Ketika seorang jenderal militer yang legendaris menghembuskan napas terakhirnya di medan perang, takdir membawanya ke dalam tubuh seorang wanita polos yang dikhianati. Citra sang jenderal, kini menjadi Leticia, seorang gadis yang tenggelam di kolam renang berkat rencana jahat kembarannya. Dengan ingatan yang mulai terkuak dan seorang tunangan setia di sisinya.
Pertempuran sesungguhnya dimulai, bukan dengan senjata, melainkan dengan strategi, intrik, dan perjuangan untuk memperjuangkan keadilan untuk dirinya...
apakah Citra akan berhasil?
selamat datang di karya pertamaku, kalau penasaran ikuti terus ceritanyaa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Namun, di tengah-tengah semua itu, Leticia menyadari ada sesuatu yang aneh. Suara Clarissa tidak datang dari monitor. Itu adalah suara rekaman. Itu adalah jebakan yang lebih besar.
"Max, ini jebakan! Suara ini rekaman!" teriak Leticia. "Mereka tidak ada di sini!"
Leticia kemudian mengamati ruangan itu. Ia melihat sebuah lubang kecil di sudut ruangan. Itu adalah ventilasi. Leticia menggunakan pin rambutnya untuk membuka ventilasi itu, dan mereka berdua berhasil keluar dari ruangan itu sebelum gasnya memenuhi ruangan.
Mereka berhasil mengambil artefak itu, dan mereka berlari ke arah pintu keluar. Di saat itu, mereka mendengar suara alarm dari jauh. Bram memberi tahu mereka melalui radio bahwa bala bantuan Clarissa akan tiba dalam waktu lima menit. Mereka harus cepat.
Mereka berhasil keluar dari vila, dan Bram mengendarai mobilnya, menunggu mereka di luar. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan vila Clarissa di belakang mereka.
Di dalam mobil, Leticia membuka bungkusan artefak itu. Artefak itu terlihat begitu mengerikan, dengan mata yang merah dan darah yang mengalir dari mulutnya. Namun, di dalam artefak itu, ada sebuah gulungan kertas kecil. Leticia membukanya, dan melihat sebuah peta. Peta itu mengarah ke sebuah tempat yang jauh dari kota. Sebuah tempat yang disebut 'Naga Tidur'.
Leticia menoleh ke Max. "Kita punya petunjuk, Max. Peta ini mengarah ke markas Clarissa. Kita akan menghentikannya di sana."
Mereka pun melaju, dengan tekad yang membara di dalam hati. Mereka tahu, pertempuran ini belum berakhir.
Di ruang kontrol rahasia Klan Giok Hitam, suasana terasa tenang, namun penuh konsentrasi. Max, Leticia, dan Bram meneliti peta yang baru saja mereka ambil dari vila Clarissa. Peta itu sangat tua, digambar dengan arang di atas kulit hewan, dan menunjuk ke sebuah daerah terpencil yang tersembunyi di balik pegunungan. Leticia mengusap permukaan peta itu dengan jarinya, matanya membaca setiap garis dan simbol.
"Nama ini... naga tidur" bisik Leticia, suaranya merenung. "Itu bukan nama yang asing bagiku. Itu adalah nama yang digunakan oleh para alkemis dan penyihir di zamanku untuk mendeskripsikan lokasi dengan energi alam yang sangat tua dan kuat."
Tuan Chen, yang berdiri di belakang mereka, mengangguk. "Itu benar, Jenderal Citra. 'Naga Tidur' adalah lokasi di mana lapisan bumi mengeluarkan energi magnetik dan spiritual yang sangat murni. Di masa lalu, lokasi itu digunakan oleh keluarga kerajaan untuk melakukan ritual perlindungan. Clarissa, atau lebih tepatnya roh Olivia Jhonson, mengincar tempat itu karena dia tahu energi di sana dapat meningkatkan kekuatan gelapnya ribuan kali lipat."
Max merasa ngeri. "Jadi, ini bukan lagi hanya tentang uang atau dendam keluarga. Ini tentang kekuatan yang bisa menghancurkan dunia."
"Tepat sekali, Tuan Bailey," sahut Tuan Chen. "Jika Clarissa berhasil menyerap energi Naga Tidur, dia tidak hanya akan menjadi tak terkalahkan, tetapi juga dapat membalikkan proses transmigrasi roh yang terjadi padamu, Jenderal Citra. Dia bisa mengambil kembali tubuh Leticia dan menghancurkan rohmu."
Pengungkapan itu membuat Max dan Leticia terdiam. Taruhan mereka kini jauh lebih tinggi. Max menatap Leticia, lalu ke perutnya yang mulai membesar. Ia memiliki empat alasan baru untuk memastikan Clarissa gagal.
"Kami tidak bisa membiarkannya," kata Leticia tegas. "Kita harus segera berangkat."
"Tidak semudah itu," jawab Tuan Chen, menggelengkan kepalanya. "Kekuatan Clarissa di lokasi itu akan mengganggu semua teknologi modern. Drone dan sinyal akan mati. Kau tidak bisa mengandalkan pistol canggih atau peretasanmu di sana, Tuan Bailey."
Mendengar hal itu, Leticia tahu mereka tidak bisa bergerak terburu-buru. Mereka membutuhkan persiapan khusus. Untuk dua hari berikutnya, markas Klan Giok Hitam menjadi tempat pelatihan intensif bagi pasangan itu.
Leticia, meskipun sedang hamil, menjalani pelatihan ringan namun fokus. Tuan Chen dan beberapa anggota klan melatihnya untuk beradaptasi dengan keterbatasan fisik barunya. Ia tidak bisa lagi bergantung pada kekuatan dan kecepatan prajuritnya, tetapi ia bisa mengandalkan kelincahan dan kecerdasannya yang luar biasa. Ia dilatih untuk bertarung dengan senjata jarak dekat yang dibuat khusus oleh klan, dan dia diajari cara menggunakan energi tubuhnya (yang diperkuat oleh roh Jenderal) untuk melindungi dirinya dan bayinya dari gelombang energi gelap.
Sementara itu, Max mendapatkan akses ke gudang senjata teknologi Klan Giok Hitam. Ia membuat modifikasi pada gadget canggih mereka, menciptakan alat komunikasi anti-magnetik dan drone yang dilapisi kristal giok untuk menahan gangguan energi di 'Naga Tidur'.
"Ini adalah pertempuran kuno yang membutuhkan senjata modern," kata Max, saat ia memasang sebuah kristal giok hitam di gagang pistolnya.
Di sela-sela pelatihan yang melelahkan, Max dan Leticia memiliki waktu untuk diri mereka sendiri.
Suatu malam, Max menemukan Leticia sedang duduk di atas ranjang, memegang perutnya dan menangis terisak-isak.
"Ada apa, sayang?" tanya Max panik, menghampirinya.
"Aku... aku tidak tahu," jawab Leticia, air matanya mengalir deras. "Aku hanya... melihat iklan sabun di televisi dan aku merasa sangat sedih. Kenapa aku menangis? Aku adalah seorang jenderal!"
Max tersenyum kecil, ia tahu itu adalah efek hormonal yang Tuan Chen jelaskan. Ia memeluk Leticia dengan erat. "Tidak apa-apa, Jenderal. Hormonmu sedang menyusun strategi baru. Kita akan mengalahkan Clarissa, dan kau boleh menonton iklan sabun dan menangis sebanyak yang kau mau."
Momen-momen lucu dan mengharukan itu memperkuat ikatan mereka. Kehamilan Leticia bukanlah kelemahan, melainkan motivasi dan pengingat akan hal yang benar-benar penting.
Di akhir masa persiapan, Tuan Chen membawa Leticia ke ruangan khusus. Ia memberikan sebuah kalung yang terbuat dari liontin giok yang sama seperti yang Leticia miliki, namun ukurannya lebih kecil. Di dalamnya terdapat cairan perak yang bersinar lembut.
"Ini adalah Perisai Giok," jelas Tuan Chen. "Ini adalah liontin pelindung yang dibuat khusus untuk calon ibu dari klan kami. Cairan di dalamnya adalah esensi kehidupan yang akan melindungi dirimu dan keempat janin dari segala bentuk energi gelap yang Clarissa gunakan."
Leticia menerima kalung itu dengan rasa terima kasih yang mendalam. Ia memasangkannya di lehernya, merasakan kehangatan yang merambat di tubuhnya.
"Kita akan berangkat besok pagi," kata Leticia kepada Max malam itu, saat mereka bersiap untuk tidur. Wajahnya kembali menunjukkan ketenangan yang khas dari seorang jenderal. "Tidak ada lagi penundaan. Kita akan mengakhiri ini di 'Naga Tidur'."
Max memeluknya erat. "Aku siap, Jenderal. Aku akan melindungimu dan anak-anak kita. Kita akan kembali sebagai pemenang."
next? next? enda ah cape yok like komen vote gift jangan pelit-pelit sama aku🥺🥺🥺
makasih banyak buat para pembaca setia idaman 🥰🥰 lope lope sekebon toge dah karna sudah setia membaca cerita recehanku ini🙃🙃
selamat max dan cia atas kelahiran keempat anaknya