Shafiya Alifa gadis manis dan shalehah yang terlahir di keluarga sederhana. Kerja kerasnya yang tinggi menjadikan ia karyawan di sebuah perusahaan besar. Namun siapa sangka itu awal dari hujan ujian hidup baginya. Pertemuan dengan Fatih menjadi awal mendung baginya. Namun yakinlah tidak semua hujan itu buruk, akan ada pelangi setelahnya. Warna warni perjalanan cinta Shafiya hadir di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikah Rasa Pacaran
Udara dingin di pagi hari menusuk tulang, matahari masih malu-malu untuk muncul di ufuk timur, sisa hujan semalaman membuat orang malas keluar dari rumahnya.
Di dalam kamar sepasang pengantin baru masih belum keluar dari kamarnya.
Biasanya pagi-pagi sang istri sudah berkutat di dapur menyiapkan sarapan suaminya namun kali ini dia tidak melakukannya.
Berkali-kali Shafiya mau bangun dari pembaringannya namun Fatih berkali-kali menariknya, tangannya selalu di gengam.
" Mas... " Panggil Shafiya
" Hemmm... " Fatih masih saja memejamkan matanya.
" Aku mau buat sarapan." Kata Shafiya.
" Ada bibi... udah hari ini hari minggu aku mau kita bareng-bareng gini dulu." Kata Fatih masih memejamkan mata, Shafiya akhirnya kembali berbaring.
" Benar-benar tidak peka, aku menginginkannya tapi dia masih saja menghindar... " Batin Fatih mengerutu.
Fatih memeluk Shafiya erat, yang di peluk keringat dinginnya muncul kembali, dadanya bergemuruh, padahal sudah satu minggu ini mereka menikah bahkan dia sudah di boyong kerumah Fatih.
" Hay... sayang... kamu kenapa ? " Tanya Fatih saat menyentuh tangan Shafiya yang dingin.
" Kau sakit??? " Tanyanya sedikit kawatir.
" Ndak papa mas, aku hanya... ehm... sedikit gugup. " Jawab Shafiya pelan dan sedikit berbisik di akhir kalimatnya, karena malu.
" Hay... aku suamimu sayang... biasakan. " Kata Fatih.
" Aist... bagaimana kalau kita benar-benar melakukan itu... belum apa-apa kamu udah takut..." Batin Fatih.
" Huhhf padahal aku sudah tidak tahan... kenapa sih sudah menikah tapi masih begini, macam orang pacaran saja." Gelerutunya lagi.
" Maaf mas... " Shafiya membalik badanya dan menghadap ke Fatih.
" Kamu laki-laki satu-satunya yang menyentuhku seperti ini, aku belum terbiasa. " Kata Shafiya pipinya memerah saat mengatakannya.
Fatih membelai rambut Shafiya, lalu mandangnya dalam, yang di pandang nampak malu dan memerah pipinya , jantungnya masih saja berdetak kencang.
" Makasih ya... kamu udah njaga dirimu selama ini untuk aku seorang... " Kata Fatih.
" Beruntungnya aku menjadi suamimu." Katanya lagi.
Shafiya mengangguk malu-malu pipinya sudah seperti kepiting rebus.
Cup
Kecupan manis dari Fatih mendarat di bibir Shafiya membuat Shafiya terkejut pasi, pelakunya justru tersenyum manis bahagia lalu menarik Shafiya ke dalam dekapannya. Shafiya semakin terkejut dan berdebar mukanya memucat keringat dingin keluar lagi, dia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.
" Aist... manisnya... bagaimana aku bisa menahan diri... " Batin Fatih.
Keduanya hanyut dalam pikirannya masing-masing, Fatih menghirup bau shampo istrinya sementara Shafiya menghirup bau parfum suaminya, ada yang bergejolak dalam diri Fatih yang mulai merasa panas begitu juga dengan Shafiya.
" Aist.... panas sekali... " Batin Shafiya.
" Kenapa rasanya seperti ini sih... " Batinnya lagi, keringat dingin yang tadi keluar berubah menjadi peluh.
Fatih mulai merasakan perubahan pada diri Shafiya, ada kegelisahan yang terlihat dari gerakannya.
" Kamu kenapa sayang? " Tanya Fatih.
" Kenapa udaranya jadi panas ya? padahal Acnya nyala. " Kata Shafiya sambil mengibaskan rambutnya, melepaskan diri dan duduk lalu mengucir rambutnya, membuat leher putihnya terexpose.
" Apa dia tidak sadar sudah menggodaku dengan begitu... " Batin Fatih.
" Aist rasanya sudah tak sabar... "
" Sikap polosnya membuat aku ingin menerkamnya... " oceh batinnya.
" Fiya sayang... " Panggil Fatih.
" Iya mas, kenapa? " Jawab Fiya menoleh.
" Sampai kapan mas harus menahannya? " Jujur Fatih melas.
Seketika wajah Shafiya memucat dia paham betul maksud suaminya itu apa, namun bagaimana dirinya belum siap untuk itu.
" Maaf... aku belum siap... apa Mas Fatih akan marah... " Jawab Shafiya takut.
Hufh...
Fatih menarik napas sedikit kasar , karena Shafiya masih belum mau melakukannya. Dia juga laki-laki normal yang mengiginkan istrinya melayani seutuhnya , namun apa daya, Shafiya belum siap.
" Ok... tapi kasih hadiah ini. " Jawabnya menunjuk bibirnya.
" Masa juga tidak mau... " Merajuk sedikit.
Cup
Kecupan singkat dari Shafiya di tempat yang di tunjuk Fatih membuat Fatih senang, dan Fatih membalasnya membuat Shafiya memerah karena malu.
***
Pagi ini Fatih akan mengajak Shafiya jalan-jalan, mereka sudah nampak rapi keluar dari kamarnya, menuju meja makan untuk makan bersama, hanya berdua karena Pak Putra sudah kembali ke jogja dan mengurus perusahaan yang di sana.
Shafiya mengambilkan nasi dan lauk juga sayur untuk Fatih lalu mengambil untuknya dan duduk di samping suaminya itu.
Setelah selesai makan Shafiya membereskan piringnya dan di bawa ke dapur lalu mencucinya, dia tidak mau terlalu mengandalkan pembantu rumah ini.
Fatih menunggu Shafiya di depan, nampak Shafiya keluar dari pintu membawa tasnya.
" Istriku cantik sekali meski hanya berpakaian sederhana dan bermake up simpel begitu... " Batin Fatih melihat Shafiya lalu tersenyum.
" Hay ... Pacar... sudah siap? ada yang ketinggalan ndak? " Tanya Fatih menggoda Shafiya.
" Kok manggilnya pacar sih? " Shafiya terkekeh mendengar perkataan Fatih.
" Bukannya kamu minta kita pacaran dulu... jadi mulai sekarang aku panggil kamu pacar.. " Kata Fatih sambil membuka pintu mobil.
" Ayuk pacar... kita masuk..." Goda Fatih lagi.
" Aist... apa tak ada panggilan yang lebih baik dari itu..." Batin Shafiya sambil masuk ke mobil.
Mobilpun keluar dari gerbang, nampak satpam rumah menangguk kepada mereka sebelum menutup gerbangnya.
Lalu mobil itu melaju di jalan raya menuju CFD.
" Mas Fatih... " Panggil Shafiya pada suaminya.
" Hem, iya kenapa ? " Tanya Fatih menoleh pada Shafiya.
" Kita mau kemana? " Tanya Shafiya.
" Kehatimu..... " Kata Fatih sambil nyengir menggoda Shafiya.
" Aist... " Gerutu Shafiya pelan pipinya memerah.
" Kamu tak perlu ke hatiku mas? Hatiku sudah penuh..." Kata Shafiya serius.
Fatih terkejut dengan omongan Shafiya, lalu meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan.
" Apa maksud mu Fiy? Kamu belum bisa move on dari Alif? " Tanya Fatih tajam, ada amarah di matanya yang ia tahan.
" Hehehe hatiku sudah penuh denganmu mas, semenjak namaku kau sebut dalam ijab qobul. " Jawab Shafiya terkekeh berhasil mengerjai Fatih.
" Aisttttt Kamu ya... berani mengerjaiku... " Sebal Fatih sambil menarik Shafiya ke hadapannya.
" Jangan pernah ada nama lain di hatimu... Awas... " Ancam Fatih menatap tajam Shafiya.
" Aistttt dasar... mana aku berani... " Batin Shafiya.
" Mas tenang aja... Hanya ada 3 orang di hatiku... " Kata Shafiya.
" Kok banyak sekali... siapa aja... ?" Tanya Fatih terkejut lagi.
" Bunda , Ayah dan Kamu saja... " Jawab Shafiya tersenyum.
" Isttttt nakal... ngerjain aku lagi ." Fatih menarik wajah Shafiya.
Cup
Cup
Shafiya mendapat kecupan dadakan di bibirnya membuat dia terkejut pasi dan mematung, mukanya memerah.
" Aistttt manisnya ... " Batin Fatih gemas.
" Itu hukuman buat pacarku yang udah berani ngerjain aku." Kata Fatih sebal di buat-buat.
Shafiya masih terbengong malu pipinya masih memerah, justru membuat Fatih semakin gemas padanya.
" Mau lagi... hemmm." Goda Fatih sambil mendekatkan lagi wajahnya.
" Aisttt... " Shafiya mundur ke belakang dan memukul paha Fatih pelan.
Fatih terkekeh lalu menjalankan mobilnya lagi, hatinya berbunga-bunga. Shafiya merasakan dadanya penuh karena sikap Fatih yang selalu berhasil menggodanya.
.
.
.
.
Hayyyy aku datang lagi ...
Selalu setia padaku ya...
💖💖💖
Bagi Author yang selalu ngikutin aku bakal aku ikutin balik... tapi tinggalin jejak kalian juga ya.. 🙏
merajok tuee..
restu sudah didapat tidak ada yg merintangi...
tinggal hati yg belum mantap