luka tusuk tidak terlalu dalam, tapi tetap butuh perawatan intensif. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan." katanya.
"Terimakasih, dokter." balas Niko.
Setelah dokter pergi, Niko kembali menemui Yumna dan mamanya.
"Tuan Elbara sangat kuat. Tuan pasti bisa melewati semua ini." ujar Niko.
Sasa hanya membalas dengan anggukan kepala.
Kini Elbara terbaring di ranjang rumah sakit. Yumna menjaganya, ditemani oleh Bu Kartika. Sedangkan Sasa pergi ke kantor polisi, memenuhi permintaan Yumna.
"Makan dulu, nak." kata Bu Kartika.
"Aku tidak lapar, ma." balas Yumna.
"Bagaimana kamu bisa menjaga Elbara dengan baik. Kalau kamu tidak mau makan." bujuk Bu Kartika.
Yumna memegang tangan mertuanya yang ada di pundaknya.
"Aku akan makan setelah Bara bangun, ma. Aku akan makan bersama dengannya." ujar Yumna.
Bu Kartika tak bisa berkata-kata lagi. Dia memilih beranjak dari sana, dan duduk di sofa.
"Cepatlah bangun, nak. Lihatlah, istrimu secemas itu." batin Bu Kartika.
......................