Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah Menjadi Penengah
Bu Dewi langsung menghampiri karyawannya dan menyuruhnya untuk menutup tokonya segera.
Setelah toko tutup, Irwan, Lisa, dan juga Bu Dewi langsung masuk ke dalam mobil. Irwan langsung melajukan mobilnya untuk sampai di rumahnya yang tidak terlalu jauh dari toko.
Setelah sampai di rumah Bu Dewi, mereka pun akhirnya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Ma, terus terang aja aku belum bisa membantu untuk memulihkan usaha toko bangunan Mama untuk sekarang. Mama tau kan kalau aku belum bisa menemukan Aira, jadi aku juga nggak akan mungkin bisa mempertahankan kursi CEO di Alexander Group, Ma. Aku juga sedang mencari tempat usaha baru agar nanti setelah di pecat aku juga nggak menganggur," ucap Irwan.
"Terus gimana dengan Mama, Irwan? Sayang banget kalau toko itu kalau nggak kembali dibuka. Kenapa kamu nggak teruskan aja toko bangunan itu?" tanya Irwan.
"Nggak bisa, Ma. Toko itu udah menjadi milik Mama, aku nggak ingin mengambilnya apalagi sampai mengclaim milikku aku akan mencoba usaha baru dan sekarang aku berencana untuk mencari tempatnya," ucap Irwan.
"Apa nggak bisa kamu pinjamkan Mama 100 juta aja? Sesuai dengan kerugian yang Mama alami Irwan? Nanti kalau toko udah beroperasi, Mama akan mengembalikannya lagi padamu," ucap Bu Dewi.
"Maaf Ma, uang yang aku pegang juga nggak banyak apalagi Lisa juga sekarang sedang hamil. Butuh biaya untuk melahirkan nanti," jawab Irwan.
"Apa? Hamil?" tanya Bu Dewi dengan kaget.
"Iya Ma, maafkan aku karena aku baru bilang sama Mama," ucap Irwan dengan lirih karena keceplosan.
"Kalau Mama nggak punya pemasukan, kamu juga harus tetap tanggung jawab buat nafkahi Mama Irwan," ucap Bu Dewi.
Mendengar ucapan mertuanya membuat Lisa langsung muram seketika. Apa jadinya nanti kalau Irwan juga harus menafkahi mertuanya pasti uang yang diberikan Irwan padanya juga akan berkurang.
"Pendapatan Mas Irwan nggak seberapa Ma, masa iya Mama tega buat numpang sama Mas Irwan. Belum tentu juga Mas Irwan bisa nafkahi aku dengan cukup," jawab Lisa dengan cepat.
Bu Dewi langsung menoleh pada Lisa dengan kesal. "Apa maksud kamu berkata begitu hah? Kamu pikir, Irwan bisa sebesar ini gara-gara jasa siapa? Menyesal Mama merestui Irwan menikah dengan wanita matre seperti kamu."
"Ya terserah Mama mau bilang aku apa. Lagian di jaman sekarang, nggak ada tuh wanita yang nggak matre. Semua butuh uang, Ma. Jadi daripada Mama menunggu Mas Irwan, lebih baik Mama juga cari kerja. Salah sendiri Mama teledor, udah dikasih usah enak malah ceroboh," ucap Lisa yang juga ikut terpancing emosi dengan ucapan Bu Dewi.
"Ternyata mulut kamu seperti cabe, Lisa. Kamu hanya cantik di wajah aja, padahal selama ini Aira nggak pernah berkata seperti itu sama Mama," jawab Bu Dewi sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudah, sudah. Kenapa kalian malah bertengkar seperti ini sih. Lisa, kamu nggak pantas bilang seperti itu sama Mama. Apa yang Mama katakan benar, kalau Mama masih tanggung jawabku. Tapi Mama juga harus ngerti, kalau sekarang aku juga dalam keadaan sulit. Aku nggak bisa memberikan uang banyak seperti dulu," ucap Irwan yang menengahi percekcokan keduanya.
"Tapi Mas, untuk aku belanja aja kamu nggak ada kasih uang dan memintaku untuk hemat. Uang darimana lagi yang mau kamu kasih sama Mamamu? Harusnya istri dulu lho yang kamu cukupi," sanggah Lisa.
Wajah Bu Dewi sudah memerah karena kesal mendengar ucapan Lisa.
"Aku pasti akan bekerja keras untuk kalian berdua. Jadi sebaiknya kalian tidak saling berdebat," ucap Irwan.
Kepalanya rasanya ingin sekali pecah mendengar percekcokan yang tidak ada habisnya itu.
Lisa juga tidak lagi bicara walaupun hatinya sebenarnya merasa dongkol pada Irwan. Pasti jatah dia semakin berkurang.
"Ya udah, aku sama Lisa pamit dulu ya Ma. Mungkin besok aku akan kesini lagi," pamit Irwan.
"Baiklah Irwan. Maafin Mama yang udah ceroboh ya, Mama terlalu senang dan semangat mendengar orderan yang banyak," ucap Bu Dewi.
"Ya udah jangan Mama pikirkan lagi, toh udah terjadi juga. Untuk mencari pelakunya juga sulit karena nggak ada jejaknya. Doain aja semoga rezekiku di lancarkan agar bisa membuat keuangan kita bisa stabil lagi," ucap Irwan.
"Pasti, Nak. Mama pasti akan doain kamu," jawab Bu Dewi.
Lisa segera berdiri dari duduknya dan keluar dari rumah Bu Dewi lebih dulu tanpa pamit dan berbasa-basi lagi.
"Maafin sikap Lisa ya, Ma," ucap Irwan.
"Mama sama sekali nggak nyangka kalau sikapnya akan begitu sama Mama. Harusnya dari awal, kamu menyelidiki dulu sebelum asal menikahinya. Apalagi sampai hamil diluar nikah segala," gerutu Bu Dewi.
"Iya maaf, Ma. Waktu itu juga kan Mama yang nyuruh aku buat buru-buru menikahi Lisa. Jadi bukan sepenuhnya salah aku," ucap Irwan membela diri.
"Hah! Mama kan nggak tau kalau sikap dia kayak gitu," ucap Bu Dewi dengan cemberut.
"Ya sudahlah udah terlanjur juga. Mama istirahat aja, nanti kalau Mama sakit aku juga yang bakal lebih repot lagi nantinya."
"Ya udah kamu hati-hati di jalan. Mama nggak nganterin kamu ke depan ya. Males banget Mama harus melihat wajah istri kamu yang ketus itu," ucap Bu Dewi.
"Iya, Ma," jawab Irwan.
Irwan pun langsung melangkahkan kakinya pergi keluar rumah. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah Bu Dewi.
"Sayang nggak seharusnya kamu ngomong gitu sama Mama," ucap Irwan menegur Lisa.
"Selalu aja aku yang salah di mata kamu, Mas. Padahal apa yang aku bilang bener lho, kewajiban yang kamu yang paling utama itu mencukupi istri kamu. Bukannya selalu aja menuruti Mama kamu. Aku aja minta uang belanja hanya dikasih sedikit," jawab Lisa dengan kesal.
Irwan pun tak lagi bicara. Lisa memang sangat keras kepala dan selalu ingin menang sendiri tanpa mau mendengarkan nasehatnya.
Irwan terus melajukan mobilnya, menoleh ke samping kanan dan kiri untuk mencari ruko yang akan di kontrakan. Walaupun ia sendiri bingung juga mau usaha apa.
"Menurut kamu, sebaiknya kita buka usaha apa?" tanya Irwan setelah cukup lama diam.
"Terserah kamu. Yang penting bisa menghasilkan uang banyak," jawab Lisa karena ia juga tidak memiliki bakat apapun.
"Kalau cafe, pasti harus rekrut chef yang handal agar bisa terkenal," ucap Irwan.
Lisa menulikan telinganya dan melihat ke arah jalanan.
"Kalau sama Aira, pasti dia bakalan selalu antusias kalau aku ajak sharing. Aira juga sangat pintar masak. Bisa langsung meledak kalau membuka cafe atau toko kue buatannya," batin Irwan.
Irwan menggelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan Aira dalam ingatannya.
"Kamu susah begini juga gara-gara Aira, Irwan. Jadi nggak usah menganggapnya istri lagi. Buang aja semua kenangan kamu dengan Aira yang sangat tidak berguna itu!" batin Irwan lagi.
Hingga sore tiba, Irwan belum juga menemukan tempat usaha yang sesuai dengan keinginannya itu.
"Mending pulang aja deh Mas, daripada muter-muter terus nggak jelas kayak begini. Capek tau, jadi nyesel aku mutusin buat ikut kamu tadi," ucap Lisa yang sudah lelah setelah seharian muter-muter.
Irwan yang mendengarnya langsung membelokan mobilnya untuk pulang, apa yang istrinya katakan itu memang benar. Ia sendiri juga lelah dan bingung harus menjalankan usaha apa karena tidak punya pengalaman.
"Dari kamu pusing-pusing buat usaha yang belum pasti bakalan dapat untung, mending nanti setelah kamu dipecat, kamu bisa nyari kerjaan di perusahaan lain," usul Lisa.
Namun Irwan memilih tidak menjawab ucapan istrinya. Ia memilih untuk fokus melajukan mobilnya.
Lisa mengerucutkan bibirnya sebal karena Irwan malah di cuekin.
"Pokoknya aku tidak akan membiarkan kamu memberikan uang yang banyak pada Mamamu, Mas. Semuanya harus jadi milikku! Enak aja Mamamu itu ikut menikmatinya," gerutu Lisa dalam hati.
mo ngomong apa itu c lisa