Tatapannya hangat dan lembut, ku fikir dia mencintaiku, nyatanya tidak, ada wanita lain dihati suamiku, wanita yang merupakan cinta pertamanya, wanita yang dia kagumi sejak remaja yang tidak bisa dia miliki.
Entahlah aku ini dianggap apa, mungkin dijadikan sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya, atau untuk memberitahu wanita itu kalau dia juga bisa menikah dan melanjutkan hidup meskipun bukan dengan wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURUH DIA PERGI
Namun untuk yang kesekiankalinya, Budi lagi-lagi mengabaikan Fitri, baginya sekarang yang terpenting adalah meyakinkan Tari.
"Dek, adek jangan diam saja, adek maafin maskan, mas sudah berubah, mas tidak akan pernah menyakiti adek lagi, ayok dek kita mulai lagi semuanya dari awal, bayi kita membutuhkan kita."
"Mas Budi, kamu benar-benar keterlaluan ya mas, tega-teganya kamu mengabaikan aku."
Pandangan Tari kosong, tanpa mengubris ucapan Budi, dia berbalik, dia ingin jauh-jauh dari kedua orang yang telah menyakitinya itu.
"Dekkkk." panggil Budi frustasi melihat kepergian Tari.
Namun hanya 3 langkah saja, pandangan Tari kabur, kepalanya pening, tubuhnya oleng.
Dan untungnya, Budi yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya kepada Tari segera mendekat dan meraih tubuh Tari yang hampir saja ambruk, ternyata Tari pingsan.
"Dek, bangun dek." Budi menepuk-nepuk pipi Tari, dia begitu sangat khawatir.
Budi segera menggendong tubuh Tari, dengan langkah cepat kembali menuju mobil, namun dia berhenti saat melewati Fitri, "Ini gara-gara kamu Fit, kalau sampai terjadi apa-apa sama Tari dan bayiku, aku tidak akan memaafkan kamu." setelah mengeluarkan ancaman, Budi bergegas ke mobil tanpa memperdulikan Fitri yang semakin sakit hati dengan perlakuan Budi.
"Masss, mas Budi, tega kamu ya."
*******
Untungnya Tari cepat mendapatkan penanganan dari team dokter sehingga dia dan bayinya tidak kenapa-napa, dan sekarang dia sudah siuman meskipun tubuhnya masih lemah.
Dan saat ini, yang menemani Tari adalah uminya yaitu umi Diah dan juga Marni, sedangkan Budi, menurut keterangan dari umi Diah kepada Tari tengah membeli makanan dikantin rumah sakit.
"Kamu harus banyak-banyak istirahat Tari, jangan pernah lupa minum vitamin dan juga susu hamilnya, atau gimana kalau kamu ambil cuti saja dulu ya." saran umi Diah mengingat kondisi putrinya dan juga kandungannya yang lemah, dia tidak ingin Tari kelelahan apalagi stres gara-gara kuliah karna itu sudah pasti akan berpengaruh pada Tari sendiri dan bayi yang dikandungnya.
Tari menggeleng lemah, bukan kuliah yang membuat kelelahan apalagi stres, tapi suaminyalah yang menjadi biang masalahnya, sehingga tentu saja dia tidak mau saat dia minta untuk cuti kuliah.
"Tapi Tari, kondisi kamu lemah, umi tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu dan calon cucu umi."
Marni menimpali, "Iya Tari umi bener, kamu sebaiknya cuti saja dulu."
"Gak, aku masih ingin tetap kuliah, aku mampu kok."
Umi Diah akan kembali buka suara namun suaranya kembali tertelan saat pintu terbuka, disana ada Budi yang membawa plastik putih berisi makanan yang dibelinya dikantin rumah sakit.
Umi Diah yang tidak tahu menahu apa yang telah menantunya itu lakukan tersenyum yang dibalas oleh Budi dengan senyum yang dipaksakan.
Tari langsung memiringkan posisi tidurnya begitu melihat Budi, hal yang paling tidak diinginkannya saat ini adalah melihat wajah laki-laki itu.
"Nahh Tari, Budi udah dateng itu, umi dan Marni sebaiknya pergi ya."
"Umi dan Marni tetap disini, aku gak mau melihat mas Budi, suruh mas Budi keluar." tolak Tari mentah-mentah, itu tentu saja membuat Budi kecewa.
Marni dan umi Diah saling pandang, dari sini kedua wanita berbeda usia itu tahu kalau Tari dan suaminya tengah ada masalah, namun tentu saja mereka tidak tahukan apa masalah pasangan pasutri tersebut, dan baik Marni ataupun umi Diah berfikir untuk saat ini tidak etis untuk menanyakan tentang permasalahan mereka, dan umi Diah meskipun Tari adalah anaknya, dia berfikir tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga putrinya.
Karna tidak tahu permasalahan yang menimpa rumah tangga putrinya, umi Diah dengan bijak menasehati, "Jangan begitu nak, kalau kamu ada masalah dengan suami kamu, selsaikan dengan baik-baik." ucapnya mengelus rambut panjang Tari.
"Gak mau umi, suruh mas Budi keluar, Tari gak sudi melihatnya." nada Tari meninggi, bahkan umi Diah dan juga Marni kaget karna Tari tidak pernah sehisteris ini, Tari itu anaknya lemah lembut.
"Tari, gak boleh gitu, umi dan abi tidak pernah ya mengajarkan kamu meninggikan suara seperti itu, apalagi didepan suami kamu sendiri, kamu tahukan surgamu ada pada ridho suami." ucap umi Diah bersikap tegas, dia heran sekaligus penasaran masalah apa yang membuat putrinya sampai seperti itu.
Budi tentu saja sedih melihat penolakan Tari, dan menurutnya ya memang wajar Tari seperti itu mengingat kesalahannya sangat fatal, namun meskipun begitu, dia masih berharap pintu maaf itu masih terbuka untuknya, fikirnya mungkin Tari saat ini butuh waktu.
"Gak apa-apa umi, dek Tari mungkin saat ini tidak ingin bertemu dengan saya dulu, jadi saya lebih baik pergi saja."
"Apa permasalahan rumah tangga mereka sebesar itu sampai Tari kayak gini." batin Marni yang karna sudah lama bersahabat dengan Tari sehingga dia tahu bagaimana karakter Tari.
"Pergi sana mas, dan jangan pernah tampakkan diri mas dihadapanku." usir Tari.
"Tari, anak ini ya." umi Diah makin dongkol melihat sikap putrinya yang tidak seperti biasanya, "Umi dan abi tidak pernah mengajarkan Tari seperti ini, kalau ada masalah yang diselsaikan baik-baik nak." umi Diah memarahi sekaligus menasehati secara bersamaan.
"Tolong jangan marahin Tari umi, biarkan saja Tari beristirahat saja, saya yakin kalau dek Tari udah tenang kami akan membicarakan masalah kami dengan kepala dingin."
"Maaf ya nak Budi dengan sikap Tari yang kayak anak kecil begini, dan terimakasih nak Budi sudah mau bersabar menghadapi sikap Tari."
Budi hanya tersenyum, senyum yang dipaksakan mengingat selama dalam berumah tangga dialah yang banyak menyakiti Tari, Budi bahkan salut Tari samasekali istrinya tidak pernah menceritakan apa-apa tentang apa yang telah dia lakukan.
Sebelum benar-benar pergi, Budi berkata khusus pada Tari, "Istirahat ya dek, ini makanannya mas taruh dinakas, minum susu dan vitaminnya supaya adek dan dedek bayi lekas pulih."
Tari diam seribu bahasa tidak merespon, yang dia inginkan saat ini adalah Budi jauh-jauh dari hadapannya.
Melihat dirinya tidak mendapatkan respon sama sekali membuat Budi menghela berat, "Umi, Marni, saya pamit, tolong jaga Tari untuk saya, dan maaf karna saya merepotkan."
Umi Diah tersenyum, "Iya nak, kamu tenang saja, dan tentu saja tidak repot, Tarikan anak umi."
"Terimakasih umi."
"Dek, mas pergi, besok mas datang lagi." berharap Tari merespon, sayangnya keinginannya tidak terkabul, sehingga dengan hati kecewa dan pundak terasa berat Budi melangkah pergi.
"Tari kamu gak boleh gitu sama suami kamu." umi Diah kembali menegur Tari begitu Budi sudah menutup pintu.
"Tari capek umi, bolehkan Tari istirahat." respon Tari tidak ingin mendengar kata-kata mutiara dari bibir uminya.
Umi Diah menghela, mungkin memang putrinya tidak bisa diajak untuk berbicara saat ini, "Baiklah nak, istirahatlah, biar umi dan Marni yang jagain kamu."
"Terimakasih umi."
Marni berjanji begitu kondisi Tari sudah membaik dia akan menanyakan apa yang terjadi dengan rumah tangga sahabatnya itu.
********
hati& pikiran mu ke orang Lain...
giliran sudah menikah dengan Fitri
hati mu ke Tari...
penyesalan selalu datang belakangan an
lanjut Thor ceritanya di tunggu updatenya