Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34. Iri bilang bos!
Diary of Jane 34.
Raya: Gue mo'on maap yak? Gue gak bermaksud bikin muka lo jadi ambyar gitu, hehe.
Jane: Udahlah gak apa-apa, nasi udah jadi gosong pun.
Raya: Jadi bubur keylees..
Jane: Bubur mah masih enak di makan, kalo gosong kagak enak. Kayak gitu juga muka gue yang lo buat amburadul kecelakaan.
Raya: Iya, gue kan udah minta maaf tadi tuh?
Jane: Permintaan maaf anda saya terima. Puas?
Raya: Ya elah, gak usah pake bahasa baku juga kali, gue ngerti kok.
Jane: Nah, lo tau pake nanya. Nyinyir itu namanya.
Raya: Ya, itu kan sebagai pertanyaan buat memastikan bahwa sahabat gue sejak orok ini gak marah lagi sama gue.
Jane: Capek gue ngetik, gue telpon ya?
Raya: Oke bos qu.
Jane menekan tombol hubungi kemudian mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Woaaaah! Semangat banget lo nelpon gue?! Rindu ya sama gue?!" jerit Raya dari balik telepon.
"Jangan rindu, rindu itu berat, lo gak akan kuat, buang aja rindunya!" sambung Raya masih berteriak, bahkan Jane tidak diberi kesempatan untuk mengatakan hallo dan semacamnya.
Budeg gue astaga, "Woy! Kalo kuping gue budeg terus gak bisa denger, lo mau ganti rugi?"
"Mau lah, noh kuping gajah banyak di toples."
"Itu kue maemunah!!"
"Renyah, biar bisa gue gigit kuping lo pas gue gak ada duit jajan, manis kuping gajah tau."
"Nye, nye, nye." Jane memutus telpon secara sepihak kemudian memasukkan ponselnya kedalam tas dengan kesal.
Kuping gue mau digantiin pake kue kuping gajah, enak banget, ntar di grogoti semut abis dong. Cibir Jane sesaat setelah keluar dari mall.
"Eh?!" demi apapun Jane kaget karena tiba-tiba dia di menerima sebuah pemandangan, cewek dan cowok berpelukan.
"Uwuphobia gue semakin akut." Sesak banget di dada Jane melihat ke uwuan lagi dan lagi menerpa matanya. Ia hanya memijat pelipis kemjdian berjalan memutar agar tidak jadi nyamuk lewat.
Tadi Arka dan Jeara, yang sudah jadi sugesti di pikiran Jane jika keduanya adalah si tokoh utama, kemudian ini, gak tau anak siapa dan anak mana, yang pasti Jane nyesek liatnya.
📝📝📝
It's time buat menyingkir.
Skenarionya gue bukan tokoh utama, melainkan pemeran pembantu yang terlalu mencolok.
Biarkan mereka bersatu, kemudian jadi romeo and Juliet versi Indonesia.
Gue jadi kurcaci aja yang ada di film snow white, yang idungnya paling gede.
📝📝📝
Ya, Jane akhirnya pulang dan merebahkan diri, ia merasakan pundaknya masih pegal karena Ares yang menantangnya menonton film horor malah tertidur di pundaknya. Pulas banget malah.
Tantangan itu gak ada yang menang maupun kalah, Jane gak ketakutan karena ikut tertidur pulas di samping Ares. Film horor yang membosankan menurutnya.
Sangat membosankan. Sampai mereka dibangunkan oleh Arka. Ada cemburu? Tidak, Jane cuma liat muka biasa Arka, jangankan marah-marah karena sahabatnya di tiduri oleh Ares, Arka cuma bilang, "Kalian kayak anak kucing."
Jane cuma cengengesan sampai ia merasakan kepalanya sakit terbentur sesuatu, "Bangun mak! Udah pagi woy! Lo gak sekolah ya?!"
"Mak, mek, mak, mek, nyokap lo bukan gue kali, pake manggil mamak segala. Mama! Johan sinting ma!" adu Jane keras sebelum ia menarik selimutnya yang sudah tergeletak di lantai kembali ke atas kasur kemudian menjejak pergi untuk membasuh semua tubuhnya.
"..." punya kakak kok gini amat sih? Ck—
***
Johan menatap tali sepatunya yang terlepas, "Ck," ia berjongkok kemudian mengikat tali sepatunya sekencang mungkin agar tidak terlepas lagi kemudian membuatnya celaka.
"..." ia mendongak saat melihat sebuah kaki yang berjalan mendekatinya. Cewek, cewek yang pernah datang kerumahnya untuk menjemput Jane katanya pergi jalan-jalan sih, tapi Johan langsung gak suka melihat cewek di depannya ini, walaupun ini baru kali kesekian pertemuan mereka.
"Hai Johan." Cewek itu membungkuk sopan, cuma cowok buta yang bilang cewek di depannya ini jelek karena Jeara itu cewek yang super manis di mata semua orang tapi enggak di mata Johan. Alasannya, Johan sendiri gak tau apa.
"Too." Balas Johan singkat.
"Lo cuek ya? Gak kayak Jane yang oeduli banget sama semua orang. Dia bahkan mau bantuin gue buat deketin Arka, baik banget ya kakak lo itu," senyum lagi.
Mau sombong apa pamer sih?
Johan memutar bola matanya kemudian mengambil ponselnya yang kebetulan berdering, "Iya, gue kesana sekarang, lo gak usah nelpon juga kali, gue gak bakal lari kok."
Jeara menatap horor Johan, mungkin ini kali pertamanya di cuekin sama cowok, gak di anggap keberadaannya. Tangannya mengepal erat sebelum ia menghembuskan nafas, berupaya mengendalikan emosinya saat melihat Arka baru turun dari mobil yang mengantar cowok itu.
"Hai Arka."
"Yoi, gue duluan, gue telat nih, bye Jeara." Arka begitu saja berlari melewati Jeara yang langsung suram.
"Iya, bye," tapi tetap saja Jeara mengulum senyum mengiringi kepergian Arka.
"Arkaaaa!"
Jeara menoleh karena mengenali suara itu. Jane.
"Lo abis jatuhin ini di sana, fiuuhh, bentar gue nafas dulu," Jane menyodorkan sebuah bola kasti pada Arka.
"Kebetulan banget lo, gue tadi mau cari lo. Ikut gue sekarang." Arka menarik tangan Jane bersamanya.
"Eh?!"
Oh, jadi lo buru-buru mau cari Jane....
Jane... Jane... Jane... "Apa istimewanya sih tuh cewek?!" umpat Jeara kesal.
•
•
Lo kenapa bangs*t!
Woy sadar woy! Hati-hati, awas laler masuk mulut lo?!
Jane menepis malaikat jahatnya dan tak henti-hentinya ternganga lebar melihat apa yang ada di depannya.
BEST QUOTE THIS YEAR
by. Jane Radista Belva Adiya.
"Huwaaaaaah! Gue gak percaya!!!" jeritnya kacau, ia traveling mondar-mandir melihat segala sisi papan pengumuman itu.
"Wih! Gembel gue dapat penghargaan best quote nih."
Rasanya kayak habis diterbangkan lalu dihempaskan ke bumi. Mulut Ares itu sebenarnya barusan memuji atau menyindir, atau gimana yah, Jane juga gak ngerti, "Ngejek apa ngejek tuh?"
"Ngolok deh."
Parah-parah, kalo iri bilang bos, "Lebih baik lo diem deh Res," cibir Jane datar dan tak sadar mereka berdua sudah jadi tontonan di depan papan pengumuman.
"Kenapa? Gak suka lo?"
Gak, gue gak sukanya tuh paket banget, "Bukan gitu, lo tau kan, diem itu emas, jadi lebih baik lo diem deh, dapat emas halu lo."
"Selamat ya Jane."
Mode mengalihkan pembicaraan, on check.
Jane menatap Ares datar, "Iya, terimakasih pujianmu mengubah hidupku."
"Cieee, ekhem,"
Plis deh Raya, sekarang giliran Raya yang mendapat tatapan datar dari Jane.
"Congratulation Jane, hwaiting terus ya."
Alihin aja terus pembicaraan, gue tunggu lo disimpang.
"..." bahagia banget ya lo... Jeara menatap sinis Jane dari kejauhan, tepat di seberang keramaian papan pengumuman. Jane mendapat perhatian dari dua cowok yang juga jadi sahabatnya dan salah satunya adalah cowok yang ia suka.
Gak apa-apa, hari ini aja kok.
Bersambung...🙄
Seneng banget aku bikin beberapa orang protes🙄 Jodoh Jane maunya tuh siapa? dirimu kah?🙄
Like yoo.
Don't be silent reader bro😎
Papay😆
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗