NovelToon NovelToon
CINDELOKA

CINDELOKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Dunia Lain / Action / Spiritual / Epik Petualangan / Roh Supernatural
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: teguhsamm_

Raden Cindeloka Tisna Sunda, seorang bocah laki laki berparas tampan dari Klan Sunda, sebuah klan bangsawan tua dari Sundaridwipa yang hanya meninggalkan nama karena peristiwa genosida yang menimpa klannya 12 tahun yang lalu. keberadaannya dianggap membawa sial dan bencana oleh warga Sundari karena ketampanannya. Suatu hari, seluruh warga Sundari bergotong royong menyeret tubuh kecil Cindeloka ke sebuah tebing yang dibawahnya air laut dengan ombak yang mengganas dan membuangnya dengam harapan bisa terbebas dari bencana. Tubuh kecilnya terombang ambing di lautan hingga membawanya ke sebuah pulau misterius yang dijuluki sebagai pulau 1001 pendekar bernama Suryadwipa. di sana ia bertemu dengan rekannya, Lisna Chaniago dari Swarnadwipa dan Shiva Wisesa dari Suryadwipa yang akan membawanya ke sebuah petualangan yang epik dan penuh misteri gelap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teguhsamm_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Pertama

Angin hutan itu berdenyut. Tidak berhembus-berdenyut, seperti paru-paru sesuatu yang tak kasatmata sedang mengatur ritme napas seluruh alam.

Cindeloka, Shiva, dan Lisna masih terengah setelah Kalasari jatuh terjerembab, tubuhnya remuk seperti anyaman bambu yang diremukkan. Aroma bangkai pandan yang membusuk mengepul dari celah pori-porinya.

Shiva bersandar pada lutut, mendesis,

"Akhirnya... tamat juga."

Lisna memeluk gulungan daun lontara erat-erat.

"Kita harus cepat kembali-sebelum-"

Tubuh Kalasari bergetar.

Pelan.

Kemudian keras.

Lalu patah, retak, dan meletus seperti kulit kelapa dibelah dari dalam.

Dari rongganya muncul kabut hitam yang memuntir-muntir, dan sosok yang tidak pernah ingin mereka lihat dalam mimpi paling gelap mereka membentuk diri perlahan... seperti tubuh yang sedang dijahit oleh bayangan.

Nyi Rangdageni.

Selendang hitam halusnya tampak seperti rambut panjang yang bergerak hidup, membelai tanah, merayapi akar-akar Mahoni yang mengerut ngeri seakan mencoba menjauhinya.

Kulitnya pucat hijau pualam. Matanya-dua celah merah lembap seolah menahan jutaan kutukan.

Cindeloka dan Shiva spontan mundur dua langkah.

"T-tidak..." Cindeloka berbisik. Suaranya gemetar.

"Nyi... Rangdageni? Se-sejak kapan dia ada disini?"

Rangdageni menunduk pelan, suara tawa pelan mengalir keluar.

Bukan tawa manusia-tapi seperti paku yang digoreskan ke genteng basah.

"Ikatan itu hanya menunda lapar," ujarnya lembut namun mematikan.

Lisna jatuh terduduk.

"Nyi... Rangdageni? Bagaimana bisa... bagaimana bisa Anda-"

Rangdageni menatapnya seperti kucing menatap serangga.

"Gadis Chaniago... mata Angaraksa-mu masih hijau muda. Belum sanggup membaca gelora cakra yang hilang dari dunia. Kau terlalu kecil untuk mengerti."

Shiva mendesis, mengambil kuda-kuda.

"Kami tidak punya waktu untuk omonganmu! Cindeloka, bersiap-!"

Tapi sebelum ia sempat melangkah, kepala Nyi Rangdageni memanjang.

Memanjang.

Memanjang seperti tubuh ular raksasa, rahangnya terbelah, gigi-gigi hitam melengkung seperti cakar gagak.

Craaak!

Kepala itu melesat dan menghunjam dada kiri Cindeloka.

"-AAARGH!!!"

Giginya menancap tepat pada area segel Maung Bodas. Kulit Cindeloka langsung memutih, berurat hitam. Di tengah-tengah luka itu, lambang swastika kuno muncul-berputar perlahan, seolah dibakar dari dalam.

Cindeloka terangkat 30 cm dari tanah sebelum dilempar seperti boneka kain.

Tubuhnya jatuh keras, menggeliat hebat.

Segel Maung Bodas meronta, mengeluarkan suara auman samar dari dalam dadanya-bukan suara manusia lagi.

Lisna menjerit histeris,

"CINDELOKA!!"

Shiva membeku, pupilnya mengecil.

"Tidak... segel itu... Segel Penjinak Maung... Kenapa kau-KENAPA KAU MENGGUNAKANNYA PADA DIA?!"

Rangdageni menarik kembali kepala panjangnya, kembali menjadi normal.

Ia menjilat darah Cindeloka dari kuku jarinya.

"Karena Maung Bodas harus tidur. Dan bocah Chandiloka itu... terlalu ribut."

Shiva menggetarkan cakra Wisesa. Cahaya keemasan membungkus lengannya.

"KAU AKAN KUSUDAHI DI SINI!"

Ia melesat dengan jurus Kanuragan Wisesa-tendangan melingkar yang dibalut cahaya suci.

DEG!!

Rangdageni menangkisnya dengan sebelah tangan, seolah menepis daun jatuh.

"Tenagamu masih bau matahari pagi, bocah Wisesa."

Shiva terhempas mundur menabrak pohon Mahoni sampai batangnya denting dan retak.

Lisna hanya mampu memeluk daun lontara sambil gemetar,

"Shiva... jangan mati... jangan tinggalin aku..."

Pertempuran di depan matanya seperti dua raksasa astral saling berbenturan. Cahaya vs kegelapan.

Setiap benturan membuat daun-daun Mahoni gugur seperti hujan abu.

Rangdageni melangkah santai,

"Hanya satu dari kalian yang kubutuhkan hidup-hidup. Yang lain? Kalian hanyalah sisa upacara yang gagal."

Shiva menatapnya dengan tatapan membunuh.

"Lewat mayatku."

Rangdageni tersenyum.

"Tentu. Akan kupercepat."

*

Uap belerang membuat udara seperti pisau tipis yang mengiris paru-paru.

Beben menutup hidungnya.

"Kalau lama-lama begini, kita bisa mati duluan sebelum ketemu musuh..."

Belena menunjuk celah bebatuan andesit.

"Nih. Gulungan lontara-nya. Tancap rapi, kayak dipajang sama jin."

Gamar mengangguk pelan, namun wajahnya tegang.

"Angin di sekitar sini... bergerak aneh."

Begitu Belena menarik gulungan itu, tiga bayangan melompat dari balik kabut belerang.

Aswin Sombaya. Seruni. Unyil.

Tiga bersaudara dari Padepokan Pinrang.

Aswin tersenyum miring,

"Anre gurutta' bilang, siapa dapatkan lontara itu... dia yang lanjut."

Unyil memutar keris tipis di jarinya.

"Jadi... maaf dek-dek manis. Itu punya kami."

Belena langsung membuka langkah kuda-kuda. Cakra Akik Merah Lalihatu menyala di jarinya, memercikkan semburat merah seperti bara yang menyala.

"Mau rebut? Silakan coba."

Ia menghentak tanah.

AURA MERAH dan AIR bergabung, berubah menjadi semburan arus merah keunguan yang melesat seperti tombak cair.

Aswin membalas dengan kanurajian Gelombang Wajo Menyapu – Tendangan rendah berputar seperti ombak menggulung.

Unyil dengan kanurajian Pukkuq Ri Salo – Pukulan memutar dari pinggang yang mengalir tetapi menghantam keras seperti arus sungai, sementara Seruni dengan Sirena Bissu Matowa – Gerak anggun namun tajam, memanfaatkan ritme seperti tarian ritual.

"Sombaya tidak takut Lalihatu!" ucap Unyil dengan lantang.

Serangannya membelah semburan Belena.

Gamar berteriak,

"NAGA AIR!!"

Bayangan naga transparan muncul dari paduan angin dan air, meraung dan menerjang tiga bersaudara itu.

Unyil melompat ke samping,

"WOI! Ini bukan latihan pagi lagi!"

Aswin dan Seruni membalas dengan jurus Kanuragan Air. Tiga pilar air terangkat seperti tombak laut.

Beben akhirnya menanamkan kedua tangannya ke tanah disertai dengan elemen salju yang menjadi kombinasi yang epik.

"Hentak Salju Puncak Jayawijaya" – Pukulan ke tanah menimbulkan semburan pecahan es yang menusuk kaki lawan.

Tanah bergetar, pecah, dan naik membentuk ratusan pecahan batu yang menyerbu musuh seperti peluru.

Gamar menyerangnya dengan Kayu Bahar Menyentak – Serangan lentur berputar yang sulit diprediksi, seperti rotan hidup, sementara Belena pun melakukan serangan dengan kanurajian Gelombang Sagu Halmahera – Sapuan tangan melengkung seperti ombak tenang tapi memukul keras yang dikombinasikan dengan cakra batu akik merah Lalihatu.

Pertempuran meledak.

Air. Tanah. Kayu. Salju. Api-merah Cakra Akik.

Di antara bau belerang yang membuat kepala berputar, lava mengalir pelan seperti ular merah yang menunggu korban berikutnya.

Tak ada ruang kabur.

Tak ada ruang salah langkah.

Pertarungan mereka adalah napas terakhir gunung itu sendiri.

*

Di tengah hutan Mahoni, Shiva terhuyung, napasnya tersengal.

Rangdageni mendekat, selendangnya bergemerisik seperti tulang kering.

Lisna menggigit bibir sampai berdarah.

Matanya berubah-bola mata menjadi oranye menyala, sklera menggelap.

Mata Angaraksa.

Ia melihat cakra Rangdageni-seluruhnya hitam tak berujung, seperti sumur yang menelan cahaya.

Air matanya menurun sendiri.

"Shiva... kita... kita nggak akan menang dengan cara biasa..."

Shiva menoleh cepat,

"Lisna, JANGAN! Kau aktifkan itu, jiwamu bisa robek-!"

Tapi Lisna menatap Rangdageni dengan kemarahan yang dibangun dari ketakutan.

"Dia yang bikin 100 hari lalu... dia yang lepasin leak-leak itu... dia akar dari semuanya..."

Rangdageni tersenyum,

"Akhirnya... satu dari kalian mulai paham."

Dari tubuh Rangdageni, bayangan hitam menjulur ke segala arah, seolah ingin merenggut mereka semua.

Di kejauhan, langit tampak retak.

Bulan seperti diiris dengan kuku raksasa.

Dan di lereng gunung-air, tanah, dan api beradu dalam peperangan sengit.

Tidak ada yang akan keluar tanpa darah.

Tidak ada yang akan keluar utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!