Mencari cinta sejati tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pria bermata biru terus mencari cinta sejatinya yang telah lama menghilang. pengorbanan yang tulus tidak selalu membuahkan hasil yang memuaskan. Namun, Perjuangan untuk menemukan wanitanya akan terus ia lakukan walaupun rintangan datang menghadang.
"Aku kembali untuk mu, Tidak akan kubiarkan kau pergi dari kehidupan ku!"
Wanita cantik dan berkelas lahir dari anak konglomerat ternama di Jakarta. Sang Daddy memiliki banyak bisnis di berbagai Negara, Ia memilih berkarir dan meneruskan bisnis kelurga.
Akan kah Petualangan cinta si kembar akan berakhir di pelabuhan terakhir? bagaimana nasib Safira setelah memilih menikah dengan pria yang tidak pernah ia cinta?"
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di karya Bunda enny76.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkelahian
Vano terus masuk kedalam Goa kembali, menyusuri Goa gelap gulita. Bau anyir dan bangke manusia hampir membuatnya muntah. Vano masih terus berjalan meskipun kakinya tersandung bebatuan.
"Hati-hati! kata Luna saat Vano hampir terjatuh karena tersandung.
"Terima kasih! balas Vano
Tanpa sengaja kaki Vano menginjak sesuatu. ia berhenti dan meraih benda tersebut. Ternyata Vano menemukan belati milik Luna terjatuh di tanah, bekas ia menusuk bahu makhluk tersebut. Vano memasukkan kedalam sakunya dan kembali berjalan. Tiba-tiba Vano dan Luna di kejutkan oleh suara Sean dan Markus yang berteriak kesakitan.
"Aaaaakkkhhhh..."
"Markus, Sean? pasti mereka dalam bahaya."
Secepat mungkin Vano berlari tanpa peduli kedua kakinya tersandung bebatuan karena gelap. Luna ikut berlari menyusuri lorong Goa yang terjal.
Saat sudah berada di mulut Goa, Vano di kejutkan oleh sosok makhluk yang sedang melempar tubuh Sean dan Markus secara bergantian. Vano berusaha berlari dan menghadang makhluk tersebut.
"Berhenti!" teriak Vano sambil berdiri menantang di depan makhluk itu.
Sementara Sean dan Markus terkapar di tanah dengan tubuh bermandikan darah. Pakaian mereka sudah terkoyak akibat pukulan dan bantingan makluk menyeramkan itu. Luna berlari dan mendudukkan tubuh Markus.
"Kak, kau tidak apa-apa bukan? Ayo aku bantu kesana." Luna membantu Markus berjalan untuk bersandar pada pohon besar.
"'Tolong bantu Sean, dia terluka parah." kata Markus dengan suara terbata
Luna mengangguk dan berlari mendekati tubuh Sean yang sudah terkapar tak berdaya.
"Bangun!
"Bangun!
Kata Luna, sambil menepuk-nepuk pipi Sean. Namun pria itu tidak menjawab.
Sementara Vano sudah berdiri menantang makhluk berwajah Allien. Mahluk itu mengenalkan tangan, wajah dan hidungnya yang menyatu ikut kembang-kempis sebab amarah. Vano sudah bersiap-siap menghindar kalau makhluk itu memukulnya.
Makhluk itu berjalan maju ke depan, Vano mundur kebelakang sambil waspada.
"Arahkan makhluk itu, jangan sampai mendekat kesini! seru Luna yang masih berusaha membangunkan kesadaran Sean.
Vano menoleh ke belakang dan melihat Sean masih terkapar. Ia meraih sebuah batu di bawah kakinya, lalu melempari maklum itu dengan batu. Vano berlari ke samping agar makhluk itu mengejarnya, namun ia salah perhitungan. Makhluk itu justru mendekati Luna, lalu meraih tubuh Luna dengan tangan besar nya.
"Aaaaaaaaaa..." Luna berteriak
"Makhluk sialan! lawan aku! teriak Vano sambil menghantam punggungnya dengan kayu yang ia pegang. Makluk itu sangat marah, ia membalikkan tubuhnya sambil menyeringai, bola matanya memerah bagaikan bara api yang siap menghanguskan.
Mahluk itu menyerang Vano secara brutal, namun Vano dapat menghindar. Melihat Luna teriak kesakitan karena cengkraman tangannya, membuat Vano khawatir. Ia meraih belati milik Luna dari saku celananya dan menghantam kan ke kaki makluk itu.
"UUUAAAAAAA......!
Erangan kesakitan membuat makhluk itu semakin berteriak keras, suara lengkingannya terdengar hingga beberapa kilo meter. Orang-orang Xenzial terkejut, mereka menghentikan langkanya bersama kepala suku sebagai pemimpin.
"Suara apa itu?! tanya salah satu dari mereka.
"Seperti monster itu menjerit!"
"Apa orang-orang asing itu sudah melumpuhkan monster mengerikan itu?"
"Semoga saja mereka bertiga berhasil membunuh monster sialan itu, dan desa kita selamanya aman." balas mereka.
"Hentikan pembicaraan kalian! kepala suku menghentak tongkat nya ke tanah. Semuanya terdiam sambil saling berpandangan.
"Secepatnya kita harus sampai, sebelum monster itu mengambil darah suci Luna untuk membuat dirinya semakin kuat! seru kepala suku dengan suara lantang.
"Ayo kita jalan kembali, jangan banyak bicara agar cepat sampai bukit Xenzial." kata kepala suku memperingati.
Semuanya kembali berjalan, mengikuti arahan kepala suku Xenzial. Di tangan mereka sudah ada tombak dan bambu runcing. Seperti mereka sudah siap bertempur untuk melawan monster penunggu bukit Xenzial.
"Seperti nya makhluk itu memang mengincar Luna. Saat tadi kami ingin kabur, Makhluk itu sengaja memancing kami kembali." alibi Vano
Tiba-tiba makluk itu menghantam kan tangannya ke bumi, hingga bukit bergoyang dan berbelah.
Vano merasakan getaran bukit mulai bergoyang, seperti gempa pada umumnya. Beruntung ia melompat ke tanah pijakan lain.Vano melihat bercak darah berwarna hitam berceceran di tanah kering yang gersang.
"Pasti ini darah makhluk itu! Ini kesempatan aku untuk melumpuhkan nya!"
Vano mulai mencari cara agar makhluk itu melepaskan Luna. Ia mencari sesuatu, lalu meraih sebuah bambu yang tergeletak di tanah. Vano kembali berlari dan menyerang makluk tersebut yang hampir berhasil pergi. Vano membabi buta memukulnya, makluk itu berhasil meraih bambu sambil menendang perut Vano hingga melayang di udara dan berakhir ke tanah.
"Aakh! pekiknya saat merasakan sakit sekujur tubuh. Vano mencoba bangkit dan berhasil bangun, ia melihat makluk itu berjalan kembali.
"Vano, cepet bawa Luna kembali, darah sucinya bisa membangkitkan kekuatan makluk itu. Sangat berbahaya untuk wilayah Eropa, bukan hanya Desa Xenzial yang hancur, lautan ini akan terpecah."
Vano tercengang mendengar penuturan Markus. "Dari mana kau tahu?"
"Ketua Suka Xenzial ayah Luna. Ingat, Luna adalah seorang Ratu penerus suka Xenzial." kata Markus menjelaskan.
Vano mengangguk mengerti. Baiklah aku akan menyelamatkan Luna."
"Tolooong..."
"Tooloong.."
Suara rintihan terdengar lirih. Vano dan Markus menoleh. Rupanya Sean sudah tersadar.
"Kau urus lah Sean!"
"Baik Van!
Vano berlari mengikuti langkah makhluk yang hampir tertinggal jauh. Makhluk itu tidak masuk kedalam goa, tetapi menaiki perbukitan. Suara jeritan Luna semakin menyayat.
"Aku harus mengeluarkan ilmu tenaga dalam. Selama ini aku jarang menggunakan ilmu kanuragan."
Vano mulai duduk bersemedi sambil merapalkan mantra yang ia pernah pelajari. Tiba-tiba tubuhnya merasa ringan. Vano membuka mata dan berdiri, ia berlari mengajar makhluk itu secepat kilat, bagaikan angin menerjang badai. Vano berhasil menghantam tubuh makluk berwajah aneh.
Tubuh Luna terlepas dari cengkraman tangan makhluk tersebut.
"Menjauh lah cepat! perintah Vano pada Luna yang terjatuh di tanah. Tubuh Luna mulai lemas, tetapi ia berusaha menjauh. Saat makhluk itu ingin mencengkeram Luna kembali, Vano langsung menghajar makluk itu. Perkelahian tidak terhindarkan lagi.
Tubuh besar makluk itu berkisar 4 meter, sementara Vano memiliki tinggi 190 cm. Makluk yang besar nya dua kali lipat dari vano berhasil ia tendang hingga terjungkal ke belakang. Makhluk itu terlihat murka, dari bola mata dan mulutnya mengeluarkan api yang membara. Api-api itu berbentuk bola, lalu di arahkan ke tubuh Vano. Vano berhasil menghindar dari kejaran bola api, bahkan ia bisa menangkisnya.
Makhluk itu semakin murka, kali ini lawannya seimbang. Makhluk itu tiba-tiba berubah menjadi seekor serigala besar, menunjukkan taring-taringnya yang panjang mengkilap.
"GRERRR..
"GRERRR...
Serigala tersebut mengeluarkan air liur dari gigi-gigi taring, kuku-kuku panjang yang runcing langsung menghantam tubuh Vano. Vano berusaha menghindar, serangan-serangan nya seakan tidak berarti.
Vano mundur kebelakang dan merasakan perih di bagian dada dan punggung nya. Darah mulai bercucuran akibat cakaran srigala jadi-jadian. Sekali lagi, makluk jadian itu langsung menerjang tubuh Vano. Pria tampan berkata abu-abu itu semakin kewalahan. Posisi dia berada di bawah serigala tersebut, cakaran demi cakaran merobek kulit putih Vano.
"Tiiiidakkkkkk!!! teriak Luna saat melihat tubuh Vano di cakar dan terkoyak oleh makluk menjelma menjadi seekor serigala yang ganas.
*Bunda bukan nya sengaja episode nya di perlambat. tapi dibarengin kerjaan bunda di Real. Berusaha tetap fokus dan menampilkan cerita terbaik buat para Readers. Tetapi Ada ajah yang bilang bosen, muter-muter, dll. Semua itu bunda kembalikan pada kalian. Sekali lagi bunda hanya memberikan yang terbaik dan janji pada kalian untuk tamatkan novel ini. Terima kasih banyak atas dukungan kalian semua yang masih setia baca Novel bunda.
💜💜💜💜
SYUKURLAH MAMA DENA DAN VANO SDH MERESTUI TERHARU SAMPE KELUAR AIR MATA BUN😥😥