Desi dan Dita, adalah saudara. dan mereka berdua akan menikah di hari yang sama. dan itu semua atas permintaan Dita.
namun, di saat hari pernikahan, pasangan mereka berdua malah diganti oleh kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua calon suami Desi.
sehingga Desi harus pasrah menikah dengan calon suami adiknya yang katanya miskin dan yatim piatu.
dia hanya memiliki satu rumah di seberang jalan, rumah mereka. mereka menikah, karena ulah Dita. tapi, Dita malah bermain licik, dan menuduh Desi bersama dengan kedua orang tuanya, kalau dia bukan seorang gadis lagi. Karena itulah, calon suami Desi beserta keluarganya mau mengganti pengantin wanita.
kalau bagaimanakah kehidupan Desi setelah menikah dengan mantan calon suami adiknya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. pewaris satu-satunya
Karena Devan dan Desi sudah pergi, akhirnya tuan jaksa dan nyonya putri pun ikut pergi meninggalkan tempat itu. Tapi, nanti mereka akan kembali lagi.
dan begitu pula dengan Devan dan Desi. Sepanjang perjalanan, Devan terus setia dalam keterdiamannya itu. Dan Desi yang melihat hal itu, juga memilih untuk diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya mereka di kebun anggur, mereka berdua turun dengan teratur. Dan Devan masih setia dengan keterdiamannya.
Mereka semua pun langsung bekerja. Namun sepanjang hari, Devan merasa tidak tenang. Dia terus terpikir dengan orang yang mengaku keluarganya itu. Akhirnya dia menepi dan mendudukkan tubuhnya di bawah pohon yang rindang. Dan Desi yang melihat hal itu langsung ikut berjalan, dan mendekati suaminya itu sambil membawa beberapa buah anggur di keranjangnya.
Dan ia juga dengan cepat mendudukan tubuhnya di samping sang suami.
"minum dulu mas.." ujarnya sambil membukakan tutup botol minum, dan menyerahkannya kepada suaminya. Devan pun tak punya pilihan lain, selain menerima uluran tangan istrinya yang memberikannya minuman.
"makasih Sayang.." ujarnya.
"iya mas, sama-sama. Jadi, apakah mas mau cerita apa yang mas rasakan saat ini ?" tanya Desi yang tentunya langsung memberanikan dirinya untuk bertanya. Terlihat, Devan menghela nafasnya.
"huf!!.. Maaf sayang, sudah membuat kamu tidak nyaman. Aku hanya tidak habis pikir saja. Hidup ku selama ini sudah bahagia dan baik-baik saja, tapi tiba-tiba ada yang datang dan mengaku sebagai keluargaku. aku tentu saja bingung ingin bereaksi seperti apa. jujur saja, Saya tidak merasakan perasaan bahagia dan antusias sedikit pun. justru saya merasa, ayah saya selama ini tidak pernah menceritakan tentang kedua orang tuanya, karena mungkin merasa tidak penting lagi, atau tidak ada manfaatnya untuk menceritakan tentang keberadaan mereka. karena aku rasa, kehidupan ayah yang miskin sekarang ini pasti ada hubungannya dengan mereka." ujar Devan bercerita dengan apa yang telah terlintas di pikirannya.
Desi terdiam mendengar penuturan suaminya. sebelum menikah dengan suaminya, hidup desi penuh dengan masalah. bahkan masalah itu datang dari orang tuanya sendiri.
"mm.. Aku juga tidak tau harus bereaksi seperti apa mas. Melihat kamu tak memiliki rasa antusias saat bertemu dengan mereka, membuat ku sedikit cemas. Jujur saja, aku sangat tidak nyaman melihat reaksi tuan itu. aku merasa, kalau dia tidak menyukai ku." ucapnya dengan jujur. Tapi, kata-kata itu terkesan tidak menyalahkan. kata-kata itu keluar hanya sekedar rasa cemasnya saja.
"mm.. Kamu tidak perlu khawatir sayang. Mereka tidak akan mungkin bisa mengusik kita. Aku akan melindungi mu." ujarnya. Desi yang mendengar penuturan suaminya itu langsung tersenyum senang.
"tidak masalah mas. Aku juga hanya perlu mas di samping aku.. Dan aku tidak menginginkan apapun lagi selain mas." Devan pun tersenyum. Apalagi sang istri tampak memeluk lengannya dengan nyaman.
"dasar kamu ya.. kamu buat mas tambah cinta saja." ucap Devan dengan gemas karena kelakuan istrinya.
"ya.. Semuanya hanya untuk mas.." ujarnya lagi yang tentunya semakin membuat senyum Devan makin lebar. Dan akhirnya, perasaan Devan kembali menjadi tenang. dia juga sudah tau harus bereaksi seperti apa. Pokoknya, dia tidak akan membuat keberadaan orang-orang yang tiba-tiba mengaku keluarga itu, menghancurkan kehidupan bahagianya.
*******
Sementara itu, di posisi tuan jaksa dan nyonya putri, mereka tiba di kediaman mereka dengan lesuh. harapan mereka sepertinya sia-sia. Mereka berharap kalau Devan itu akan bahagia bertemu dengan mereka. Nyatanya, mereka sedikit kecewa melihat responnya.
nyonya putri mendudukan tubuhnya diatas sofa dengan sedikit pasrah.
"sepertinya, Devan tidak senang bertemu dengan kita.. dari sorot matanya, terlihat jelas kalau dia seperti tidak ingin mengenal kita. Apakah ini ada hubungannya dengan kita yang tak pernah datang menjenguk mereka ? Dan juga.." gumam Nyonya Putri. rasanya, Nyonya Putri tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
"sudahlah.. tidak usah banyak berpikir." tuturnya. jujur saja, pikiran Tuan jaksa saat ini sedang kalut. Dia sedang mencari cara, untuk bisa meluluhkan Devan. karena devan adalah satu-satunya pewaris keluarga mereka.
"hah!! Ya sudah kalau begitu." akhirnya mereka memilih untuk sibuk dengan kegiatan masing-masing.
******
sementara Jeremy, yang merupakan paman dari Devan tampak duduk dengan gelisah di meja kerjanya. dia tentu saja memikirkan keponakannya Devan, yang baru diketahuinya beberapa hari yang lalu.
Jeremy dan Liora sendiri, mereka tidak memiliki keturunan. Liora memang tempat hamil dua kali, tapi mereka selalu gagal dan anak yang dikandungnya itu keguguran saat usia kandungan mencapai 3 bulan. dan saat ini, Liora sudah dinyatakan tidak bisa mengandung. begitu pula dengan Jeremy, yang sudah berubah menjadi mandul akibat kecelakaan ringan dan kecil yang dialaminya.
tapi karena, benturan di bagian produksinya sangat keras, sehingga membuat beberapa bagian itu tertutupi. banyak syarat-syaratnya yang tidak lagi berfungsi, sehingga mengurangi daya kerja dari benda tersebut.
"Devan adalah satu-satunya harapan untuk mengambil alih perusahaan. kalau tidak, tidak akan ada yang akan mengambil dan memimpin perusahaan ini." Gumamnya.
dia tentu tidak merasa iri atau merasa kalau harus dirinya yang berkuasa. lagi pula mereka sudah memiliki bagiannya masing-masing.
"papa sepertinya akan bergerak lambat. Aku khawatir dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dengan Kak rama dan juga kakak ipar. dari gelagat papa saja, aku sudah bisa melihat rencana itu." ucapnya. Jeremy berbicara pada dirinya sendiri.
"tidak boleh!! papa tidak boleh membuat Devan tersinggung. karena kalau dilihat-lihat, Devan memiliki badan yang kekar, dan sesuai dengan petunjuk yang didapatkan, dia adalah lulusan sarjana komunikasi. di mana, kemampuan debatnya berada di atas rata-rata. Mmm.. kalau sudah seperti ini, semuanya bisa diatur. tinggal mendatangkan guru bisnis saja, dia bisa belajar sambil bekerja." ucapnya sambil mengganggu-anggukkan kepalanya.
saat dirinya sedang melamun memikirkan keponakan satu-satunya, juga merupakan satu-satunya pewaris keluarga mereka, tiba-tiba ada yang masuk ke ruangannya.
Ceklek
mendengar suara pintu yang ditutup itu, Jeremy dengan cepat menoleh ke arah pintu. dan dia seketika tercengang, ketika melihat keberadaan istrinya di sana.
"loh.. kok kamu ke sini sayang..?" tanya Jeremy.
"Iya Mas.. Aku baru saja pulang dari salon. tapi, Mas kok dari tadi diam aja dan tidak merespon saat aku mengetuk pintu. apa yang Mas pikirkan ?" tanya Liora sambil meletakkan tasnya dan juga duduk di kursi sofa yang ada di sana.
karena keberadaan istrinya juga di dalam ruangan itu, Jeremy bangkit dari posisi duduknya dan kemudian berpindah kursi di sofa dekat dengan istrinya.
"tidak apa-apa sayang.. aku hanya memikirkan tentang Devan saja." ucapnya dengan jujur. Liora yang mendengar itu menoleh ke arah suaminya.
Liora memang tipikal perempuan yang sangat setia, dan bahkan tak pernah mempermasalahkan kondisi dan keadaan mereka sekarang yang tidak bisa memiliki keturunan.
"apalagi yang harus dipikirkan Mas..? segera temui Devan. dan biarkan dia tinggal bersama dengan kita." ucap Liora. Jeremy yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
"tidak sayang.. akan sangat sulit untuk mengajaknya. Mas masih harus menyusun rencana, agar Devan bisa setuju dengan mudah." Liora yang mendengar analisa dari sang suami juga ikut berpikir. sepertinya, suaminya sudah menyelidiki latar belakang keponakannya itu.