Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Setelah Arkan mengetahui masa lalu Naura di Mahardika, cara laki-laki itu menatapnya berubah.
Tidak mencolok.
Arkan bukan tipe orang yang tiba-tiba menjadi banyak bicara. Ia tetap datang dengan wajah dingin, menjawab pertanyaan neneknya seperlunya, dan tidak pernah tersenyum tanpa alasan.
Tapi Naura merasakannya.
Sebelumnya Arkan melihatnya sebagai orang yang menjaga nenek dan kakeknya.
Sekarang ia melihatnya sebagai seseorang yang pernah berdiri di dunia yang sama dengannya, lalu memilih keluar.
Itu membuat pertanyaannya lebih tajam.
Suatu sore, saat Bu Marini tidur dan Pak Aditya menjalani fisioterapi ringan, Arkan datang membawa beberapa dokumen. Ia duduk di ruang makan, membuka laptop, dan bekerja tanpa meminta apa pun.
Naura membuat kopi untuk Pak Jaya dan staf dapur. Karena Arkan ada di sana, ia sekalian membuat satu cangkir kopi hitam tanpa gula, lalu meletakkannya di sisi meja.
Arkan mengangkat kepala.
"Saya tidak pesan."
"Saya tahu, Pak. Kalau tidak mau, tidak perlu diminum."
Ia kembali ke dapur.
Lima menit kemudian, cangkir itu tinggal setengah.
Naura pura-pura tidak melihat.
Sepuluh menit kemudian, Arkan datang ke pintu dapur membawa cangkir kosong.
"Kopi apa?"
"Arabika Gayo. Saya buat agak ringan karena sudah sore."
"Kamu bisa kopi juga?"
"Pernah kerja di kedai kopi waktu kuliah."
Arkan menatapnya seperti baru membuka folder tambahan tentang dirinya.
"Apa lagi yang pernah kamu kerjakan?"
Naura sedang memotong wortel untuk sup malam.
"Banyak."
"Misalnya?"
"Tutor anak SD sampai SMA. Bersih-bersih apartemen. Bantu katering. Barista. Admin freelance. Penerjemah dokumen pendek. Pernah bantu toko roti teman kampus juga."
"Tidur kapan?"
Pertanyaan itu terlalu cepat.
Naura menoleh.
Arkan tampak menyadari nadanya sendiri. Wajahnya kembali datar.
"Maksud saya, jadwalmu pasti padat."
"Dulu saya pikir tidur bisa diganti nanti."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya tahu nanti bisa tidak datang."
Arkan diam.
Pisau di tangan Naura bergerak pelan, rapi, memotong wortel sama besar.
"Itu sebabnya kamu keluar?"
"Salah satunya."
"Keluarga?"
Naura berhenti.
Arkan langsung berkata, "Tidak perlu jawab kalau tidak nyaman."
Kalimat itu membuat Naura kembali bergerak.
"Terima kasih."
Arkan masih berdiri di pintu dapur.
Posturnya terlalu tinggi untuk ruangan itu. Bu Marini benar. Dapur terasa lebih sempit saat dia ada di sana.
"Pak Arkan," kata Naura.
"Ya?"
"Bapak mau berdiri di situ sampai saya selesai masak?"
Arkan seperti baru sadar. "Saya menghalangi?"
"Sedikit."
Ia bergeser satu langkah.
Masih menghalangi.
Naura menatapnya.
Arkan bergeser lagi.
Kali ini bahunya hampir menabrak rak bumbu.
Naura menghela napas pelan. "Bapak duduk saja."
"Saya bisa membantu."
Kalimat itu terdengar sungguh-sungguh.
Naura melihat talenan, wortel, kentang, bawang, dan panci.
"Bapak pernah kupas kentang?"
"Pernah."
"Kapan?"
Arkan terdiam.
"Saya pernah melihat orang mengupas kentang."
Naura menunduk.
"Itu berbeda, Pak."
Arkan tetap keras kepala. "Ajari."
Maka Naura memberinya satu kentang dan alat pengupas.
Arkan memegang kentang seperti benda asing. Jari-jarinya panjang, bersih, jelas lebih sering memegang pulpen mahal dan berkas kontrak daripada bahan makanan.
"Pelan saja. Jangan terlalu dalam. Kulitnya saja."
Arkan mengupas.
Terlalu dalam.
Setengah daging kentang ikut hilang.
Naura menatap kentang itu.
Arkan ikut menatap.
"Masih bisa dimakan," katanya.
"Bisa. Tapi kalau semua kentang seperti itu, kita makan kulit udara."
Arkan menatapnya.
Lalu sudut mulutnya bergerak sedikit.
Naura membeku.
Itu bukan senyum penuh. Hanya retak kecil di wajah dinginnya.
Tapi cukup membuatnya lupa kalimat berikutnya.
Bu Marini tiba-tiba muncul di pintu.
"Astaga."
Arkan langsung kembali tanpa ekspresi.
"Apa, Nek?"
"Kamu pegang kentang."
"Saya membantu."
Bu Marini memanggil Pak Aditya dengan suara keras, "Aditya! Cepat lihat! Cucu kita bekerja!"
Arkan meletakkan alat pengupas.
"Saya kembali ke laptop."
Naura tidak bisa menahan tawa.
Arkan menatapnya. Telinganya merah.
"Jangan tertawa."
"Maaf, Pak."
"Kamu tetap tertawa."
"Saya sedang berusaha berhenti."
Bu Marini tertawa paling keras.
Malam itu sup ayam terasa lebih lucu karena satu kentang berbentuk aneh mengambang di mangkuk Arkan. Naura sengaja memasukkannya ke mangkuknya.
Arkan melihat kentang itu.
Lalu menatap Naura.
Naura menunduk sopan.
"Kentang hasil kerja Pak Arkan. Sayang kalau diberikan ke orang lain."
Pak Aditya tertawa sampai batuk.
Bu Marini bertepuk tangan kecil.
Arkan memakan kentang itu tanpa komentar.
Tapi telinganya merah sepanjang makan malam.
Keesokan harinya, Arkan mengirim pesan.
`Cara mengupas kentang yang benar ada video?`
Naura membaca pesan itu di dapur dan hampir menjatuhkan sendok.
Ia membalas:
`Ada banyak di YouTube, Pak.`
`Kirim yang paling benar.`
Naura menatap layar lama sekali.
CEO Aruna Capital meminta video mengupas kentang.
Hidup memang aneh.
Ia mencari video sederhana dan mengirimkannya.
Arkan membalas:
`Terima kasih.`
Lima menit kemudian:
`Pisau kecil lebih baik atau peeler?`
Naura menatap ponsel.
"Kenapa, Mbak?" tanya staf dapur.
"Tidak apa-apa."
Ia membalas:
`Untuk pemula, peeler lebih aman.`
Balasan:
`Baik.`
Naura mengira percakapan selesai.
Tapi malamnya, Pak Jaya menerima paket dari toko perlengkapan dapur.
Isinya enam jenis alat pengupas.
Bu Marini tertawa hampir sepuluh menit.
"Dia selalu begitu. Kalau belajar sesuatu, belinya perlengkapan dulu."
Pak Aditya memegang salah satu peeler. "Ini harganya bisa beli sekilo kentang berapa kali?"
Naura tidak tahu harus tertawa atau khawatir.
Namun di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang membuat dadanya hangat.
Arkan mencoba.
Tidak untuk pamer. Tidak untuk membuat orang kagum. Mungkin hanya karena ia tidak mau kalah pada kentang. Tapi tetap saja, ia mencoba masuk ke dunia kecil yang sebelumnya tidak pernah ia sentuh.
Di akhir minggu kedua, Bu Ratih kembali menghubungi.
"Naura, ada perubahan. Bu Marini meminta kontrakmu diperpanjang langsung tiga bulan."
Naura sedang berada di kamar, menyusun laporan harian.
"Tiga bulan?"
"Iya. Tapi ada kemungkinan keluarga akan menambah tugas setelah bulan pertama. Pak Arkan juga meminta profilmu tetap tidak diberikan ke klien lain."
Naura mengerutkan dahi. "Pak Arkan?"
"Ya. Katanya selama kakek neneknya cocok, jangan dipindahkan."
Naura diam.
Bu Ratih melanjutkan, "Kamu keberatan?"
"Tidak. Selama kontraknya jelas."
"Tentu. Saya kirim draft besok."
Setelah panggilan selesai, Naura duduk di tepi tempat tidur.
Tiga bulan.
Ia seharusnya senang. Stabilitas pekerjaan, gaji jelas, lingkungan tidak toxic.
Tapi ketika nama Arkan disebut, perasaannya menjadi tidak sesederhana itu.
Ponsel berbunyi.
Arkan.
`Besok saya pulang makan malam. Nenek ingin rawon. Bisa?`
Naura membalas:
`Bisa, Pak.`
Tiga titik muncul.
`Saya akan coba kupas telur asin.`
Naura menatap pesan itu.
Lalu tertawa sendiri di kamar.
Ia membalas:
`Telur asin tidak perlu dikupas dengan peeler, Pak.`
Balasan Arkan datang cepat.
`Saya tahu.`
Beberapa detik kemudian:
`Sekarang.`
Naura menutup mulut dengan punggung tangan.
Di luar, rumah Pradipta tenang. Di kamar kecilnya, Naura tertawa sampai matanya berair.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali tertawa seperti itu tanpa rasa bersalah.
Mungkin inilah bahaya sebenarnya dari rumah ini.
Bukan pekerjaan yang berat.
Bukan keluarga kaya yang rumit.
Melainkan kehangatan kecil yang diam-diam membuatnya ingin tinggal lebih lama.
jgn setengah 2 ya