NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sebuah Email

Yumna tiba di depan kantor Elbara, tak ada kendala apapun saat memasuki gedung mewah itu. Karena semua sudah mengenal Yumna. Sehingga ketika dia datang, dia mendapat sambutan yang baik dari para pegawai di sana.

"Selamat siang, nyonya. Silahkan." sambut security yang berjaga di depan lobi. Dia sangat sopan dan menunjukkan rasa hormatnya pada Yumna.

"Siang..." balas Yumna dengan senyum ramahnya.

Pintu kaca yang menjulang tinggi otomatis terbuka, ketika Yumna melangkahkan kakinya. Lalu dia berjalan menuju meja resepsionis yang sangat panjang. Tak hanya satu resepsionis yang ditugaskan di sana. Tapi ada empat. Dan mereka yang sedang duduk berjejer itu terlihat sangat good looking. Yumna menghampiri salah satu dari mereka. Di hadapannya bertengger sebuah papan nama bertuliskan Ratuliu.

"Permisi..." sapa Yumna.

Pegawai yang akrab disapa Ratu itu mengangkat kepalanya.

"Nyonya Yumna..." Ratu dibuat terkejut akan kedatangan istri sang bos besar.

Tak hanya Ratuliu yang beranjak dari tempat duduknya. Tapi ketiga rekannya pun melakukan hal yang sama. Ketika mendengar Ratu menyebut nama Yumna. Semua serentak menganggukkan kepala seraya tersenyum ramah, sebagai bentuk penghormatan pada Yumna.

"Pak Baranya ada di tempat?" tanya Yumna.

"Iya, nyonya." jawabnya.

"Sedang sibuk tidak ya?" tanya Yumna lagi.

"Bisa saya bantu hubungkan dulu sama tuan Elbara?" Ratu balik bertanya.

"Boleh, kalau tidak merepotkan." balas Yumna.

"Tentu saja tidak. Sebentar ya nyonya." katanya kemudian.

Ratu pun mengambil gagang telepon. Dan menekan salah satu tombol fast line yang langsung terhubung di ruangan Elbara.

"Maaf, tuan. Nyonya Yumna sedang berada di lobi. Beliau bertanya apakah tuan sedang tidak sibuk?"

"Antarkan ke ruangan saya."

"Baik, tuan."

Sambungan pun terputus. Ratu menaruh kembali teleponnya.

"Mari nyonya, saya antar ke ruangan tuan Elbara." ujar Ratu.

"Terimakasih..."

Mereka pun beranjak meninggalkan lobi.

"Sudah cantik, sopan lagi. Padahal istri bos besar." gumam seorang resepsionis.

"Bahkan masih sempat menanyakan kesibukan tuan Elbara sebelum bertemu. Jarang lho ada yang seperti itu." sahut rekannya.

___

Sementara itu di dalam ruangannya, Elbara sibuk merapikan penampilannya. Kemejanya, dasinya, jasnya, tatanan rambutnya. Tak luput dari sentuhan ringan tangannya. Seolah-olah dia sangat berantakan. Padahal sama sekali tidak. Dan ketika pintu diketuk, dia refleks mengatur posisi dan gestur dirinya sendiri. Sebelum memberi jawaban. Seakan ingin memperlihatkan sisi terbaik dalam dirinya.

"Masuk!" ujarnya.

Tak lama kemudian Ratu membuka pintu, dan dalam hitungan detik Yumna pun muncul. Lalu Ratu pamit pada keduanya.

"Apa saya mengganggu?" tanya Yumna.

Elbara menghampirinya, Yumna pun berjalan ke arahnya.

"Tidak. Duduklah!" titah Elbara.

"Mama minta saya antar makan siang buat pak Bara. Katanya pak Bara sangat suka ikan bakar." ujar Yumna sambil meletakkan tas bekal di atas meja.

"Tidak biasanya mama melakukan ini." batin Elbara.

Elbara kembali menggerakkan kursi rodanya. Kali ini dia menuju lemari pendingin. Sepanjang yang dia tahu, Yumna hanya minum air putih dan jus buah segar. Dan kebiasaannya itu ditiru oleh Aluna. Karena itulah air mineral menjadinya pilihan Elbara saat ini.

"Minum dulu. Nanti saya suruh orang antar jus buah buat kamu." katanya.

"Tidak perlu, pak Bara. Saya hanya sebentar. Mengantarkan ini saja." sahut Yumna.

Dan...

"Kenapa rasanya kecewa sekali...?" batin Elbara. Dia tidak mengharapkan jawaban yang seperti itu dari Yumna.

"Bagaimana..., kalau kita makan siang dulu...? Nanti sekalian saja pulangnya." kata Elbara.

"Em." Yumna mengangguk saja.

Yumna pikir, mungkin Elbara membutuhkan bantuannya menyiapkan makanan. Karena dia tidak melihat keberadaan Niko sejak tiba di kantor. Yumna pun membuka resleting tas bekal yang dia bawa. Lalu mengeluarkan kotak yang tersimpan di dalamnya. Membuka satu persatu tutup kotak itu. Ada nasi merah, ikan bakar, sayuran dan buah potong. Semua tertata dengan rapi dan cantik. Dan aroma ikan bakarnya sungguh menggugah selera makan keduanya.

"Silahkan..." Yumna memberikan sendok dan garpu pada Elbara.

"Kita makan sama-sama." kata Elbara.

"Tidak. Pak Bara saja." balas Yumna.

"Bagaimana mungkin kita makan dengan satu sendok yang sama? Hubungan kita tak sedekat itu." begitulah isi hati Yumna.

Tiba-tiba handphone Elbara berdering. Niko menghubunginya, katanya ada pesan penting yang sudah dikirim lewat email-nya. Elbara pun menaruh sendoknya kembali.

"Kamu yakin?!!" tanya Elbara, lalu dia menatap Yumna yang sedang memisahkan daging dan duri ikan.

"Yumna, bisa tolong ambilkan laptop saya?!" tanya Elbara setelah meletakkan handphone di atas meja.

Yumna pun beranjak dari posisinya, dia mengambil laptop di meja kerja Elbara yang sangat rapi.

"Orang sesibuk pak Bara, tapi mejanya bisa serapi ini..." begitulah isi pikiran Yumna.

Lalu Yumna kembali duduk di sisi kanan Elbara. Elbara meraih laptopnya. Dia mulai sibuk di depan layar. Tangan kirinya memutar kursor, sedangkan tangan kanannya sesekali menyendok makanannya. Yumna tidak tahan melihatnya, dia pun mengambil sendok Elbara.

"Biar saya saja." katanya.

Elbara menoleh, menatap wajah istrinya. Beberapa saat dia terpaku pada mata Yumna. Menurutnya mata Yumna berangsur bercahaya. Tidak seperti beberapa waktu lalu, terlihat kosong, seakan tak ada kehidupan. Yumna yang diperhatikan seperti itu, tentu saja merasa kikuk. Terlalu intens, posisi mereka pun terlalu dekat. Lalu keduanya sama-sama mengalihkan pandangan.

Elbara kembali fokus pada laptopnya. Yumna menyuapi Elbara dengan hati-hati. Elbara pun melahap suapan demi suapan. Dan menikmati setiap sensasi rasa yang hadir di lidahnya.

"Stop!!" celetuk Yumna.

Yumna tidak sengaja melihat isi email itu. Dia melihat nama Sasa, tantenya, dalam dokumen yang dibaca Elbara.

"Apa ini...?" tanya Yumna.

Elbara kemudian memberikan laptopnya pada Yumna. Lebih baik Yumna juga melihatnya sendiri.

"Pada tanggal ini, Tante Sasa tercatat masuk rumah sakit untuk persalinan. Siangnya Tante Sasa melahirkan seorang bayi perempuan. Akan tetapi, pihak keluarga sepakat menitipkan bayi itu di rumah sakit. Selang keesokan harinya, bayi itu diambil oleh sepasang suami istri." tutur Elbara menjelaskan.

"Jodi dan Indri..." gumam Yumna. Bukan menerka-nerka, tapi dia membaca tulisan yang tercantum dalam dokumen itu.

"Niko sudah menghubungi dokter yang menangani Tante Sasa. Dokter itu bilang, untuk memastikan, bayi Tante Sasa memiliki tanda lahir di telapak kaki kirinya." sahut Elbara.

Yumna mengarahkan kursor pada foto yang tersemat.

Deg...!!

Mata Yumna berkaca-kaca, jantungnya berdetak kencang. Dia menatap Elbara dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu air mata itu mengalir begitu saja.

"Mau bertemu Tante Sasa?" celetuk Elbara.

Yumna mengangguk dengan cepat. Elbara mengambil tisu, lalu memberikannya pada Yumna.

___

Sepanjang perjalanan, jemari Yumna tidak bisa diam. Keduanya bertautan, hingga tampak memerah karena sesekali saling meremas. Setelah tiba di rumah Sasa. Mereka harus kecewa karena Sasa sedang berada di luar kota.

"Harusnya kita telepon dulu." Elbara menyesali hal itu. Mereka terlalu terburu-buru.

"Biar saya hubungi." sahut Niko.

"Bagaimana?" tanya Elbara setelah Niko memutus sambungan telponnya.

Niko menyebutkan nama sebuah kota, setelah Sasa mengirim lokasi tempat dia berada saat ini.

"Mau kesana? Perjalanan makan waktu tiga jam kalau tidak macet." kata Niko.

"Iya." sahut Yumna.

Niko menoleh ke arah Elbara. Elbara pun mengangguk.

"Ini cukup jauh. Kita perlu pulang untuk bersiap-siap." ujar Elbara kemudian.

Yumna tadinya ingin segera berangkat saja. Akan tetapi, karena Elbara bersamanya, dan Elbara yang sudah mengusahakan semuanya. Dia memilih patuh. Meski dia sudah tidak sabar. Dia ingin tahu sejelas-jelasnya mengapa Sasa tidak menginginkannya.

"Orang yang selama ini aku sayangi, yang selalu memperlakukan aku dengan baik. Ternyata dia adalah orang yang tidak menginginkan aku..."

___

Setelah mengemas beberapa setel pakaian, obat-obotan, dan kebutuhan lainnya di dalam koper. Yumna segera membawanya keluar kamar. Ada ART yang sudah menunggunya di depan kamar. Kemudian Yumna mengambil alih kursi roda Elbara.

"Tolong kontrol emosi kamu. Jangan sampai mama dan Aluna berpikir yang tidak-tidak." tutur Elbara.

"Saya mengerti." balas Yumna.

Di lantai bawah, Aluna sudah menunggu mereka bersama Bu Kartika.

"Papa Bara dan mama mau pergi?" Aluna menghampiri mereka.

"Papa ada urusan sebentar. Tidak lama. Papa bolehkan ajak mamanya Aluna. Sebentar saja." bujuk Elbara.

"Tapi nanti kalian akan kembali kan...?" rengek Aluna.

"Tentu saja. Aluna harus jadi anak baik. Mama harus menemani papa." sahut Yumna.

"Em." Aluna mengangguk.

Setelah berpamitan, mereka pun segera berangkat. Karena sebentar lagi sore. Jalanan pasti macet karena jam orang pulang kerja.

Dan benar saja. Hampir pukul delapan malam, mereka baru tiba di kota tujuan. Tak lama kemudian mobil mulai memasuki sebuah perkampungan, tapi sama sekali tak ada kesan kampungan yang ditunjukkan. Desa itu sangat modern. Jalan aspalnya sangat mulus. Rumah-rumah warga pun sudah dibangun mengikuti gaya rumah kekinian.

Niko mengurangi kecepatannya setelah tiba di depan rumah yang paling besar. Niko keluar untuk menekan bel. Lalu pagar kayu yang menjulang tinggi itu terbuka.

"Selamat malam, pak." sapa Niko.

"Ini pak Elbara?" tanya bapak yang membuka pintu.

"Bukan, saya Niko. Asistennya. Tuan Elbara ada di dalam mobil bersama nyonya." jawab Niko.

"Mari-mari. Bu Sasa sudah menunggu." bapak itu kemudian mendorong pagar, memberi ruang agar mobil mereka bisa masuk.

"Sudah siap?" tanya Elbara sebelum mereka turun.

Yumna hanya mengangguk. Seolah dia baik-baik saja, padahal hati dan pikirannya berperang di dalam sana sepanjang perjalanan. Meski dia sempat menutup mata, tapi sebenernya dia tidak tidur. Dia hanya tidak ingin terlihat menyimpan begitu banyak beban.

Pintu utama pun terbuka. Ketiganya masuk. Sasa dan sepasang suami istri lanjut usia menyambut mereka dengan baik. Sasa memeluk Yumna, dia rindu sekali pada keponakannya itu. Karena ada orang tua di sana, Yumna berusaha menjaga sikapnya. Dia yang awalnya ingin mengabaikan Sasa, tiba-tiba harus melakukan hal sebaliknya. Padahal Yumna kesal pada Sasa sejak dia membaca email di laptop Elbara. Bahkan bisa dikatakan, Yumna benci sebenci-bencinya pada Sasa. Tapi entah mengapa, sisi lain hatinya mendorongnya untuk tetap menjaga harga diri perempuan itu.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!