Novel ini menceritakan tentang sebuah pencarian pemeran utama wanita yang sesungguhnya di dalam kisah ini.
Akankah kisah ini menjadi milik Kirana, wanita cantik dan baik hati dari keluarga biasa yang kehadirannya di tolak mentah-mentah oleh keluarga Theo, pria yang begitu mencintai Kirana.
Ataukah menjadi milik Anya, wanita yang tak kalah cantiknya pilihan keluarga Theo.
Ceritanya menjadi rumit saat Theo di pertemukan dengan wanita yang mirip dengan almarhum Anya di saat dia sudah bahagia bersama Kirana dan buah hati mereka.
Setelah tiga tahun Anya meninggal. Pertemuan Theo dengan wanita itu membuat semua yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan. Terlebih keadaan wanita itu yang membuat Theo merasa ada yang salah dari tewasnya Anya.
Apa yang terjadi sebenarnya??
Apa yang Theo lewatkan selama tiga tahun ini??
Lalu bagaimana nasib Kirana dan rumah tangganya saat di guncang badai??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Kirana
"Sayang" Kirana langsing menghambur memeluk suaminya begitu dia melihat sosok tampan pujaan para wanita ada di depannya.
Theo memang memilih menjemput Kirana sendiri ke bandara karena Boby ia tugaskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
"Mau makan dulu apa langsung ke hotel aja??"
"Makan dulu aja ya, tadi nggak sempat sarapan. Aku pingin makanan khas yang ada di sini sebelum kita ke rumah Anya. Boleh kan??"
Theo hanya mengangguk dengan senyum tipisnya untuk menyetujui permintaan istrinya itu. Istri yang sesungguhnya sudah terlalu dalam Theo sakiti meski tanpa di sadari oleh Kirana sendiri.
Setiap melihat wajah istrinya itu, Theo berulang kali mengucap kata maaf di dalam hatinya. Dia tak sanggup membayangkan bagaimana kecewanya Kirana saat tau dirinya selalu terbayang wajah Anya saat mereka berdua memadu kasih.
Mungkin Kirana akan merasa jijik kepadanya. Atau parahnya, Kirana tak akan sudi untuk Theo sentuh lagi.
"Sayang, kamu kenapa sih kok dari tadi diam aja??" Kirana yang terus bergelayut manja di lengan Theo meski suaminya itu sedang mengemudi tampak menunjukkan kekesalannya.
Pasalnya dari tadi hanya Kirana yang terus berceloteh dan hanya sesekali mendapat jawaban singkat dari Theo dan parahnya lebih sering gelengan atau anggukan saja.
"Nggak papa sayang, aku cuma lagi mikir aja kita mau makan di mana. Soalnya aku nggak begitu tau daerah sini. Biasanya Boby yang lebih tau"
"Kalau cuma itu, bilang dari tadi dong sayang. Kan aku bisa cari lewat maps" Kirana langsung menjauh dari Theo dan mulai mengotak-atik ponselnya.
Namun sejujurnya, apa yang Theo katakan tadi hanyalah kebohongan belaka. Pikirkan saat ini tentu saja tertuju pada Anya.
Theo tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya reaksi Anya. Tidak..!!! Bukan itu!!!!
Theo tau betul kalau Anya pandai menyembunyikan perasannya. Tapi yang Theo khawatirkan, tentu saja bagaimana perasaan Anya.
Meski sampai sekarang Theo belum yakin kalau perasaan Anya masih sama kepadanya setelah tiga tahun berlalu, tapi Theo takut kalau kedatangan Kirana membuat hati Anya sakit.
Jika benar Anya masih mencintainya, bukankah begitu jahatnya Theo karena membawa penyebab Anya mengalah ke hadapannya.
"Ke sini aja ya sayang, nggak jauh dari sini kok" Kirana menunjukkan salah satu lokasi di ponselnya.
"Ya udah ayo"
Theo segera mengarahkan mobilnya menuju tempat yang di tunjukkan oleh Kirana.
"Gimana tadi Azka waktu kamu tinggal??" Theo mencoba untuk mengalihkan pikiran piciknya itu.
"Belum bangun, aku memang sengaja karena sebenarnya nggak tega juga ninggalin dia. Tapi tadi Mama udah sampai sana waktu aku pergi kok. Jadi agak tenang"
"Tapi dia udah benar-benar sehat kan??"
"Udah sayang, udah aktif lagi kaya biasa"
"Syukurlah kalau begitu"
Sepasang suami istri itu pun akhirnya makan siang di salah satu tempat makan yang menyajikan menu khas Jogja. Tentu kalian tau sendiri kan, makanan apa itu??
"Habis ini kita jalan-jalan bentar ya sayang??" Pinta Kirana.
"Ke mana??"
"Nggak tau juga ke mana. Muter-muter aja nggak papa kok. Siapa tau nanti ada tempat bagus, baru kita mampir"
"Ya udah ayo" Theo akhirnya menuruti apa permintaan istrinya, dia juga tak punya alasan apapun untuk menolaknya.
Mungkin dengan membawa istrinya jalan-jalan, akan membuat pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.
Kirana tampak menikmati suasana di kota yang cukup sering ia dengar itu. Ternyata benar jika suasana di kota itu memang menenangkan. Bahkan seperti kota yang paling nyaman untuk menghabiskan masa tua.
Tak heran jika Anya akhirnya memilih kota itu sebagai tempat persembunyiannya selama tiga tahun ini. Kirana yang baru datang saja sudah merasa begitu nyaman.
"Itu tempat apa sayang?? Bukannya ini alun-alun yang terkenal itu ya?? Ada dua pohon di tengahnya, kita turun dulu ya sayang??"
"Mau apa, di luar panas loh" Tolak Theo karena memang masih jam tiga jadi masih sedikit panas.
"Ayolah sayang, ada mitosnya juga loh di sini. Katanya kalau kita bisa lewat di antara dua pohon beringin itu dengan mata tertutup. Maka keinginan kita bisa terkabul"
"Heh, musyrik kalau percaya kaya gitu. Kita punya Tuhan sayang" Theo tentu menentang kepercayaan itu. Karena Theo memang tidak mempercayai hal-hal berbau takhayul seperti itu.
"Ya percaya nggak percaya sayang. Makanya ayo kita coba buat seru-seruan aja. Ya ya??"
"Ya udah, tapi kamu aja. Aku nggak mau" Meski dengan sedikit kesal akhirnya Theo mau menuruti keinginan istrinya.
Untung saja dia tadi sempat mengganti setelan jasnya dengan baju kasual. Jadi dia tidak terlalu menjadi pusat perhatian karena ada di alun-alun dengan pakaian formal. Meski tanpa di sadari oleh Theo, di manapun dia berada dia selalu menjadi pusat perhatian.
Kirana tampak antusias hingga berjalan dengan cepat sambil menarik tangan Theo.
"Pak saya mau kain penutupnya dong" Kirana mendekati penjual kain yang di gunakan orang-orang untuk menutup mata mereka.
"Iya Mbak silahkan pilih aja"
"Tuh kan sayang, banyak juga yang coba" Tunjuk Kirana pada orang-orang yang menurut Theo tampak aneh karena berjalan dengan menutup matanya.
"Benar-benar aneh, udah di kasih mata untuk melihat malah milih jalan sambil di tutup. Ternyata Anya banyak temannya" Gumam Theo.
"Kamu ngomong apa sayang??"
"Enggak, sini aku pasangkan" Theo mengambil kain di tangan Kirana lalu mengikatnya di bagian belakang kepala.
"Kamu memangnya punya keinginan apa?? Bukannya berdoa sama Allah malah kaya gini" Theo berdecak dengan heran.
"Ada deh rahasia" Setelah itu Kirana tampak terdiam sejenak seperti sedang memikirkan apa keinginannya itu. Kemudian kakinya mulai melangkah ke depan.
Sedangkan Theo hanya berdiri melihat Kirana yang perlahan mulai menjauh dan semakin mendekati kedua pohon beringin tadi.
Theo awalnya mengira jika Kirana akan berhasil melewati sela di antara pohon beringin itu karena istrinya itu sejak tadi berjalan dengan lurus tanpa berbelok sedikitpun.
Tapi saat semakin dekat, tanpa sengaja Kirana menebak seseorang di depannya yang juga sedang di tutup matanya, hingga membuat arah jalan Kirana berubah ke sisi kiri.
Theo yang melihat Kirana semakin menjauh akhirnya memutuskan untuk menghampiri Kirana.
"Sudah, kamu sudah terlalu jauh" Theo memegang kedua bahu Kirana untuk menghentikan istrinya itu.
"Hah??" Kirana akhirnya membuka penutup matanya dengan cepat. Dia melihat ke sisi kanannya yang ternyata kedua pohon itu ada di sana tanpa berhasil ia lewati.
Mendadak wajahnya berubah menjadi sendu. Mungkin itu hanyalah mitos saja kalau keinginannya akan terkabul saat berhasil melewati pohon itu. Tapi saat ini Kirana begitu sedih, seolah harapan yang ia pikirkan tadi tidak akan pernah terwujud.
"Kenapa sedih kaya gitu?? Ayo pergi, jangan percaya sama kaya gitu" Theo membawa Kirana kembali ke mobilnya.
Tapi suasana hati Kirana benar-benar memburuk. Dia seperti merasa harapannya yang gagal tadi benar-benar akan menjadi mimpi buruk baginya.