Jasmin Renata Luis, wanita cantik, mandiri dan tangguh, di usia yang baru 22 tahun, dia sudah terbiasa hidup susah setelah kematian kedua orang tuanya. Membanting tulang setiap harinya demi menghidupi kebutuhannya dan ke tiga anak kembarnya, Rio Putra Luis, Reno Putra Luis, dan si cantik Riana Putri Luis.
Memiliki Triple bagi Jasmin adalah anugrah yang di kirim Tuhan untuknya, Triple sek olah-olah di kirim untuk menjadi pengganti kedua orang tuanya. Dia selalu menikmati semua moment berharga bersama ke tiga buah hatinya setiap hari.
Ya akibat perbuatan yang di lakukan oleh lelaki yang dia sendiri tidak tau itu membuahkan hasil tiga malaikat bayi-bayi kecil yang tak berdosa, yang tumbuh menjadi anak-anak cerdas, suka menolong dan genius. Di tengah-tengah hinaan, cacian yang selalu dia terima karena hamil tanpa seorang suami dan menganggap Jasmi seorang perempuan nakal.
Akan kah triple berhasil mencari keberadaan ayahnya? dan mampukah tripel menyatukan kembali mereka nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Puspitasary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kelakuan Triple.
Sedangkan Abang Rio, sendirian datang ke arah bos preman itu. Yang sedang memperhatikan keempat anak buahnya yang sedang berkerja. Terlihat Bos preman itu tak mengetahui kedatangan Abang Rio, yang sudah berdiri di samping mobilnya dengan tatapan tajam serta aura dingin yang dia keluarkan, lalu di tekok lah Pintu tersebut oleh Abang Rio.
"Kamu kenapa ada di sini? Jadi kalian kembar tiga," Ucap Bos preman itu setelah membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya. Dengan wajah kagetnya dan melihat Abang Rio dan kedua adiknya secara bergantian.
"Boleh kita berbicara baik-baik? aku punya penawaran untukmu,"Pinta Abang Rio dengan tenang dan entengnya.
" Hehh bocah kecil kamu, memang punya penawaran apa? Kalau itu menguntungkan buat aku mungkin akan aku pertimbangkan," Jawabnya sambil memperhatikan Abang Rio.
" Jawab saja pertanyaan ku ini!!! Siapa yang menyuruhmu? Dan antarkan kami pada ya," Ucap Abang Rio pada Bos preman itu.
"hahahaha....hahaha.....Sampai kapan pun aku tidak akan membuka mulutku!!!! Jadi jangan bermimpi kamu bisa bernegosiasi denganku bocah ingusan sepertimu," Jawab preman tersebut dengan menertawakan dan meremehkan Abang Rio.
"Padahal tawaranku ini sangat menarik. Kalau kamu mau berjawab dan berkerja sama denganku, akan aku pastikan keluargamu akan aman di tanganku. Tapi sepertinya kamu memilih melihat meraka semua di jadikan budak oleh Bos mu itu," Ucap Abang Rio dengan tenang dan sedikit memancing emosi si Bos preman itu.
"Jangan sembarang kamu kalau bicara bocah kecil!!!! Keluargaku di rumah dengan aman," Jawabnya dengan sedikit khawatir tapi dia cepet-cepet menutupinya.
" Ya terserah kamu kamu tidak percaya pada ucapanku? Tapi aku pastikan besok pagi kamu akan menyesali dengan kamu percaya pada Bos mu itu!!!! Kamu itu memang bodoh dan tolol, makanya dengan mudahnya Bos mu itu membohongi mu," Ujar Abang Rio dengan ketus tak lupa sorot matanya yang tajam melihat wajah preman itu.
" Dasar kurang kamu bocah ingusan!!! berani-beraninya kamu menghinaku dengan entengnya!!!" Ucap Bos preman itu. Lalu segera melayangkan sebuah pukulan ke arah Abang Rio, tapi sayangnya tidak terkena karana Abang Rio, sudah membaca gerakan tangannya, jadi langsung menghindar dengan cepat.
Lalu terjadilah perkelahian keduanya, terlihat Bos preman itu agak frustasi karena semua pukul nya sedari tadi belum ada yang mengenai Abang Rio. Di saat dia akan memukulnya kepala Abang Rio, dari arah belakangnya Riana yang melihat Abangnya akan di pukul langsung melempar sebuah alat setrum buatannya dan mengenai leher Bos preman itu, lalu dengan kekuatan penuh Abang Rio melompat dan menendang Perutnya dengan keras dan menyuntikan sesuatu pada lengannya. Seketika tubuh besar Bos preman itu jatuh di sertai mutah darah, dengan cepat Reno, langsung memasang borgol di tangannya.
"Kalian berdua ambil semua hpnya ya? Abang akan masuk dalam mobil itu siapa tau ada bukti yang bisa kita dapatkan. Telfon Om Wili suruh ke sini," Pinta Abang Rio sebelum masuk ke dalam mobil.
" beles Abang na," Jawab keduanya kompak lalu mereka mengerjakan perintah sang Abang dengan cepet tak lupa mengambil dompetnya setelah itu Reno menelfon Om Wili dan Om Kendra untuk segera kesini.
" Kalian tidak apa-apa kan Tuan kecil?" Tanya Om Wili setalah di hadapan keduanya sambil mengecek seluruh tubuh keduanya.
" Aman lah tita ini. Liat ini tolong bawatan ini Om Wili. Nanti tita bagi bagi ya," Ujar Reno dengan wajah jahilnya menyerahkan 1 kantong hp dan dompet mereka.
"Astaga kenapa dompet juga? Nanti di marahin Daddy kalian," Ujar Kendra sambil memperhatikan wajah para preman dengan keadaan mengenakan dan mengerikan di hadapannya itu.
"Endak tenang aja. Liat ini lambut na gosong cemua? Laian seltum pakai alat yang Liana buat cendili. Telnyata berhasil senang na," Ucap Riana sambil memperlihatkan hasil karyanya dengan bangganya.
"Kkkkkkkamu buat ini," Tanya Kendra dengan syok sambil mengambil rambut para preman yang gosong antara percaya tidak percaya sampai terbengong-bengong.
"Iya dong Om. Tata Abang na nanti bica di jual dan Liana dapat uang banak banak," Jawab Riana dengan semangat dan senang, apa lagi soal uang dia paling semangat.
" Astaga Bima!!!! Bisa gila lama-lama aku melihat anakmu tidak ada yang normal semua," Ucapnya.
Sedangkan Abang Rio sendirian di dalam mobil mengambil laptop dan 3 hp tak lupa sebuah tas kecil. Lalu keluar dari mobil itu di sambut Om Wili dan membantunya membawakan itu dan berjalan ke arah Riana dan Reno serta Om Kendra.
"Om jangan dulu di bawa ke penjara. Kita masih butuh informasi dadi meraka, terutama Bos premannya itu!!! Dia tau di mana tempat Opa di sembunyikan, tapi tak mau buka mulutnya. Rasanya Abang ingin menghajar dengan rasa kesakitan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan umur hidupnya," Ucap Abang Rio dengan dingin serta sorot matanya yang tajam sambil melihat Bos preman itu.
"Baik Tuan kecil. Saya akan membuat memberikan rasa sakit itu mewakili Tuan kecil. Apa dia yang melakukan pembunuhan itu Tuan kecil ?" Tanya Wili dengan sorot matanya yang tajam.
" Iya dia yang melakukan itu atas permintaan Bosnya. Buat mereka berdua sakit yang berbeda Om!!! Dan meraka berdua pastikan harus merasakan sakit dan ketakutan sama seperti Mommy Jasmin, yang di rasakan selama ini!!! Aku mau Om culik keluarga Sanjaya sesegera mungkin. Kalau perlu hidupkan kembali mafia Wijaya," Jawab Abang Rio dengan dingin serta mata berkaca-kaca.
"Tuan kecil untuk menculik keluarga Sanjaya saya bisa, tapi untuk menghidupkan kembali harus berbicara dulu sama Tuan besar Adam dan Tuan muda Bima," Jelas Om Wili dengan tenang. Walaupun dalam hatinya kaget dengan permintaan dan ucapan Abang Rio yang tau soal Mafia keluarga Wijaya.
" Baik lah ayo kita kembali ke kantor aku ingin tidur. Cepat kalian berdua, sudah selesai percobaannya kita harus segera kembali ke kantor ada yang ingin Abang bicarakan nantinya," Ucap Abang Rio sebelum berjalan ke arah mobilnya. Karena kedua adiknya itu sedang menguji sebuah alat yang baru saja Reno buat pada para preman itu dan di saksikan oleh Kendra dan Wili dengan tampang terbengong-bengong nya dan syok.
Akhirnya mereka berlima segera kembali ke kantor sang Daddy. Dan memacu itu di bersihkan oleh anak buah Om Wili pastinya, sepanjang jalan Abang Rio memikirkan sesuatu sambil menutup matanya. Sedangkan kedua adiknya membuka laptop yang di ambil Abangnya tadi, terlihat keduanya sangat serius dan berbicara lewat bahasa yang hanya ketiganya tau artinya, sesekali keduanya di buat marah marah dan semua itu tak luput dari penglihatan Kendra dan Wili.