Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Tak asing
#20
"Mahar," sapa Anjani, "Jadi kamu kerja di sini?”
“Kau mengenalnya?” tanya Bu Giana.
“Hanya sekedar tahu, Bu.”
Anjani tersenyum miring, memang siapa juga yang mau berteman dekat dengan Mahar, usianya terpaut beberapa tahun lebih muda. Dan lagi tambang emasnya saat itu adalah Restu. Kini setelah Restu pergi, Anjani menemukan Gunawan sang pengacara muda yang sedang bersinar, dan Anjani memastikan akan menggenggamnya erat-erat.
“Pergilah! Sebelum aku meminta mereka menyeretmu keluar!” usir Giana.
Tapi dengan pongah, Anjani kembali duduk di sofa yang ada di teras, sengaja mengusap serta serta memamerkan kehamilannya untuk mengejek Giana.
Giana tak mau banyak bicara, wanita itu mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi satpam yang berjaga di gerbang komplek. “Halo, Pak. Tolong panggil polisi sekarang.”
“ … “
“Iya, Pak. Ada manusia tak tahu malu yang mengacau di rumah saya.”
“ … “
“Baik, Pak. Saya tunggu.”
Giana mengakhiri panggilannya, mendengar kata-kata polisi, wajah Anjani mendadak pucat pasi. Ia masih trauma dengan polisi pasca kejadian meninggalnya Restu yang terjadi tanpa sengaja akibat ulahnya.
Maka Anjani pun berdiri, “Setelah kupikir-pikir lagi, memang lebih baik aku pergi. Wanita yang sedang hamil, harus menjauh dari keributan demi kedamaian jiwa dan raga.”
Giana segera masuk ke rumah, Mahar hendak mengikutinya, tapi Anjani menangkap lengannya. “Gaet saja, dia. Janda muda kaya raya, hidupmu pasti bergelimang harta,” bisik Anjani, dengan seringai licik di wajahnya.
Mahar menghempaskan tangan Anjani, “Aku bukan pria mata duitan. Kalaupun aku akan menyukai seseorang, semua murni perasaan tulus, bukan berdasarkan uang.”
Anjani mengangkat kedua pundaknya dengan acuh, kemudian melenggang pergi dengan mobil pribadi pemberian Gunawan.
“Mbok, bereskan semua barang-barangku, paling lambat 2 hari kedepan aku harus meninggalkan rumah ini!” perintah Giana pada kedua ART-nya.
“Baik, Bu.”
Giana pun melanjutkan langkah mendatangi ruang kerja Gunawan, kebetulan Giana juga menyimpan arsip-arsip pribadinya di sana.
Beberapa saat setelah selesai mengumpulkan semua arsip pribadi yang nanti akan ia butuhkan untuk melanjutkan pendidikan, Giana menatap meja kerja Gunawan, ada foto mereka di sana, tapi kini, Giana muak melihat tatapan Gunawan padanya.
Dadanya bergemuruh dan raut wajahnya gemetar penuh dendam.
Brak!
Wanita itu membalik pigura foto dengan kasar, tiba-tiba tatapannya tertuju pada tumpukan dokumen bekas yang ada di sudut ruangan. Biasanya Gunawan membakar dokumen-dokumen kasus yang sudah selesai ia tangani.
Entah kenapa Giana tiba-tiba tertarik pada sampah tersebut, Giana melepas tali rafia yang mengikat erat dokumen-dokumen tersebut. Di lapisan paling atas ada dokumen kasus yang baru-baru ini Gunawan tangani. Dokumen itu adalah dokumen kasus kematian Restu Singgih, dengan tersangka utama Lembayung Senja, istri korban.
•
Dari sanalah, penyelidikan Giana bermula, lengkap dengan kisah tentang Ayu dari Mahar, teman sekolah Ayu. Anehnya ada dua dokumen dengan dua pernyataan saksi yang berlawanan.
Giana tak kuasa menahan air matanya ketika membaca keseluruhan profil Ayu sebagai tersangka. Wanita muda, sedang hamil 8 bulan, dan difitnah menjadi tersangka pembunuh suaminya. Hanya gara-gara ia berada di tempat dan waktu yang salah.
Pernyataan saksi di putar balikkan, seolah Ayu benar-benar membunuh suaminya dengan alasan cemburu buta.
Bertahun-tahun berlalu, setelah kembali dari luar negeri, barulah Giana melakukan penyelidikan tentang Ayu secara lengkap dan mendalam.
Berkeliling dari satu lapas ke lapas ke lapas lain, mencari keberadaan Ayu.
•••
Hari ini kelas menjahit lebih berwarna, senyum bahagia menghiasi raut wajah setiap orang yang untuk pertama kali menjahit baju rancangan mereka sendiri. Karena pada hari biasa mereka menjahit pakaian dari pabrik konveksi, sudah ada pola, dan tata cara menjahit sesuai permintaan pemesan.
Ada yang menjahit pakaian mereka sendiri, ada yang menjahit pakaian untuk orang tua mereka, dan ada yang menjahit pakaian untuk anak mereka, seperti Ayu yang menjahit sepasang baju taqwa untuk Biru, putranya.
Semua pakaian sudah disiapkan kainnya secara cuma-cuma oleh instruktur mereka, Bu Giana. Bukan hal yang sulit, dan juga tidak perlu harga mahal, karena keluarganya adalah salah satu saudagar kain termasyhur.
“Bu, kenapa setelah di aplikasikan, jadinya seperti ini?!” keluh salah satu peserta yang hasil jahitannya tak sesuai dengan yang ada dalam bayangannya saat menggambar.
Bu Giana tersenyum simpul, lalu mulai menjelaskan apa penyebabnya. “Dengan begitu, kain tak akan mengkerut ketika dijahit,” tutur Bu Giana dengan penuh kesabaran kala membimbing peserta pelatihan.
“Baik, Bu. Akan saya coba lagi.”
Bu Giana kembali berkeliling, membimbing setiap keluhan serta kekeliruan peserta di saat pertama mereka menjahit hasil rancangan mereka sendiri.
Hingga tiba di tempat Ayu, Bu Giana menatap Ayu yang menjahit dengan tenang dan penuh semangat yang terpancar dari raut wajahnya. Ayu adalah satu-satunya peserta yang tak banyak bicara, dan tampak serius mengerjakan proyek pertamanya.
Sebuah baju mungil untuk putranya, telah siap. Tak hanya satu, tapi Ayu membuat 2 pasang untuk Firza juga, agar mereka tak saling iri satu sama lain.
“Waahh, rapi sekali,” puji Bu Giana.
Ayu tersipu malu setelah mendapatkan pujian, “Terima kasih, Bu. Saya hanya mencoba menerapkan apa yang Bu Giana ajarkan, dengan cara membuat pakaian yang paling mudah menurut saya. Yaitu pakaian anak-anak.”
“Kamu benar-benar akan mengirimkannya untuk anakmu?” tanya Bu Giana.
“Iya, Bu.”
“Bolehkah aku membantumu?” tanya Bu Giana, barangkali Ayu mau menerima bantuan darinya.
Ayu terkejut, “Ah, tidak, Bu. Saya kirimkan lewat pos saja,” tolak Ayu, jelas tak enak bila harus merepotkan sang guru.
“Tidak apa-apa, kebetulan aku juga sedang giat melakukan penyuluhan ke beberapa kabupaten, yang letaknya cukup jauh dari ibu kota.”
Karena Bu Giana terus memaksa, maka Ayu tak punya pilihan lain selain menurutinya.
“Kabari saya, kalau bajunya sudah siap, ya?”
“Eh, i-iya, Bu. Terima kasih sebelumnya.”
•••
Beberapa hari kemudian, Bu Giana benar-benar mendatangi desa asal Ayu dan Mahar, tentunya dengan diantar pria itu sekalian ia menjenguk ibunya yang kini telah menjanda, setelah ayahnya tiada beberapa tahun silam.
Mobil Bu Giana berhenti di depan rumah Ismail dan Karmila, “Ini rumah mereka, Bu.”
Bu Giana menatap bangunan rumah yang sudah dibangun lebih baik jika dibandingkan beberapa tahun silam. “Ya, sudah, aku turun di sini. Kau pergilah temui ibumu.”
“I-iya, Bu,” jawab Mahar.
Bu Giana lalu turun dari mobil, tak lama sesudahnya, Mobil melaju meninggalkan kepulan debu di tengah musim kemarau.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, mau cari siapa, Bu?”
Bu Giana menoleh, rupanya Karmila baru saja tiba bersama kedua putranya.
Bu Giana segera menelisik wajah kedua bocah yang baru saja pulang bersama ibu mereka, wajah bocah pertama masih ada kemiripan dengan Karmila, dan wajah bocah kedua, terlihat sangat tidak asing bagi Bu Giana.
Rasa-rasanya Bu Giana pernah melihat wajah anak itu di suatu tempat, tapi di mana?
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah