Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Kyra terbangun dari tidurnya. Hangat itulah yang ia rasakan. Setelah membuka matanya hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang seseorang. Bagas memeluknya saat tidur.Ia mencoba bergerak, tetapi sebuah lengan berat melingkari pinggangnya.
Posisi kyra sekarang berada di tengah-tengah antara Aldian dan Bagas. Entah bagaimana bisa kyra berada di sini yang ia ingat adalah semalam Bagas menyandarkan kepalanya pada bahunya.
Kya mendongak mengamati wajah Bagas yang tenang, pahatan wajah Bagas yang sempurna. Alis tebal, hidung mancung, dan rahang tegas yang di tumbuhi bulu halus.
Kyra mengangkat tangannya perlahan, takut membangunkan pria itu. Jari-jarinya yang halus dengan lembut menyentuh rahang tegas Bagas, lalu naik menyentuh pipinya yang hangat.
"Kenapa... kenapa pesonamu selalu meruntuhkan pendirianku, Bagas?" bisik Kyra
Saat jarinya membelai alis Bagas, Bagas tiba-tiba bergerak. Matanya yang tajam dan berwarna cokelat gelap perlahan terbuka.
Kyra buru-buru ingin menarik tangannya tapi Bagas lebih cepat.
Tangan besar Bagas menangkap pergelangan tangan Kyra, menggenggamnya lembut.
"Selamat pagi, Sayang," Bagas berbisik, suaranya dalam dan serak khas bangun tidur.
"Jangan pergi dulu. Pagi ini dingin banget," Bagas menahan Kyra, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Ia mendekatkan wajahnya.
Bagas mengangkat tangan kanannya, menyentuh lembut pipi Kyra yang merona. Ia memiringkan dagunya sedikit, lalu dengan gerakan lambat Bagas mengecup tepat pada bibir Kyra. Hanya sebuah kecupan singkat
"morning kis sayang" ucap Bagas sambil memamerkan senyumnya.
Kyra merasakan jantungnya berdebar kencang setelah kecupan singkat itu. Sensasi bibir Bagas masih terasa hangat di bibirnya. Ia berusaha menarik tangannya lagi.
"Bagas, aku harus bangun," ujar Kyra, suaranya kini sedikit serak dan gugup.
"Mau ke mana?" tanya Bagas, nada suaranya terdengar malas dan manja. Ia melepaskan tangan Kyra, tetapi lengan di pinggang Kyra malah semakin mengerat.
Bagas menarik Kyra lebih dekat, Bagas membenamkan wajahnya di rambut Kyra, menghirup aroma sabunnya.
"Lima menit lagi. Aku masih kangen. Rasanya damai sekali tidur seperti ini," bisik Bagas. "Kau tahu, ini adalah tidur nyenyak pertamaku setelah lima tahun."
Kyra mendesah. "Tapi, Bagas..."
Bagas tidak membiarkannya bicara. Ia mulai memainkan rambut Kyra, mengelusnya perlahan. "Sebentar saja, Sayang. Aku janji."
" Kau tahu tidak, kenapa aku bisa tidur nyenyak di sini, padahal ranjangku ini sangat empuk dan mahal?"
Kyra menggeleng pelan, lehernya merinding karena sentuhan Bagas.
"Karena pagi ini bantalnya bertambah sangat empuk," jawab Bagas.
"Bantal? Sejak kapan kamu tidur pakai bantal keras, Bagas?" protes Kyra.
Bagas tertawa pelan, suaranya menggetarkan dada Kyra. "Bantalnya bukan bantal biasa, Sayang. Bantal ini wangi sabun lemon, suka marah, dan bisa bergerak-gerak. Nyaman sekali untuk dipeluk."
Kyra tahu Bagas sedang menggombalinya. Ia memutar mata. "Aku bukan bantalmu, Bagas."
"Tentu saja bukan," balas Bagas, lalu ia mencium lembut puncak kepala Kyra.
"Kau adalah rumah yang hilang. Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku janji. Tapi beri aku satu menit lagi untuk menikmati pagi ini."
Kyra hanya bisa pasrah, merasakan kehangatan dan ketulusan dalam pelukan Bagas. Ia hanya bisa berdoa agar Aldian tidak bangun dalam waktu dekat.
Sebetulnya Kyra juga menikmati paginya ini. Hal lama yang sudah tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Pelukan Bagas ini sangat nyaman untuk di lepaskan.
Tapi sebelum itu tiba-tiba Aldian bergerak. Ia menggeliat kecil, lalu matanya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah bundanya dan Bagas.
"Bunda?" sapa Aldian, suaranya khas bangun tidur. merentangkan tangannya ke arah Kyra.
Melihat itu Kyra dengan sigap melepaskan pelukan Bagas dan memberi jarak antara mereka. Membuat Bagas merasa jengkel. Baru kali ini dia merasa tersaingi oleh Aldian yang dengan mudah merebut perhatiannya kyra.
"Sudah bangun sayang" ucap kyra lalu membawa Aldian kedalam pelukannya.
"sudah sayang" bukan Aldian yang menjawab tapi Bagas di belakangnya. Bagas juga ikut memeluk kyra dari belakang.
.."Selamat pagi om Bagas" sapa Aldian menyembulkan kepalanya dari balik kyra.
Sebenarnya bagaimana ingin protes dengan panggilan Aldian kepadanya. Tapi tunggu dulu, tidak sekarang mungkin nanti. "Pagi juga sayang, gimana tidurnya semalam. Nyenyak?"
"nyenyak banget om, kasurnya empuk banget "
Tangan Bagas terulur mengusap kepala anaknya itu. "Aldian mau tahu ngga siapa sebenarnya ayah Aldian"
Kyra langsung terkejut mendengarnya. "Bagas" tegur kyra.
"sstt.. Udah aaku rasa ini moment yang paling pas. Aldian wajib tahu siapa ayahnya."
Kyra hanya bisa diam. Dia juga tidak bisa menyembunyikan ini semua. dan Bagas punya hal atas itu.
Bagas menatap Aldian dengan hati-hati.
“Aldian… kamu tahu nggak kalau Om sebenarnya ayah kamu? Ayah yang selama ini kamu tunggu?”
Ia siap dengan segala kemungkinan amarah, tangisan, atau penolakan.
Namun Aldian tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali. Sebaliknya, wajah kecilnya tampak muram.
“Sebenernya Aldian sudah tahu kalau Om Bagas itu ayahku.”
Kyra membelalakkan mata. “Kamu tahu dari mana, Sayang?”
Aldian menunduk. “Waktu itu Aldian lihat bunda nangis sambil lihat foto Om. Terus waktu Om datang ke rumah… Aldian seneng banget. Aldian pikir… ayah udah pulang.”Suara Aldian bergetar.
“Tapi bunda bilang Aldian harus panggil ‘Om’, jadi Aldian panggil Om aja biar bunda nggak sedih lagi.”
Kyra yang mendengar itu langsung duduk dan memeluk putranya itu. Air matanya mengalir begitu saja.
"Maafin bunda yaa, bunda yang salah" ucap kyra mengelus kepala Aldian dengan air mata yang terus mengalir.
Sedangkan Bagas juga merasakan sesak yang begitu dalam di dalam hatinya. "Sekarang Aldian masih sedih ngga, sudah tahu jika om itu ayahnya Aldian."
Kyra melepas pelukannya dan menatap putranya itu, menunggu jawabannya.
Aldian menggeleng pelan. "Aku lihat bunda udah ngga sedih lagi tiap ketemu om, jadi aku senang banget. Jadi sekarang aku boleh manggil om Bagas ayah kan Bun?."
Kyra mengguk pelan sebagai jawabannya. Melihat itu Aldian langsung tersenyum bahagia.
"Aku boleh peluk.....ayah ngaa" ucap Aldian pelan mantap Bagas dengan penuh harap.
Bagas langsung merentangkan tangannya. " sini sayang, ayah juga pengen peluk Aldian" ucap Bagas sedikit kaku saat menyebut dirinya dengan panggilan ayah.
Aldian langsung menghambur kedalam pelukannya ayahnya itu.
Bagas memeluk Aldian dengan begitu erat. "Makasih.....maksih sudah terima ayah. Ayah juga minta maaf buat Aldian sedih"
Kyra yang melihat sangat terharu baru pertama ini dia melihat putranya itu begitu bahagia.
Aldian melerai pelukannya dan melihat ke arah bundanya. "Bunda sini... Peluk juga ayah"
Kyra spontan tertegun. Pipinya memanas. Hatinya berdebar. Bagas sendiri langsung menoleh dengan ekspresi yang jelas berharap Kyra mendekat.
“Ayo Bun…” Aldian menepuk pelan lengan Bagas.
“Kita peluk bertiga. Kaya keluarga beneran.”
Kyra menggigit bibir bawahnya, menahan haru.
Ia perlahan bergerak mendekat…dan Bagas otomatis merentangkan satu tangan untuk merengkuhnya juga.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kyra merasa rumahnya lengkap.
Dan Bagas… memejamkan mata erat-erat, menahan rasa syukur dan penyesalan yang bercampur menjadi satu.