Setelah bertahun-tahun pasca kelahiran pangeran dan putri bungsu, mereka tetap berusaha mencari pelaku pembunuh sang ratu. Hidup atau mati! Mereka ingin pelakunya tertangkap dan di hukum gantung!Dapatkah para pangeran dan putri menangkap pelakunya?
*update setiap Minggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mailani muadzimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat dengan Para Pejabat Bangsawan 2
Sebuah layar proyektor terpancar di depan bangsawan yang hadir saat itu. Para bangsawan yang hadir terperangah. Tak satu pun membuka mulut demi melihat bukti rekaman itu.
Duke Javier Blackwood tersenyum bangga melihat kemampuan keponakannya yang tidak main-main. Sejak tadi dia hanya diam dan memperhatikan bagaimana Ezra bekerja sebagai Wakil Raja Sementara dalam memimpin rapat.
Layar proyektor muncul menyesuaikan media perekam yang digunakan. Bola air yang Ezra lemparkan memancarkan proyektor air yang menyala terang. Tampaklah di sana rekaman Desa Kayu Biru, rekaman pertama seolah si Perekam adalah air hujan, ada pula rekaman dengan posisi seperti sedang berada di sungai, hingga air kran cucian di dalam rumah penduduk. Rekaman itu benar-benar lengkap menunjukkan kegiatan penduduk desa, detail, bahkan juga ada rekaman dari sarang semut.
Lalu tibalah rekaman di depan rumah Baroness Michella.
Kelihatan dua orang yang diduga pencuri itu memang sering datang ke rumah Baroness Michella untuk menagih utang pada Baron Deerol sebelum dia kabur dari rumah.
Setiap malam, Tupai-tupai Biru tampak memasuki rumah Baroness Michella melalui jendela yang selalu lupa ditutup olehnya. Ternyata selama ini Baroness Michella pun sering mengusir tupai-tupai itu menggunakan gagang sapu, namun karena alzeimer yang dideritanya, dia tidak bisa mengingat saat-saat dimana dia telah bertemu dengan pencuri perhiasan.
Tidak hanya rumahnya Baroness Michella, tapi Tupai Biru masuk hampir ke seluruh rumah penduduk. Akan tetapi, saksi mata yang sering bertemu dengan Tupai Biru ini hanyalah Baroness Michella yang menderita alzeimer. Penduduk lain tidak pernah melihat hewan itu secara langsung, sebab dia bisa kabur dengan gesit, atau bahkan mereka mencuri perhiasan itu di saat semua orang telah tertidur.
Tidak hanya di Desa Kayu Biru, tapi Tupai Biru juga mencuri sampai ke Desa Kayu Hijau. Sir Federict dan Sir Jeremy terdiam, mereka tidak lagi membantah dan mendebat Ezra.
"Apakah ada yang ingin bicara? Mungkin Federict dan Jeremy?" tawar Ezra sambil menyeringai.
Sir Federict dan Sir Jeremy terdiam seribu bahasa. Mereka hanya bisa menelan ludah dan berkeringat dingin.
Seseorang kemudian mengangkat tangan.
"Ya, Viscount Leogreen?" respon Ezra.
"Bagaimana Tupai Biru bisa menyukai perhiasan dan dengan cerdas mencurinya? Jika tidak teliti, sudah jelas tidak ada siapapun yang tahu kalau itu perbuatan hewan." tanya Viscount Leogreen.
"Pertanyaan yang bagus. Mungkin Grand Duke Xandie Enibel ingin menjelaskan kenapa Tupai Biru bisa melakukan hal itu?" tawar Ezra. Sebenarnya itu bukanlah tawaran, tapi perintah. Ezra sudah malas bicara panjang lebar.
"Dengan senang hati, Yang Mulia." jawab Grand Duke Xandie Enibel.
"Tupai Biru adalah hewan yang aktif di malam hari, mereka menyukai benda-benda berkilau dan mewah karena memang itulah sifat alami mereka. Sarang Tupai Biru bahkan delapan puluh persen terbuat dari emas dan perak. Hewan ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi memang nakal, karena suka mengambil benda-benda berkilau." sambung Grand Duke Xandie Enibel.
"Biasanya mereka tidak akan mengganggu manusia dengan mencuri benda berkilau jika tidak diusik lebih dulu. Selain itu, Tupai Biru bukanlah hewan yang bisa dipelihara, mereka termasuk hewan liar dan bulunya berbahaya untuk orang-orang yang punya masalah pernapasan, seperti asma, rhinitis alergi, dan permasalahan paru-paru lainnya. Perawatan Tupai Biru juga tidak mudah, mereka hanya bisa hidup di sarang yang terbuat dari emas atau perak. Makanan mereka pun juga tidak biasa, yaitu Lebah Pohon. Meski begitu, Tupai Biru termasuk hewan yang membantu penyerbukan pada pohon dan tanaman tinggi lainnya." Grand Duke Xandie Enibel semangat menjelaskan.
"Tupai Biru termasuk hewan yang cerdas. Mereka bisa meniru hal-hal yang dilakukan manusia. Mereka meniru apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar. Meski mereka aktif di malam hari, tapi di siang hari, mereka bisa saja mengintip aktivitas manusia dari balik sarangnya. Hal-hal remeh seperti membuka kunci pintu yang longgar dan menyelinap pelan-pelan, kelakuan itu mereka tiru dari melihat manusia." Begitulah akhir dari penjelasan Grand Duke Xandie Enibel.
Viscount Leogreen terdiam, dia baru tahu itu.
"Bagaimana? Apakah masih ada yang kebingungan?" tanya Grand Duke Xandie Enibel. Sejak tadi dia sepertinya sudah menunggu momen untuk menjelaskan ini.
Seisi ruangan hening, beberapa bangsawan kelihatan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Kita akan lanjutkan melihat rekaman lainnya." ucap Ezra tegas.
Layar proyektor kini menampilkan penampakan Desa Marmer dan Desa Daun. Sama seperti sebelumnya, layar proyektor muncul menyesuaikan media perekam yang digunakan. Bola angin yang Ezra lemparkan memancarkan proyektor angin yang menyala lembut. Rekaman pertama seolah si Perekam adalah angin badai, ada pula rekaman dari kipas tangan di rumah penduduk, hingga angin sepoi-sepoi. Sama seperti sebelumnya, rekaman itu benar-benar lengkap menunjukkan kegiatan penduduk desa, detail, juga ada rekaman dari sarang semut. Seolah-olah si Perekam sedang terbang perlahan memeriksa setiap sudut desa.
Kemudian tibalah rekaman di Lembah Kupu-kupu yang masih menjadi bagian dari Desa Daun. Lembah Kupu-kupu tampak indah dan mempesona, sejauh mata memandang, hanya ada bunga dan kupu-kupu. Padang rumput yang hijau dan berwarna-warni benar-benar memanjakan mata. Bunga dandelion juga tampak sangat indah di sana. Lalu, di sisi lain tak jauh dari Lembah Kupu-kupu, sebuah tambang yang diduga ada emasnya tampak kontras, agak gersang di sana. Tambang itu kelihatan seperti sudah pernah digali, tapi dihentikan pengerjaannya.
Spirit angin menelusuri area itu tidak sendiri, mereka bekerjasama dengan spirit tanah. Untuk pertama kalinya, para bangsawan itu melihat wujud asli dari spirit tanah dan angin. Hanya Pengendali Spirit dengan kekuatan tertinggi lah yang bisa menunjukkan wujud spirit pada orang biasa, alias mereka yang bukan pengendali spirit. Butuh kekuatan dan energi yang besar untuk membantu spirit menunjukkan wujudnya.
Satu spirit angin dengan wujud transparan muncul, ukurannya kecil seperti peri, bertelinga runcing dengan mata dan hidung yang senada, bibirnya kecil, dan tampak siluet rambut meski transparan. Lalu di sampingnya, muncul pula satu spirit berwarna kecokelatan, dengan penampakan yang sama persis. Bedanya, spirit tanah tidak transparan. Kedua spirit itu tampak seperti sedang membicarakan sesuatu, tapi tidak ada yang mengerti apa yang mereka bicarakan kecuali Pengendali Spirit.
Rekaman kemudian berpindah pada spirit tanah, saat ini seolah-olah si Perekam sedang berjalan di dalam tanah. Semakin dalam, lebih dalam, dan jauh lebih dalam lagi mereka diajak menelusuri tanah. Lalu, tampaklah di sana batu mineral berwarna keemasan yang jumlahnya sangat banyak. Spirit tanah menghancurkan beberapa batu itu untuk membuktikan kalau yang mereka temukan bukanlah emas. Batu mineral keemasan gampang hancur dan rusak, lain dengan emas.
Spirit tanah dan angin kemudian bekerjasama lagi, mereka pergi ke sudut lain tambang. Tetap saja yang ditemukan adalah batu mineral. Lagi, mereka menyusuri ulang wilayah tambang itu, memastikan tidak ada yang terlewat. Sejauh mata memandang, hanya ada batu mineral yang berwarna keemasan. Penelusuran itu berakhir dengan spirit tanah yang memberikan beberapa batu mineral pada spirit angin.
Setelah melihat rekaman itu, para bangsawan yang hadir berbisik-bisik.
"Pangeran Liam ternyata memang Pengendali Spirit yang luar biasa..."
"Benar. Beliau sangat keren karena bisa menunjukkan wujud spirit pada kita melalui rekaman spirit pula..."
"Tapi itu memerlukan banyak energi, bukan? Tidak heran jika kondisi Pangeran Ketiga sekarang jadi melemah,"
Ezra tersenyum puas mendengar bisik-bisik itu. Dia merasa tidak perlu menjelaskan apapun sekarang. Rekaman di Desa Marmer juga tidak ada masalah, sejauh ini Desa Marmer adalah desa yang paling aman tanpa masalah.
"Seperti yang terlihat di proyektor, tidak ada yang perlu dijelaskan ulang, bukan? Kurasa rapat kita hari ini cukup sampai di sini. Kalian boleh pulang menggunakan portal istana, kecuali Jeremy dan Federict." ucap Ezra santai.
"Terima kasih, Yang Mulia." respon para bangsawan nyaris serentak.
"Kalau begitu, saya undur diri dulu." Grand Duke Xandie Enibel memasuki portal.
"Lysander, bawa Federict dan Jeremy keluar istana. Suruh mereka pulang jalan kaki. Surat pemecatan mereka akan tiba dua hari lagi di desa masing-masing." titah Ezra.
"Baik, Yang Mulia." jawab Kysander sanbil menyeret dua orang itu.
"Ezra," panggil Duke Javier Blackwood.
"Oh, Paman. Apa Paman ingin mampir minum teh?" tawar Ezra hangat.
"Lain kali Paman pasti akan minum teh. Paman hanya ingin mengucapkan selamat padamu. Selamat karena telah menjadi Wakil Raja Sementara yang hebat, Ezra. Paman tidak menyangka kalau kamu bisa setegas itu. Paman benar-benar bangga dan terharu." sahut Duke Javier Blackwood.
"Terima kasih, Paman. Aku melakukannya karena Papa dan kakak tidak di sini, juga demi adik-adik. Sebenarnya aku agak gugup tadi, kalau saja tidak ada rekaman spirit yang diberikan Liam, entah bagaimana aku menghadapi para bangsawan itu." jawab Ezra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia salah tingkah.
"Oh, ya? Tapi kamu sama sekali tidak kelihatan gugup. Siapa sangka keponakan Paman yang suka belajar ini sekarang menjadi tegas dan hebat begini? Paman sengaja tidak ikut bivara karena kagum dengan kemampuanmu." puji Duke Javier Blackwood.
Ezra tertawa. "Terima kasih pujiannya, Paman. Aku akan berusaha lebih baik lagi ke depannya."
"Baiklah. Paman pergi dulu, kondisi sepupumu, Eleanor juga tidak baik karena asmanya kambuh, Paman harus merawatnya karena Edmund sedang ditugaskan ke perbatasan.Paman harap Liam dan Arsha juga segera membaik. Kabari Paman jika terjadi sesuatu, ya." ucap Duke Javier Blackwood.
Ezra mengangguk, "semoga Eleanor juga segera membaik, Paman."
***
Setelah semua bangsawan pergi, Ezra pun kembali ke kamarnya. Dia sudah kelelahan dan ingin buru-buru tidur.
tapi curiga deh, kayak ada plot twist gitu dari kematian Jeanette
-Ezra
kurang nyiksa apalagi ? ayolah, thor... kasih napas dikit buat liam /Sob/
zayden kecil ternyata udah melewati kejadian seperti itu, dia dewasa karena keadaan /Sob/ dan lagi, udah jago berpedang di usia 16? itu jenius banget. aku kayaknya usia 16 masih sibuk mikir tugas sekolah /Sob/
btw zayden badas banget, kepribadiannya beneran mencerminkan seorang putra mahkota /Proud/
lanjutkan, thor!