Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
...Lautan yang Selalu Memanggil...
..."Ada panggilan yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi mengguncang seluruh isi hati. Dan siapa pun yang telah mendengarnya, tidak akan pernah benar-benar dapat kembali menjadi orang yang sama." —Catatan Burung Erung...
Musim-musim terus berganti di Banua Ginjang. Embun tetap turun setiap pagi.
Parmanurung Rambu masih menari di antara fajar dan senja, memastikan Matahari dan Bulan saling memberi ruang.
Parhobas Rambu berjalan tanpa suara di sepanjang lengkungan pelangi, seperti biasa mereka dengan rajin memperhatikan dan memperbaiki warna-warna yang mulai memudar.
Siboru Rintik masih mengumpulkan air mata kegembiraan semesta, sementara Sitabeak Bintang menyusun serpihan cahaya menjadi gugusan bintang-bintang baru, menggantikan sinar bintang yang menjauh atau telah memudar cahanyanya.
Segalanya tampak berjalan seperti biasa.
Namun, tidak bagi Deak Parujar, sang Putri Langit. Ia telah berubah. Baik fisik maupun psikis. Tubuhnya mulai menjulang anggun. Rambut hitamnya kini menjuntai melewati pinggang, berkilau seperti malam yang baru dilahirkan. Wajahnya masih menyimpan kelembutan seorang putri, tetapi sorot matanya telah berubah. Di dalamnya tumbuh sesuatu yang belum pernah ada. Keingintahuan. Bukan lagi rasa ingin tahu seorang anak. Melainkan kegelisahan seorang jiwa yang mulai mencari makna.
Ulos Cahaya yang dikenakannya pun ikut berubah. Benang-benang pelangi kini terlihat telah menyatu dengan motif tiga batu penyangga semesta. Saat angin menyentuh kain itu, coraknya seolah bergerak hidup, seperti ikut bernapas bersama pemiliknya.
Sejak pelajaran terakhir bersama Ompu Sada Uluan, Deak memiliki kebiasaan baru. Setiap senja ia berjalan sendirian menuju Tebing Pamatang Langit, sebuah tebing tinggi di ujung Banua Ginjang. Di sanalah langit tampak seolah berakhir. Di bawahnya, terhampar Banua Tonga.
Belum ada gunung. Belum ada hutan. Belum ada manusia. Hanya hamparan samudra purba yang membentang tanpa ujung. Airnya terlihat tenang kini. Namun ketenangan itu justru terasa seperti seseorang yang sedang menunggu bagi Deak.
Seperti sebelum-sebelumnya, Jonggi dengan setia bertengger di pundak Deak dan kali ini ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar: "Putri... Engkau sering sekali ke tempat ini."
Deak tersenyum kecil, "Aku juga tidak tahu mengapa. Tapi setiap kali melihat lautan itu... aku merasa ada yang sedang memanggilku."
"Tetapi di sana tidak ada siapa-siapa." ujar sang burung mungil bingung.
"Itulah juga yang membuatku heran." jawab sang Putri akhirnya setelah terdiam sekian lama.
...****************...
Angin sore mengembus rambutnya. Di kejauhan, matahari perlahan turun menuju pelukan senja. Cahaya keemasannya memantul di permukaan samudra hingga tampak seperti jutaan benang emas yang sedang ditenun oleh tangan-tangan tak kasatmata.
Tiba-tiba, sebuah riak kecil muncul. Hanya satu. Lalu menghilang. Beberapa saat kemudian riak itu muncul lagi. Kali ini lebih jauh. Kemudian lebih dekat. Seolah seseorang sedang berjalan di bawah permukaan air.
Deak memicingkan mata untuk dapat melihat dengan jelas, lalu bertanya: "Apakah kau juga melihatnya, Jonggi?"
Burung kecil itu menggeleng, "Apa yang hatus ku luhat Putri? Aku hanya melihat laut."
Saat itulah, sebuah suara tiba-tiba terdengar. Bukan melalui telinga. Melainkan langsung ke dalam hati Deak:
..."Datanglah..."...
Deak menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ia menoleh ke kiri. Yang terlihat hanya kabut tipis.
Namun suara itu datang lagi. Kini terasa lebih pelan, namun justru membuatnya lebih jelas:
..."Aku telah lama menunggumu..."...
Jantung Deak berdegup lebih cepat, "Siapa?" tanyanya kebingungan.
Tak ada jawaban. Hanya hempasan dan desir ombak yang terlihat dan terdengar perlahan kembali menjadi lebih tenang.
...****************...
Malam itu Deak tidak dapat memejamkan mata. Ia duduk bersila di bawah Hariara Bolon. Biasanya, setiap kali menyentuh batang pohon agung itu, pikirannya menjadi damai. Namun malam ini, bahkan sang pohon agung Hariara seakan tidak mampu mengusir kegelisahannya.
Ia mengangkat wajah ke langit, lalu bertanya berguman: "Mulajadi Nabolon... Apakah rasa ingin tahu adalah kesalahan?"
Daun-daun Hariara bergoyang pelan. Tidak ada suara. Namun sehelai daun tua melayang turun tepat ke telapak tangan Deak. Daun itu tidak layu. Ia tetap hijau. Seolah berkata bahwa pertanyaan yang lahir dari hati yang tulus, sesuangguhnya tidak akan pernah membuat kehidupan menjadi kering.
...****************...
Keesokan paginya, Deak menemui Burung Erung. Burung agung itu sedang memandangi matahari terbit dari dahan tertinggi Hariara Bolon.
"Ompu Erung... Aku ingin bertanya." sapa Deak sopan.
Burung itu tersenyum, "Aku sudah tahu Putri Langit. Tentang Banua Tonga kan?"
Deak mengangguk, "Apakah kita tidak boleh mengetahui dunia yang ada di bawah sana?"
Burung Erung tidak segera menjawab. Ia justru mengajak Deak memandang cakrawala, "Lihatlah pelangi."
Deak menurut.
"Menurutmu, mengapa pelangi tidak pernah tinggal selamanya?" tanya sang Burung Agung perlahan.
"Agar manusia merindukannya?" jawab Deak dengan sebuah pertanyaan lagi, karena ia tidak yakin akan jawabannya itu.
Burung Erung menggeleng pelan, "Bukan Putri, namun karena ada keindahan yang hanya akan kehilangan maknanya jika dipaksa selalu hadir."
Deak terdiam, lalu menyanggah dengan pertanyaan lain yang mengganggu pikirannya: "Tetapi... Apakah rasa rindu juga tidak diciptakan oleh Mulajadi Nabolon?"
Kali ini Burung Erung tidak memiliki jawaban yang cukup sederhana untuk langsung disampaikan. Ia menatap Deak cukup lama. Sorot matanya menyimpan kebanggaan sekaligus kecemasan.
...****************...
Hari-hari berikutnya, pertanyaan-pertanyaan kritis itu terus tumbuh.
Di Balai Hasurungan, ketika para tetua membicarakan keseimbangan tiga banua, Deak mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya. Semua pembicaraan selalu berakhir dengan kalimat yang sama. "Banua Tonga harus tetap dibiarkan sebagaimana adanya."
Mengapa? Tak pernah ada penjelasan.
Ketika Banua Toru disebut, para tetua menjelaskannya dengan kehati-hatian. Ketika Banua Ginjang dibahas, mereka berbicara dengan penuh kebanggaan. Namun setiap kali Banua Tonga disebut, selalu ada jeda panjang. Keheningan yang terlalu panjang. Seolah seluruh balairung sedang menyembunyikan sebuah rahasia.
...****************...
Pada suatu sore, Deak akhirnya tidak bisa lagi menahan keingintahuannya itu dan ia memberanikan diri bertanya di hadapan para tetua.
"Opung... Kalau Banua Tonga adalah bagian dari ciptaan Mulajadi Nabolon... mengapa kita hanya menjaganya dari kejauhan?"
Balairung mendadak sunyi. Nyala api di tengah ruangan bergoyang pelan. Tidak seorang pun dapat segera menjawab. Nai Api saling berpandang dengan Ompu Sinar. Ompu Tiktik menghentikan aliran Jam Pasir Bintang di tangannya. Nai Tonun meletakkan tenunannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Deak dilahirkan, Burung Erung menundukkan kepalanya. Bukan karena marah. Melainkan karena ia tahu, pertanyaan yang baru saja diucapkan Putri Langit adalah awal dari jalan yang tidak akan mudah untuk dilalui di kemudian hari.
Di luar Balai Hasurungan, angin tiba-tiba berhenti berembus. Pelangi seakan memudar lebih cepat dari biasanya.
Sementara jauh di bawah sana, di tengah hamparan Banua Tonga yang sunyi, riak-riak kecil kembali muncul. Kali ini tidak satu. Melainkan puluhan.
Seolah seluruh lautan sedang tersenyum. Karena akhirnya, ada seseorang di Banua Ginjang, yang mulai mendengar panggilannya dan membicarakan nasibnya lebih lanjut.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 11 – Bagian II: Rahasia yang Disimpan oleh Para Tetua.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/