Trio Psikopat Klan Pratomo ( lanjutan GD3 )
- Kirana, seorang fotografer lepas, mencari pria yang sudah memberikan anak padanya karena one night stand. Kirana tahu dia dimanfaatkan oleh pria itu untuk mendapatkan informasi tapi selama dia mencari ayah putra semata wayangnya, pria itu seperti hantu. Hingga dirinya tahu siapa pria itu dan Kirana akan meminta pertanggungjawaban Yagami.
- Princess Margareth dari Swedia adalah biang kerok hingga suatu hari dia memergoki prince Alucard de la Borde sedang membunuh seorang pria di apartemen karena hendak membunuh dirinya. Maggie, yang nyaris dibunuh oleh Alucard, bernegosiasi dengan pria psikopat itu. Maggie bersedia menikah demi dua kerajaan dengan syarat, Alucard berhenti membunuh. Apakah berhasil?
- Dirandra sudah dibidik oleh badan intelijen Jepang saat dirinya memberikan kuliah tentang racun karena kasus pembunuhan pejabat kotor disana. Chief Tora Matsumoto menuduh gadis itu pelakunya.
8th generation klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkrut Aku, Chibi!
Osaka Jepang
Dirandra dan Franz menikmati acara jalan-jalan ke Osaka dengan wisata kuliner macam-macam. Franz bersyukur Dirandra fasih berbahasa Jepang yang memudahkan mereka untuk berkomunikasi karena tidak banyak orang Jepang yang bisa bahasa Inggris fasih.
"Kenapa soba disini lebih enak dari yang di Tokyo aku makan kemarin?" ucap Franz saat mereka berada di warung soba.
"Tepung dan airnya. Kamu tahu, air itu mempengaruhi rasa dari sebuah adonan mie. Air di Tokyo beda dengan air di Osaka. Itu yang membuat setiap rasa mie di kota-kota di Jepang, berbeda rasa meskipun resep dasarnya sama," jelas Dirandra. "Selain itu rasa soba sangat berbeda-beda karena dipengaruhi bahan ( tepung soba vs. campuran tepung terigu ), cara penyajian ( panas/dingin ), dan yang paling signifikan adalah kuah ( tsuyu ) yang rasanya berbeda di tiap wilayah Jepang ( Kanto lebih pekat/manis, Kansai lebih ringan/gurih ), serta tambahan topping seperti tempura, tahu, atau bumbu unik lainnya, bahkan ada varian rasa seperti soba plum atau teh hijau. Yang aku baca sih."
Fyi, Soba adalah mi khas Jepang yang terbuat dari tepung gandum kuda (buckwheat), berwarna cokelat pucat, bertekstur agak kasar, dan bisa disajikan panas dalam kuah atau dingin dengan saus cocolan, merupakan makanan bergizi tinggi yang sering disantap di acara-acara khusus seperti Malam Tahun Baru (Toshikoshi Soba).
"Ternyata begitu. Orang Jerman dan orang Jepang memang sangat serius soal makanan," gumam Franz.
Dirandra menatap datar ke Franz. "Jerman itu makanannya hambar, kurang medok bumbunya. Kamu rasakan sendiri kan masakan Melayu di Penang atau waktu kita ke Jakarta? Beda tahu!"
Franz tampak berpikir. "Beda budaya ... tapi memang sih. Semenjak aku tinggal di Penang dan suka ke Padang dan Jakarta, lidahku terkontaminasi."
"Nah! Tahu kan kenapa aku tidak terlalu suka makanan Jerman?"
"Tapi kamu jangan tidak suka dengan pria Jerman ini dong!" ucap Franz dengan wajah memelas.
Dirandra tersenyum lalu merangkul lengan Franz. "Bagaimana aku bisa tidak suka padamu? Aku hanya tidak jatuh cinta padamu. Itu saja. You're my best friend, Franz bukan Ferdinand."
Franz Broghart hanya menatap sebal. "Mendingan kamu bilang aku Franz bukan Beckenbauer daripada Franz Ferdinand."
"Tunggu. Kita membicarakan Franz Ferdinand band rock asal Skotlandia atau Adipati Franz Ferdinand dari Austria yang dibunuh lalu memicu perang dunia pertama?" tanya Dirandra usil.
Franz mencium ujung hidung Dirandra. "Jangan ngomong sejarah ... Mending kamu ajak aku ke museum nanti."
"Kamu itu aneh Franz ... Tidak mau bicara sejarah tapi minta ke museum," kekeh Dirandra.
"Sangat kontradiksi bukan?" cengir Franz.
***
Tokyo Jepang
Tora menatap sebal ke arah Kei Watanabe.
Chibi satu ini padahal anak orang kaya tapi tetap saja, jiwa Yakuzanya sudah sangat melekat.
"Bagaimana jika kamu ikut Oom makan siang ... Sambil berdiskusi?" tawar Tora.
"Kita makan hamburger halal ya Oom." Kei menatap serius ke Tora.
"Halal?" beo Tora Matsumoto.
"Ojisan, Kei itu muslim," celetuk temannya yang perempuan.
Tora melongo. "Kamu muslim? Tante Dira kamu?"
Kei menggeleng. "Tante Dira merayakan natal."
Tora mengangguk. "Ayo, kita cari hamburger halal. Kalian semua, pulang ke rumah ya. Hati-hati."
"Baik Ojisan."
Kei pun ikut bersama Tora masuk ke dalam mobil dan menuju cafe burger halal.
"Oom mau minta tolong apa? Ini baru down payment lho," senyum Kei usil membuat Tora cemberut.
"Kamu tuh kecil-kecil udah perhitungan!"
"Oom, karena aku tahu Oom butuh informasi soal Tante Dira, itu tidak murah. Sekarang Oom mau tahu apa?" tanya Kei sambil makan kentang gorengnya.
"Apakah ...."
"Tunggu. Satu pertanyaan itu berarti satu milkshake. Harap diperhitungkan dengan sangat cermat."
Rasanya Tora ingin mencubit pipi Kei yang tembem.
"Chibiiii ... Tolonglah. Jangan seperti ini. Bisa bangkrut Oom!"
"Apa Oom yakin bisa menjadi pacar dan suami yang baik buat Tante Dira?" ucap Kei lagi.
"Nani? Pacar dan suami?" ulang Tora.
"Lho ... Oom naksir Tante Dira kan? Sudah pasti akan meminta Tanteku itu menjadi pacar Oom. Jika cocok, pasti Oom mengajaknya menikah. Pertanyaan aku, apa Oom bisa menghidupi Tante Dira? Tanteku punya banyak uang dan lebih dari Oom."
"Apakah Tante Dira suka barang mewah?"
"Who doesn't? Tapi Oom, yang penting adalah benar-benar tulus dan sayang ke Tante Dira. Soal uang, bisa dibicarakan bukan?" senyum Kei. "Oh. burger nya double!"
"Apakah Tante Dira kamu punya pacar? Franz, maybe?"
Kei menatap Tora. "Dua pertanyaan karena tadi yang soal pacar dan suami tidak dihitung. Jadi dua milkshake. Coklat dan strawberry ya?"
"Kamu jangan kebanyakan minum manis! Satu milkshake coklat dan satu salad. Bagaimana?"
"Kok rasanya aneh ... Milkshake dan salad," gumam Kei.
"Take it or leave ...."
"Oke. Milkshake coklat dan salad." Kei tersenyum sambil makan burgernya.
Tora lalu memesan dua menu itu.
"Satu pertanyaan lagi ...."
"Enough, Kei ... Kamu sudah banyak makan junk food."
Kei mengangguk. "Untuk hari ini."
"Ya ampun." Tora menyesap matchanya. "Oke. Tante kamu tidak ada di Todai?"
"Ie. Tante Dira pergi sama Oom Franz ke Osaka buat ... Kencan," seringai Kei.
"Serius?"
"Apa Oom Tora cemburu?"
"Chibi ... Kenapa kamu sangat menyebalkan sih?"
Kei membenarkan posisi duduknya. "Kata Okachan, aku itu mirip dengan opa buyutku, Takeshi Takara yang dikenal julid. Bisa jadi ... Aku titisannya?"
"Kei, kamu masih TK dan lima tahun."
"Age is just a number, Oom tapi soal julid ... Itu sudah mendarah daging. Oom Yoshi yang bilang."
Tora Matsumoto menggelengkan kepalanya. "Oh ya ampun."
***
Osaka Jepang
Usai berjalan-jalan di museum, Dirandra dan Franz berjalan-jalan di Osaka Local Foodie Walking Tour in Dotonbori and Shinsekai. Keduanya menikmati makanan kaki lima dan harganya cukup murah jika dibandingkan di Tokyo.
"Asli, aku bisa gendut disini, Dira."
"Nge-gym lah atau ... Besok pagi kita bisa jogging untuk mengurangi lemak yang berkumpul di semua tempura yang kita makan." Dirandra memakan tempura crab sticknya.
"Jogging boleh. Pantas kamu bilang aku harus bawa sepatu running aku."
"Yup. So, kita kembali ke hotel?" tawar Dirandra.
"Ayo, aku juga sudah mulai mengantuk."
Keduanya pun kembali ke hotel.
Dirandra pun segera membersihkan diri sementara Franz berada di kamar lainnya. Meskipun Dirandra hidup bebas tapi dia tetap menjaga kehormatannya. Dia tidak mau merusak dirinya karena tahu, dia sudah membunuh orang jahat sangat banyak. Pembunuhan dan s3x bebas itu baginya sesuatu yang berbeda. Bagi Dirandra, have s3x sembarangan akan merugikan dirinya.
Dirandra mengeringkan rambut panjangnya saat mendengar suara bel di kamar hotelnya. Dirandra pun berjalan ke pintu lalu membukanya karena mengira Franz yang datang. Betapa terkejutnya Dirandra saat tahu siapa yang datang.
"Chief Tora bukan Macan Kemayoran. Apanyang kamu lakukan disini?"
Tora hanya menatap tegang ke arah Dirandra.
"Aku menemukan dimana Xiu Teng."
"Dimana?"
"Disini ... Osaka. Dira, dia mengikuti kamu!" jawab Tora serius.
***
Yuhuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu