Sean Joris adalah Presdir muda tampan yang terlanjur kaya dan sangat sibuk, karena di desak menikah, maka dibuatlah “Kontes Menjadi Istri Presdir”.
Samuel atau biasa dipanggil Sam adalah teman juga asisten pribadinya Sean.
Nah apa yang terjadi jika dalam kontes, Sean meminta Samuel untuk bertukar tempat menggantikannya menjadi presdir dan Sean menjadi asistennya?
Lorena Ayala adalah salah satu peserta kontes yang kehilangan dompetnya dan terpaksa menumpang di rumah kontrakannya Sean, sang Presdir yang asli.
Apakah Sean akan menemukan cinta sejatinya lewat kontes itu?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-34 Selamat Ulang Tahun Sean
Lorena menoleh pada Sean yang menghabiskan minumnya.
“Kau mau berangkat bekerja?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Sean.
“Kapan kau pulang?” tanya Lorena, sambil menatap pria itu, meskipun bangun tidur, wajah pria itu masih terlihat tampan padahal belum mandi.
“Kenapa kau bertanya begitu? Kau rindu padaku?” tanya Sean.
“Kau tidak ada di rumah sangat sepi,” jawab Lorena.
“Berarti kau merindukanku,” kata Sean, kini menatap Lorena. Dia berharap gadis itu akan mengatakan merindukannya.
“Ah tidak, bukan itu, tidak ada orang yang bisa aku ganggu hahha..” jawab Lorena sambil tertawa, membuat Sean kesal.
“Aku tidak akan pulang-pulang lagi kesana!” jawab Sean akhirnya sambil bangun dari duduknya, membuat Lorena terkejut.
“Apa? Kau tidak akan pulang lagi? Kau akan tinggal disini saja?” tanya Lorena.
“Sepertinya begitu,” jawab Sean, beranjak meninggalkan kursinya.
Lorena juga jadi ikut-ikutan bangun dan mengikuti Sean.
“Wah kenapa?” tanya Lorena. Sean tidak menjawab, dia terus saja berjalan masuk ke rumah.
“Apa karena banyak pekerjaan?” tanya Lorena lagi. Sean tidak menjawab, dia terus masuk ke dalam rumah menuju arah kamarnya. Lorena masih mengikutinya dari belakang.
“Jadi kau tidak akan mengontrak lagi rumah itu?” tanya Lorena. Sean masih tidak menjawab.
“Kalau kau tidak tinggal lagi disana, bagaimana dengan aku? Uangku akan habis untuk membayar kontrakan,” kata Lorena.
“Kau kan sudah punya uang sekarang, bekerja ke Luar negeri berarti bayarannya sangat mahal,” ujar Sean.
“Ya aku juga tahu, tapi uangku untuk keperluan yang lain dan itu juga masih kurang,” kata Lorena.
“Jadi kau mau aku pulang biar tidak bayar kontrakan begitu?” tanya Sean, kini dia menaiki tangga, Lorena masih terus mengikutinya.
“Kau kan tahu perjanjiannya aku akan membayar kontrakan setelah aku memenangkan kontes itu, setelah aku menikah dengan Presdir Samuel,” jawab Lorena.
Sean menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya.
“Apa yang akan kau lakukan jika aku Presdirnya? Kau masih akan melanjutkan kontes itu?” tanya Sean, menatap Lorena.
“Apa? Kau Presdirnya?” tanya Lorena terkejut. Sean mengangguk. Lorena langsung tertawa.
“Kau suka bercanda, asisten ya asisten saja tidak usah mengaku-ngaku Presdir segala. Kalau kau Presdir buat apa kau mengaku ngaku asisten segala, kurang kerjaan!” kata Lorena masih dengan tawanya.
Tapi ternyata Sean tidak tertawa dia masih menatapnya, membuat Lorena menghentikan tawanya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Sean.
“Kalau kau Presdirnya begitu?” tanya Lorena lagi.
“Iya, apa kau akan melanjutkan ikut kontes itu?” jawab Sean sekaligus bertanya, dia masih menatap gadis itu, dia ingin tahu apa jawaban Lorena kalau ternyata dia yang menjadi Presdirnya.
“Aku akan berhenti mengikuti kontes,” jawab Lorena, serius.
“Apa? Kau serius akan berhenti?” tanya Sean, sangat terekjut.
“Ya, aku akan mengundurkan diri,” jawab Lorena, mengangguk.
“Kenapa?” tanya Sean, hatinya mendadak menjadi gelisah.
“Karena itu artinya kau telah membohongi semua orang. Kau sudah membohongi calon istrimu, mempermainkan perasaannya, aku tidak suka suami yang suka berbohong dan menyakiti hati perempuan,” jawab Lorena.
Sean berdiri mematung mendengar jawaban Lorena. Apa Lorena serius bicara begitu?
“Bukankah kau ingin sekali menikah dengan Presdir, kau fikir Sam juga tidak berbohong?” tanya Sean.
“Memangnya apa yang dilakukan oleh Pak Sam?” tanya Lorena tidak mengerti dengan perkataannya Sean.
Sean pun terdiam, dia tidak mungkin mengatakan kalau Sam sebenarnya asistennya.
“Sudahlah, keluar dari kamarku, aku mau mandi,” ucap Sean.
Lorena melihat ke sekeliling, dia tidak memperhatikan ternyata dia sudah sampai di kamarnya Sean.
“Kamarmu sangat bagus dan luas, sepertinya ini kamar utama. Ny, Grace sangat baik padamu,” kata Lorena.
Sean kembali diam, gadis itu masih mengira ibunya dalah ibunya Sam.
“Ya sudah, mandilah, aku mengantuk, mau tidur,” ucap Lorena sambil menutup mulut dengan tangannya, dia menguap.
Sean tidak bicara lagi, dia hanya melihat gadis itu keluar ruangan. Dia masih berdiri disana beberapa saat. Dia masih memikirkan kata-kata Lorena. Ternyata Lorena akan berhenti mengikuti kontes kalau ternyata dia adalah Presdirnya. Apa gadis itu sama sekali tidak menyukainya? Sepertinya sia-sia saja berusaha membuatnya jatuh cinta padanya.
Tapi kenyataannya memang dia Presdirnya, dan itu artinya Lorena akan mengikuti kontes yang sia-sia. Sean duduk di sofa, memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Bagaimana dengan kontestan lain? Apa mereka akan melakukan hal sama dengan Lorena? Sepertinya tidak. Hanya memang Lorena berbeda dari yang lain. Gadis itu benar-benar mencari cinta sejatinya.
Sean melihat kalender yang ada di dinding, ada tanggal ulang tahunnya yang dia lingkari dengan spidol. Nanti malam adalah hari ulang tahunnya, yang akan diarayakan besok. Usianya genap 28 tahun dan surat wasiat dari kakeknya sudah dibacakan, seharusnya dia sudah menikah sekarang supaya usia 30 tahun sudah mempunyai keturunan, sangat merepotkannya. Dia tidak mau asal menikah. Dia ingin menikah karena dasar cinta bukan karena supaya mendapatkan warisan dari kakeknya, dia tidak butuh uang lagi, dia hanya ingin hidup dengan istri yang dicintainya dan mencintainya, memiliki anak-anak yang lucu hasil buah cinta mereka, bukan karena uang.
Tok tok tok… terdengar ketukan beberapa kali di pintu yang masih terbuka.
Sean melirik kearah pintu. Ternyata Lorena berdiri disana.
“Ada apa?” tanya Sean.
“Kau nanti malam pulang kan?” tanya Lorena.
“Iya,” Jawab sean.
“Agak larut memang, aku sibuk, ada apa?’ tanya Sean.
“Cuma bertanya saja,” jawab Lorena lalu keluar dari kamarnya Sean. Pria itu mengerutkan keningnya, apa maksud gadis itu bertanya begitu?
Diapun bangun dan bergegas ke kamar mandi, ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan hari ini.
Malampun telah tiba…
Jam 10 malam, Sean pulang ke rumah dengan keadaan lelah. Matanya sudah sangat mengantuk. Dia langsung masuk ke kamar dan langsung tidur.
Sedang terlelap dalam mimpi, tiba-tiba dia dibangunkan oleh sebuah ketukan dipintu.
Tok tok tok… Tok tok tok …Tok tok tok… Ketukan itu tidak berhenti-henti.
Akhirnya Sean bangun dengan malas. Diapun menuju pintu dengan mata yang masih mengantuk. Dibukanya pintu kamarnya. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat siapa yang berdiri di pintu. Gadis itu tersenyum manis dengan membawa sebuah nampan kue bolu ulangtahun dengan lilin-lilinnya yang menyala di sekeliling kue bolu itu
“Selamat ulang tahun Sean,” ucap Lorena, membuat Sean terdiam. Lorena tahu dari mana kalau dia ulang tahun? Bukankah dia tahunya Sam yang ulangtahun besok?
“Ayo tiup lilinnya, tapi ucapkan dulu permintaanmu,” kata Lorena.
Meskipun bingung, Seanpun berdoa, dia bingung mau berdoa apa tahun ini? Seanpun memejamkan matanya, berdoa di dalam hatinya. Hanya ada satu permintaannya, dia ingin jika memang dia ada jodoh tahun ini dia ingin menikah dengan seorang wanita cinta sejatinya. Dia ingin menikah atas dasar saling mencintai, tidak ada yang lain, hanya itu keinginannya.
“Ayo tiup lilinnya,” kata Lorena, saat Sean kembali membuka matanya setelah berdoa. Seanpun meniup lilinnya, tapi ternyata lilinnya tidak padam-padam.
“Kenapa lilinnya tidak padam-padam?” keluh Lorena.
“Kau beli dimana lilinnya?” gerutu Sean, kemudian kembali meniup lilinnya. Masih juga tidak padam.
“Kau meniupnya kurang kencang!Huh, begitu, keluarkan udaranya,” kata Lorena, sambil memperagakan dengan mulutnya yang dimonyong-monyongkan.
“Aku sudah meniup kencang sekali,” ucap Sean. Dia kembali meniup lilinnya dan tetap saja tidak ada yang padam.
“Sepertinya aku harus ikut meniupnya juga,” kata Lorena.
“Awas kalau dengan ludahmu, aku tidak mau makan kuenya,” ucap Sean langsung saja menatap Lorena dengan tajam.
“Tidak, aku juga sudah gosok gigi, kau yang belum gosok gigi,” kata Lorena, mencibir pada Sean.
“Sudah jangan banyak bicara coba kau tiup,” kata Sean.
“Baiklah aku tiup sekarang,” kata lorena. Diapun meniup lilin-lilinnya ternyata benar, lilinnya tidak padam juga.
“Ada apa sih dengan lilin ini? Aneh sekali,” gerutu Lorena.
Sean mencoba meniupnya lagi ternyata masih nyala juga. Mereka berdua sampai kebingungan dengan lilin itu.
“Ada kipas tidak? Atau apa saja, kita kipas saja,” usul Lorena.
Sean melihat ke atas meja yang ada di kamarnya begitu juga dengan Lorena. Ada sebuah koran disana.
“Nah pakai Koran saja!” usul Lorena sambil membawa masuk kue ulangtahun nya yang lilinnya masih menyala.
Lorena menyimpan kue ulang tahun itu di atas meja, kemudian dia dan Sean duduk di sofa menghadap kue ulang tahun itu.
Lorena mengambil koran yang ada di meja itu, lalu di kipas-kipasnya. Ternyata lilinnya tidak padam juga, diapun menatap Sean.
“Bagaimana ini lilinnya tidak padam juga,” keluh Lorena.
“Aku juga tidak tahu,” ucap Sean.
“Kau berdoa apa sih? Jangan-jangan kau berdoa yang tidak tidak!” tuduh Lorena.
“Berdoa yang tidak-tidak apanya? Berdoa yang baik baiklah,” sanggah Sean dengan kesal.
“Tapi lilinnya tidak mau padam. Aku curiga kau berdoa yang jelek-jelek,” Lorena masih menuduh.
“Masa ada doa yang jelek-jelek, aku hanya berdoa jika aku menikah tahun ini aku ingin menikah dengan wanita cinta sejatiku,” ucap Sean, membuat Lorena terpana.
“Wah, kau sangat romantis,” seru Lorena sambil menepukkan kedua tangannya dengan keras.
Sean terkejut, kenapa dia mengatakan doanya pada Lorena? Ah bikin malu saja.
“Ayo kita tiup lagi lilinnya sama-sama,” ajak Lorena. Sean mengangguk.
“Satu, dua, tiga,” ucap Lorena.
Merekapun meniup lilin bersama-sama dan seketika api-api di lilin itu padam.
“Horeeee!” seru Lorena, bertepuk tangan heboh sendiri.
“Akhirnya mati juga tuh lilin. Selamat ulang tahun Sean,” seru Lorena lagi, lalu dia menoleh pada pria yang duduk disampingnya.
“Selamat ulang tahun semoga doamu terkabul,” ucap Lorena, tersenyum manis pada pria itu. Sean menatap gadis yang tersenyum manis itu, senyum kali ini terlihat sangat manis, lebih manis dari biasanya.
“Terimakasih,” ucap Sean, ada haru di hatinya. Baru kali ini dia menerima ucapan ulang tahun se spesial ini. Biasanya ulang tahunnya dirayakan besar-besaran, dan dia meniup lilin di depan orang banyak. Ternyata meniup lilin di kue ulang tahunnya meskipun hanya berdua dengan gadis itu rasanya sangat bahagia, mengalahkan semua kado kado yang bertumpuk yang biasa dia terima setiap tahunnya.
Kemudian dilihatnya gadis itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya sambil mencabut lilin lilin yang ada di kue ulang tahun itu yang ditata melingkar berkeliling.
Sean hanya menatap gadis itu yang ceria sendiri dengan lagu selamat ulang tahunnya. Diapun
tersenyum, hatinya terasa hangat malam ini.
*****************
Jangan lupa like vote dan komen
sehat selalu, ditunggu cerita cerita berikutnya 🙏