"Aakkhh sakit sekali larass." Teriak rahmat kesakitan di atas ranjang
Laras terus menangis melihat penderitaan suami nya, Hampir satu minggu ini rahmat terus kesakitan pada tongkat nya.
Bahkan kemaluan rahmat tampak bengkak kemerahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang nya bagas
Lula terpaksa keluar rumah untuk pergi kewarung depan yang buka sampai malam, Putri nya ingin makan mie instan atau bakso milik pakde min di ujung lorong.
Karena tahu pasti masih ada bapak bapak yang ngeronda, Maka nya lula berani naik motor keluar membeli makanan. Biasa nya lula memang kerap pergi sendiri jika sang anak ingin makanan dan stok habis.
Karena bagas jarang pulang kerumah nya, Bagas lebih banyak menghabis kan waktu di rumah istri tua nya. Jadi lula terbiasa hidup mandiri.
"Semoga ketemu orang ronda pas di rumah kosong itu." Harap lula yang takut juga dengan rumah kosong.
Semakin mendekati rumah kosong yang banyak orang bilang itu sangat angker, Para warga sudah meminta pak rt untuk meroboh kan saja rumah tersebut.
"Apa pula itu di sana?" Batin lula ketika melihat sesuatu tergeletak.
Motor lula berhenti ketika di hadapan nya ada orang yang terbaring tidak sadar kan diri, Dari sorot lampu lalu mengenali bahwa itu adalah suami nya.
"Mas bagas...Bangun mas." Lula menghidup kan klakson berulang kali.
Tapi bagas tetap saja tidak bangun, Lula ketakutan karena ini tepat berada di depan rumah kosong. Pos ronda masih lumayan jauh dari sini.
"Ndak mungkin aku tinggalin dia." Lula bimbang mau mengambil keputusan.
Akhir nya lula tanjap gas mencari bantuan untuk mengangkat bagas, Beruntung ia menemukan banyak orang di pos ronda. Pak rt juga ada di sana tengah ngobrol santai.
"Pak rt...Tolong suami saya di sana pak." Pekik lula dari atas motor.
"Ada apa ini bu lula?" Pak rt kaget karena lula sangat panik.
"Suami saya pingsan di sana pak, Tolong bantu dia supaya sadar." Pinta lula.
"Hah! Perasaan mas bagas sudah dari tadi pamitan pulang." Heran pak rt.
"Di depan rumah kosong pak, Dia tergeletak di sana." Lula sangat ketakutan.
Pak rt mengajak yang lain untuk membantu bagas, Namun dudung dan rahmat terlihat ogah mau turun dari pos ronda. Hanya nino yang sudah siap.
"Kok kalian tidak turun?" Tanya pak rt.
"Saya malas pak rt, Biar uang nya dia saja yang menolong! Toh dia kan banyak uang." Cetus dudung.
"Heh miskin! Aku akan membayar mu nanti." Bentak lula.
"Jaga mulut mu lula! Berapa sih kau sanggup membayar kami." Sengit rahmat.
"Ya allah kenapa malah bertengkar, Ayo kita bantu pak bagas sesama manusia." Pak rt menengahi mereka.
"Saya tetap tidak mau pak! Silah kan bapak sama nino saja." Dudung tetap tidak mau.
Akhir nya pak rt dan nino lah yang pergi bersama lula, Mereka menuju tempat di mana bagas di temukan istri nya dalam keadaan pingsan.
"Di mana bu pak bagas nya?" Tanya nino menoleh kearah lula yang tampak kebingungan juga.
"Tadi ada di sini saat saya pergi, Kok bisa hilang?" Heran lula pula.
"Mungkin pak bagas sudah sadar dan kembali kerumah." Ujar pak rt.
"Apa iya begitu pak? Saya takut kalau bukan begitu." Lula menatap kanan kiri.
"Pak bagas orang dewasa buk, Tidak mungkin ada orang mau menculik nya." Cetus nino agak kesal juga.
Setelah di cari hampir lima menit di daerah ini, Bagas tak juga mereka temukan. Pak rt menyuruh lula pulang untuk melihat apa kah bagas pulang kerumah nya.
Pak rt dan nino ikut lula kerumah nya berjalan kaki, Hitung hitung sambil ronda keliling kampung. Walau di sebelah sana ada juga yang jaga, Kampung mereka total nya punya tiga pos ronda.
Lula bergegas masuk kedalam rumah untuk melihat apa kah ada bagas dalam rumah, Tapi ternyata hanya ada anak mereka yang sudah tertidur pulas.
"Tidak ada pak rt." Ujar lula keluar dari rumah.
"Kalau begitu saya akan mengabari yang lain, Sambil telfon saja bu lula untuk mencari tahu di mana pak bagas." Ucap pak rt.
"Baik pak rt." Angguk lula mengambil ponsel nya.
Nino menyenteri setiap tempat yang gelap untuk mencari bagas, Firasat nya mengatakan ada yang tidak beres. Apa lagi bagas pingsan di tempat rumah angker itu.
"Kemana sih kamu mas? Kalau pulang kerumah nya wanita sialan itu ya udah." Kesal lula karena bagas tidak menjawab panggilan nya.
Sreeeeng.
Bau amis darah dan bangkai menusuk hidung lula, Padahal tidak ada angin yang membawa bau tersebut. Lula menatap kanan kiri yang hanya kegelapan saja, Pak rt dan nino sudah pergi keliling mencari bagas.
Sreeek, Sreeek.
Suara orang berjalan di seret masuk ketelinga lula, Ia masih berdiri di depan teras sambil berkacak pinggang menelfon bagas.
"Minta daun jeruk nya la...
"Siapa sih malam gini minta daun jeruk!" Rutuk lula.
"Emak mau masak ikan laa...
Kembali suara serak mengaget kan lula, Bulu kuduk nya meremang dan lula menatap pohon jeruk nya di dekat pintu samping. Namun tidak ada orang yang datang.
"Emak di sini la...
"Astagaa...
Lula terpekik sampai mencelat karena di belakang nya berdiri mak roro sambil menyeret kepala nya, Rambut yang berwarna putih itu ia pegang untuk tali.
"Cuma daun jeruk saja kamu pelit sekali lula." Desis hantu mak roro.
"Pergi kau setan!" Teriak lula berusaha menggapai pintu.
Namun mak roro malah melempar kan kepala nya kedada lula, Masih dengan darah nya yang mengucur seolah kepala mak roro di tebas dengan pedang tajam.
"Aakkhhh!!"
Lula melempar kan kepala itu kesembarang arah, Ia berlari masuk dan mengunci pintu. Keringat membasahi kening nya sangking takut dengan kejadian seram ini.
"Kenapa mak roro juga menghantui aku, Padahal dina saja sudah membuat ku kalang kabut." Keluh lula.
Sementara itu pak rt dan nino sudah keliling dan sekarang tiba lagi di pos tempat mereka jaga tadi, Dudung ngerokok bersama rahmat sambil bercanda gurau.
"Sudah di antar orang kaya itu pak?" Tanya dudung tampak tidak suka.
"Mas bagas hilang, Kami tidak bertemu dengan nya." Ujar pak rt.
"Palingan dia sudah sadar dan pulang kerumah nya lula." Sambung rahmat.
"Di rumah lula juga tidak ada! Kami keliling pun tidak bisa menemukan dia." Ucap pak rt.
Nino yang diam dan terlihat sedang menerawang jauh, Pikiran nya tidak bisa di ajak kompromi sama sekali. Mana dari tadi ia terus melirik pohon pisang yang rimbun di ujung pos ronda.
"Kenapa nin? Habis lihat genderuwo rumah angker." Tanya dudung.
"Emang kamu pernah lihat dung?" Rahmat kaget dengan ucapan dudung.
"Belum sih! Kata orang kan di sana ada genderuwo nya untuk pesugihan." Jawab dudung.
Rahmat tidak menjawab lagi ucapan dudung, Takut jika salah ucap dan malah jadi bumerang untuk diri nya sendiri
membosankan dan sangat gak masuk akal
tp penasaran....