Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Gundah
...33. Gundah...
“Na,” tukasnya ketika melihat pintu ruang perpustakaan terbuka. Saba baru saja dari rumah Bu Ning mencari keberadaan Arif. Namun nyatanya Arif belum juga kembali dari latihan turnamen futsal. Mungkin karena masih terlalu pagi. Sebab ayam jantan milik Bu Ning belum berkokok sebagaimana biasanya.
“Na,” tangkasnya lagi begitu melihat pintu kamarnya juga terbuka. Saba lantas lari ke dalam kamar. Kosong, hanya terlihat selimut yang telah ditinggal penghuninya semalam. Ia berlari menuju atas. Pintu pagar juga sama terbuka. Firasatnya tak enak, Nawa telah pergi sebelum ia menjelaskan semuanya.
“Nawa!” teriaknya ketika ia melihat mobil Nawa telah pergi menjauh. Ia mengusap wajahnya. Mengusap kepalanya hingga ke tengkuk. Ia tertunduk dengan tubuh sedikit bungkuk.
Langkah kakinya kini melesat menuruni anak tangga. Ia mencari ponsel miliknya. Mencoba menghubungi nomor Nawa. Namun sial, sejak tadi malam nomor Nawa tidak aktif.
Mondar-mandir langkahnya dari kamar ke perpustakaan. Nawa tetap saja tak bisa dihubungi.
Saba kembali mengusap wajah dan kepalanya hingga ke tengkuk. Terduduk di kursi kayu panjang dengan menunduk. Permasalahan ini tidak boleh berlanjut dan menjadi kesalahpahaman. Dan ia harus cepat menyelesaikannya.
Tanpa sengaja ia melihat botol minuman tradisional mengandung alkohol dari Minahasa di lantai di bawah kursi santai. Ia bangkit dan menyambar botol tersebut.
Kelopak matanya menutup rapat. Gigi atas dan bawah saling gemeletuk. Dugaannya ternyata benar. Nawa telah mengonsumsi minuman itu. Kecurigaannya bermula dari sikap Nawa yang sangat agresif. Mungkinkah Nawa mengonsumsinya karena kesal dan marah kepadanya? Sebagai bentuk protes dan pengalihan diri. Ia memang patut dipersalahkan, karena telah mengecewakan.
Saba membuka rak yang tertutup. Memasukkan botol minuman itu kembali ke tempatnya. Bersama minuman-minuman tradisional khas dari daerah yang diberikan oleh sahabat dan kolega kepadanya pada saat ia berkunjung ke berbagai daerah ketika liburan naik gunung maupun saat mengisi sarasehan atau seminar.
Ia kembali menyambar ponselnya yang tergeletak di kursi kayu panjang. Jari-jemarinya terus bergerak untuk menghubungi Arif. Pesan terakhir dari Arif sebelum jam 5, memberitahukan bahwa dirinya sedang melakukan latihan untuk turnamen futsal. Setelah itu Saba berusaha mencoba menghubungi Arif tak berselang lama saat mendapatkan ponselnya kembali dari Yanri, namun panggilannya tak pernah diangkat. Bahkan sampai detik ini.
Helaan napasnya terasa berat. Kemudian mengeluarkannya dengan sentakan. Ia memegang ponselnya kuat-kuat.
Tadi malam Yanri terlambat mengirimkan ponsel miliknya ke tempat perayaan satu tahun komunitas Malaka yang dipelopori oleh Kania. Sehingga ketika Saba berusaha untuk menghubungi Nawa, waktu sudah malam, ditambah nomor Nawa tidak bisa dihubungi. Padahal Ia juga berusaha untuk mengirimkan pesan, tetapi hingga saat ini pesan itu tak kunjung masuk dan diterima.
Saba mengenakan jaket. Memakai topi. Menyambar kunci mobil di meja. Tujuannya adalah menyelesaikan semuanya. Ia tidak mau permasalahan ini berlarut-larut.
...***...
Kepalanya sedikit terasa berputar. Ia beringsut menyandar dinding. Butuh beberapa saat untuk mengembalikan kondisinya agar stabil.
Nahas, begitu kesadarannya pulih, ia dibuat terkejut dengan pemandangan kamar yang bukan miliknya. Keterkejutan selanjutnya ketika ia hendak bangkit, ternyata ia tak berpakaian.
Gemuruh degupan jantungnya memompa kencang. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Ia butuh mengingat semuanya. Tapi bukan saatnya untuk menarik ingatan tadi malam untuk kembali. Sebab ia harus secepatnya pulang.
Ia seperti dikejar sesuatu yang menakutkan. Semua dilakukan serba kilat. Bahkan ia menerobos anak tangga berundak yang remang-remang. Beberapa kali ia tersandung. Kakinya terbentur. Namun ia tak merasa kesakitan.
Tujuannya adalah lekas pergi dari rumah ini. Lalu pulang ke rumahnya. Ia tidak mau membuat masalah. Bagaimanapun, Tiyuh menjadi alasannya.
Sialnya, kondisinya yang belum benar-benar tenang ia paksakan untuk mengoperasikan pedal gas dan kopling dengan tergesa-gesa. Pedal gas ia injak kuat-kuat, sementara posisi kopling belum sepenuhnya terangkat. Sehingga bukannya mobil lekas melaju, justru suara berat dan kasar seperti meraung-raung.
Ia menelungkupkan wajahnya di setir kemudi beberapa saat. Menutup mata. Menarik napas perlahan dari hidung. Lantas mengeluarkannya melalui mulut. Berulang kali ia lakukan untuk menenangkan diri.
Setelah cukup lama ia meninggalkan rumah Saba, ia mencari ponselnya di dalam tas. Nahas, ponselnya mati. Ia baru teringat bahwa daya baterainya habis. Ia mengisi daya baterai ponselnya melalui soket lighter. Perlu menunggu beberapa saat untuk menghidupkannya.
Ia melihat waktu pada jam digital di dashboard. Waktu menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. Terlalu pagi jika nanti ia tiba di rumah. Alasan apa yang harus dipersiapkan.
Pikirannya berkecamuk. Hatinya benar-benar tidak tenang. Ia bahkan mengalami beberapa insiden kecil di tengah perjalanan. Hampir menabrak motor, sedikit keluar jalur sehingga menyerempet barang dagangan. Bahkan diklakson dan dimarahi beberapa pengendara lain karena ia melamun di persimpangan lampu merah. Semua diakibatkan kurang konsentrasi berkendara. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memperlambat laju kendaraannya.
Memasuki kompleks perumahannya, ia lebih memperlambat lagi laju kendaraannya. Langit sudah mulai terang. Aktivitas masyarakat di lingkungannya juga mulai bergeliat. Dari sini ia sudah bisa melihat rumah yang sudah puluhan tahun ditinggali. Tampak sepi dan lampu-lampu pencahayaan di luar belum dimatikan. Tidak biasanya.
Hatinya mulai bimbang dipenuhi kecemasan. Ia tak punya keberanian untuk menghadap Tiyuh. Ia bahkan tak bisa membayangkan wajah Tiyuh yang mungkin akan sangat kecewa kepadanya. Namun ia tak punya pilihan lain.
Mobil yang dikendarai telah berhenti tepat di depan rumah. Mesin mobil juga telah mati. Ia berdiam menatap rumah yang menjadi saksi tumbuh kembangnya hingga ia seperti sekarang.
“Kejar, Mbak! Kejar, Mbak! Gak kena … gak kena …. Na, menang, yee …!”
Bayang-bayang masa kecilnya berlarian di halaman depan berkejaran dengan Asthari.
“Nawa …! Awas kamu, ya.” Dikejar Sapta karena mengompol di kasurnya.
Bermain chef jadi-jadian dengan teman-temannya satu kompleks. Sampai masa ketika ia bermain boneka sendirian di halaman samping.
“Kamu harus seperti abah, Na. Jangan kayak, Mas.” Pesan Panca yang terus diingatnya.
Sayangnya ia tidak bisa memenuhi pesan tersebut. Ia tidak bisa seperti abah. Ia telah mengecewakan abah. Mengecewakan Tiyuh, Panca, Asthari, Sapta, Catur, dan Cipta.
Meski ragu ia memilih menghidupkan ponselnya daripada mengetuk pintu. Banyak sekali pesan dan pemberitahuan yang masuk. Namun ia mengabaikan semua. Memilih untuk menelepon Yani.
“Yan ….”
“Mbak … ibu masuk rumah sakit.”
...***...
Tetesan air matanya tak terbendung lagi. Penyesalannya kian menjadi. Ia duduk di samping ranjang ibunya yang berbaring tengah tertidur.
Kata Yani tadi malam ibu mengalami sesak dada. Yani telah berusaha menghubunginya berkali-kali, namun karena ponselnya tidak aktif, maka Yani memutuskan untuk membawa Tiyuh ke rumah sakit sendiri menggunakan taksi.
Ia memilih memutar mobil menuju rumah sakit. Rasa bersalah benar-benar mengguncangnya ketika melihat Tiyuh terbaring lemah. Ia menyuruh Yani untuk pulang. Sementara ia yang akan menungguinya di rumah sakit.
Menurut dokter melalui Yani, kondisi ibunya telah stabil. Namun masih perlu pemantauan lebih lanjut.
Ia mengusap-usap lengan Tiyuh dengan lembut dan perlahan. Seraya memandangi wajahnya. Sesekali ia menyeka pipi, ketika air matanya kembali meniti.
Kepalanya ia tidurkan berbantal lengan. Kedua matanya mengatup. Rasanya dengan posisi seperti ini, kepalanya menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Banyak hal yang berkecamuk dalam kepalanya. Begitu juga hatinya yang tengah gundah gulana. Ia tidak tahu, alasan apa yang akan diberikan manakala Tiyuh bertanya padanya nanti.
Suara ketukan pintu terdengar. Ia beringsut dan menoleh ke arah pintu di belakangnya.
Kepala orang itu hanya menyembul di pintu yang terbuka sedikit. Lantas melihat Tiyuh yang masih tertidur.
Ia bangkit, mendekat dan menukas, “Abang ….”
...***...
Tiba di rumah sakit, napasnya masih terengah-engah akibat berlarian. Saba mendapat kabar dari Yani, bahwa Nawa ke rumah sakit sebab ibunya dirawat di sana.
“Dahlia 10,” kata Yani berpesan padanya. Yani sempat bercerita bahwa Tiyuh awalnya masuk IGD untuk penanganan pertama. Namun tadi pagi telah dipindah ke ruang perawatan.
Langkahnya mendadak terhenti. Pada saat melihat Nawa sedang duduk dan seorang laki-laki berjongkok di kaki Nawa.
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab