NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH EMPAT

Sesampainya di kasir, aku berusaha menenangkan diri dengan menunduk, membiarkan Revan yang mengurus pembayaran. Tapi dari pantulan kaca besar di dekat kasir, aku bisa melihat Althaf berdiri tak jauh dari rak belakang, masih menatap ke arah kami.

Revan sadar akan hal itu. Rahangnya mengeras, senyum ramahnya hilang, diganti garis tipis penuh ketegangan.

Aku di antara mereka berdua-dan situasi ini rasanya seperti perang diam-diam yang tak ada suara, tapi jelas terasa tekanannya.

Baru saja Revan menyerahkan uang ke kasir, pintu kaca minimarket terbuka dengan suara kring khas bel. Seorang gadis melangkah masuk dengan langkah terburu-buru. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, jaketnya melorot di salah satu bahu. Layla.

"Revan!" suaranya langsung terdengar nyaring, cukup membuat beberapa orang di dalam minimarket menoleh sekilas. Ia berjalan cepat menghampiri kami, wajahnya masam jelas penuh kekesalan.

"lo keterlaluan banget, ya!" serunya begitu sampai di depan Revan. "Kenapa nggak bangunin gue tadi? Semua orang turun, gue ditinggal sendirian di bus. Untung gue kebangun sendiri. Kalau nggak, bisa-bisa gue kelaparan di jalan!"

Nada protesnya terdengar dramatis, tangannya bahkan terangkat-angkat seolah ingin menekankan betapa parahnya kesalahan Revan.

Revan yang baru saja menerima uang kembalian hanya menghela napas panjang. "lo tidur pules banget, Lay. Gue nggak tega ngebangunin lo. Lo tidur kayak babi tidur tau." canda Revan berusaha membuat Layla sedikit tenang.

"Ihhh enak aja, di samain sama babi tidur lagi!" Layla mendengus kesal, menatapnya tajam. "Harusnya Lo tetap bangunin gue. gue nggak mau tau , karena lo salah. Lo harus traktirin gue!"

Aku berdiri di samping mereka, agak kikuk menyaksikan drama kecil itu. Rasanya ingin tertawa, tapi kutahan sebisa mungkin.

"Ya udah, sekarang lo udah di sini." Revan menjawab malas, matanya sudah menghindar dari Layla. "Kalau lapar, pilih aja makanan. Terserah mau beli apa aja, gue yang traktir"

"Hmph! Dasar tega! oke Kalau gitu gue mau pilih cemilan kesukaan gue!" Layla memelototinya, lalu dengan ekspresi sebal mengambil keranjang belanja dan melangkah ke rak camilan dengan langkah menghentak.

Aku akhirnya tak bisa menahan diri, bibirku melengkung kecil. Tapi senyum itu langsung menghilang ketika mataku menangkap sosok lain dari sudut ruangan-Althaf.

Althaf masih berdiri di dekat rak minuman, wajahnya tenang, tatapannya singkat menyapu ke arah kami. Dan meski hanya sebentar, matanya berhenti padaku.

Dadaku sontak berdebar kencang lagi, seakan ruangan yang riuh oleh protes Layla dan sikap dingin Revan mendadak menyempit hanya menyisakan aku dan tatapan dingin itu.

Layla kembali ke arah kasir dengan keranjang penuh camilan. Wajahnya masih kesal, bibirnya manyun sambil menggerutu.

"Pokoknya salah lo, Rev. Nih bayarin!" omelnya sambil meletakkan satu persatu snack di meja kasir, membuat si kasir hanya bisa tersenyum kaku.

Revan berdiri di sampingku, jelas terlihat malas menanggapi. Ia hanya mengangkat bahu, lalu mendesah pelan. "Iya, iya, terserah lo deh, Lay."

Layla mendengus keras. "Jangan iya-iya doang! Nggak minta maaf lagi!" katanya, menatap tajam ke arah Revan.

Aku berdiri di antara mereka, mencoba menahan senyum canggung. Rasanya seperti jadi penengah di tengah pertengkaran kecil yang konyol. Tanganku meremas botol air mineral yang tadi kuambil, seakan itu bisa mengalihkan kegugupanku.

Namun, saat aku menoleh ke samping, nafasku langsung tercekat.

Althaf.

Ia berdiri tidak jauh dari kasir, hanya memegang sebotol kopi kaleng di tangannya. Wajahnya datar, tapi tatapannya-tajam, tenang, namun penuh tekanan-terarah langsung padaku. Tidak ke Layla yang ribut, tidak ke Revan yang malas menanggapi, tapi hanya padaku.

Aku cepat-cepat menunduk, berpura-pura memperhatikan layar mesin kasir yang sedang menghitung total belanja. Tapi bayangan wajahnya tetap jelas di kepalaku, dan jantungku terus berdegup kencang.

Layla masih ribut di sampingku, Revan masih dengan sikap cueknya, tapi entah kenapa semua itu terdengar jauh. Yang tersisa hanya rasa terjepit antara dua dunia: perhatian Revan yang hangat, dan tatapan Althaf yang dingin tapi tak pernah melepaskanku.

***

Rest area malam itu cukup ramai, lampu-lampu terang memantulkan cahaya ke meja-meja panjang yang berjejer rapi. Angin malam menusuk kulit, membuat sebagian mahasiswa yang turun dari bus merapatkan jaket mereka. Aroma kopi, gorengan, dan kuah bakso menguar, bercampur dengan suara kendaraan yang lalu-lalang.

Aku, Revan, dan Layla memilih duduk di salah satu meja pojok yang agak sepi. Revan meletakkan kantong belanjaannya, lalu berdiri sebentar menuju warung kecil di sisi kanan rest area. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah gelas yang masih mengepulkan asap hangat.

"Ini buat lo, Senja." Ia mendorong gelas itu ke arahku. "Wedang jahe. Biar badan Lo hangat, nggak gampang masuk angin."

Aku menatap gelas itu, lalu menoleh ke arahnya. "Revan Lo nggak usah repot-repot, gue bisa beli sendiri."

Revan hanya tersenyum. "gue tahu lo pasti nggak kepikiran. Tadi di bus lo bersin-bersin, wajah lo juga merah. Gue inget banget, lo selalu alergi udara dingin. Jadi minum aja, jangan banyak alasan."

Aku terdiam. Kata-katanya membuat dadaku menghangat, entah karena jahe atau karena perhatiannya. Dengan ragu, kuangkat gelas itu dan menghirup aromanya. Harum jahe bercampur gula merah langsung membuat hidungku lega.

"Makasih, Van," ucapku pelan, lebih tulus dari yang kupikirkan.

Dia hanya mengangguk, senyumnya tipis tapi penuh makna. Sementara Layla sibuk membuka sekotak keripik sambil mengomel karena tidak dibangunkan saat bus berhenti, aku bisa merasakan tatapan lain menghantamku.

Aku menoleh sekilas.

Di sisi lain rest area, berdiri Althaf. Tangannya masih di saku celana, wajahnya datar. Ia tampak berbicara singkat dengan Pak Aris, tapi matanya jelas menatap ke arah meja kami. Tepat padaku. Tepat pada wedang jahe yang kugenggam erat.

Aku buru-buru menunduk, meneguk sedikit jahe hangat itu agar tanganku tidak gemetar. Rasanya pedas-manis, menghangatkan, tapi juga membuat dadaku makin bergejolak.

Revan, yang duduk tepat di depanku, seolah sadar ada sesuatu. Ia mencondongkan tubuh, suaranya pelan tapi tegas.

"Selama study tour ini, gue bakal jagain lo. Jangan khawatir, Senja."

Aku tercekat, menatap wajahnya yang begitu yakin. Dan dalam diam, aku tahu... ada sepasang mata lain di kejauhan yang menyaksikan semua ini dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan-antara dingin, cemburu, atau... sesuatu yang lebih dalam.

Aku masih menggenggam erat gelas berisi wedang jahe yang diberikan Revan. Hangatnya menjalar sampai ke dada, tapi tatapan dingin dari kejauhan justru membuat tubuhku serasa membeku. Althaf masih di sana-duduk sendirian di bangku panjang dekat mesin kopi otomatis. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya jelas mengunci ke arah kami, membuat seolah dunia di sekitarku menghilang.

Aku buru-buru menunduk lagi, pura-pura sibuk menyeruput wedang jahe. Rasa hangat itu kini bercampur getir, karena aku tahu apa-atau siapa-yang sedang mengintai.

"Senja, enak kan?" suara Revan terdengar di sampingku, berusaha mencairkan suasana. Senyumnya tetap hangat, seolah tak terusik.

Aku hanya mengangguk kecil. "Iya... enak. Hangat banget."

Revan tersenyum puas, seakan lega karena aku mau menjawab. Tapi sebelum aku bisa menambahkan apa pun, Layla yang sejak tadi sibuk mengunyah keripik, tiba-tiba menghentikan gerakannya.

"Eh, itu kan Pak Althaf?" ujarnya cukup keras sambil menunjuk dengan dagu ke arah bangku panjang. "Kok sendirian sih duduknya? Kasian banget, kayak nggak ada temennya."

Aku langsung kaget, hampir tersedak. "Lay, biarin aja. Beliau kan... biasa gitu."

Tapi Layla sudah bangkit, wajahnya penuh semangat khas dirinya.

"Pak! Pak Althaf!" serunya heboh sambil melambaikan tangan, membuat beberapa orang di sekitar ikut melirik. "Kenapa duduk sendirian? Mending gabung sama kita aja. Di meja ada kursi kosong, lho."

Aku menahan napas, jantungku berdebar kacau. Astaga, Layla... kenapa harus ngajak Althaf gabung sih?

1
+62
lovyu.. ❤️
+62
tidak ada pelakor disini.. 🌚
+62
lagi 🌚
+62
jangan ada konflik lagi 🥺
+62
jangan ada konflik lagi ya 🥺
+62
apdet banyak2 🦖
+62
semoga ga ada perselingkuhan
+62: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!