NovelToon NovelToon
IDIOT BUT LUCKY

IDIOT BUT LUCKY

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Kumpulan Cerita Horror / Horor
Popularitas:32.7k
Nilai: 5
Nama Author: diahps94

Tiga sejoli menghabiskan usia bersama, berguru mencari kekebalan tubuh, menjelajahi kuburan kala petang demi tercapainya angan. Sial datang pada malam ketujuh, malam puncak pencarian kesakitan. Diperdengarkan segala bentuk suara makhluk tak kasat mata, mereka tak gentar. Seonggok bayi merah berlumuran darah membuat lutut gemetar nyaris pingsan. Bayi yang merubah alur hidup ketiganya.

Mari ikuti kisah mereka 👻👻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Rawat Inap

Timah panas yang di lepas menghebohkan seisi rumah, ajudan Mahendra siap siaga. Sebagian menghambur keluar, sebagian mengamankan tuan muda, sebagain mengurus Dayat. Terkapar dengan dada yang di pegangi tangan sebelah kiri, Dayat tertembak tepat di bahu sebelah kanan. Syok menimpa dirinya, menjadikan pandangan hilang begitu saja, Dayat pingsan.

Djiwa yang terkulai lemas seakan mendapat pencerahan, dia turun ranjang dengan melompat hingga butuh dua langkah saja untuk mendekati Dayat. Djiwa menekan luka tambak Dayat, agar darah tak mengucur dahsyat. Dirinya tak mampu mengeluarkan suara, Dayat hanya melihat dirinya di pindahkan oleh orang-orang Mahendra. Dayat di larikan ke rumah sakit.

Tangis Yanti dan Tanto tak kunjung usai, seumur hidup mendengar orang di tembak hanya dalam berita di televisi, kini anaknya jadi korban. Sempat tak sadarkan diri, akhirnya Rini hanya bisa berlapang dada, dan mendoakan buah hatinya. Operasi berjalan, timah harus dikeluarkan dari tubuh Dayat. Beruntung ada Mahendra, penanganan rumah sakit tak perlu antri mengurus administrasi lebih dulu.

Dayat di pindahkan ke ruang rawat inap, memilih dua ranjang rawat agar bisa di sandingkan dengan Djiwa. Sempat punya kekuatan, namun setelahnya lemas kembali karena tahu ayahnya kena peluru. Keluarga hanya bisa menatap pilu kedua anggota kesayangan mereka. Yanto keluar dari ruang rawat, dirinya benar-benar tak dapat menahan diri atas apa yang ia lihat. Ujang diberi kode oleh Jarwo agar membuntuti Yanto, Ujang ikut keluar beriringan.

Bughhh

Yanto meninju tembok sampai tangannya sendiri memar. "Siaallllll, arghhhhhh."

Ujang menenangkan Yanto. "Sabar Yanto, jangan melukai diri sendiri dengan amarah mu, kasihan Dayat dan Djiwa."

"Aku mana tega Jang, kau lihat sendiri Djiwa dan Dayat di rawat bersebelahan seperti itu, tubuhku juga lelah tak tidur semalaman, tapi aku sama sekali tak bisa memejamkan mata Jang, kepala ku berisik sekali, aku ingin mencari sumber masalah, Jang apa kita santet saja mereka." Tawar Yanto.

"Astaghfirullah, santet teh dosa Yanto, musyrik sama Allah teh di laknat, jangan gitu yah serem." Ujang mengelus dada, berhubung Dayat tak ada terpaksa dia mengelus dada Yanto.

"Ya tapi atuhlah Jang, kalau mau lawan tembak-tembakan mah kita nggk mampu, gak punya pistol adanya bedil buat buru hewan, kena orang mah paling nggk kaing-kaing acan." Keluh Yanto.

"Pahlawan pake bambu runcing aja menang lawan senapan, kok kamu riweh, inget kita kan pernah belajar ilmu kanuragan, ya meski gak pernah di coba siapa tau ampuh." Ujang baru sadar, kenapa dulu repot siang malam untuk belajar bela diri kalau tak di pakai.

"Ini bukan jaman penjajahan lagi Jang, ya kali bambu runcing segala di bawa. Kalau kita sakti mah Dayat ke tembak nggk bakal mempan." Cerocos Yanto.

"Ya ini juga bukan jaman primitif Yanto, ya kali mau kirim santet. Dayat mempan tembak tuh karena kaget aja dia, lagian peluru dateng nggk permisi dulu." Ujang memperingati.

"Tau lah riweh ngomong sama kamu mah, bikin tambah pusing aja." Yanto menjitak kepala Yanto.

"Yakk, gak pake jitak kan bisa, lama-lama pitak ini kepala." Teriak Ujang.

"Woy, jangan berisik ini rumah sakit bukan sirkus!"

"Eehhh...." Ujang baru ingat setengah dengar orang memarahi mereka entah dari arah mana, keduanya langsung bungkam.

Diam bukan berati bisu, mereka hanya menahan suara agar tak mengganggu orang lain. Bahkan saking takutnya menjadi sumber keributan, mereka berdua bicara dengan bahasa isyarat. Sungguh luar biasanya, diantar keduanya paham isyarat dari masing-masing padahal cuma asal-asalan. Berkomunikasi layaknya orang sedang melawak lewat gerak. Cengar-cengir karena merasa diri sendiri terlalu gila.

Tiara menggandeng Nia untuk menjenguk tambatan hati yang dikabarkan kena timah panas. Dikejutkan dengan kelakuan Yanto dan Ujang di lorong rumah sakit. Hingga Nia nyeletuk. "Bu yakin mau lanjut, liat kelakukan temannya aja cocok di rawat RSJ."

Tiara membekap mulut Nia. "Syutt, gak sopan mengolok begitu, ayo katanya Djiwa juga di rawat."

Berjalan hingga tiba di hadapan Ujang dan Yanto. "Assalamualaikum, a Dayat di rawat di ruang mana ya?"

"Waalaikumsalam." Yanto langsung mengubah gaya duduknya.

Ujang malah keterusan menjawab salam dengan bahasa isyarat yang hanya dimengerti ia dan Yanto saja. Yanto geplak Ujang. "Jawab yang bener!"

"Eh iya, waalaikumsalam." Latah Ujang.

Nia makin yakin dua manusia inilah penyebab Djiwa yang bersikap keren kadang lawak tak ada kerjaan. "Hai om, jadi dimana ruangannya?"

"Ya ampun, jangan panggil om atuh, belum nikah aku tuh." Ujang meralat sapaan Nia.

Nia semakin gedek dibuatnya. "Ya ahli kubur, jadi dimana?"

Tiara menjawil tangan Nia. "Maaf ya, dia kesal karena baru pulang sekolah langsung ku ajak kemari."

"Oh ya tak masalah, memang semua orang berharap jadi ahli kubur juga kok." Yanto bingung sendiri jadinya.

"Yaudah hayuk masuk ke ruangan Dayat, eh ngapain masuk ya pengep nanti, nah ruang ke tiga dari pintu ini itu ruangannya." Jelas Ujang.

"Nuhun, kalau gitu pamit jenguk dulu." Tiara melempar senyum.

Setelah di pantau Tiara masuk kamar yang tepat, Ujang langsung menatap Yanto penuh hal tersirat. Di balas dengan Yanto hal serupa. Mereka ngakak tiba-tiba, memang benar apa yang di katakan Nia mereka butuh penanganan rumah sakit jiwa.

"Beuh gede ya Nto." Ucap Ujang.

"Depan belakang tuh Jang, Dayat kuat ngimbangin nggk tuh?" Sahut Yanto.

"Wkwwkwkwk, ya kalo nggk kuat bisa manggil kita gak apa, jama'ah kita." Canda Ujang yang kena geplak Yanto.

Yanti dan Tanto begitu terkejut dengan kehadiran Tiara beserta putrinya. Senang hati akhirnya Tiara datang, sedih karena harus datang disaat seperti ini. Yanti menangis memeluk Tiara, Tiara menenangkan dengan lembut. Dayat yang melihat itu haru biru, beda dengan Djiwa yang merasa was-was. Bagaimana tak was-was saat hatinya bergetar atas seorang gadis, tahunya gadis itu akan menjadi adik tirinya. Djiwa semakin ingin menjerit tapi tertahan saat dengan lembut Nia tersenyum padanya, hal mustahil yang akan ia dapat saat hari-hari biasa.

Ranjang Dayat penuh di kerubungi Yanti, Tanto dan Tiara, Nia juga turut serta meski tak tahu gunanya apa. Bosan dengan obrolan orang tua yang terdengar seperti basa-basi belaka, Nia berpindah ke ranjang Djiwa. Tanpa persiapan Djiwa syok jantung, mengapa Nia terlihat lebih cantik hari ini. Dan kenapa Nia tak ketus serta galak seperti biasanya. Dia malah menatap Djiwa penuh khawatir.

"Sudah makan?" Hanya itu yang keluar dari mulut Djiwa setelah cukup lama saling pandang tanpa kata.

Nia tertawa kecil. "Kau ini lucu, kenapa perduli dengan ku, pikirkan saja dirimu sendiri, bisa-bisanya di rawat karena tubuh lemah."

"Ingin mengelak tapi tak bisa, sepertinya aku lemah karena habis jalan-jalan melihat surga." Canda Djiwa.

"Hush, ngucap asal aja. Udah pernah lihat surga mah, bentar lagi malaikat otw jemput, belum juga jadi kakak tiri ya masa udah mau meninggoy aja." Nia jadi kehilangan musuh kalau tak ada Djiwa.

"Ya bukan ingin mati juga, dasar menyebalkan, tak bisa menyenangkan orang yang sedang sakit." Dumal Djiwa.

"Disenagkan model apa, kau sendiri yang ngoceh bawa-bawa surga, surga loh cuma dilihat sama arwah, kau sudah jadi setengah arwah berarti, kenapa jadi sewot." Mengatai Djiwa padahal Nia yang sewot.

"Bogel dasar, ngapain sih pake ngejenguk segala, bikin kesel aja, sana pulang!" Usir Djiwa.

"Yehh, orang-orangan sawah siapa juga yang mau nengokin kamu orang aku mah nengok calon ayah ku, dih kepedean." Sanggah Nia, tak suka di tuduh menjenguk Djiwa.

"Ayah-ayah, itu ayah ku jangan sembarangan. Lagian belum resmi jadi ayah mu, sudah kita abis minum obat waktunya tidur, sana pulang!" Keukeuh Djiwa.

"Weuhhh, menyesal tadi ikut." Nia menjambak rambut Djiwa.

"Aduh, sakit bodohhhhh!" Yang punya rambut teriak.

Empat orang dewasa menoleh kaget dengan teriakan Djiwa. Setelah tahu apa penyebabnya, mereka geleng-geleng kepala saja, hanya Tiara yang was-was dan tak enak hati. Dua remaja yang sedang proses pendekatan menjadi saudara itu sepertinya akan sangat akur di kemudian hari.

Bersambung

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dasar emak" 🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bukan begitu juga kali 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤭🤣🤣🤣
Ney Maniez
next thor
Ney Maniez
ngakakkkkk sama ojisan
tambahhh satuuu lagiii inii pasukan 😂😂😂😂😂
Ney Maniez
pkoknya lagiii sedihh gee ngakak wehhhh😂😂😂😂
Ney Maniez
banyakk yg sayang musdal🤧😂😂😂😂
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sami mawon pak 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Serem amat 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh,yg sabar ya Djiwa 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain,berisik melulu sih 🤣
Ney Maniez
nyeselllll lahhhh dluu sebel sm musdal😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧
Ney Maniez
kangennnnn musdal😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ternyata di balik kata" yang pedas dan sikapnya yang kasar terdapat hati yang mulia 😭😭😭
Ney Maniez
tanggung jawab ahhh,,, up lagiiii
Ney Maniez
kanebooooooO mn kaneboooooo
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Aduh ikutan nangis 😭😭🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!