NovelToon NovelToon
Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Bukan Yang Pertama Untuk Cinta Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"

"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi itu, Mery membuka mata dengan perasaan berat. Kepalanya sedikit pusing, mungkin karena emosi semalam yang belum benar-benar reda. Tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong. 

Sprei itu terasa dingin, seolah tidak ada tubuh yang menempatinya sejak lama. “Apa semalam dia tidak tidur di sini?” gumam Mery dengan suara serak, sambil memijat pelipisnya perlahan.

***

Mery berusaha mengingat kembali kejadian setelah pertengkaran hebat semalam. Namun ingatannya berhenti pada saat ia selesai membersihkan diri dan duduk di depan meja rias. Rasa lelah mengalahkan segalanya. 

Rupanya Mery tidak tahu, semalam Arya masuk ke kamar itu atau tidak, karena setelah membersihkan diri, dia langsung tertidur.

Mery bangkit perlahan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu ganti baju.

Ia membuka pintu kamar. Saat itulah aroma masakan yang hangat dan menggoda langsung menyergap indera penciumannya. Bau nasi goreng, aroma bawang yang ditumis sempurna, bercampur wangi telur dan sedikit kecap, membuat perutnya spontan bergejolak.

Kening Mery sedikit berkerut. Ia melangkah lebih cepat, menuruni tangga satu per satu, matanya sudah tertuju ke arah meja makan di bawah.

“Apa kamu sudah siap?” suara itu terdengar familiar.

Benar saja, dugaan Mery tidak meleset.

Arya berdiri di sana, mengenakan celemek dapur. Rambutnya sedikit berantakan, dan lengan kemeja digulung hingga siku. Ia baru saja meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja makan, gerakannya terlihat sedikit canggung.

Mery berhenti di anak tangga terakhir. Ia menatap Arya seolah sedang melihat sesuatu yang tidak masuk akal. 

“Apa kamu sedang kesurupan?” tanyanya datar.

Arya menoleh, lalu mengangkat alis. “Kenapa?”

“Dari tadi, aku lihat dari tangga, kamu terus senyum-senyum sendiri,” ucap Mery sambil menarik kursi dan duduk.

Arya terkekeh kecil. “Apa aku harus cemberut?”

Mery mendengus pelan. “Bukankah kamu semalam sedang marah?”

Arya terdiam sesaat. Senyumnya memudar, digantikan raut yang lebih serius. Ia menarik kursi di depan Mery, duduk, lalu mendorong satu piring ke hadapan istrinya, lengkap dengan sendok dan garpu.

“Maka dari itu,” ucap Arya pelan.

“Aku pagi ini mau minta maaf.”

Mery menatap piring di depannya. Aroma nasi goreng itu benar-benar menggugah selera, hangat, dan menenangkan, seperti obat bagi sisa-sisa pertengkaran yang masih mengendap di dadanya. Namun wajahnya tetap datar.

Mery tidak langsung menjawab. Hanya mencebikkan bibirnya kecil, lalu mulai menyuap nasi goreng itu.

Arya memperhatikannya dengan cermat. “Gimana?” tanyanya penuh harap. 

“Enak, kan?” 

Mery mengunyah perlahan, lalu menjawab singkat. “Lumayan.”

“Ish,” keluh Arya, setengah kecewa, setengah lega.

Setelah itu, tidak ada lagi obrolan. Suasana menjadi hening, tapi tidak canggung. Mereka fokus pada sarapan masing-masing. Tidak ada ponsel yang menyala, tidak ada notifikasi, tidak ada distraksi. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali menyentuh piring.

Arya sesekali melirik Mery dari sudut matanya. Ia tidak tahu apakah permintaan maafnya diterima atau tidak. Namun setidaknya, Mery duduk di meja yang sama dan memakan masakan yang ia buat.

Sementara Mery, dia hanya menikmati setiap suapan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Masih ada kesal, masih ada sisa amarah. Namun juga ada sesuatu yang lain. Keheningan pagi, aroma masakan, dan keberadaan Arya di seberangnya, yang membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Pagi itu tidak diisi dengan kata-kata manis atau janji. Namun justru dalam diam, ada usaha kecil yang perlahan membangun kembali jarak yang sempat retak.

“Arya.” Suara Mery terdengar pelan, tapi cukup tegas untuk memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Arya yang tengah menatap piringnya langsung mendongak. Ia meraih gelas dan meneguk air beberapa kali, seolah butuh waktu untuk bersiap mendengar apa yang akan diucapkan istrinya.

“Bulan madu tinggal beberapa hari lagi,” ucap Mery sambil meletakkan sendoknya. Tatapannya lurus, tidak berusaha melunak.

“Jadi kamu segera putuskan.”

Arya menghela nafas pendek. “Baik,” jawabnya singkat. 

“Aku akan ikut,” imbuhnya.

Jawaban itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda berpikir. Justru karena itulah Mery berhenti mengunyah. Ia menatap Arya dengan alis sedikit terangkat, seolah ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.

“Apa kamu yakin?” tanya Mery, kali ini lebih pelan.

“Hm,” Arya mengangguk. 

“Kupikir memang kita harus melakukan peran pernikahan kontrak kita dengan sangat sempurna, kan?” Ada nada datar di sana, seakan semua ini hanyalah bagian dari kewajiban, bukan pilihan. Mery menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

“Oke,” jawabnya singkat. Ia tampak tidak ingin memperpanjangnya.

Namun sesaat kemudian, Mery kembali membuka mulut. “Tapi…”

Arya menoleh lagi. “Tapi apa?”

Mery menarik nafas pelan. “Apa kamu akan memberitahu Hany tentang bulan madu itu?”

Arya mengerutkan kening sejenak, lalu menjawab dengan nada yakin. “Tentu saja. Aku juga harus mendapatkan izin darinya.”

Mery mendesah keras. “Astaga.” Ia mencebikkan bibir, jelas tidak percaya dengan jawaban itu.

“Kenapa?” tanya Arya, tampak bingung.

“Ya kamu pikir sendiri lah, Arya,” ucap Mery dengan nada gemas. 

“Apa ada wanita yang akan mengizinkan pacarnya pergi bulan madu dengan wanita lain?”

Arya terdiam. Alisnya semakin berkerut, seolah baru menyadari kejanggalan yang dimaksud Mery.

“Ya… tapi…” Arya mengusap tengkuknya. 

“Apa dia ini benar-benar tidak mengerti?”

Mery membatin sembari menghela nafas panjang, memalingkan wajahnya sejenak. 

“Apa dia ini benar-benar polos?” batinnya lagi.

“Lalu… apa aku tidak perlu memberitahunya?” tanya Arya ragu, suaranya kini jauh lebih pelan.

“Tentu saja itu sangat tidak perlu,” jawab Mery tegas.

Arya mengangguk kecil, lalu kembali mengangkat wajahnya. 

“Kecuali…”

“Kecuali apa?” tanya Arya.

“Kecuali kamu memang ingin hubunganmu dan Hany berantakan lagi,” jelas Mery tanpa basa-basi.

Arya menelan ludah. Kata-kata itu menghantam tepat sasaran.

“Lalu aku harus bilang apa?” tanyanya, terdengar bimbang.

“Kamu kan bisa bilang dinas, urusan kantor, atau apalah,” jawab Mery santai, seolah itu solusi paling sederhana. 

“Kamu pikir saja sendiri. Kenapa malah jadi aku yang repot.”

Arya terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Tatapannya kosong, mengarah entah ke mana. Jelas sekali pikirannya sedang bekerja keras, menimbang satu per satu kemungkinan, konsekuensi, dan kebohongan kecil yang mungkin harus ia ucapkan.

Mery memperhatikannya sekilas, lalu kembali menyuap makanannya, meski kini rasanya tidak seenak sebelumnya.

Di meja makan itu, keheningan kembali turun. Namun kali ini, heningnya terasa lebih berat, dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab, dan keputusan yang tak lagi bisa ditunda.

“Berbohong saja pada Hany,” batin Mery sembari mengulas senyum dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!