Amelia menikah dengan seorang laki-laki yang di cintainya, namun laki-laki tersebut justru sangat membencinya, setiap hari Amelia selalu di perlakukan kasar, bahkan ia sering di tuduh sebagai pembunuh kekasih suaminya.
Adrian Aditama laki-laki tampan yang tak lain adalah suami Amelia, ia sangat membenci gadis itu, dan ia selalu menyalahkan Amelia sebagai pembunuh kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka? simak terus ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah, dan berikan dukungan kalian ya dengan cara vote sebanyak_banyaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadisti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.Takut kehilanganmu
Happy Reading.
Sudah satu minggu Adrian berada di kota Surabaya, untuk mengurus anak perusahaan milik ayahnya, yang kelak akan menjadi milik Adrian.
Adrian sangat kesal, karena ayahnya masih saja menyuruhnya untuk tetap di kota Surabaya, padahal masalah perusahaannya sudah selesai, tetapi ayahnya tetap bersih kukuh agar Adrian tidak meninggalkan kota Surabaya.
Malam terasa hampa, langit begitu gelap, rintik hujan turun menyirami kota Surabaya, Adrian tersenyum kecut, memandangi kota Surabaya, tetapi pikiran Adrian saat ini tidak berada disitu.
Adrian sesekali meminum minuman yang ada di tangannya, matanya menerawang menembus rintikan hujan yang masih setia menemani ke hampaan nya.
"Amelia aku sangat merindukanmu, apakah kamu baik_baik saja di sana? Tunggu lah aku, aku akan segera menjemputmu sayang, dan kita akan memulai kehidupan kita yang baru, aku berjanji, aku akan membuatmu bahagia."
"Aku mencintaimu Amelia, sangat_sangat mencintaimu, aku harap kamu bisa memaafkan aku." Lirih Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari rintikan hujan.
Adrian berjalan menuju tempat tidurnya, kemudian ia menaruh gelasnya di atas nakas, lalu ia pun merogoh ponsel yang berada di dalam celana bahannya.
Adrian mencari nomor ayahnya, ia berniat untuk meminta izin agar dirinya bisa pergi secepatnya ke Thailand.
"Halo ada apa Adrian?" Tanya pak Anggara di seberang telpon sana.
"Pah, urusan disini sudah kelar, Adrian izin pulang ya pah."
"Tidak bisa Adrian, kamu harus tetap mengawasi mereka, nanti setelah papa selesai dengan urusan papa yang disini, papa akan segera ke sana, bersabarlah."
"Tapi pah, ini sudah satu minggu, dan masalah tentang keuangan yang disini sudah Adrian selesaikan, Adrian juga sudah memecat orang_orang yang berbuat curang dan menggelapkan uang perusahaan kita, jadi semuanya sudah tidak ada masalah lagi pah." Ujar Adrian dengan sedikit kesal, karena papa nya sengaja menunda rencananya.
"Meskipun begitu, kamu harus tetap mengawasi mereka, kelak perusahaan itu juga akan menjadi milikmu."
"Kalau soal itu papa tenang saja, Adrian sudah mempunyai orang kepercayaan disini, dan Adrian yakin perusahaan ini akan baik_baik saja, walaupun Adrian tidak ada disini, lagian Adrian juga harus mengurus perusahaan yang di Jakarta pah."
"Ada Daniel di Jakarta, kamu di sana dulu, tunggu sampai papa pulang ke Indonesia. Mengerti." Ujar pak Anggara dengan tegas, setelah itu, pak Anggara pun memutuskan panggilannya, sementara Adrian yang akan mengeluarkan kata_katanya pun langsung menatap kesal layar ponselnya.
"Apa_apaan sih papa, main matiin aja, argh kalau kaya gini kapan gw bisa bertemu dengan Amelia, bukankah papa punya bawahan yang hebat dan setia? Tapi kenapa papa malah menyuruh gw untuk mengurus perusahaan yang disini? Ah papa pasti sengaja."
"Tapi, papa tidak tau dengan rencana ku? Jadi sebenarnya apa mau papa? Argh sangat menyebalkan." Gerutu Adrian sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
Sementara itu di tempat lain, ayahnya tengah menyunggingkan senyumannya, ia sebenarnya sudah tau, bahwa anaknya berencana untuk membawa Amelia kembali, maka dari itu, pak Anggara sengaja menyuruh anaknya untuk mengurus perusahaan yang berada di kota Surabaya.
"Adrian, papa ingin lihat seberapa besar cintamu untuk Amelia, dan sampai mana kamu akan bertahan dengan penderitaan mu selama ini, maafkan papa Adrian, papa tidak bisa melancarkan rencana mu, dan papa harap kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat Amelia semakin membencimu." Ujar pak Anggara berbicara sendiri.
***
Vino dan Amelia sudah kembali ke apartemennya, raut wajah mereka terlihat begitu bahagia.
"Apa kamu sangat bahagia sayang?" Tanya Vino dengan lembut, setelah mereka duduk di atas sofa.
"Tentu honey, aku sangat bahagia sekali."
"Hmm bagaimana kalau besok kita jalan_jalan lagi, masih banyak tempat wisata yang belum kita datangi, apa kamu mau?"
"Tidak, aku tidak ingin membuatmu lelah kamu harus banyak istirahat ok."
"Amel aku tidak pernah lelah untuk menemanimu, justru aku sangat bahagia sekali, karena sebelum aku pergi, aku bisa menemani perempuan yang paling aku cintai ini."
"Vino, kamu tidak akan pergi kemana pun ok, kamu akan selalu bersamaku, menemaniku setiap waktu, menemaniku hingga tua nanti, jadi berhentilah berbicara seperti itu." Ujar Amelia yang mulai merasakan sesak di dadanya.
Amelia sangat tau, bahwa Vino memang akan meninggalkannya, tetapi Amelia selalu meyakinkan dirinya, bahwa Vino tidak akan meninggalkan dirinya, Vino akan selalu bersamanya, Vino akan selalu menemaninya sampai tua nanti.
"Ok ok, jangan pasang wajah seperti itu sayang, kamu sangat jelek." Balas Vino sambil mencubit pipi Amelia dengan pelan.
"Berjanjilah, untuk tidak meninggalkan diriku."
"Baiklah, aku berjanji."
"Jika kamu meninggalkanku, aku tidak akan memaafkanmu."
Vino terdiam, ia menatap lekat wajah cantik Amelia, kemudian ia berkata.
"Sayang, hidup dan mati hanya Tuhan yang tau, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, jika kelak Tuhan mengambil nyawaku, aku mohon kepadamu sayang, maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, atau pun masa sekarang, ikhlaskan aku pergi, agar aku bisa tenang meninggalkanmu di dunia ini."
Mendengar ucapan Vino, Amelia seketika menangis, ia tidak sanggup untuk membalas ucapan laki_laki yang kini tengah menggenggam tangannya dengan erat sambil menatap wajahnya demgan dalam.
"Jangan menangis, aku masih ada disini." Ujar Vino dengan lembut, sambil menghapus air mata yang jatuh di membasahi wajah cantik Amelia.
Rasa sakit tiba_tiba muncul, sehingga membuat wajah Vino memucat, sementara tangannya terasa dingin dan berkeringat, Amelia yang menyadari hal itu pun langsung menghubungi dokter Radit dengan panik dan juga khawatir.
"Dok tolong segera datang ke sini sekarang." Ujar Amelia setelah panggilannya tersambung.
"Baiklah Amelia kamu tenang dulu ok, aku akan jalan ke sana."
Setelah itu panggilan pun terputus, Amelia menaruh ponselnya di meja, kemudian ia membaringkan tubuh Vino di atas sofa dengan hati_hati.
"Vino apakah masih sakit?" Tanya Amelia dengan khawatir.
"Ini tidak sakit sayang, selama ada kamu di sampingku, aku tidak akan merasa kesakitan." Balas Vino sambil menyunggingkan senyuman agar Amelia tidak mengkhawatirkan keadaannya.
"Vino jangan menghiburku, aku tau kamu pasti tengah kesakitan, bertahanlah sebentar lagi dokter Radit akan segera datang."
Amelia menatap wajah pucat Vino, meskipun Vino tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakitnya, tetapi wajah nya yang pucat dan juga tatapan matanya tidak bisa berbohong.
"Sayang jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka dan hapuslah air matamu, kamu terlihat jelek."
"Aku sangat mengkhawatirkanmu honey, aku takut, aku sangat takut .. " Amelia tidak meneruskan ucapannya, air matanya semakin deras membasahi wajahnya yang cantik, sementara Vino berusaha untuk menghiburnya, walau dirinya sendiripun merasakan sakit dan juga kepedihan yang teramat mendalam.
Beberapa menit kemudian dokter Radit pun tiba di apartemen milik Vino, dengan segera ia pun masuk setelah pelayan membukakan pintu untuknya.
"Radit kamu sudah datang, cepatlah periksa Vino." Ujar Amelia setelah Radit menghampirinya.
"Baiklah, kamu tenang dulu ok." Setelah itu, dokter Radit pun langsung memeriksa keadaan Vino, sementara Amelia menunggunya dengan khawatir.
Beberapa menit kemudian, Radit pun sudah selesai memeriksa Vino, ia menghembuskan nafasnya dengan pelan, kemudian ia berkata.
"Keadaannya semakin memburuk, sebaiknya lo di rawat di rumah sakit Vin."
"Tidak, gw tidak ingin ke rumah sakit."
"Vino apa yang di ucapkan Radit benar, keadaanmu semakin memburuk Vino, aku tidak ingin kamu kenapa_kenapa Vin, aku mohon dengarlah ucapanku."
"Tidak Amel, aku tidak ingin berada di rumah sakit, meskipun aku pergi ke rumah sakit, penyakitku tetap tidak bisa di sembuhkan, aku ingin menikmati hidupku yang singkat ini bersamamu disini, mengertilah Amel."
"Jika memang itu keputusanmu, maka aku hanya bisa menurutinya."
"Terima kasih sayang." Ujar Vino dengan lemah.
"Dasar keras kepala, baiklah kalau itu mau lo, gw gak akan memaksa lo lagi, ayo gw bantu lo pindah ke kamar." Ujar Radit yang sedikit kesal karena sahabatnya itu sangat keras kepala, padahal kondisinya sangat parah, tetap Vino tetap tidak ingin pergi ke rumah sakit.
"Thanks Dit, sorry gw sudah ngerepotin lo." Balas Vino sambil menatap sahabatnya.
"Sudahlah, kita ini sahabat Vin, jadi kita harus saling membantu, lo gak perlu berterima kasih kepada gw, gw ikhlas bantu lo." Ujar Radit sambil memapah Vino untuk pindah ke dalam kamarnya, lalu Amelia pun mengikutinya dari belakang.
***
Radit membaringkan tubuh Vino di atas ranjang, sementara Amelia tengah berdiri di belakangnya.
"Gw pamit dulu Vin, dan ini semua obatnya sudah gw taroh disini, ingat lo harus meminumnya tepat waktu." Ujar Radit sambil meletakan obatnya di atas meja.
"Ok terima kasih."
"Sama_sama." Balas Radit.
"Nona cantik, perhatikan kekasihmu agar dia selalu meminum obatnya, meskipun obat itu tidak dapat menyembuhkan penyakitnya, tetapi setidaknya, bisa meredakan rasa sakit yang derita oleh Vino, ok."
"Aku mengerti, terima kasih dokter Radit."
"Sama_sama, baiklah kalau begitu aku pamit dulu ."
"Hati_hati di jalan dokter."
Radit hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar.
"Kamu istirahatlah sayang, aku sudah tidak apa_apa ko." Ujar Vino dengan suara terdengar sedikit lemah.
"Tidak, aku akan menjaga mu disini."
"Sayang, kamu pasti lelah, istirahatlah, aku sungguh tidak apa_apa, kamu tidak perlu menjagaku sayang."
"Tidak Vino, aku akan tetap disini, aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian."
"Baiklah kalau kamu memaksa, tapi kalau kamu sudah mengantuk kembalilah ke kamarmu ok."
"Ok, apa kamu mau aku kupaskan jeruk?"
"Tidak sayang."
"Hmm apa kamu ingin memakan sesuatu?" Tawar Amelia kembali.
"Tidak sayang, aku masih kenyang."
"Yasudah kalau begitu, kalau kamu butuh apa_apa, kamu bilang saja ya."
"Iya sayang."
Vino menatap Amelia dengan dalam, ia sungguh sangat beruntung memiliki perempuan seperti Amelia yang selalu menjaganya setiap waktu, bahkan terkadang Amelia tertidur di atas sofa yang berada di kamar Vino, meskipun Vino menyuruhnya untuk istirahat di kamarnya, tetapi Amelia tetap saja tidak mau meninggalkan Vino sendirian, karena Amelia takut terjadi apa_apa terhadap Vino ketika dirinya tidak ada.
Bersambung.
buat ap kembali sma ardian...
kan lebih seru...
jangan sampai kmu balikan lg sma sikeparat mantan suami ...