George Zionathan. Pria muda yang berusia 27 tahun itu, di kenal sebagai pemuda lemah, cacat dan tidak berguna.
Namun siapa sangka jika orang yang mereka anggap tidak berguna itu adalah ketua salah satu organisasi terbesar di New York. Black wolf adalah nama klan George, dia menjalani dua peran sekaligus, menjadi ketua klan dan CEO di perusahaan Ayahnya.
George menutup diri dan tidak ingin melakukan kencan buta yang sering kali Arsen siapkan. Alasannya George sudah memiliki gadis yang di cintai.
Hidup dalam penyesalan memanglah tidak mudah, George pernah membuat seseorang gadis masuk ke Rumah Sakit Jiwa hanya untuk memenuhi permintaan Nayara, gadis yang dia cintai.
Nafla Alexandria, 20 tahun. Putri Sah dari keluarga Alexandria. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa di paksa menjadi pengganti kakaknya menikah dengan putra sulung Arsen Zionathan.
George tetap menikahi Nafla meskipun tahu wanita itu gila, dia hanya ingin menebus kesalahannya di masalalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 IGTG
George menyusuri setiap ruangan di mansion nya, berharap bisa menemukan istri tercintanya. Meskipun sudah mendapatkan laporan dari Xavier, jika Nafla pergi, namun pria itu mencoba tidak percaya.
Wajahnya babak belur, selain pertarungan dengan beberapa musuhnya di gedung malam itu, dia juga bertarung dengan sang Ayah.
Arsen tentu saja sangat marah atas kematian Jackson, pria muda itu satu-satunya cucu laki-laki dari mendiang Zian yang titipkan pada keluarganya.
George tidak perduli dengan kemarahan Ayahnya, saat ini yang dia pikirkan adalah kemana perginya sang istri.
George menyisir rambutnya kebelakang dan sedikit memberikan remasan.
“Nafla, kenapa kau harus pergi dengan cara seperti ini? tidak bisakah kau mendengar sedikit saja penjelasanku?" Gumamnya pelan.
Semua ruangan tidak terlewati sama sekali oleh George, nyatanya Nafla memang tidak ada di mega mansion itu lagi.
Pria itu menyandarkan tubuhnya di tembok sembari memejamkan matanya. kenapa semua semakin berantakan seperti ini.
“Tuan, lebih baik Anda istirahat dulu, anak buah kita sedang mencari keberadaan Nyonya Nafla." Max menghampiri sang Tuan, dia merasa Iba, kisah percintaan George tidaklah pernah mulus.
Dua kali jatuh cinta, namun dua kali dia harus kehilangan. Cinta pertama dengan Naraya, hanya di manfaatkan dan di khianati, sementara dengan Nafla, George seperti tidak mendapatkan kepercayaan diri wanita itu. Sering kali terjadi kesalahan paham di antara keduanya.
George membuka matanya. “Max, jangan menatapku seperti itu, aku bukan pria lemah yang harus kau Ibai, aku hanya pria yang kurang beruntung saja."
Max menundukkan kepalanya. “Bisakah aku bicara sebagai sahabat?"
George kembali menoleh dan tersenyum tipis dia menepuk pelan pundak bawahannya itu. “Bukannya kita memang bersahabat? katakan apa yang ingin kau katakan, Max."
Max mengangkat pandangannya. Lalu dengan tiba-tiba memberikan pelukan pada George. “Tidak masalah jika seorang ketua Mafia ingin mengeluarkan air mata, tidak akan ada yang menganggapmu lemah, jika ada, aku akan menghabisinya detik ini juga."
“George, pria itu kuat dan tidak cengeng, kau tau itu apa?" George menggelengkan kepalanya.
“Itu hanya pepatah yang keluar dari mulut seorang Ibu yang ingin melihat putranya kuat ketika kita terjatuh. Padahal Ibu sangat tau kita sedang merasa sangat sakit dan lemah" Ucap Max. Mengumpamakan apa yang sedang George alami saat ini.
Tes.
Max merasakan punggungnya basah, pria itu tersenyum. Selain mendiang Orion ternyata Nafla juga bisa membuat George menangis.
Setelah beberapa saat keduanya kembali ke ruang utama, di sana sudah ada Dokter Vio yang menunggu untuk mengobati luka George.
George menyandarkan tubuhnya di sofa sembari kembali memejamkan matanya, membiarkan Dokter Vio mengobati lebam dan beberapa luka yang dia dapatkan dari pertarungannya.
Kepalanya begitu berisik, Nafla dan Nafla yang terus muncul, tatapan kemarahan wanita itu terlihat jelas terakhir kali dia melihatnya.
Beberapa hari sudah berlalu, George sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Nafla dan menghubungi beberapa teman dekatnya sesama Mafia di lain negara untuk membantunya mencari Nafla.
George hanya menduga jika Nafla pergi keluar negeri atau ke daerah-daerah yang memang sulit untuk di temukan. Dari pencarian beberapa hari ini, George sama sekali tidak menemukan keberadaan istrinya.
“Tarik semua anak buah kita, Max, dan kembalilah bekerja seperti biasanya." Titah George, bukan tidak merasa kehilangan ataupun berjuang untuk kembali menemukan Nafla.
Tetapi ini kemauan wanita itu yang ingin pergi darinya. Jika ditanya apakah mencintai Nafla? tentu saja George sangat mencintai wanita itu dan mengharapkan kembali bersama.
“Anda yakin Tuan?" Max hanya memastikan saja.
George menganggukkan kepalanya. “Aku masih memiliki banyak tanggung jawab, Max, ada organisasi yang masih membutuhkanku, jika memang aku berjodoh dengannya, dimana dan entah kapan itu pasti suatu saat akan bertemu lagi." Jawab George.
George hanya berharap, di mana pun Nafla berada semoga wanita itu tetap baik-baik saja dan selalu bahagia meskipun tidak ada dirinya.
Max menganggukkan kepalanya, dia tau itu hanya ucapan saja, yang sebenarnya terjadi George sangatlah lemah saat ini.
Kepergian Nafla jangan sampai di manfaatkan musuh untuk di jadikan senjata, bagus George menyudahi pencariannya.
Dan Max sangat yakin, tidak semua anak buahnya di hentikan, hanya saja tidak perlu ketara jika sedang mencari keberadaan Nafla.
Sesuai dengan permintaan Nafla, George melakukan pemakaman Nyonya Winters secara hormat dan di tempatkan bersama anggota keluarga Smith. Tepatnya di sebelah makam Jackson.
Meskipun sempat mendapatkan penolakan dari Arsen, namun George tetap memaksa juga memohon pada sang Ayah, semua dia lakukan untuk menepati janjinya pada Nafla juga permintaan wanita itu.
**
“George, apa kau jatuh miskin? kenapa wajahmu begitu pucat?" Felix menghampiri saudara kembarnya dan menjatuhkan bokongnya tempat di sebelah George.
George melirik sekilas. “Menjauhlah dariku Felix, kau sangat bau, aku tidak menyukai aroma tubuhmu."
Felix menaikan sebelah alisnya dan detik berikutnya dia mengendus-endus tubuhnya sendiri, tidak ada yang salah dengan aromanya. Wangi bahkan sangat wangi.
“Sepertinya hidungmu bermasalah." Ucap Felix.
Malam ini mereka berkumpul di kediaman Arsen, disana juga ada Rick yang masih memasang wajah kesal. Lantaran ketampanannya berkurang karena hilangnya satu daun telinganya.
“Menyingkirlah Felix sebelum aku.. "
“Oke!!." Felix segera menyingkir dan berpindah tempat di sebelah Rick.
“Kau terlihat sangat tampan dengan sebelah daun telinga." Ucapnya yang langsung mendapatkan tamparan kecil di lengannya.
“Gara-gara ini, banyak gadis yang menjauhiku." Kesal Rick.
Felix tertawa pelan. “Para gadis itu saja yang bodoh, katakan pada mereka, kau menusuk kenikmatannya menggunakan batang bawahmu bukan dengan daun telingamu."
Rick memutar bola matanya malas, tetap saja hal itu berpengaruh, karena daun telinga salah satu area sensitif untuk membangkitkan gairahnya.
“George, minumlah ini." Luna membawakan segelas jus jeruk. George membuka matanya, dia meraih gelas berisi jus itu dan meminumnya sampai tandas.
“Ahhhh...segar sekali, ini sangat manis, terimakasih onty " Desahan kecil terdengar menyegarkan, George mengusap bibirnya yang basah.
Luna meringis dan menelan ludahnya sendiri, jeruk yang dia gunakan jauh dari kata manis, bagaimana bisa George menyebutnya segar dan manis.
Dua hari berturut-turut George selalu datang dan memintanya membuatkan minuman yang asem-asem dan masakan pedas. Padahal mereka sangat tau, George tidak menyukai makanan pedas.
“Kau seperti wanita yang Felix buang tempo lalu, merepotkan, banyak maunya." Ucapan Rick membuat Arsen menoleh kepada putra keduanya.
“Jangan melihatku seperti itu, aku hanya tidak menyukai wanita yang merepotkan." Ujar Felix ketika sang Ayah menatapnya.
“Memang sudah biasanya wanita hamil muda akan banyak maunya," Timpal Rick yang kembali membuat mereka tercengang.
dia akan posesif ma mommy nya kejam sama kamu Daddy nya
kau bkn aq kesel ngakak